
"Selesai makan kamu mau jalan-jalan kemana lagi,Sayang?" Tanya Daffin disela-sela makannya.
"Mmm... ke Hotel dulu aja deh, Mas. Aku capek, ngantuk juga." Jawab Alena sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
"Oke, deh. Udah puas juga, kan? Dari kemarin jalan-jalan terus." Daffin langsung mengelus lembut ujung kepala Alena. "Kamu tunggu sini sebentar, ya! Aku mau ke toilet dulu." Sambung Daffin dan langsung diangguki oleh Alena.
Daffin pun berlalu pergi dari hadapan Alena. Sambil menunggu Daffin, Alena pun berjalan-jalan kecil ditepi pantai. Alena membiarkan kedua kakinya tersapu ombak kecil yang menyapu bibir pantai. Sesekali dia menendang-nendang air laut dengan wajah yang berseri-seri.
Sudah hampir 30 menit Alena bermain sendiri di tepi pantai. Alena terus menoleh kebelakang berharap Daffin sudah kembali dari toilet, tetapi belum ada juga tanda-tanda kedatangan Daffin membuat Alena mulai kesal.
"Ck, mas Daffin ke toilet atau pulang kampung. Lama banget, sih!" Celetuk Alena tidak sabaran menunggu suaminya.
Beberapa kali melihat ponsel, tapi tidak ada chat atau telepon dari suaminya. Alena pun akhirnya memutuskan untuk menelepon suaminya.
Tuuuttttt... tuuutttt...
[Nomor yang anda tuju sedang sibuk, cobalah beberapa saat lagi!]
"Sebenarnya lagi ngapain, sih?" Gumam Alena kesal karena teleponnya tidak diangkat oleh Daffin. Alena berkali-kali terus menelepon suaminya, tetapi berkali-kali juga Daffin tidak menjawab telepon darinya.
Karena penasaran dan tidak sabar menunggu, Alena langsung menyusul Daffin ke toilet. Namun, baru saja beberapa langkah tiba-tiba seseorang langsung menarik tangan Alena dengan kuat.
"Arghh, sakit!" Rintih Alena. Ia langsung emosi dengan seseorang yang baru saja menarik lengannya.
"Kau...!"
"Ehh, maafkan saya, Mbak. Saya tidak sengaja menarik tangan Mbak terlalu kuat." Jelas pria itu langsung menjeda amarah Alena.
Alena pun merasa tidak peduli dan langsung berbalik berniat meninggalkan pria itu. Namun, lagi-lagi pria itu langsung menghentikan langkah Alena.
"Anda itu kenapa, sih? Tidak sopan!" Bentak Alena kesal.
"Maaf, Mbak! Saya kesini cuman mau menyampaikan pesan dari pak Daffin. Sebelumnya, Mbak ini yg bernama Alena, kan. Istrinya pak Daffin?" Pria itu terlihat sangat sopan dan ramah membuat Alena lagi-lagi menahan amarahnya.
Alena pun langsung menganggukinya. "Kenapa?" Tanya Alena sedikit judes.
"Tadi pak Daffin berpesan kepada saya, kalau mbak Alena harus menemuinya ditempat ini." Jelas pria itu sambil menunjukan sebuah foto pulau.
Alena merasa sangat ragu dengan perkataan pria asing itu. Kalau memang Daffin ingin mengajaknya kesebuah pulau kecil kenapa dia tidak mengajaknya langsung, pikir Alena.
"Mbak Alena pasti bertanya-tanya kenapa pak Daffin tidak mengatakannya langsung, kan?" Tanya pria itu dan Alena hanya terdiam sambil mengkerutkan keningnya. " karena pak Daffin ingin membuat kejutan, Mbak." Sambung pria itu lagi mencoba untuk meyakinkan Alena.
Alena berpikir sejenak sebelum mempercayai perkataan pria itu. Dia sangat meragukan perkataannya, tetapi ia juga berpikir kalau saja Daffin mungkin memang ingin memberinya kejutan.
