
Matahari mulai terbenam menyembunyikan sinar cahayanya. Kini malam pun berganti menyambut waktu yang terus berputar. Daffin yang sedang berdiri didepan cermin terus menatap wajahnya sendiri. Dia mencoba untuk meyakinkan dan memberi semangat untuk dirinya sendiri bahwa nanti dia harus menang.
"Tidak akan kubiarkan siapapun menjadi korban kejahatannya lagi!" tegas Daffin sambil mengepalkan tangan kanannya.
Dengan penuh percaya diri, Daffin pun melangkah dan menemui orangtuanya. Terlihat raut wajah ayah dan ibunya Daffin dipenuhi rasa khawatir yang teramat besar. Ditambah lagi bu Agis tak henti-hentinya terus menangisi Daffin.
"Ma, kenapa menangis? Lihat! Aku bahkan tidak apa-apa." ucap Daffin sambil memegang bahu ibunya.
Bu Agis semakin menangis sembari memeluk putranya. "Sayang, Mama mohon jangan sampai terjadi apa-apa kepada mu nanti!" isak bu Agis.
"Mama tenang saja, aku tidak sendirian." ucap Daffin menghapus air mata ibunya.
"Kak, Ayok berangkat!" teriak Dafka dengan penuh semangat.
"Apa Dafka juga ikut?" tanya bu Agis khawatir.
"Memangnya siapa yang bisa menghentikan dia agar tidak ikut, Ma?" tanya Daffin. Bu Agis pun terdiam. Ya, Dafka sifatnya memang keras kepala dan sangat pemarah. Tidak ada yang bisa menghentikan keinginanya.
Kedua putra pak Bagas pun berangkat menuju medan pertempuran. Pak Bagas yang hanya bisa berdiri sambil memegang tongkatpun merasa dirinya sangat tidak berguna. Dia merasa kesal dengan dirinya sendiri.
"Ini masalah kami, ini adalah dendam diantara kami, tapi aku hanya bisa berdiri dan melihat anak-anakku berjuang." batin pak Bagas sambil menggenggam erat tongkat ditangannya.
***
Sesampainya di gedung perusahaan, semua orang sudah siap diposisinya masing-masing. Daffin berdiri didepan gedung dan mendongakkan kepalanya menatap gedung tinggi dihadapannya.
"Apa yang akan terjadi aku siap menghadapinya!" seru Daffin menarik napasnya dalam-dalam.
Satu persatu tamu mulai berdatangan. Tidak ada tamu yang sungguhan, mereka semua adalah ahli senjata dan bela diri yang sudah disewa oleh Haikal. Kali ini musuh benar-benar akan tertipu dan masuk kedalam jebakan kandang para Singa.
Manager Erick yang baru saja datang bersikap sewajarnya. Dengan wajah dinginnya dia menghampiri Daffin dan memberikan salam kepada atasannya itu.
"Halo, Pak Daffin! Semoga acara kita berjalan lancar, ya!" ucap Manager Erick datar.
"Ya, ini adalah perayaan perusahaan kita. Kita sudah bekerja sangat keras dan ini adalah waktunya kita untuk bersenang-senang." balas Daffin dengan penuh semangat.
Manager Erick hanya menanggapinya dengan senyuman. Itu memang sifatnya sehari-hari yang sangat dingin tanpa banyak bicara.
"Kanan," bisik Manager Erick sambil berjalan melewati Daffin.
Daffin mengerti apa yang dimaksud Erick. Ada Sniper dari pihak musuh yang sudah siap diatas gedung sebelah kanan perusahaan.
"Kanan," bisik Daffin lagi memberitahukan info kepada semua orang-orangnya.
"Aku melihatnya," ucap Haikal dari balik earphone.
Daffin pun mengagguk dan langsung mengikuti Erick masuk kedalam gedung.
Tiga jam sudah berlalu, semua orang menikmati pesta tanpa ada gangguan apapun. Sejauh ini belum ada tanda-tanda penyerangan dari pihak musuh.
Hingga dua jam kemudian sudah berlalu. Semua orang mulai saling melirik satu sama lain. Mereka sudah tidak sabar menunggu musuh yang tak kunjung datang.
Daffin mulai merasa cemas, dia khawatir bahwa rencana penyerangan hanyalah jebakan belaka.
"Sudah hampir tengah malam, tapi tidak ada satupun pergerakan musuh." gumam Daffin merasa heran.
