Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 63 Keluarga besar Permana (SS2)


__ADS_3

Setelah semua pembicaraan selesai, merekapun pamit kepada pak Bagas dan Hendra untuk pulang ke rumah. Tomy kembali ke rumahnya terlebih dahulu untuk mengambil barang-barangnya, sedangkan Daffin dan Alena langsung kembali untuk menemani ibunya.


Diperjalanan, Daffin terlihat sangat lesu dan sangat kesal. Dia juga sedang memikirkan cara bagaimana cara membujuk ayahnya agar mau dibebaskan dari penjara.


"Kalau saja papa setuju, bisa saja aku menyewa pengacara untuk mengeluarkan papa dari penjara." Ucap Daffin masih fokus dengan kemudinya.


"Daffin, kamu kan tahu sendiri kalau papa mu itu orangnya kukuh dengan pendiriannya. Lagi pula bagi papa mu itu sebuah pertanggung jawaban atas apa yang ia lakukan di masa lalu. Sejak dulu ia selalu menyesali perbuatannya itu." Balas bu Agis sendu.


Alena pun langsung memeluk ibu mertuanya. Ia mencoba untuk menenangkan ibu mertuanya agar tidak sedih. Daffin hanya melirik Alena dengan tatapan sedikit kesal. Ia benar-benar tidak suka karena Alena mengambil keputusan tanpa bertanya dengannya terlebih dahulu tentang tinggal bersama ibunya.


"Sepertinya mulai sekarang aku harus memperketat pengawasan," batin Daffin sambil melirik istrinya.


Sementara itu, Tomy yang baru saja sampai di rumahnya langsung membereskan barang-barang penting yang akan ia bawa untuk tinggal ke rumah Permana. Bibirnya tak henti-hentinya terus tersenyum membayangkan detik-detik selalu melihat senyum dan tawa wanita yang ia cintai.


Ting.. tong..


Saat sedang beres-beres terdengar suara bel berbunyi. Tomy pun langsung menuju pintu untuk melihat siapa yang datang bertamu.


"Hay!"


Terlihat seorang wanita dengan senyum dibibirnya namun terlihat dingin. Tomy mengkerutkan dahinya seraya berpikir siapa wanita dihadapannya itu.


Melihat Tomy yang hanya diam tidak mempersilahkannya untuk masuk, wanita itu pun masuk dengan sendirinya melewati Tomy yang masih diam mematung. Ia berjalan sambil melihat sekeliling isi rumah Tomy tak lupa pula ia menyentuh setiap barang yang berada diatas meja.


Tomy terus memperhatikannya tanpa bertanya siapa dan buat apa tujuannya dia bertamu ke rumahnya.


"Rumahmu besar, tapi terasa dingin sama sekali tidak ada kehangatan." Ucapnya sambil kembali menghampiri Tomy.


"Apa urusanmu? Kita tidak saling kenal." Tomy memasang wajah tidak peduli dan melewati wanita itu begitu saja. Ia langsung menaiki anak tangga tanpa mengusir atau mempersilahkan duduk wanita yang baru saja datang.


"Kau meninggalkan tamu begitu saja, apa tidak takut aku mencuri sesuatu dari rumahmu?" Tanyanya heran.


Tomy menghentikan langkahnya sambil melihat sekeliling isi rumahnya. "Ambil saja apa yang kau mau," jawabnya cuek.


Wanita itu hanya mendengus kesal karena sepertinya Tomy tidak bisa diajak basa-basi.


"Oke, aku Chelsi. Aku kemari ada yang ingin aku bicarakan denganmu." Wanita yang bernama Chelsi itu pun langsung mengejar Tomy yang sudah hampir diujung tangga.


Tomy lagi-lagi menghentikan langkahnya dan kembali berpikir untuk mengingat siapa wanita itu. "Aku tidak mengenalmu,"


"Tapi aku mengenalmu," timpal Chelsi. Tomy yang masih memasang wajah datarpun sama sekali tidak tertarik dengan apa yang ingin wanita itu bicarakan. Ia mengira bahwa Chelsi hanya wanita yang suka mengejar laki-laki seperti wanita lainnya.


"Ayo kita bicara, ini mengenai ayahmu." Ucap Chelsi sambil mengeluarkan sebuah dokumen dari tasnya.

