Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 47 kejadian dimasa lalu


__ADS_3

Didalam ruang keluarga terlihat semua orang terdiam membuat suasana menjadi hening dan sangat canggung. Daffin terus menatap ayahnya menunggu penjelasan tentang pertanyaannya. Namun, pak Bagas masih tetap diam sambil menunjukan wajah datarnya.


Alena beberapa kali melirik Daffin memberi kode bahwa dia ingin pergi kekamar. Dia tidak tahan berada diantara mereka yang saling tatap seperti hendak mencekik.


"Suasana macam apa ini? Kalau mau bicara ya bicara saja jangan saling diam dengan tatapan datar, membuatku jadi merinding." batin Alena. Alena benar-benar ingin segera pergi saat itu juga.


Alena menggenggam tangan bu Agis dan bu Agis juga langsung membalas genggaman tangan menantunya itu. Mereka berdua merasakan hal yang sama ingin segera pergi dari suasana mencekam itu. Beda halnya dengan Dafka, dia terlihat cuek sambil terus fokus bermain game.


"Pah, aku tanya sekali lagi, apa Papa benar-benar tidak memiliki musuh diluar sana?" tanya Daffin untuk yang kesekian kalinya.


"Sudah ku katakan bahwa aku tidak memiliki musuh." jawab pak Bagas sambil beranjak dari kursinya.


Pak Bagas pun langsung berjalan meninggalkan Daffin dan yang lainnya. Daffin merasa sangat geram dengan sikap ayahnya. Terlihat sangat jelas bahwa ayahnya menutupi sesuatu, tapi dia masih juga tidak mengatakannya.


Sontak Daffin pung langsung berdiri dengan penuh emosi. "Pah, apa kau mau gara-gara sikap egois mu ini kami terkena getahnya. Apa kau ingin menghancurkan semuanya?" bentak Daffin.


Pak bagas langsung menghentikan langkahnya menatap lurus kearah depan.


"Saat ini sedang ada musuh yang mengancam keluarga kita, mereka ingin menghancurkan kita dengan niat balas dendam." sambung Daffin lagi sambil mengepal erat kedua tangannya.


Alena yang merasa khawatir ayah dan anak akan bertengkarpun langsung menarik tangan Daffin agar segera duduk di kursinya.


"Sabar, Mas! Jangan emosi!" bisik Alena dan Daffin pun langsung kembali duduk di kursinya.


"Ya, aku mungkin memiliki musuh itupun kalau dia masih hidup." jawab pak Bagas datar.


"Siapa, Pa? Cepat katakan siapa orangnya?" tanya Daffin langsung berdiri.


"Paman mu," jawab pak Bagas singkat.


Pak bagas berjalan menuju kearah jendela. Dia membuka tirai lalu menatap kosong keluar jendela yang gelap hanya diterangi dengan lampu taman saja.


"Bukannya paman sudah meninggal?" tanya Daffin heran.


"Pamanmu memang sudah meninggal, tapi kuburannya kosong karena jasadnya tidak ditemukan." jawab pak Bagas sambil berbalik melihat Daffin.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Daffin semakin penasaran.


Pak Bagas pun langsung melihat kearah bu Agis. Bu Agis yang sudah berkaca-kaca hanya dapat mengangguk tanda setuju jika masalah itu diceritakan kepada anak-anaknya.


Dafka yang semula cuek dan tidak pedulipun langsung mematikan ponselnya dan langsung fokus dengan ayahnya.


"Sepertinya ini memang saatnya kalian mengetahui semua rahasia itu," ucap Pak Bagas lalu kembali duduk ke kursinya semula.


Daffin, Alena dan yang lainnya pun langsung memasang wajah seriuss siap untuk mendengarkan cerita pak Bagas.


"Semua ini terjadi saat ulang tahun perusahaan 15 tahun yang lalu..."


Flashback on..