"Oke, deh. Antar saya kesana!" Akhirnya Alena pun percaya dan meminta pria itu untuk mengantarnya.
Pria itu pun membawa Alena ke sebuah dermaga. Dia membimbing Alena agar naik speedboat untuk menyebrangi pulau yang dimaksud. Mereka pun melaju kencang menuju pulau kecil yang Alena pun tidak tahu dimana tempatnya.
__ADS_1
"Minum dulu, Mbak. Sepertinya mbak terlihat lelah." Pria itu menyodorkan air mineral kepada Alena.
Alena memang merasa lelah karena niat dia setelah makan akan langsung kembali ke Hotel. Dia pun menerima tawaran air mineral dari pria itu kemudian meneguknya beberapa tegukan.
"Ahh, angin laut sejuk sekali membuat mata jadi ngantuk" gumam Alena sambil merasakan hembusan angin yang menerpa wajahnya.
Bruukkkk...
***
Braakkkk..
"Ada orang diluar!" Teriak seseorang dari dalam toilet sambil berusaha untuk mendobrak pintu.
Setelah lama didalam toilet akhirnya seseorang membuka toilet dari luar. Ya, Daffin yang sejak tadi terjebak di dalam toilet pun keluar dengan wajah penuh amarah.
"Siapa yang berani mengunci saya dari luar?" Tanya Daffin kepada pria yang baru saja membukakan pintu toiletnya. Pria itu terlihat memakai pakaian Office boy.
"Maaf, Pak! Pi-pintu toilet ini sebenarnya sedang rusak. Sa-saya lupa memberi peringatan." Jawab pria Office boy itu terbata-bata.
Daffin tidak peduli dan langsung berjalan meninggalkan toilet. Dia langsung menuju pantai dimana tempat ia meninggalkan Alena sendirian. Namun, sesampainya di pantai ia tidak mendapati Alena. Ia mencari ke tempat duduk di bawah payung pun tidak ada.
"Alena kemana, ya? Apa dia kembali duluan ke Hotel?" Gumamnya bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Tanpa berpikir panjang Daffin langsung berjalan menuju hotel. Sesampainya di Hotel ia terkejut karena Alena tidak ada di kamarnya. Daffin mulai khawatir dan berpikir keras sebenarnya kemana istrinya pergi. Ia mencoba untuk menghubungi Alena, tetapi tidak ada jawaban darinya.
"Alena, kamu kemana, sih?" Gumam Daffin terus berusaha untuk menghubungi istrinya.
"Maaf, Mbak. Apa anda melihat kemana istri saya pergi?" Tanya Daffin kepada salah satu pelayan.
"Maaf, Pak. Banyak orang yang kami temui. Istri bapak yang mana, ya?" Pelayan itu terlihat bingung.
"Kami yang tadi pesan makanan terakhir duduk disana," tunjuk Daffin kearah tempat duduk yang tadi mereka duduki.
Pelayan itu terlihat berpikir keras. Tak lama ia langsung memanggil salah satu temannya yang ternyata perempuan yang mengantarkan pesanan mereka.
"Bapak ini menanyakan istrinya, tapi aku tidak tahu. Bukannya kamu yang tadi melayani mereka?" Bisiknya kepada teman yang baru saja ia panggil.
"Ohh, iya." Angguknya ketika melihat wajah Daffin. "Tadi saya melihat istri bapak pergi bersama seorang pria menuju dermaga, Pak." Sambungnya lagi menjelaskan kepada Daffin.
Daffin tanpa basa-basi lagi langsung berlari menuju dermaga. Dia mencari Alena disekitar dermaga yang lumayan luas.
"Alena!!"
"Alena! Apa kamu disini??" Teriak Daffin lagi.
