
Dengan semangat dan senyum yang merekah anak itu berlari-lari kecil menghampiri mobil yang masih berbaris di lampu merah. "Ada apa Kak? Mau tissu lagi ya?" tanya anak itu sambil menyodorkan beberapa tissu.
"Tidak kok, siapa namamu, Dek?" tanya Alena di sertai senyuman.
"Joko, Kak." jawabnya sambil menarik kembali tissu yang ia tawarkan.
"Joko, kamu kumpulkan semua teman-teman kamu ya, dan suruh menunggu kakak di bawah pohon beringin itu. Nanti kakak kembali bawa makanan buat kalian semua." jelas Alena sambil menunjuk pohon beringin di dalam taman.
"Serius Kak, teman-teman Joko banyak loh ada tiga puluhan lebih," tanya Joko meragukan Alena.
Alena langsung menganggukan kepalanya mengiyakan pertanyaan Joko. Sontak Joko pun langsung loncat kegirangan karena hari ini akan makan enak. Joko langsung berlari dan berteriak memanggil semua teman-temannya.
Setelah lampu hijau, Daffin langsung melajukan mobilnya menuju rumah makan. Daffin memesan 50 kotak nasi dengan lauk ayam, dia juga memesan air mineral untuk minum mereka semua. Setelah semuanya siap tersusun rapi di bagasi mobil mereka. Daffin kembali melajukan mobilnya menuju tempat yang tadi ditunjuk oleh Alena.
"Itu mobil kakak yang tadi.!!" teriak Joko saat melihat mobil Daffin kembali dan parkir di depan taman.
Semua anak jalanan langsung mengerumuni mobil Daffin. Daffin langsung turun dari mobil dan membuka bagasi mobilnya. Satu persatu Daffin mulai membagikan kotak nasi beserta air mineral yang sudah disiapkan.
"Antri satu persatu ya semuanya akan kebagian kok, masih banyak nasinya," jelas Daffin.
Alena membantu Daffin menyatukan nasi kotak dan air minumnya. Perasaan Alena sangat bahagia, ini pertama kalinya bagi Alena membantu anak-anak jalanan memberikan makanan.
"Ternyata begini rasanya menolong orang lain, rasanya sangat menyenangkan. Daffin sepertinya sudah terbiasa melakukan hal seperti ini. Dibalik sikap brengs*k nya, ternyata hatinya lumayan baik." batin Alena sambil tersenyum memperhatikan Daffin yang sibuk membagikan kotak nasi.
Setelah siap membagikan semua kotak makanan, Daffin ikut bergabung sambil membawa kotak nasi untuk dirinya sendiri. Mereka semua berkumpul untuk makan bersama di bawah pohon beringin, sedangkan Alena masih sibuk memperhatikan Daffin yang terlihat ceria bersama anak-anak jalanan.
"Kakak, apa kakak cantik yang berdiri disana itu istri mu??" tanya Joko sambil melihat kearah Alena.
"Menurutmu?? Apa aku cocok dengannya?" tanya Daffin sambil melirik Alena.
"Sangat-sangat cocok, kalian tampan dan cantik, hati kalian berdua juga sangat baik. Kami doakan semoga kalian berjodoh dan selalu bersama sampai mati, semoga kalian di beri anak kembar yang tampan dan cantik seperti ayah ibunya," ucap Joko dan langsung di aminkan oleh semua orang.
"Kakak, kata pak ustad jika doa di aminkan orang banyak katanya akan terkabul loh," sambung salah satu teman Joko.
Daffin pun hanya tersenyum sambil melihat kearah Alena. Dia berharap semoga akan jadi kenyataan, tapi faktanya banyak dinding tebal antara dirinya dan Alena. Dengan semua masalah yang sedang Daffin alami, mungkin saja Alena tidak akan pernah bisa menerima Daffin atas kesalahan dan semua perbuatannya.
Setelah selesai makan bersama, Daffin kembali menghampiri Alena yang menunggunya di dalam mobil. Daffin sengaja tidak mengajaknya karena Alena sangat sensitif tentang kebersihan.
__ADS_1
Daffin langsun melajukan lagi mobilnya dengan sangat santai. Alena masih saja terkesima menatap wajah Daffin yang sedang fokus mengemudi. Jantungnya berdegup kencang saat menatap wajah Daffin. Tidak tau kenapa Alena merasa kagum dan tersentuh saat melihat sikap Daffin yang sangat baik dan perhatian kepada anak-anak jalanan itu.
"Kenapa menatapku terus, apa ada sesuatu di wajahku?" tanya Daffin membuat Alena terkejut.
"Ya, ada gajah di wajahmu," jawab Alena sambil memalingkan wajahnya.
Alena menyembunyikan senyumnya dari Daffin, Daffin hanya bengong saat Alena mengatakan bahwa ada gajah di wajahnya, dia sama sekali tidak mengerti apa maksud dari kata-katanya itu.
