Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 16 Gosip


__ADS_3

Setelah tiba di depan gedung kantornya Daffin, Alena langsung turun dari mobil dan berjalan mengikuti Daffin menuju ruang kantornya. Semua pasang mata tak bisa berpaling dari mereka berdua, beberapa mulut pun tak henti-hentinya mengatakan ke irian mereka kepada Alena. Siapa pun yang bisa berdiri di samping Daffin adalah orang yang sangat beruntung, apa lagi jika dia berstatus sebagai istrinya.


"Selamat pagi, Pak!" sapa para karyawan dengan sangat ramah.


"Pagi," balas Daffin disertai senyuman.



Daffin adalah seorang atasan yang sangat ramah dan peduli terhadap semua karyawannya. Walau tukang sapu sekalipun, dia tidak pernah memandang rendah pekerjaan orang lain.


"Bukannya pak Daffin akan menikah dengan ketua Divisi kita, kenapa sekarang dia menikah dengan gadis kecil?" bisik seorang karyawan kepada temannya.


"Sepertinya dia lebih muda dari adikku, padahal lebih cocok dengan bu Serly, kan? Sama-sama sudah dewasa,"


Alena yang sejak tadi di pandang dan di bicarakan oleh banyak orang pun merasa sangat risih. Sebelum masuk ke dalam lift dia berbalik dan menghampiri beberapa karyawan yang terus menatap dan berbisik membicarakannya.


"Hey, apa kalian tidak ada kerjaan lain selain membicarakan orang lain?" bentak Alena sambil bertolak pinggang.


"Ma-maaaf, Bu! Kami akan segera kembali bekerja," jawab mereka semua sambil berbungkuk ketakutan.


"Apa aku terlihat tua sehingga kalian memanggilku dengan panggilan ibu??" ketus Alena lagi dengan tatapan yang sangat tegas.


Mereka para karyawan pun hanya saling pandang karena merasa bingung. Pasalnya mereka memanggil Alena dengan panggilan ibu bukan karena mengira dia sudah tua, tapi menghargai dia karena dia adalah istri dari Daffin atasan mereka.


"Al, apa yang kamu lakukan cepat masuk!" ajak Daffin masih menunggu di dalam lift.


"Tunggu, Mas!" pinta Alena.


"Ingat.!! jangan panggil aku Ibu karena umur ku masih 19 tahun dan lagi kalian jangan banyak berghibah!" perintah Alena dengan sangat tegas. Alena pun langsung berjalan menghampiri Daffin yang sejak tadi menunggunya di Lift.


Semua karyawan langsung menghela napas lega ketika Alena sudah pergi meninggalkan mereka. Alena benar-benar berhasil membuat mereka ketakutan dipertemuan pertama mereka.


"Huuft, gila banget, istri bos sangat galak!" ucap Lina kepada temannya.


"He'em, aku sampek gemeteran, padahal dia masih seumuran adikku," balas Nana temannya Lina.


"Tegas dan galak banget ya, padahal kita manggil dia ibu karena dia adalah nyonya Bos kita,"


"Wajarlah dia masih muda, kedepannya kita panggil dia mbak saja apa ya?" tanya Nana.


"Apa yang sedang kalian runding kan??" tanya Alvin yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.


Semua karyawan pun lagi-lagi langsung terdiam dan tertunduk segan. Alvin adalah wakil Direktur yang sangat tegas. Walau Daffin tidak terlihat pernah memarahi karyawannya, faktanya karena semua masalah karyawan yang memiliki kesalahan akan di limpahkan kepada Alvin. Oleh karena itu, Alvin terkenal sebagai atasan yang sangat pemarah dan sangat tegas.


"Itu... tadi kami dimarahi oleh istrinya pak Daffin, gara-gara... kami bergosip," jawab Lina terbata-bata.


"Hah? Apa benar pak Daffin membawa istri kecilnya dan kalian di marahi olehnya?" tanya Alvin tidak percaya.

__ADS_1


"Benar Pak," jawab Lina tertunduk malu.


"Ini baru permulaan, berhati-hatilah dengan istrinya karena walau dia terlihat seperti hello kitty bukan berarti kucing tidak bisa menggigit," jelas Alvin lalu pergi begitu saja meninggalkan mereka.


Lina dan dan karyawan lain pun langsung terdiam, semua kata yang keluar dari mulut Alvin tidak bisa di anggap sepele. Karena jika Alvin sudah berkata demikian, maka semua orang memang benar harus hati-hati terhadap Alena.


Ketika mengetahui bahwa Daffin membawa Alena ke kantor, Alvin langsung segera pergi ke ruangan Daffin. Dia ingin melihat ekspresi Daffin kenapa dia bisa membawa Alena ke kantor, padahal dia berniat untuk menyembunyikan fakta bahwa Alena adalah istrinya.


Di sisi lain, Alena yang masih cemberut langsung menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang berada di ruangan Daffin. Daffin yang melihat Alena terus saja memanyunkan bibirnya pun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Alena, kamu tidak capek ya terus memajukan bibirmu sampai 5 CM gitu?" tanya Daffin sedikit meledek sambil membawa kotak obat.


"Aku tu paling tidak suka kalau ada orang gosip pas di telinga aku, Mas!" jawab Alena ketus.


"Lain kali walaupun kamu marah jangan sampai ngelabrak karyawan seperti itu, mereka hanya karyawan biasa kasian," jelas Daffin sambil mengoleskan salep di kening Alena.


"Jangan sok belain mereka lah, Mas!... Ahh apa sih yang kamu kasih ke muka aku, Mas?" ketus Alena sambil menepis tangan Daffin.