"Apa Erick menipu kita?" tanya Haikal mulai emosi.
__ADS_1
"Bawa Erick kemari!" perintah Daffin.
Tidak menunggu lama, Erick pun datang menghampiri Daffin. Masih dengan wajah dinginnya menatap Daffin dengan sangat datar.
"Ada apa?" tanya Erick.
"Apa kau menipu kami?" tanya Haikal sambil mencengkram erat kerah baju Erick.
"Apa maksudnya? Aku tidak mengerti?" Erick masih datar sambil mengekerutkan keningnya.
"Ini sudah tengah malam, kenapa musuh masih juga belum menyerang? Apa kau menipu kami?" tanya Daffin.
"Demi keluargaku apapun akan aku lakukan, sekarang aku tanya kepadamu, apa keluargaku sudah aman?" Dengan wajah datarnya Erick terus bertanya balik.
Daffin langsung terdiam, dia tidak memperhatikan lagi keluarganya Erick. Yang dia tahu bahwa keluarganya sudah ditempat yang aman bahkan sudah dijaga oleh para pengawalnya.
"Daffin, asal kau tahu musuhmu bukan sembarang musuh. Siapa yang ingin menjebak siapa? Dan pada akhirnya siapa yang terjebak adalah dia yang terlalu bodoh. Aku tidak dipihak siapapun karena aku tidak ingin keluargaku terlibat lagi." jelas Erick.
"Apa maksud dari perkataanmu itu, hah?" bentak Haikal sambil mencekik leher Erick dan menjotos wajahnya.
Daffin terus terdiam sambil berpikir apa maksud dari kata-kata Erick. Keringat dingin mulai membasahi wajahnya. Kecemasan membuat pikirannya tidak karuan dan frustasi.
"Jangan-jangan..."
Daffin yang tiba-tiba teringat sesuatu langsung berlari menerobos para tamu undangan. Dia teringat kedua orangtuanya yang sedang berada di rumah. Jika musuh tidak menyerang perusahaan. Satu-satunya yang terlintas dipikirannya Daffin adalah bahwa musuh teah menyerang ayahnya.
Dengan kecepatan penuh Daffin pun langsung mengemudikan mobilnya menuju rumah. "Sial!! Semoga aku tidak terlambat." ketus Daffin kesal.
Didalam Aula gedung, Haikal masih mengintrogasi Erick. Dia bahkan terus menghajar Erick agar menjelaskan semuanya sebenarnya apa yang sudah terjadi.
"Sudah aku bilang musuh kalian bukan sembarang musuh," ujar Erick sambil menyeka darah dari sudut bibirnya.
Darahpun mulai keluar dari tubuh Erick. Haikal terkejut saat melihat darah yang keluar dari tubuh Erick. "Aku memang menendangnya dengan kuat, tapi tidak akan membuatnya sampai berdarah." pikir Haikal heran.
"Jangan diam saja!" teriaknya lagi kesal.
"Apa? Buat apa aku menjelaskan semuanya? Itu hanya akan menguntungkan kalian semua. Kalian sudah berjanji akan melindungi keluargaku,tapi kenyataannya sekarang aku harus kehilangan nenek dan juga adikku." bentak Erick merasa sangat putus asa.
Haikal yang tadinya akan menendang tubuh Erick lagi langsung menghentikan niatnya. Dia terdiam saat mendengar bahwa nenek dan adiknya Erick sudah tiada.
Haikal pun langsung berjongkok dan membantu Erick untuk berdiri. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Haikal.
"Aku ketahuan bahwa sudah berada dipihak kalian, Bos X langsung mencari orang untuk membunuh keluargaku. Dia bahkan sudah menembakku." jawab Erick sambil menunjukan luka tembak di bahu kananya.
Haikal kembali terkejut saat melihat luka tembak dibahu kanan Erick. "Jadi ini yang membuatnya berdarah," gumam Haikal merasa bersalah.
"Intinya mereka menggagalkan penyerangan dan langsung mengubah rencana mereka." jelas Erick lagi.
"Kenapa tidak mengatakannya sejak awal?" bentak Haikal menahan emosinya terhadap Erick.
"Sudah aku katakan sebelumnya, mengatakannya hanya akan menguntungkan kalian. Lalu apa yang aku dapatkan? Apa kalian bisa menghidupkan kedua orang berhargaku? Tidak, kan?" jelas Erick lemah tak berdaya.