Karena tidak menemukan keberadaan Alena, Daffin satu persatu mulai memeriksa speedboat yang terparkir rapi di tepi dermaga. Sesekali ia pun terus menghubungi Alena berharap ada jawaban darinya.
__ADS_1
"Alena, kamu dimana? Jangan buat aku khawatir seperti ini." Gumam Daffin semakin panik.
Tak lama kemudian dari kejauhan terdengar suara dering ponsel. Suara itu sama persis dengan suara dering ponsel Alena. Daffin pun segera mencari dari mana asal suara ponsel tersebut.
"Suaranya dari arah speedboat ini," Daffin pun langsung loncat kesalah satu speedboat yang terdengar suara dering ponsel.
Ternyata benar disana tergeletak ponselnya Alena, tetapi Daffin tidak menemukan Alena didalam speedboat itu membuatnya semakin khawatir.
"Sial! Pasti terjadi sesuatu dengan Alena." Umpat Daffin kesal bercampur khawatir. "Aku harus segera meminta bantuan Alex," pikirnya sambil mencari kontak Alex.
Daffin mondar-mandir kesana kemari panik tidak karuan. Alex juga tidak menjawab telepon darinya.
"Kenapa susah dihubungi?" Ketusnya terus mencoba menghubungi Alex.
"Mas Daffin!" Panggil seseorang ditengah kepanikan Daffin.
Daffin terkejut dan langsung menyadari bahwa suara itu adalah suara istrinya. Ia langsung berbalik kesumber suara dan ternyata benar suara itu adalah suara Alena. Daffin langsung berjalan cepat dan langsung memeluk erat tubuh Alena.
"Alena, kamu sungguh bersalah telah membuatku khawatir." Ucap Daffin tak mau melepas pelukannya.
"Maaf, Mas. Aku memang bodoh. Aku hampir saja diculik." Jelas Alena dengan suara yang melemah.
"Apa? Diculik?" Tanya Daffin terkejut. "Katakan siapa yang berani menculikmu?" Sambungnya lagi penuh amarah.
"Aku tidak tahu, Mas. Tapi mereka sudah ditangkap kok, Mas. Untuk saja Chelsi datang menolong tepat waktu." Jelas Alena lagi sambil melirik wanita yang sejak tadi berdiri dibelakangnya.
Daffin sama sekali tidak menyadari kalau ada orang lain yang datang bersama Alena. Wanita itu tidak asing di mata Daffin.
"Siapa Chelsi?" Tanya Daffin sambil mengkerutkan keningnya.
"Ini, Mas, kenalin namanya Chelsi model yang lagi naik daun itu, loh. Kalau tidak ada dia yang menolongku aku tidak tahu bagaimana nasibku selanjutnya." Jelas Alena sambil memperkenalkan wanita cantik disampingnya.
"Hay, namaku Chelsi," sapanya sambil menjulurkan tangan.
Daffin tidak peduli dengan perkenalan tersebut. Dia malah merasa curiga bagaimana wanita cantik model itu bisa menolong Alena dari penculik.
Karena merasa diabaikan, Chelsi pun menarik kembali tangannya dan sedikit merasa kesal. "Sial!" Umpatnya dalam hati.
"Ceritakan detailnya setelah kita sampai di hotel, ya!" Pinta Daffin sambil merangkul pinggang Alena.
"Iya, Mas. Tapi Chelsi ikut bersama kita, ya. Lihat, dia terluka gara-gara menolong diriku, Mas. Kita harus berterimakasih dan mengobati lukanya terlebih dahulu." Pinta Alena dan Daffin pun mau tidak mau langsung menganggukinya karena ia melihat memang ada luka goresan di lengan kanannya Chelsi.
Chelsi pun mengikuti Alena dan Daffin dari belakang. "Sabar, Chelsi!" Pikirnya sambil menahan sakit.
Bersambung...
Siapa Chelsi??
__ADS_1
terus ikuti cerita selanjutnya, ya!
Jangan lupa tinggalkan like, comment, dan vote!