Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 12 Bertemu Teman Lama


__ADS_3

Setelah selesai membereskan pakaian ke dalam lemari, Alena langsung merebahkan tubuhnya ke atas ranjang. Alena memeluk erat boneka kesayangannya sambil menatap ke langit-langit kamar. Dia memikirkan apa dia sekarang benar-benar telah menjadi isterinya Daffin? Apa ini hanya sebuah mimpi?


Alena berguling kekanan dan kekiri, Alena tidak bisa berbohong bahwa dia sebenarnya bahagia bisa menjadi isterinya Daffin. Walau begitu tetap saja hatinya masih teguh untuk tidak kembali mencintai Daffin lagi karena dia tau bahwa pernikahan ini palsu. Kalau bukan karena Serli tidak datang, mungkin saat ini yang menjadi isteri Daffin adalah Serli bukan dirinya.


"Alena kamu harus tau diri bahwa kamu itu cuman pengganti, ingat tujuan utama kamu. Kamu harus memanfaatkan selama 5 bulan ini untuk membuat Daffin jatuh cinta lagi, lalu setelah itu kamu bisa balas dendam," gumam Alena bicara kepada dirinya sendiri.


Tokkk tokk tokkk


"Al, aku keluar sebentar pulangnya sekitar jam 5 sore," ucap Daffin dari balik pintu.


Alena hanya diam saat Daffin mengetuk pintu, Daffin pun langsung pergi tidak peduli Alena akan menjawabnya atau tidak.


"Mas, kamu itu mau membodohi aku atau gimana? Bilangnya keluar sebentar tapi kamu bilang pulangnya jam 5 sore, sekarang aja masih jam 11 itu tandanya kamu perginya lama!!" gerutu Alena sambil melempar bantal kearah pintu.


Daffin buru-buru pergi setelah mendapat telepon bahwa Vivi putri kecilnya tiba-tiba demam. Dia langsung tergesa-gesa melajukan mobilnya menuju rumah Serli.


"Mas Daffin mau kemana sih buru-buru banget kayaknya," gumam Alena sambil menuruni anak tangga.


Alena berjalan menuju dapur karena perutnya merasa sangat lapar. Dia membuka tudung saji, tentu saja tidak ada apa-apa di dalamnya karena belum ada yang memasak. Saat membuka kulkas dia melihat hanya ada beberapa bahan mentah dan sayuran saja. Tidak ada makanan siap saji yang bisa langsung dia makan.


"Duhh perut laper nih, rumah segede ini masa gak ada pembantu sih?" gumam Alena sambil memegangi perutnya.


"Masak aja kali ya, tapi aku gak bisa masak gimana dong," sambungnya lagi kebingungan.


Alena pun berjalan keluar untuk mencari rumah makan atau sejenisnya. Saat di depan pagar rumah, Alena melihat kekanan dan kekiri tidak ada satu pun kendaraan yang lewat. Dia benar-benar sial karena harus berjalan tidak tau akan sejauh mana.


"Ini rumah di tengah kuburan apa ya, satu pun gak ada kendaraan yang lewat," gerutu Alena berjalan sambil menghentak-hentakan kakinya.


Tiiitttt tiiiitttttt


Suara klakson mobil membuat Alena terkejut dan dia langsung menepikan langkahnya. Dia menatap heran bahwa ternyata ada juga mobil yang melewati jalan yang seperti kuburan ini. Alena memperhatikan seseorang yang mulai turun dari dalam mobil, pria itu memakai kacamata dan perlahan menyunggingkan bibirnya tersenyum kepada Alena.

__ADS_1


"Hay, Alena lama tidak bertemu!" sapa pria itu sambil mendekati Alena.


Alena masih terdiam sambil memundurkan posisi berdirinya, dia tidak ingat kalau pria itu adalah kenalannya. Jalanan itu sangat sepi, Alena khawatir akan dirinya jika bernasib malang bertemu dengan pria hidung belang.


"Apa kamu benar-benar sudah melupakan aku?" tanyanya sambil melepaskan kacamatanya.


"Arghhh Tomy ya?" teriak Alena sambil menunjukan jarinya.


"Aku kira kamu benar-benar sudah lupa sama aku, kamu ngapain di sekitar sini dan juga kenapa jalan kaki?" tanya Tomy penasaran.


"Mmm.. Aku baru pindah kesini, sekarang mau cari makanan," jawab Alena lemas.


"Ya udah ayo ikut aku, aku juga lagi mau beli makanan nih," ajak Tomy sambil membukakan pintu mobilnya.


"Beneran nih gak apa-apa, Kak?" tanya Alena ragu.


"Iya, kebetulan rumah aku juga di sekitar sini jadi kita bakalan sering ketemu, makanya kamu jangan merasa canggung," jelas Tomy meyakinkan Alena.