__ADS_1


Tomy yang tidak peduli lagi tentang ayahnya semakin tidak tertarik untuk berbicara dengan Chelsi. Ia pun memasang muka malas kemudian berjalan meninggalkan Chelsi.


Lagi-lagi Chelsi hanya mendengus kesal karena sulit baginya untuk berbicara dengan Tomy. "Ayo kita bicarakan ini dan akan aku pastikan kau bisa mendapatkan Alena." Teriak Chelsi dengan nada kesal.


Seketika Tomy pun langsung menghentikan langkahnya dan berbalik mendekati Chelsi. Nama Alena membuat Tomy tertarik dengan apa yang aka Chelsi bicarakan.


"Katakan apa yang ingin kau katakan!" Ucap Tomy. Tomy mengajak Chelsi untuk bicara diruang kerjanya.


"Oke!" Chelsi pun mengikuti Tomy dari belakang.


***


Setelah menghabiskan waktu hampir setengah jam untuk berbicara dengan Chelsi, Tomy pun segera mengusir Chelsi dari rumahnya. Pembicaraan rahasia yang Chelsi katakan membuat Tomy sedikit emosi. Ia pun merasa bahwa Chelsi orang yang baru ia temui itu ternyata memiliki dua sisi dari paras wajahnya yang terlihat anggun dan lugu.


"Ingat apa yang aku katakan, pikirkan baik-baik, oke!" Ucap Chelsi sambil memiringkan senyumnya.


Tomy hanya terdiam dengan wajah datarnya. Sebenarnya Tomy hanya terlihat datar dari mimik wajahnya saja. Dalam hatinya ia berpikir keras memikirkan semua kata-kata Chelsi.


Chelsi pun masuk ke dalam mobil dengan senyum yang masih ia tunjukan dari bibirnya. Sebelum melaju ia menurunkan kaca mobilnya dan kembali mengatakan sesuatu pada Tomy.


"Ikuti permainanku, maka dia akan baik-baik saja!" Ucap Chelsi dengan suara setengah berbisik tetapi masih bisa didengar oleh Tomy.


Tomy hanya menarik sudut bibirnya setelah mendengar kata-kata terakhir Chelsi. "Aku paling tidak suka diatur-atur apalagi oleh seorang wanita. Aku akan mendapatkan yang aku mau dengan caraku sendiri." Gumamnya.


***


"Mas Daffin!" Panggil Alena sambil membuka pintu kamar.


Mata Alena melihat ke sepenjuru kamar, tetapi orang yang ia cari tidak ada didalam. Alena pun segera pergi menuju ruang kerja karena menurutnya itu adalah satu-satunya tempat yang sering Daffin gunakan untuk duduk berlama-lama.


"Semenjak pulang dari kantor polisi tidak tahu kenapa mas Daffin terlihat aneh. Terlalu banyak diam dari pada bicara." Gumam Alena sedikit kesal.


"Mas!" Panggilnya lagi sambil membuka pintu ruang kerja.


Disana ternyata Daffin juga tidak ada. Alena semakin bingung harus mencarinya kemana lagi.


"Aish, kemana sebenarnya kamu tuh, mas?" Geram Alena sambil bertolak pinggang. "Mobilnya ada, motor juga ada, tapi kenapa orangnya tidak ada. Awas saja kalau ketemu nanti." Sambungnya lagi penuh dengan ocehan.


Alena pun kembali ke meja makan dengan wajah kesal. Disana orang-orang sudah berkumpul untuk makan malam tinggal menunggu Daffin saja.


"Gak ketemu, Sayang?" Tanya bu Agis terlihat khawatir. Alena pun segera menggelengkan kepalanya menjawab pertanyaan ibu mertuanya.


"Sudahlah, Mah. Dia bukan anak kecil lagi kalau lapar nanti juga datang sendiri." Ketus Dafka sudah tidak sabar untuk menyantap makanan dihadapannya. "Tuh, kan. Benar." Sambung Dafka lagi setelah melihat Daffin yang tiba-tiba muncul di meja makan.

__ADS_1


"Kamu kemana aja, Mas?" Tanya Alena segera setelah melihat suaminya datang.