"Kata-kata wanita sulit dimengerti, dasar merepotkan.!" pikir Daffin.
Setelah satu jam perjalanan mereka pun sampai dirumah orangtua Alena. Daffin langsung di sambut hangat oleh bu Dewi begitu pun oleh pak Bagas.
"Akhirnya kalian sampai juga," ucap bu Dewi sambil memeluk menantunya.
"Ayo masuk pasti Nak Daffin capek, kan?" timpal pak Bagas sambil bergantian memeluk Daffin dan Daffin hanya membalasnya dengan senyuman.
Alena cemberut karena dia sama sekali tidak di sapa, dia pun langsung masuk melewati Daffin sambil berkata, "Anak kandungnya malah tidak di anggap," ketus Alena.
Pak Bagas dan Bu Dewi hanya tertawa melihat sikap putrinya itu. Bu Dewi langsung memeluk erat Alena dan mengecup keningnya.
"Apaan sih Bun Alena bukan anak manja tau," protes Alena sambil mengkerucutkan bibirnya.
Daffin hanya menahan tawanya saat Alena di sebut anak manja, tentu saja dia sejak dulu sudah tau bahwa Alena memang gadis yang sangat manja. Mereka semuapun berkumpul di ruang keluarga kecuali dengan Alena. Dia langsung menuju ke dalam kamarnya dan langsung merebahkan tubuhnya keatas kasur.
Alena merasa sangat lelah, dia merebahkan tubuhnya ke atas kasur dan langsung memejamkan kedua matanya lalu terlelap. Di sisi lain, Daffin yang sedang berbincang-bincang dengan kedua orangtua Alena merasa sangat canggung, karena kedua orangtua Alena terus saja membicarakan tentang bulan madu. Mata Daffin terus saja melirik ke arah tangga berharap Alena akan turun untuk segera menghandle kedua orangtuanya. Namun harapan Daffin tidak akan terwujud karena yang ditunggu sedang tertidur pulas.
"Nak Daffin pasti lelah ya, kalau begitu istirahat saja di kamar Alena di lantai atas.!" suruh pak Bisma dan langsung di angguki oleh Daffin.
Daffin pun langsung bergegas menaiki anak tangga agar terhindar dari betapa cerewetnya bundanya Alena. "Begini bagus juga, kenapa gak dari tadi aku kesini," gerutu Daffin dalam hati.
Tidak perlu mengetuk pintu lagi Daffin langsung saja menerobos masuk ke dalam kamar Alena. Dia langsung mengkerutkan keningnya ketika melihat Alena sedang tertidur pulas sambil memeluk boneka doraemon kesayangannya.
"Ck, enak-enakan ya tidur," omel Daffin sambil melepaskan kemejanya lalu duduk di tepi ranjang.
Daffin termenung sejenak sambil menatap Alena yang sedang tertidur pulas. Di otak kecilnya yang pintar itu terlintas rasa ingin mengerjai Alena karena dia sudah berani mengabaikannya saat baru datang tadi.
"Aku akan membuatmu merasakan bagaimana panasnya di dalam oven" gumam Daffin sambil menunjukan senyum jahatnya.
__ADS_1
Daffin pun memulai aksinya, pertama-tama dia menyelimuti dan membungkus Alena menggunakan selimut tebal. Setelah itu dia mematikan AC agar Alena merasakan panas dan berkeringat. Daffin pun menunggu Alena terbangun agar dia menyaksikan Alena yang tersiksa karena kepanasan.
Tidak menunggu lama, Daffin mulai melihat Alena sedikit gelisah. Keringat mulai keluar melalui pori-pori keningnya. Daffin semakin menunjukan senyum nakalnya dan menambahkan selimut ketubuh Alena.
"Ahh panasnya.!" desah Alena sambil menggeliatkan tubuhnya.
"Aku di neraka ya?" sambungnya lagi sambil perlahan membuka kelopak matanya.
Remang-remang terlihat Daffin sedang tersenyum licik menatapnya. Rasa panas dan keringat terus menjalar di dalam tubuhnya membuat Alena tidak tahan lagi dan terbangun.
"AC hidup gak si panas banget nih, terus kenapa aku didalam selimut," gumamnya sambil melihat tubuhnya sendiri.
"Dasar kebo, udah tau panas masih juga belum bangun," ketus Daffin sambil mendekatkan tubuhnya.
"Arghhh Mas Daffin sialan ini pasti kerjaanmu, kan?" teriak Alena penuh dengan amarah.
.
.
.
.
BERSAMBUNG
Note: Dilarang Promosi, kecuali tinggalkan..
*Like.
*Komentar sewajarnya tentang isi cerita.
*Rate 5 🌟
*Vote.
Buat para readers tercinta juga jangan lupa tinggalin jejak seperti diatas yah!!😊
__ADS_1