Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 9 Selalu Bertengkar


__ADS_3

Alena langsung menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Tubuh Alena sudah basah oleh keringatnya sendiri, keringat menjalar dari lehernya turun kebawah. Wajah Daffin memerah saat memperhatikan leher Alena yang putih dan terlihat seksi karena basah oleh keringat. Dia langsung menelan air liurnya dan beranjak dari ranjang untuk menghindari hal di luar nalurinya.


"Itu cara ampuh untuk membangunkan kerbau pemalas," ucap Daffin sambil memalingkan wajahnya lalu menuju kamar mandi.


"Mas Daffin tunggu pembalasanku.!!" teriak Alena menahan emosi.


Daffin hanya tersenyum tipis sambil masuk kedalam kamar mandi. Rasanya menyenangkan jika terus membuat Alena marah, pikirnya.


Setelah selesai mandi, Daffin keluar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan sehelai handuk yang melilit di pinggangnya. Alena yang sedang rebahan di atas kasur langsung tercengang melihat tubuh Daffin yang sangat sempurna. Secara tidak sadar Alena terus saja menatap roti sobek Daffin yang sedang bertelanjang dada itu.


"Kapan kamu akan berhenti menatapku, apa kamu mau menyentuhnya?" goda Daffin dengan khas senyuman mautnya.


Alena langsung tersadar dan langsung berdalih untuk menutupi rasa malunya. "Dihh, siapa yang mau menyentuh bekas wanita pelac*r," ucap Alena dengan sengaja merendahkan kata terakhirnya.


"Apa kamu bilang??" tanya Daffin menaikan nada bicaranya.


Alena langsung berjalan menghampiri Daffin dan menegaskan kata yang ia ucapkan tadi. "Pelac*r," bisiknya di depan wajah Daffin.


"Kau.!!" gertak Daffin sambil menunjuk wajah Alena dengan penuh kekesalan.



"Kenapa, gak terima?" tanya Alena lalu berbalik masuk ke dalam kamar mandi.


"Haishh wanita memang merepotkan," keluhnya sambil duduk di tepi ranjang.


Sejak kejadian 3 tahun yang lalu, Alena tidak pernah berhenti untuk berpikir bahwa Daffin adalah laki-laki paling brengs*k yang pernah ia temui. Bagaimana tidak, Alena mendapati Daffin sedang bermalam bersama Serli di sebuah hotel. Alena tidak pernah tau dan tidak pernah ingin tau bahwa Daffin benar-benar melakukannya atau tidak. Namun, kenyataan yang dia terima adalah sebulan setelah kejadian itu Daffin yang terlebih dahulu memutuskan hubungannya dengan Alena tanpa mengatakan maaf terlebih dahulu.


"Arghh dasar payah," gumam Alena sambil memukul keningnya.


Saat ini Alena merasa sangat menyesal menerima pernikahan itu. Walau dia hanya berniat untuk balas dendam, tapi hatinya yang lemah itu sepertinya tidak akan kuat jika harus selalu bersama Daffin hingga 5 bulan kedepan. Dia juga tidak tau bagaimana caranya agar dia membuat Daffin jatuh cinta lagi kepadanya untuk membalaskan dendam. Hanya dengan melihat wajahnya saja, Alena merasa kesal dan ingin marah karena mengingat kejadian di masa lalu.


"Haishh, nasibku kenapa begitu buruk," keluhnya sambil menghidupkan shower untuk mengguyur seluruh tubuhnya.


Setelah selesai mandi, Alena keluar dengan menggunakan piyamanya. Saat Alena menatap kearah kasur, dia terkejut karena melihat Daffin masih juga bertelanjang dada dan menggunakan handuk. Dengan wajah santainya sambil bermain game, dia tidak peduli walau hanya menggunakan handuk padahal sedang berada di dalam kamar seorang gadis.


"Mas Daffin gak tau malu banget sih masih juga belum pakai baju.!!" teriak Alena sambil melemparkan handuk ke wajahnya.


"Aku masih nunggu pesanan baju, bentar lagi datang," jawabnya santai dan masih fokus dengan gamenya.


Alena hanya dapat menghela napasnya karena memang tidak ada baju ganti yang bisa dipakai oleh Daffin. Dia pun tidak berani lagi untuk protes dan langsung duduk di depan cermin.

__ADS_1


Tokkk tokkk tokkk


"Mbak, tadi ada yang ngantar pesanan katanya buat Pak Daffin.!" ucap bi Sari dari balik pintu.


"Ambil tuh.!" suruh Daffin dan Alena langsung beranjak dari kursinya sambil menatap tidak senang kepada Daffin.


Alena pun langsung membuka pintu dan menerima baju dari bi Sari. "Makasih ya Bi,"


"Sama-sama Mbak," balas bi Sari lalu pergi.