Daffin hanya melihat Alena tetapi tidak menjawab pertanyaannya. Ia langsung duduk saja disebelah Alena. Ia masih diam tidak mengatakan sepatah katapun. Matanya kini berpindah menatap ke seseorang diseberang meja makan tepat dihadapannya.


Mulai malam ini di meja makan akan ada yang berbeda yaitu bertambahnya satu keluarga yang tidak lain adalah Tomy.


Tomy pun menunjukan senyumnya saat ditatap oleh Daffin. Tidak tahu apa maksud dari senyumnya, tetapi dimata Daffin itu seperti sebuah kode dimulainya perseteruan yang dulu pernah terhenti.


"Mulai saat ini dan seterusnya setiap makan malam kita akan selalu berlima. Ya, walaupun harusnya berenam, tapi suatu saat kita pasti akan berkumpul semua." Ucap bu Agis sebelum memulai makan malamnya.


"Tomy mulai sekarang kamu harus terbiasa ya dengan keluarga ini. Sebenarnya dari dulu juga kita satu keluarga karena ada satu dan lain hal jadi kita semua seperti keluarga baru. Semoga kamu betah ya tingga bersama kita semua." Sambung bu Agis lagi.


"Betul banget, masih gak nyangka deh ternyata kita saudara ya, kak Tomy. Ups, seharusnya kakak adikku ya. Hehe" celoteh Alena dengan wajah yang riang.


Tomy pun sedikit tertawa mendengar ocehan Alena. Bahagia rasanya bagi Tomy bisa satu meja bahkan satu atap dengan orang yang ia sukai.


"Ia, Bik. Semoga dengan kehadiranku disini kalian semua bisa menerimanya tanpa ada yang merasa tidak suka." Balas Tomy sedikit menyindir.


Daffin pun langsung tersenyum sinis mendengar kata-kata itu. Ia pun masih acuh dan langsung mengambil sendok untuk menyantap makan malamnya.


"Kita ini mau makan malam atau mau diskusi," celetuk Dafka yang sejak tadi sudah tidak sabar ingin mengisi perutnya.


Bu Agis pun hanya tertawa kecil menanggapi semuanua. Begitu pula dengan Alena.


Tomy mulai mengunyah suapan pertamanya terasa nikmat dan rasanya tentu saja berbeda dilidahnya. Biasanya Tomy memesan makanan dari luar atau hanya sekedar memasak mie instan untuk makan malam. Namun, kali ini sangat berbeda bisa menikmati masakan rumahan yang samar-samar pernah ia rasakan saat ia kecil dulu.


"Aku bisa merasakan kehangatan keluarga yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, dan makanan ini..." Tomy menatap dadar telur yang sudah ia tusuk menggunakan garpu.


Kebetulan sekali dadar telur itu Alena yang memasak. Alena yang melihatnya pun langsung tersinggung merasa bahwa Tomy terus melihatnya karena rasanya tidak enak.


"Kenapa? Apa rasanya tidak enak? kalau tidak enak jangan dimakan." tanya Alena.


"Hahaha, yang bisa lo masak cuman dadar telur ini?" timpal Dafka dengan ejekan tawanya. "Walau rasanya biasa-biasa saja masih lumayan bisa dimakan kok," Sambungnya lagi sambil memasukan dadar telur kedalam mulutnya.


"Lo kenapa sih Dafka sejak kemarin jadi kebanyakan omong biasanya juga diem kayak es balok." celetuk Alena kesal.


"Dafka! Alena! di meja makan jangan ribut, ya." ucap bu Agis dengan sangat lembut. "Tomy kalau kamu tidak suka telur dadar ambil lauk yang lain saja." sambungnya lagi kepada Tomy.


"Tidak, Bik. aku suka kok telur dadar ini. Aku hanya teringat masa lalu." jawab Tomy lalu memakan telur dadarnya.


Tomy sedikit teringat akan masa kecilnya sebelum dibuang oleh ayahnya. Karena saat itu Hendra masih miskin dan belum menjadi seorang bos, dia selalu memasakkan telur dadar untuk sarapan sampai makan malamnya.


"Aku ingat dulu dia sangat menyayangiku, tapi kenapa tiba-tiba membuangku begitu saja. Sepertinya aku harus menemuinya dan menanyakannya langsung." ucap Tomy dalam hati.

__ADS_1


Bersambung...


(Next episode: Yang pertama kalinya)


__ADS_2