
Hari demi hari terus berlalu, hari perayaan ulang tahun PM Group pun telah tiba. Pagi-pagi sekali Daffin sudah berangkat kekantor dengan penuh semangat yang membara.
Pesta perayaan akan dilaksanakan mulai pukul tujuh malam. Seperti perayaan pada umumnya, Daffin tetap menyewa dekoration untuk mempercantik aula gedung PM Group. Tak lupa pula dia menyiapkan catering untuk jamuan para tamu undangan.
Daffin sedang berada didalam kantornya. Dia sudah tidak sabar ingin menyelesaikan semua masalah yang ada. Dia yakin bahwa untuk yang kedua kalinya, pamannya akan kalah dan tidak akan berulah lagi.
Selain rencana penyerangan balik, Daffin juga sedang memikirkan rencana untuk memberi kejutan kepada Alena dan mengajaknya untuk berbulan madu. Setelah masalah itu selesai, Daffin berencana untuk menyatakan cinta yang sesungguhnya kepada Alena.
"Aku sudah tidak sabar memasangkan cincin ini di jari manis Alena." gumamnya tak henti-hentinya tersenyum sendiri.
"Tunggu aku ya, sayang!" sambungnya lagi sambil mencium cincin yang ia pegang.
Tokkk tokkk..
Terdengar suara ketukan dari balik pintu. Daffin pun langsung memasukan cincin kedalam saku celananya.
"Masuk!!" perintahnya sambil membuka beberapa dokumen.
"Daffin!" panggil pak Bagas sambil berjalan menghampirinya.
"Papa? Kenapa Papa datang kemari?" tanya Daffin langsung berdiri menyambut Papanya.
"Aku mengkhawatirkan kalian." ujar pak Bagas sambil menepuk bahu Daffin.
Daffin mengerti perasaan ayahnya. Kejadian dimasa lalu membuatnya paham dengan situasi yang akan terjadi.
Saat itu demi perusahaan, Pamannya yang bernama Hendra itu rela membunuh ayahnya sendiri. Sekarang pun pasti masih sama demi balas dendam dan merebut perusahaan, dia pasti akan melakukan segala cara lagi untuk melakukan semua itu.
"Papa tenang saja, kami sudah menyusun rencana serapi mungkin. Aku yakin dengan rencana yang matang tidak akan ada lagi korban nyawa yang dilakukan paman." jelas Daffin mencoba untuk meyakinkan ayahnya.
"Lalu, bagaimana dengan Alena? Jangan sampai dia dimanfaatkan untuk mengancam kelemahanmu." tanya pak Bagas kembali khawatir.
"Aku sudah mengirim Alena bersama teman-temannya pergi ke Batam. Disana ada Alex dan anak buahnya yang akan melindungi Alena." jawab Daffin.
"Papa... Papa percayakan semuanya kepada kamu." ujar pak Bagas tersenyum walau ada keraguan dihatinya. Daffin pun langsung mengangguk lalu memeluk ayahnya dengan erat.
Diwaktu yang sama, Bos X yang tidak lain adalah Hendra. Dia dan anak buahnya sedang berpesta untuk merayakan rencana penyerangannya nanti malam.
Sambil mempersiapkan senjata, Hendra meneguk segelas wine lalu mengguyurkannya kewajahnya sendiri.
__ADS_1
"Sebentar lagi aku akan merasakan kemenangan yang sebenarnya, hahaha." Dia terkekeh dan dengan sangat percaya diri mengatakan sebuah kemenangan.
Erick yang sedang mengemas senjata pun ikut tersenyum puas sambil menatap bosnya.
"Ya, aku juga sebentar lagi akan terbebas dari rantai yang mengikat leherku." batinnya yang sudah tidak sabar lagi ingin terbebas dan berkumpul bersama keluarganya.
"Erick, aku bangga kepadamu tidak sia-sia aku dulu menolong keluargamu." ujar Hendra sambil menepuk-nepuk punggung Erick.
Erick hanya menanggapinya dengan senyuman. Dia hanya berpura-pura senang agar Hendra tidak curiga.
"Kau menolongku hanya sekali, selebihnya kau selalu mengancamku dengan kelemahanku!" batin Erick kesal.
Erick pun langsung menuangkan wine lagi kedalam gelas kosong Bos X. "Bos, kapan kita akan memulai penyerangan?" tanya Erick.
"Biarkan mereka semua berpesta dulu, mereka juga ingin bahagia didetik-detik terakhir kematian mereka. Hahaha." jawab Hendra terus tertawa terbahak-bahak.
"Kalau begitu jam 9 malam adalah waktu yang cocok." saran Erick dan langsung diangguki oleh Hendra. "Ya, kau memang sangat paham apa yang aku suka." Ujarnya.