"Al, kamu tidak bisa diam ya walau cuman 1 menit saja, aku mau ngasih salep buat kening kamu yang memar!" ucap Daffin sambil memegang kedua tangan Alena.


"Ya, memangnya ini ulah siapa?" ketus Alena sambil menatap marah mata Daffin.


"Iya aku minta maaf, makanya kamu jangan susah diatur kalau sama aku," balas Daffin meminta maaf.


Alena pun langsung terdiam saat mengetahui bahwa Daffin ternyata mau mengobati luka memar di keningnya. Dia baru ingat bahwa saat tadi pagi dia terbentur pintu mobil saat Daffin tiba-tiba berhenti di depan mobil Tomy.


Tokkk.. Tokkk.. Tokk...


"Wahh, apa Pak Daffin benar-benar membawa istri kecilnya ke kantor?" tanya Alvin sambil membuka pintu.


"Hoho, ternyata 'Si anjing kecil' Alvin," ucap Alena dengan tatapan meledek.


Alvin langsung membulatkan kedua matanya ketika mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Alena. Dia langsung menghampiri Daffin dan melayangkan pukulan kecil ke pipi Daffin.


Bukkk..


"Aww, kenapa kau memukulku??" pekik Daffin emosi.


"Aku kesal kepada istri mu, lalu aku melampiaskan kepada suaminya saja," jawab Alvin santai.


"Sialan kau, Vin!" gertak Daffin sambil menunjukan kepalan tangannya.


"Hey Alena!! sepertinya hanya fisikmu saja yang berubah setelah 3 tahun tidak bertemu, mulutmu tetap saja sama pedasnya seperti dulu," omel Alvin sambil duduk di sofa.


"Ya, tapi setidaknya aku tidak munafik sifat ku yang memang seperti ini, tidak seperti bos mu yang sok ramah," ketus Alena sambil melirik Daffin yang baru siap mengoleskan salep di keningnya.


"Hahahaha..."

__ADS_1


Alena dan Alvin pun langsung tertawa lepas sambil menatap Daffin. Daffin hanya terdiam sambil menahan emosinya. Daffin lalu mengambil jas yang dia taruh di senderan kursi dan pergi ke tempat rapat.


"Ayo cepat rapat pagi sudah mau dimulai," ajak Daffin sambil memakai jasnya.


"Ayo!" balas Alvin sambil berjalan mengikutinya.


"Hey, bagaimana denganku, aku akan bosan jika menunggu di ruangan ini sendirian!" pekik Alena sambil berlari kecil dari ruangan.


Daffin pun langsung berhenti dan berbalik melihat Alena. Ketika melihat Sekretaris Mey membawa kardus, Daffin pun langsung memanggilnya.


"Mey, kemari!" pinta Daffin sambil melambaikan tangannya.


"Ada apa, Pak?" tanya Mey setelah menghampiri Daffin.


"Berikan kardus itu kepada dia, suruh dia yang antar!" perintah Daffin sambil tersenyum nakal.


Alena langsung membulatkan matanya karena tidak percaya bahwa Daffin malah menyuruhnya seperti pegawai Office Girl. "Aku tidak mau suruh saja yang lain, itukan pekerjaan karyawan mu," ketus Alena menolak keras.


"Benar, Pak. Biar saya saja yang mengantar ini," pinta Mey merasa tidak enak.


Daffin merasa tidak sabaran, dia pun langsung merebut kardus yang dibawa Mey dan menyodorkannya ke depan Alena.


"Bukannya kamu bilang takut bosan, kamu jalan-jalan saja di kantor ini sekalian bawa kardusnya ke ruang Office," ucap Daffin sambil meletakkan kardus di tangan Alena.


"Ingat.!! Didalamnya ada dokumen penting jika kamu meletakkannya sembarangan dan hilang maka akan berakibat fatal bagi perusahaan," ucap Daffin dengan wajah yang sangat serius.


Daffin pun lalu pergi begitu saja meninggalkannya, sedangkan Alena benar-benar marah dibuatnya. "Daffin sialan!!" pekik Alena menahan emosinya.


Alena bingung harus mengantarnya kemana, dia tidak tau dimana letak ruang Office. Ingin bertanya pun kepada siapa karena saat ini jam kerja semua orang fokus kepada pekerjaannya masing-masing.


Alena berjalan sekehendak hatinya tidak tau mengarah kemana. Dia terus saja menelusuri setiap koridor kantor dan sembarangan masuk kedalam ruangan.


"Aduh aku sepertinya salah masuk ruangan deh, kenapa ruangan ini tidak ada penghuninya? Apa semua orang sedang rapat?" gumam Alena berbicara sendiri.



Alena benar-benar merasa dikerjai oleh suaminya sendiri. Karena kesal dan tidak tau mau dimana letak ruang Office, dia pun langsung menggubrakan kardus itu ke lantai.


Brukkkk


"Arghhh, Daffin sialan kalau berkas penting kenapa harus aku yang mengantarnya," gerutu Alena sambil melihat kekanan dan kekiri.


"Ruang Office dimana sih?" sambungnya lagi sambil mengambil kembali kardus yang baru saja ia buang sendiri.


"Halo! Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya seseorang dari arah belakang Alena.


Alena pun langsung membalikan tubuhnya untuk melihat siapa yang berbicara dengannya. Saat dia berbalik, Alena terkejut setengah mati karena pria itu sangat tampan di matanya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


Maaf ya kalau author Lulun baru Up eps baru lagi, karena kemarin author sibuk banget lagi ada acara. dan untuk kedepannya juga authot bakalan sibuk dengan dunia nyata jadi sekali lagi maaf kalau gak bisa Update daily..🙏🙏


__ADS_2