"Sial!" gerang Haikal sambil menendang kearah tembok.
"Sebagian ikut aku menyusul Daffin! Yang lain berjaga-jaga disini!" perintah Haikal dan langsung pergi menyusul Daffin.
Kini tinggal Erick sendiri disebuah ruangan sunyi. Dia berusaha untuk bangun dan menyandarkan tubuhnya ke dinding.
__ADS_1
Erick menahan luka dibahunya yang kembali terbuka dan mengalirkan banyak darah. Dengan penuh emosi dia mengingat kejadian sebelumnya saat ia di tembak oleh Bos X.
Flashback on..
Sekitar jam 08:30 pagi, Erick yang sedang berada didalam toilet sedang mengirim pesan tentang informasi yang ia dapat dari mengkhianati bosnya sendiri.
"Aku sudah mengirim info tentang penyerangan musuh dan rencana mereka. Semoga nanti malam berjalan dengan lancar." gumam Erick sambil membuka pintu Toilet.
Setelah membuka pintu, Erick terkejut setengah mati. Tidak disangka ternyata bosnya sudah berdiri didepan pintu sambil menodongkan sebuah pistol. Peluru pun langsung bersarang dibahu kanan Erick.
"Arghhh, Bos! Apa yang kau lakukan?" rintih Erick kesakitan.
"Ternyata kau orangnya! Dasar pengkhianat!" Bos X langsung melayangkan tendangannya ketubuh Erick. Erick yang sedang kesakitanpun tidak bisa melawan lagi.
"Sial, apa aku sudah ketahuan?" pikirnya.
"Kau tahu, kan? Apa akibatnya jika mengkhianatiku?" tanya Bos X sambil menodongkan pistol kearah kepala Erick.
Erick tidak bisa melawan lagi, dia hanya pasrah sambil memejamkan kedua matanya.
"Hmm, tidak semudah itu untuk menghilangkan nyawamu. Akan kubuat dulu kau melihat apa yang tidak ingin kau lihat!" ujar Bos X sambil memasukkan pistolnya kedalam saku jasnya.
Erick tahu apa maksud dari bosnya. Bosnya berniat untuk membunuh nenek dan adiknya. Erickpun dengam sekuat tenaga langsung berlari dan memeluk kaki bos X.
"Bos, aku mohon bunuh saja aku dan jangan bunuh mereka. Mereka tidak ada hubungannya dengan masalahku." Erick terus memohon agar tidak membunuh keluarganya.
"Cepat cari keluarganya dan bunuh mereka semua!" perintah Bos X sambil menepiskan kakinya agar terlepas dari Erick.
"Tidakkkk, aku mohon jangan!!" teriak Erick mulai melemah dan jatuh pingsan.
Tidak tahu berapa lama ia pingsan, saat sadar kembali lukanya sudah dibalut perban. Dihadapannya sudah berdiri salah satu temannya. Dia berjongkok sambil memperlihatkan sedikit raut wajah iba.
"Maaf teman, aku hanya menjalankan perintah. Aku tidak ingin keluargaku jadi korban karena tidak mengikuti perintahnya." ucapnya sambil menunjukan sebuah ponsel yang berisi Vidio.
Mata Erick langsung terbelalak ketika melihat vidio tersebut. Didalam vidio tersebut terlihat nenek dan adiknya diikat dan langsung ditembak mati oleh anak buahnya Bos X.
Jiwanya kosong, air mata bahkan tidak bisa menetes lagi. Suara seolah-olah tiba-tiba terkunci tak bisa mengatakan sepatah katapun.
Selama ini dia memang sudah banyak membunuh orang lain. Mungkin itu salah satu karma yang ia dapat dari semua perbuatannya.
"Erick, pergilah sekarang juga sebelum bos kembali!" pinta temannya.
Dengan tatapan kosong Erick berjalan lunglai meninggalkan tempat penuh dosa itu. Tidak bisa dipercaya bahwa orang yang sangat berharga kini telah mati terbunuh gara-gara perbuatannya yang dari awal sudah salah langkah.
Flashback Off...
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
Maafkan author yang baru bisa up lagi.
__ADS_1
Author lagi mabuk karena lagi ngalamin trimester 1, alhamdulillah sudah dikasih rezki yang sangat besar. maaf ya dan mohon pengertiannya!!