"Kali ini ulang tahun perusahaan dilakukan disebuah kapal pesiar, ayah benar-benar sangat royal." ucap Hendra. Dia adalah adik dari Bagas permana. Mereka berdua sedang berjalan menuju ruang kantor.


"Kau seperti baru mengenal ayah saja," jawab Bagas masih sibuk dengan ponselnya.


"Haha, iya, Kak. O ya, aku dengar ulang tahun kali ini ayah akan melakukan pembagian saham." ucap Hendra dengan ekspresi wajah tidak percaya. "Apa itu benar, Kak?" sambungnya lagi.


"Aku bahkan tidak mendengar itu, dari mana kamu mendengarnya??" tanya Bagas lalu berjalan mendahului Hendra dan meninggalkannya.


Hendra langsung merubah ekspresinya, yang tadinya ramah sekarang menjadi penuh amarah sambil menatap punggung kakaknya. "Aku bukan hanya mendengarnya, tapi aku juga membacanya bahwa perusahaan akan jatuh kepadamu." lirih Hendra sambil mengepal kedua tangannya.


"Sayang, ada apa?" tanya Liana, istri Hendra.


"Ayah sudah memperlakukan aku dengan tidak adil!" gerang Hendra masih mengepal erat tangannya.


"Apa? Tidak adil bagaimana maksud kamu?" tanya Liana heran.


"Hari ini bukan hanya perayaan ulang tahun, tapi juga pembagian saham. Perusahaan akan jatuh ketangan anak ayah yang memiliki saham terbesar, dan kamu tahu siapa orangnya?" ujar Hendra dengan penuh amarah.


"Si-siapa, Mas? Jangan bilang bukan kamu?" tanya Liana mulai tersulut api.

__ADS_1


Hendra pun langsung menggelengkan kepalanya. "Bukan, tapi kak Bagas." jawab Hendra.


"Apa? Bagaimana bisa dia yang mendapat harta terbesar! Dia hanya anak angkat, kamu anak kandung ayah yang seharusnya mendapatkan itu semua karena itu memang sudah hak kamu." tegas Liana penuh dengan amarah.


"Kamu benar, bagaimanapun aku anak kandung ayah, seharusnya perusahaan jatuh ditanganku!" geramnya sambil mengepalkan tangan didepan wajahnya.


"Kita harus melakukan sesuatu, Mas!" ucap Liana.


"Kamu tenang saja, aku sudah merencanakan sesuatu. Walau harus bertumpah darahpun perusahaan itu tetap harus menjadi milikku!" ujarnya dan langsung diangguki oleh Liana.


Pukul tujuh malam disebuah kapal pesiar, semua orang sedang asik menikmati perayaan ulang tahun perusahaan PM Group. Ada yang hanya sekedar mengobrol, bersantai sambil menikmati jamuan dan ada juga yang berdansa ria. Mereka semua tampak bahagia tanpa ada yang menyadari bahwa musibah akan datang.


Ya, Hendra sudah menyewa anak buahnya untuk mengacaukan pesta dan untuk membunuh ayahnya sendiri. Dengan kematian ayahnya nanti, dia akan membuat surat wasiat palsu yang bertulis bahwa semua aset akan jatuh ketangan anak kandungnya.


"Liana, kamu pegang pistol ini untuk berjaga-jaga." ucap Hendra sambil memberikan sebuah pistol kepada istrinya.


"Hati-hati ya, Mas!" balas Liana dan langsung diangguki oleh Hendra.


Setelah waktunya tiba untuk pengumuman pemegang perusahaan selanjutnya. Pak Ganendra yang masih menjabat sebagai CEO pun berdiri di atas podium. Dia berdiri ditengah-tengah kedua anaknya yaitu Bagas dan Hendra. Agis dan Liana berdiri sedikit jauh dibelakang mereka.


"Selamat malam para rekan-rekan kerja, para karyawan, dan semua orang-orang yang berada disini yang sedang berbahagia!" sapa pak Ganendra dengan penuh semangat.