Alena langsung melemparkan bajunya ke wajah Daffin, karena dia sedikit kesal sejak tadi Daffin terus saja fokus dengan gamenya. "Nih.!"


"His, sopan sedikit lah, aku ini suami mu," ketus Daffin sambil menatap wajah Alena.


"Ya suami pal-su, wekkk." balas Alena sambil menjulurkan lidahnya.


"Ck dasar merepotkan.!" ketus Daffin sambil memakai bajunya di depan Alena.


Alena merasa sangat malu dan langsung memalingkan wajahnya kearah lain, sedangkan Daffin hanya tersenyum tipis lalu kembali lagi mengambil ponselnya untuk bermain game.


"Malam ini kita nginap di rumah bunda, Mas?" tanya Alena sambil mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.


"He'em, malam ini bereskan semua barang yang kamu perlukan, karena besok pagi kita pindah," jawab Daffin masih fokus dengan gamenya tanpa melihat Alena yang mengajaknya bicara.


"Bukan," balas Daffin singkat dan masih fokus dengan gamenya.


"Terus kemana Mas?" tanya Alena lagi penasaran.


Daffin sepertinya tidak merespon pertanyaan Alena karena otak dan matanya masih saja fokus dengan game di ponselnya. Alena merasa sangat kesal karena sejak tadi dia terus di abaikan bahkan sekarang pertanyaannya tidak di jawab. Alena pun langsung menghampiri Daffin dan langsung merebut ponsel dari tangannya.


"Mas jawab pertanyaan aku!!" teriak Alena sambil merebut ponsel dari tangan Daffin.


"Hey cepat kembalikan nanti aku bisa kalah," pinta Daffin sambil mencoba untuk merebut ponselnya.


"Gak, aku lagi ngajak ngomong kamu bukan cuman tidak menatapku, tapi juga mengabaikan pertanyaan ku," ketus Alena sambil menyembunyikan ponselnya kebelakang tubuhnya agar tidak direbut oleh Daffin.


"Oke, ulangi pertanyaanmu dan kembalikan ponselnya.!" pinta Daffin lagi sambil terus berusaha untuk merebut ponselnya.


"Gak bisa, biar aku hapus aja sekalian gamenya," bantah alena sambil mengotak-ngatik ponsel Daffin.


"Alena jangan.!!" teriak Daffin sambil merebahkan tubuh Alena.

__ADS_1


Daffin dan Alena pun akhirnya jatuh kelantai dengan posisi Alena di bawahnya. Alena merasa bokong dan punggungnya terasa sakit hingga dia meringis menahan sakit.


"Aww sakit Mas," rintih Alena, Daffin pun langsung bangun lalu duduk di tepi ranjang.


"Makanya jangan nakal, sini ponselnya.!" pinta Daffin.


Sambil mengkerucutkan bibirnya, Alena pun mengembalikan ponselnya dengan memasang wajah kesal. "Nih.!!" kata Alena jutek.



Daffin pun langsung menerima ponselnya dan meletakkannya di atas kasur. Daffin tidak tega melihat Alena yang terlihat berantakan dan menahan sakit di punggungnya. Dia lalu mendekati Alena dan memapahnya untuk duduk di tepi ranjang.


"Sakit ya, maaf deh makanya lain kali jangan nakal," ucap Daffin sangat lembut sambil membantu Alena untuk berdiri.


Alena masih memasang wajah cemberutnya, dia marah karena hanya gara-gara game Daffin sampai mendorongnya kelantai. Walau mereka jatuh bersama, tapi nyatanya Alena yang berada di bawah hingga membuat punggungnya terasa sakit.


"ini yang sakit ya, sini biar aku periksa," tanya Daffin sambil mengelus punggung Alena dan mengangkat baju belakangnya.


"Mas Daffin dasar mesum,"


Bukkk


Alena langsug berbalik dan meninju dada Daffin, Daffin pun langsung berguling ke atas kasur pura-pura kesakitan untuk membuat Alena merasa puas.


"Arghh Alena sakit tau," rintih Daffin sambil memegang dadanya.


"Rasakan itu," ketus Alena lalu pergi meninggalkan Daffin.


Daffin hanya tersenyum tipis melihat Alena memasang wajah cemberut. Selalu seperti itu menurutnya sangat asik, dari pada romantis namun menyakitkan.


BERSAMBUNG


Note: Dilarang Promosi, kecuali tinggalkan..


*Like.


*Komentar sewajarnya tentang isi cerita.


*Rate 5 🌟


*Vote.

__ADS_1


Buat para readers tercinta juga jangan lupa tinggalin jejak seperti diatas yah!!😊


__ADS_2