Tomy adalah senior Alena saat di bangku SMA. Dia dulu menyukai Alena, tapi saat itu Alena lebih memilih Daffin untuk menjadi kekasihnya. Sekarang mereka bertemu kembali, bohong jika Tomy sudah melupakan Alena karena siapa saja yang berteman atau menyukai Alena akan sulit untuk tidak tertarik dan melupakannya. Alena adalah tipe gadis yang sangat ceria, sikap manja dan sedikit pemarahnya itu membuat orang sangat mudah untuk mengingatnya dan sulit untuk melupakannya.


"Lama tidak bertemu kamu sudah berubah ya sekarang semakin tambah cantik," ucap Tomy memuji Alena.


"Hehe, masa sih, Kak," tanya Alena malu-malu.


"Aku serius kamu tambah cantik, dulu waktu kelas 1 SMA kamu imut dan gemesin banget apa lagi kalau lagi marah, pingin aku comot pipi kamu itu," canda Tomy sambil tertawa kecil.


Alena terdiam dan tersipu malu, dia berpikir andai saja yang memberi pujian itu adalah Daffin pasti akan sangat menyenangkan, tapi itu tidak akan mungkin karena Daffin tidak tau bagaimana caranya menyenangkan hati wanita, pikir Alena.


"Al, pinjam ponsel kamu!" pinta Tomy sambil menjulurkan tangannya.


"Buat apa, Kak?" tanya Alena sambil memberikan ponselnya.

__ADS_1


Tomy tidak menjawab pertanyaan Alena, dia hanya mengotak-ngatik ponsel Alena lalu mengembalikannya lagi. "Aku sudah save No Hp aku di kontak kamu kalau ada apa-apa hubungi aku ya," kata Tomy.


"Seperti... Aku lagi kelaparan? Haha," tanya Alena di sertai tawa candanya.


"Haha, Kalau kamu lapar, kamu bisa datang ke Restaurant aku ini," balas Tomy sambil membelokan mobilnya ke sebuah Restaurant.


"Waw, kamu sudah punya Restaurant sendiri, Kak? Hebat banget!" ucap Alena takjub.


"Waktu itu Kak Tomy suka banget masak, jangan-jangan Kakak sekarang sudah jadi Chef?" tanya Alena dengan mata yang berbinar.


Tomy hanya mengangguki pertanyaan Alena disertai senyuman. Dia sekarang sudah menjadi Chef sekaligus pemilik Restaurant. Dulu saat mereka berdua masih SMA, Tomy pernah menjadi mentornya Alena. Sejak itu mereka jadi dekat dan Tomy pun akhirnya menyukai Alena. Tomy tau bahwa Alena gadis yang sangat manja, bahkan Alena pernah berkata bahwa ia ingin memiliki suami seorang Chef agar dia selalu dimanjakan dengan masakan enak.


🍃🍃🍃


Di sisi lain, Daffin sedang kebingungan karena demamnya Vivi tidak kunjung turun. Vivi terus saja bergumam memanggil ibunya membuat Daffin kesal karena Serli tidak pernah peduli dengan putrinya sendiri.


Setelah Dokter pergi dan memberikan resep obat, Daffin langsung bergegas menebusnya ke sebuah Apotek. Karena rumah yang di tinggali Vivi sedikit tepencil, Daffin pun keluar menuju jalan raya untuk mencari Apotek. Di dalam GPS Apotek terdekat ternyata ada di dekat perumahannya, dia pun langsung melajukan mobilnya menuju Apotek Sinar Farma.


Setelah menebus obat, Daffin teringat bahwa Vivi harus makan dulu sebelum minum obat. Tanpa pikir panjang lagi Daffin langsung melajukan mobilnya menuju Restaurant untuk membeli makanan favoritenya Vivi, nasi goreng gurame.


Saat Daffin memasuki Restaurant, tanpa dia sadari Alena melewatinya keluar dari Restaurant sambil mengobrol bersama Tomy. Alena tidak tau bahwa baru saja dia berpapasan dengan Daffin, hingga akhirnya saat dia hendak memasuki mobil Tomy, Alena melihat mobil Daffin terparkir di depan Restaurant.


"Loh, itukan mobilnya Mas Daffin, dia juga lagi di sini ya, kenapa aku tidak melihatnya dan dengan siapa dia kesini?" tanya Alena dalam hati sambil celingukan mencari Daffin.


"Al, ada apa? Siapa yang kamu cari?" tanya Tomy sambil mengikuti pandangan Alena.


"Ehh, gak ada kok," jawab Alena sambil memasuki mobil.


Alena masih terdiam karena kepikiran dengan Daffin, dia penasaran apa yang Daffin lakukan dan dengan siapa Daffin pergi ke Restaurant itu. Perasaannya bergejolak terus memikirkan Daffin, walau begitu Alena tetap kukuh untuk tidak peduli dengan urusannya Daffin.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2