"Selamat malam, Pak!" balas semua orang serempak.


"Hari ini kita akan ber..."


Dor.. Dor.. Dorr


Bunyi tembakan tiba-tiba menggelegar menembus langit-langit malam. Semua orang panik dan langsung berlari kesana kemari tak tentu arah.


Bagas yang juga ikutan panik langsung menarik tangan ayahnya dan melindunginya. Semua bodyguard langsung siap siaga untuk melindungi para tamu undangan dan mengarahkan mereka untuk pergi ketempat aman.


Hendra yang melihat semuanya terlihat sangat terkendalipun merasa heran. "Kenapa seperti ini, sejak kapan kakak membawa bodyguard sebanyak ini? Jangan-jangan kakak mengetahui rencanaku?" ucap Hendra.


"Tepat seperti apa yang kamu katakan," ucap Bagas yang sudah berdiri dibelakang Hendra.


Hendra terkejut dan langsung berbalik. "Ba-bagaimana kau bisa mengetahui rencanaku?" tanya Hendra bersikap sesantai mungkin.


"Dengar, tidak peduli apa alasanmu melakukan ini semua. Aku tidak akan membiarkannu menyakiti ayah!" tegasnya sambil menodongkan pistol kearah kepala Hendra.


Hendrapun langsung menyerah mengangkat kedua tangannya. Namun, dia tetap tersenyum seolah-olah dia menyerah tapi bukan berarti dia sudah kalah.


"Hahaha, senjata yang asli bukan aku." ucap Hendra terkekeh tidak bisa menahan tawanya.


Dorrr..


Suara tembakan tiba-tiba terdengar dari ruangan lain. Bagas terkejut dan langsung berlari ke sumber suara. Namun, dengan cepat pula Hendra langsung mengarahkan pistolnya kearah kaki Bagas.


Dorrr..


"Arghhh," Tepat mengenai kaki kanan Bagas. Dia pun langsung terjatuh kelantai sambil menahan sakit.


"Aku tidak akan membiarkan anak angkat mengambil posisiku." ujar Hendra sambil menodongkan pistol dikepala Bagas.


Bodyguard yang datang tidak ada yang berani mendekat. Semuanya terdiam hingga datang Bisma dan langsung meninju Hendra dari belakang.


Bukkk...


"Apa kau sudah gila hingga berani menyakiti keluargamu sendiri?" pekik Bisma sambil melayangkan lagi pukulannya.


Hendra dengan cepat langsung menangkisnya dan membalas pukulan Bisma. Mereka berduapun terjadi perkelahian. Bisma sengaja mengganggu perhatian Hendra agar memberikan Bagas kesempatan untuk kabur.


Dengan langkah kaki yang tertati-tatih, Bagas pun berjalan menuju ruangan tempat menyembunyikan ayahnya.


Saat membuka pintu, Bagas terkejut setengah mati ketika melihat ayahnya sudah tergeletak di lantai dengan bersimbah darah.


"Ayahhh!!!" teriak Bagas sambil berlari memeluk tubuh ayahnya. "Siapa yang melakukan ini padamu?? Hiks ayah bangun!!" teriaknya lagi histeris.


Bagas menoleh kearah pojok kanan dimana Liana masih berdiri sambil mengacungkan sebuah pistol. Tubuhnya bergetar ketakutan dan langsung berlari menuju arah pintu.

__ADS_1


"Mau lari kemana kau?" teriak Bagas dan langsung mengarahkan pistolnya kearah Liana.


Dorrr..


"Arrggghhh,"


Peluru tepat mengenai punggungnya tembus hingga ke dalam jantung Liana. Liana langsung muntah darah. Saat Liana hendak terjatuh ke lantai, Hendra yang baru saja datang langsung menangkap istrinya.


"Liana? Liana!!! Bangun, aku mohon bangun!!" teriak Hendra sambil menggoyang-goyangkan tubuh istrinya.


