Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 20 Musibah


__ADS_3

"Astaga Alena!! Kita nabrak anak kecil!!" teriak Fira sambil menutup mulutnya karena sangat terkejut dengan apa yang dia lihat.


Alena terkejut bukan main, matanya langsung membulat dan mulutnya ternganga tidak bisa mengatakan sepatah katapun. Keringat dingin dan air mata langsung menetes dengan deras. Tubuhnya bergetar dan kedua kakinya tidak bisa untuk digerakan.


"Alena kenapa diam cepat lihat!" teriak Fira sambil memangku anak kecil yang masih berusia sekitar 2 tahunan.


Karena tidak ada respon dari Alena, Fira langsung menggendong anak kecil itu kedalam mobil. Alena tambah syok ketika melihat darah yang keluar dari kepala anak itu.


"Al, lihat dikalung anak ini tertulis nama Vivi, pasti namanya Vivi. Apa rumah dibalik pagar besi itu rumahnya? Bagaimana ini kita beritahu dulu orangtuanya atau kita langsung bawa ke Rumah Sakit saja?"


Fira terus saja mengajukan pertanyaan. Namun, Alena masih terdiam seribu bahasa. Tangisnya masih belum berhenti dan tubuhnya masih terus bergetar.


"Hiks..hiks Fi-fira, gue gak mau masuk penjara, gue gak bu-bunuh orang, kan?" isak Alena terbata-bata.


"Alena! Bukan saatnya bertanya seperti itu, cepat ke rumah sakit!!" pekik Fira terlihat geram melihat Alena yang terus saja hanya bisa menangis.


"Gue gak bisa nyetir lagi," balas Alena sambil melihat kedua tangannya yang terus saja bergetar.


"Ya udah, kita pindah posisi biar gue yang mengemudi, lo disini jagain Vivi!" tegas Fira dengan cepat langsung menarik Alena keluar dari kursi depan.


Dengan tubuh yang masih gemetaran, Alena menguatkan diri untuk memangku Vivi yang penuh dengan darah.


Fira dengan cepat langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Fira tak henti-hentinya terus menghidupkan klakson mobil agar semua kendaraan sedikit menepi.


Triiriririingg.. Tririrngg


Suara dering telepon Alena berbunyi. Saat dilihat ternyata yang menelepon adalah Daffin. Tentu saja pastinya kedua orang yang mengawalnya pasti sudah melapor kalau ia sudah kabur dari pengawasan dan bahkan berani membawa mobil sendiri.


"Al, siapa yang menelepon??" tanya Fira penasaran karena Alena belum juga menjawabnya.


"Da-Daffin," jawab Alena singkat.


"Ngapain dia nelepon lo sih," balas Fira tidak peduli.


Saat ini hubungan suami istri mereka memang belum diketahui oleh para sahabatnya kecuali Sania. Alena belum menemukan moment yang tepat untuk mengatakan semuanya kepada mereka.


Saat tiba di Rumah Sakit, Fira langsung berlari memanggil Dokter dan Suster. Tidak lama kemudian datang beberapa Suster sambil mendorong brankar dan langsung membawa Vivi ke ruang IGD.


Alena merasa lebih baikan setelah melihat Dokter sudah membawanya untuk perawatan. Dia berjalan dengan perasaan lemas menyusul Fira yang sudah berlari menuju ruang IGD.


Tririrngggg...

__ADS_1


Suara dering Hp sejak tadi terus saja berbunyi, Alena masih belum juga menjawab telepon dari Daffin. Dia hanya terus memandangi layar ponselnya yang bertulis nama Daffin hingga akhirnya tanpa sadar jarinya menggeser notif hijau.


"Alena! Beraninya kamu tidak menjawab teleponku! Beraninya juga kamu kabur dan bawa mobil sendiri, katakan kamu sekarang dimana,biar aku jemput."


Daaffin benar-benar dibuat marah oleh Alena. Jika saja dia tidak mengabaikan teleponnya, mungkin Daffin jadi tidak akan semarah itu.


"Alena jawab aku, kamu dimana??" tanya Daffin lagi menjadi tambah kesal bercampur khawatir.


"Hiks.. Hiks.. Mas Daffin," isak Alena tak bisa lagi berbicara.


Daffin terkejut ketika mendengar isak tangis Alena. Walau barusan dia memarahinya, Alena tidak akan mungkin menangis kalau hanya karena itu karena dia gadis yang sangat bandel.


"Alena, ada apa? Kenapa kamu menangis?" tanya Daffin dari dalam telepon yang mulai merendahkan nada bicaranya.


"Mas, aku gak mau masuk penjara, hiks. Cepat tolong aku!" isak Alena lagi membuat Daffin menjadi lebih terkejut.


Daffin yang sedang duduk di ruang kerjanya langsung berdiri dan mengambil kunci mobilnya. "Alena berhenti menangis, katakan sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Daffin.


"Aku tadi tidak sengaja nabrak anak kecil, sekarang aku masih di Rumah Sakit Annisa, Mas. Cepat kesini ya!" jawab Alena kini suaranya terdengar sedikit lebih tenang.


