
Setelah Daffin merasa Alena sudah tenang dan aman, dia langsung kembali pergi ke kantornya. Diperjalanan dia terus saja melamun hingga beberapa kali hampir saja menabrak kendaraan lain. Masalah yang dia buat sendiri membuat banyak orang lain akan tersakiti.
"Argghhh, apa yang harus aku lakukan!" gerang Daffin sambil memukul kemudi mobil.
Saat ini dia sedang berhenti di lampu merah. Saat lampu hijau sudah menyala, Daffin masih saja belum melajukan mobilnya hingga membuat orang dibelakangnya marah-marah.
"Hey, mobil milik siapa yang didepan sana,cepat jalan!" teriak seorang pengemudi. Daffin terkejut dan langsung segera melajukan mobilnya menuju gedung perusahaan.
Di sisi lain di dalam ruangan kantor, terlihat Alvin sedang termenung sambil membaca selembar kertas yang sudah hampir 1 jam ia terus baca berulang kali. Dia terus mengeluh ketika membaca laporan yang sudah ia tunggu lebih dari 2 minggu yang lalu.
"Huuft, kenapa hasilnya 99% lagi. Padahal aku melakukannya tanpa sepengetahuan siapapun. Bahkan Daffin pun tidak sadar saat aku mengambil sample DNA nya." gumam Alvin sambil memijat kepalanya sendiri.
"Arghhh, aku pusing!!" teriaknya sambil mengacak-ngacak rambutnya.
"Apa yang kau pusingkan??" tanya Daffin yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Woy! Kau membuatku terkejut!" pekik Alvin sambil meremas kertas hasil laporan tes DNA Daffin dan Vivi.
Alvin memang sangat peduli dengan Daffin. Dia tidak ingin Daffin terus diperalat oleh Serli yang sangat licik itu. Alvin tanpa sepengetahuan siapapun melakukan tes DNA untuk Daffin. Walau sudah 2 kali tes DNA dan hasilnya sama, yaitu 99% bahwa Daffin adalah ayahnya Vivi. Alvin tetap curiga dan akhirnya diam-diam melakukan tes sendiri. Namun, hasilnya tetap sama bahwa Daffin adalah ayah kandung Vivi.
"Kertas apa yang membuatmu pusing? Biar aku bantu selesaikan!" tanya Daffin sambil mencoba untuk merebut kertas yang diremas oleh Alvin.
"Tidak bisa ini bukan urusanmu!" ujar Alvin memasukan kertas tersebut kedalam laci.
"Aku ingin lihat, Vin!" bentak Daffin sambil mendorong laci tersebut.
"Argghhh, dasar Daffin set*nn tanganku terjepit!!" teriak Alvin sambil menarik tangannya dari laci.
Daffin terkekeh tak bisa menahan tawanya. "Hahaha, makanya jangan melawanku." ucapnya merasa boss. Daffin pun langsung membaca kertas yang disembunyikan Alvin.
Seketika Daffin langsung mengkerutkan keningnya ketika membaca kertas tersebut. Ia langsung menatap Alvin dengan tatapan tajam. Alvin pun hanya menyengirkan giginya ketika ia tertangkap basah.
"Hehe.."
"Kalau kau banyak duit, kenapa tidak traktir saja aku makan sampai mati dari pada harus buang-buang duit untuk melakukan tes DNA dan hasilnya masih sama." omel Daffin sambil mendorong kepala Alvin.
"Aku tidak percaya dengan hasil sebelumnya," ucap Alvin kecewa.
"Lalu bagaimana dengan yang sekarang?" tanya Daffin sambil mengangkat kertas yang ia pegang.
"Aku juga masih tidak percaya. Apa kau benar-benar merasa sudah menidurinya, Fin?" tanya Alvin dengan wajah serius.
Daffin langsung menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia kesal karena ini pertanyaan yang kesekian kalinya yang ditanyakan oleh Alvin.
"Sudah aku bilang malam itu aku mabuk, aku tidak pernah ingat jika sudah melakukannya." jawab Daffin sambil memukul kepala Alvin dengan dokumen didepannya.
"Yang aku baca di cerita novel atau komik, CEO yang mabuk akan mengingat semua kejadian yang ia lakukan ketika sudah sadar. Yang kau alami itu mabuk atau mati suri??" tanya Alvin dengan tatapan sedikit meledek.
Plaakkk
"Kau yang mati suri!" ujar Daffin lagi-lagi memukul kepala Alvin menggunakan gulungan dokumen.
__ADS_1
"Adehhh, sakit!" rintih Alvin sambil mengusap kepalanya. "Lalu sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Alvin.
"Waktu itu aku sedang frustasi karena Alena meninggalkanku. Aku tahu kalau itu pasti rencana licik Serli. Dia pasti mengatakan sesuatu yang membuat Alena sangat marah padaku. Saat aku ingin memberi pelajaran kepada Serli, tiba-tiba saja aku merasa pusing dan setelah itu aku tidak ingat apa-apa lagi." jelas Daffin sambil mengingat-ngingat kejadian 3 tahun yang lalu.
"Lalu setelah itu kau terbangun dalam keadaan bersama Serli?" balas Alvin menyambungkan cerita Daffin.
"Ya, kau sudah tau persis kejadiannya," ketus Daffin sambil bersiap untuk memukul kepala Alvin lagi. Namun, kali ini dengan sigap Alvin langsung menangkisnya.
"Kenapa kau tidak mengejar Alena ke Singapura? tanya Alvin dengan tatapan datar.