Tidak ada despon dari Liana, dia sudah meninggal karena peluru yang sudah menembus jantungnya. Hendra pun marah besar dan langsung menembakkan pistol secara membabi buta.


Dorrr.. Doorrr..dorrrr


"Siapa yang berani membunuh istriku!!" teriak Hendra sambil mengarahkan pistolnya kesembarang arah.


Semua orang berlarian mencari tempat yang aman. Sedangkan Bagas masih tetap diam sambil memeluk tubuh ayahnya.


"Hiks, Ayah! Aku mohon bangun jangan tertidur seperti ini!" pekik bagas sambil memeluk erat tubuh ayahnya.


"Tangkap dia!!" teriak Bisma sambil menunjuk kearah Hendra.


Hendra pun langsung berlari mencari perlindungan, dia berlari kearah mobil yang terparkir rapi. Bersembunyi dibalik mobil-mobil agar dirinya tidak tertangkap oleh orang-orangnya Bisma.


"Cari dia sampai dapat!" terdengar suara teriakan Bisma membuat Hendra langsung berlari sambil menundukan badannya berlindung diantara mobil.


"Itu dia," teriak Bisma setelah melihat Hendra.


Dorrr doorrr


Bisma pun langsung mengarahkan pistolnya kearah Hendra. Namun, pelurunya terus meleset mengenai mobil yang berjejer rapi.


Buuummmm...


Salah satu mobil meledak karena terkena hantaman peluru. Bisma yang melihat api yang membesar pun langsung meminta bantuan pemadam kebakaran.


Flashback off...


"Setelah kebakaran diatas kapal, kami tidak menemukan keberadaan pamanmu hidup ataupun mati. Bisma berpendapat bahwa Hendra mati terbakar api hingga jasadnya menjadi abu. Oleh karena itu, pamanmu dinyatakan meninggal." jelas pak Bagas sambil menitikan air matanya.


Semua orang terdiam tidak ada yang berani berkata, Daffin pun terdiam karena bagaimana bisa kejadian sebesar itu dia tidak mengetahuinya.


"Jadi, itu sebabnya dulu aku dilarang untuk ikut naik kapal padahal aku sangat menginginkannya?" tanya Daffin dan langsung diangguki oleh ayahnya.


"Jika saat itu pamanmu belum meninggal, bisa saja musuh saat ini adalah dia yang ingin balas dendam." ucap pak Bagas sedikit mempertimbangkan kata-katanya. "Tapi bisa jadi juga kalau itu bukan dia." sambungnya lagi.


"Saran Mama, kamu harus hati-hati jangan sampai terluka. Dan juga mau bagaimana pun dia pamanmu kalau bisa jangan ada pertumpahan darah lagi." timpak bu Agis sambil menggenggam tangan Daffin.


"Aku mengerti, Ma. Kalian semua jangan khawatir." balas Daffin.


Karena malam sudah semakin larut, Daffin dan yang lainnya pun pergi ke kamar masing-masing. Tidak ada yang bisa tidur nyenyak. Daffin terus duduk di meja kerjanya sambil memikirkan rencana untuk menangkap musuhnya.


Alena yang masih juga belum bisa tidur hanya terdiam di bawah selimut sambil terus melirik Daffin. Dia tidak berani untuk bicara dengan suaminya.


"Halo, Vin! Coba kau selidiki tentang Erick dan kalau bisa tangkap dia!" ucap Daffin yang sedang menelepon Alvin.


"Lebih baik jika bisa mendapatkan tangan kanannya dulu." batin Daffin sambil memutuskan panggilannya.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.


maaf kan author ya karena sudah beberapa hari gak update novel, author tuh kismin cuman ngandalin wifi dan gak tau kenapa wifi tiba-tiba terputus..😢😢

__ADS_1


sekali lagi maaf ya🙏🙏


__ADS_2