"Astagfirullah Alena! Aku segera kesana,"


Dengan sangat tergesa-gesa Daffin langsung memakai jasnya dan langsung keluar dari kantor. Dia tidak ingat lagi dengan pekerjaan kantor yang sedang menumpuk. Kenapa Daffin sekhawatir itu? Apa itu tandanya Daffin masih mencintai Alena??


"Aku mau ke Rumah Sakit," jawab Daffin singkat.


"Siapa yang sakit?" tanya Alvin lagi penasaran.


"Alena tadi kabur dari pengawasanku dan mengemudi sendiri, sekarang dia malah nabrak orang." jelas Daffin sambil terus berjalan.


"Astaga Alena, ceroboh banget istri kamu Fin, ya sudah semoga korbannya tidak apa-apa, biar aku yang ngurus kerjaan." ucap Alvin sambil menepuk bahu Daffin.


"Thanks ya, Vin." balas Daffin sambil tersenyum.


Daffin pun langsung menuju parkir mobil dan melaju dengan kecepatan penuh menuju Rumah Sakit.


Sepanjang perjalanan perasaan Daffin tidak karuan. Sejak tadi dia memang memiliki firasat buruk dan inilah yang terjadi bahwa Alena sudah menabrak seorang anak kecil. Namun, perasaan Daffin bukan hanya sekedar itu, Daffin terus saja merasa dadanya sangat sesak karena terlalu mengkhawatirkan sesuatu yang sulit ia bayangkan.


Sesampainya di Rumah Sakit Daffin langsung menuju ruang IGD. Disana sudah ada Alena dan Fira yang sedang duduk dengan wajah cemas bercampur takut.


Alena yang melihat Daffin baru saja tiba langsung memeluknya dengan erat. "Mas Daffin kamu lama banget, hiks." isak Alena dipelukan Daffin.

__ADS_1


Fira yang melihat itu langsung tercengang dan membulatkan kedua matanya. Fira melihat dengan matanya sendiri bahwa bukan hanya Alena yang langsung memeluk Daffin, tapi Daffin juga membalas pelukan Alena dengan sangat lembut.


"Sudah tidak apa-apa, ada aku disini," ucap Daffin mencoba untuk menenangkan Alena.


"Gila banget, apa gue lagi berhalusinasi," pikir Fira sambil menepuk kedua pipinya.


Tentu saja dia merasa tidak percaya karena yang dia tau bahwa Alena sangat membenci Daffin sampai ke ubun-ubun.


"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Daffin sambil menatap kearah Fira.


"I-itu tadi kami terlalu asik mengobrol sampai tidak fokus dengan jalanan, karena jalanan terlihat sepi kami jadi lengah dan sampai tidak sengaja menabrak anak kecil." jelas Fira dengan sangat hati-hati.


"Jalanan sepi? Memangnya kalian lewat jalan mana?" tanya Daffin penasaran.


"Lewat perumahan Kencana, iya kan Fir." jawab Alena sedikit ragu dengan nama jalannya dan Fira langsung mengangguk.


Deghh..


Seketika jantung Daffin langsung berdetak kencang saat mendengar jalan Kencana. Dia juga langsung menyatukan semua informasi dikepalanya.


"jalanan sepi?? Perumahan Kencana? Menabrak anak kecil? Jangan-jangan..." gumam Daffin sambil berjalan menghampiri pintu IGD yang masih tertutup rapat.


Alena dan Fira hanya saling pandang melihat reaksi Daffin yang sangat terkejut hingga terlihat jelas bahwa tubuhnya bergetar. Daffin terlihat berusaha untuk melihat kedalam ruangan melalui kaca pintu. Namun, sedikit pun tidak terlihat apa-apa karena ruangan yang tertutup oleh tirai putih.


"Mas kamu kenapa??" tanya Alena sangat heran.


"Alena jawab aku?" ucap Daffin langsung berbalik dan menggenggam erat kedua bahu Alena.


"A-apa Mas??" tanya Alena lagi sedikit ketakutan.


"Sebutkan ciri-ciri anak yang kamu tabrak, dan kira-kira berapa umurnya?" tanya Daffin sambil membulatkan kedua matanya membuat Alena menjadi tambah ketakutan.


"ciri-cirinya dia ga-gadis kecil sangat cantik dengan rambut sedikit bergelombang dan umurnya mungkin sekitar 2 tahunan," jawab Alena tidak berani menatap kedua manik mata suaminya.


Lagi-lagi jantung Daffin berdetak kencang setelah mendengar penjelasan Alena. Dia teringat putri kecilnya yang memiliki ciri-ciri seperti yang Alena sebutkan dengan rambut sedikit bergelombang dan masih berumur 2 tahunan.


"Oh ya, tadi aku lihat kalungnya, namanya Vivi. Ya itu pasti nama anak itu," sambung Fira dengan sangat yakin.


Deghh...


Daffin terkejut bukan main ketika mendengar bahwa korban yang istrinya tabrak adalah Vivi putri kecilnya yang selama ini masih ia rahasiakan.

__ADS_1


BERSAMBUNG.


__ADS_2