"Aku mengejar Alena sampai bandara, tapi dia tambah marah bahkan bersumpah didepanku. jika aku mengikutinya hingga bandara dia bersumpah akan membenciku sampai mati." jawab Daffin sambil mengangkat kepalanya menatap langit-langit kantor.
"Masalahmu aku ikut memikirnya, membuatku ikutan pusing," geram Alvin sambil menggaruk kepalanya dengan kasar.
"Jadi itu yang membuatmu terus jomblo," ledek Daffin sambil menahan tawanya.
"Sialan! lalu apa rencanamu selanjutnya?" tanya Alvin judes.
"Aku ingin membawa Alena pindah dari kota ini," ucap Daffin serius.
"Hah, pindah?" kau ingin menjauhkan Alena dengan si biang masalah?" tanya Alvin. "Lalu bagaimana dengan Vivi?" sambungnya lagi.
"Aku akan membawa Alena sekaligus Vivi. Aku akan mencocokkan DNA ku di Rumah Sakit lain." jawab Daffin sambil berjalan menuju jendela.
"Apa?? Apa maksudmu jika kita melakukan tes DNA di kota ini hasilnya akan tetap sama walau di tes sampai seribu kalipun?" tanya Alvin sambil berdiri dari kursinya.
Daffin hanya mengangguk sambil menatap datar keluar jendela.
"Lalu bagaimana dengan rencanamu itu, jika kau membawa Vivi bersama Alena. Alena pasti akan bertanya." Alvin merasa khawatir jika saja Daffin tidak akan bisa mengatasinya.
"Aku akan mencoba jujur kepada Alena," jawab Daffin lalu pergi begitu saja meninggalkan Alvin.
"Hey hey, jujur bagaimana? Jangan pergi jika belum selesau bicara!" teriak Alvin merasa diabaikan. Daffin dengan santai terus berjalan tanpa mempedulikan Alvin yang kesal karenanya.
Daffin berjalan menuju ruang kantornya. Saat tiba di kantor dia langsung duduk dan melihat ada segelas kopi di atas mejanya. Daffin melihat sekitar ruangannya, dia tidak melihat ada orang lain di dalam kantor.
Tuuttt...
"Mery, siapa yang menyiapkan kopi di meja kerjaku?" tanya Daffin kepada sekretarisnya melalui telepon kantor.
"Maaf, Pak! Tadi bu Serli datang mencari bapak, dia bahkan terus menunggu Bapak. Padahal saya sudah melakukan apa yang Bapak perintahkan untuk tidak mengizinkan dia masuk, tapi bu Serli memaksa." jelas Mery dengan nada sedikit takut.
"Masuk dan buang kopi ini!" perintah Daffin kesal.
Mery pun tak lama langsung masuk ke ruangan kantor dengan perasaan was-was karena takut di marahi oleh Daffin.
"Maaf, Pak! Saya akan segera membuangnya." ucap Mery dengan sangat hati-hati.
"Katakan pada Manager bagian Devisi, segera cari ketua Devisi baru."
"Ba-baik, Pak." jawab Mery gugup.
__ADS_1
Dengan cepat Mery langsung berlalu dari hadapan Daffin. "Menyeramkan, gagal menikah jabatanpun hilang. Biar mampus sih Bu Serli itu walau hanya ketua Devisi tapi sikapnya sangat sombong." gumam Mery sambil membawa kopi.
"Apa itu?" tanya Alvin sambil menunjuk segelas kopi.
"Ini jelas-jelas kopi, Pak." jawab Mery geram.
"Biar ku minum," Alvin yang sedang menginginkan kopi pun langsung merebut dan meminumnya.
"Itu dibuat oleh mantan calon istrinya pak Daffin, makanya pak Daffin menyuruh saya untuk membuangnya." ucap Mery santai.
Puuffttt....
Seketika Alvin langsung menyemprotkan kopi itu kewajah Mery. "Kenapa tidak bilang dari tadi!" pekik Alvin sambil memuntahkan kopi dari mulutnya.
"Bapak yang main nyerobot, dan lagi wajahku kenapa disembur!" teriak Mery merasa kesal.
"Hahahah, Sory!" Alvin tanpa merasa bersalah langsung berlari masuk kedalam kantor Daffin.
"Pak Alviiinnnn!!!" teriak Mery.
***
Di suatu tempat terlihat Serli sedang menunggu seseorang. Serli terlihat memakai topi dan kacamata, dia bahkan terlihat sangat waspada dengan sekitarnya.
Tak lama seorang pria berbaju hitam pun datang langsung menemui Serli. "Bu bos. seperti yang anda perintahkan saya sudah menukarnya dan ini yang asli," ucap seseorang sambil menyerahkan beberapa lembar kertas.
"Bagus, ini upahmu, apa cukup?" balas Serli sambil memberikan uang kepada pria berbaju hitam itu. Dia pun langsung menghitung jumlahnya.
"Cukup, Bu."
"Selanjutnya kamu terus awasi pergerakan mereka, jika ada yang aneh langsung laporkan kepadaku!" pinta Serli dengan sangat tegas.
"Siap, Bu bos!"
Setelah transaksi selesai, Serli langsung masuk kedalam mobil karena takut ada yang melihatnya. "Kalian belum sepintar diriku!" gumam Serli sambil merobek hasil laporan DNA.
.
.
.
.
.
.
BERSAMBUNG.
Maaf telat Update...
__ADS_1
Jangan lupa like, comment dan vote!!