Erick pun langsung beranjak dari tempat duduknya. Dia langsung berjalan menuju toilet. Setelah dirasa aman, Erick langsung mengeluarkan ponselnya untuk memberitahu kepada Daffin bahwa penyerangan akan dilakukan jam 9 malam.
Daffin yang sedang berkumpul bersama Alvin, Haikal dan yang lainnyapun langsung menerima pesan yang dikirim oleh Erick.
"Ada informasi dari Erick." ucap Daffin kepada teman-temannya.
"Dia bilang penyerangan akan dilakukan tepat jam 9 malam, jika ada perubahan rencana dia akan segera memberitahu kita. Musuh juga menyewa sniper handal dari luar Negeri, mereka menggunakan sniper model SS2 Subsonic dan MM7." jelas Daffin menjelaskan pesan dari Erick.
"Waw, hebat sekali musuh kita kali ini. Sepertinya benar-benar sangat direncanakan dengan matang. Untung saja kau berhasil membuat Erick berpihak kepada kita, kalau tidak kita pasti tidak akan sesantai ini." ujar Alvin sambil bertepuk tangan.
"Aku tahu dari neneknya, sebenarnya Erick anak yang baik. Dia melakukan semua kejahatan karena keluarganya terus diancam. Jadi aku sangat yakin jika menolong keluarganya dia akan berbalik kepada kita." ucap Daffin.
Dia lalu beranjak dari kursi dan berjalan menuju kearah jendela. Dia berdiri dan menatap datar ke gedung disebrang perusahaannya. "Semoga semuanya berjalan dengan lancar." ucap Daffin sambil merogoh ponselnya.
"Ini sudah jam 9 seharusnya Alena sudah sampai di kota Batam." gumamnya sambil menunggu chat dari Alena.
Alena yang baru saja tiba di Hotel terlihat muram dan tidak bersemangat. Berbeda dengan Fira dan Adel, sejak naik pesawat hingga turun pesawat dan bahkan setelah sampai di Hotel pun mereka terlihat bahagia dan sangat menikmati perjalanannya.
"Waw, kamar hotel tripel bad!" teriak Adel ketika membuka pintu kamar VIP mereka.
"Wahh, kita sangat beruntung. Liburan geratis dan bahkan kamar Hotel dikasih yang VIP!" Timpal Fira ikutan takjub.
__ADS_1
"Suami Alena kaya banget!" teriak Adel lagi sambil membantingkan tubuhnya ke atas kasur.
Alena yang masih muram sama sekali tidak menikmati liburanya. Dia tahu maksud Daffin kenapa menyuruhnya untuk liburan dan bahkan mengajak sahabatnya sekaligus. Daffin pasti tidak mau terjadi sesuatu dengan Alena karena nanti malam perang saudara akan dimulai.
"Semoga kamu baik-baik aja disana, Mas. Aku tidak akan pernah memaafkan kamu jika kamu sampai terjadi sesuatu." batin Alena sambil menitikan air matanya.
Ketika melihat Alena meneteskan air matanya, Fira dan Adel pun langsung memeluk Alena seraya menghiburnya agar tidak menangis lagi.
"Cup-cup sayang, jangan nangis dong. Mentang-mentang suaminya tidak ikut kamu sepanjang perjalanan sampai detik ini terus memasang wajah masam." ujar Adel sambil memeluk Alena.
"Iya, kamu bahkan sekarang menangis. Dia kan sudah bilang kalau kerjaannya selesai akan langsung menyusul kemari." timpal Fira sambil menghapus air mata Alena.
"Huhu, aku kangen Mas Daffin." isak Alena. Dia langsung membalas pelukan kedua sahabatnya.
"Ughh, dasar bucin!" ketus Adel.
"Kalian tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Aku tidak bisa berhenti mengkhawatirkan mas Daffin." batin Alena terus menangis.
Mereka bertiga pun berpelukan seperti Teletubis. Alena merasa sedikit nyaman saat bersama sahabatnya. Daffin memang paling mengerti Alena, dia tahu bahwa Alena akan sedikit tenang jika bersama para sahabatnya.
"Sayang banget, ya, Sania gak ikut liburan sama kita. Coba saja ada dia pasti tambah rame dan seru." ujar Fira sedikit sedih.
"Iya, sekarang dia lagi ngapain ya di Singapura?" timpal Adel ikutan sedih.
"Vidio call, yuk!" ajak Fira bersemangat. "Ayuk, kita pamer sama dia. Bilang kita liburan bareng." balas Adel yang juga penuh semangat.
Alena pun hanya tersenyum dan mengikuti apa maunya mereka saja. Dia berusaha untuk tetap tenang dan tidak terlalu Mengkhawatirkan Daffin.
"Aku percaya tidak akan terjadi sesuatu dengan kamu, Mas." gumam Alena didalam hati.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
__ADS_1
Buat yang sudah mampir minimal wajib tinggalkan jejak like kian, ya!
comment dan vote novel ini juga.