Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 24 Kondisi Alena


__ADS_3

"Bagaimana kondisi putri saya, Dokter??" tanya bu Dewi kepada Dokter yang merawat Alena dengan perasaan sangat cemas.


"Kondisinya sudah melewati masa kritis, untuk lebih detailnya akan dijelaskan di ruangan saya, mari pak, bu!" jelas Dokter sambil mengajak pak Bagas dan bu Dewi untuk pergi ke ruangannya.


Pak Bisma dan bu Dewi pun pergi ke ruangan Dokter untuk mengetahui kondisi detail Alena. Alena yang masih juga belum sadarkan diri hanya ditemani oleh bu Agis dan Dafka. Sedangkan pak Bagas sedang bersama dengan beberapa polisi untuk menyelidiki apa penyebab Alena bisa terjatuh dari tangga darurat lantai tiga.


"Hiks, Alena cepat bangun sayang, nasib kamu malang sekali. Kenapa bisa sampai seperti ini?" isak bu Agis sambil membelai ujung kepala Alena.


Dafka yang sejak tadi hanya berdiri sambil menyangga tubuhnya ke dinding pun sudah mulai merasa bosan. Sebenarnya dia tidak mau ikut ke Rumah sakit. Namun, bu Agis terus memaksanya untuk ikut menjenguk kakak iparnya. Dafka adalah tipe laki-laki cuek tidak peduli dengan siapapun, ia hanya suka bermain game dan sesekali berbaur dengan teman-teman geng motornya.


❤Dafka Permana


(Ig: @iqbaal.e)



"Dafka kamu tunggu di sini ya, Mama mau keluar sebentar beli makanan agar nanti kakak mu sadar dia bisa memakan sesuatu!" pinta bu Agis dan langsung dibalas anggukan oleh Dafka.


Dia pun menggantikan bu Agis untuk duduk di kursi disebelah brankar yang ditiduri Alena. Dafka terdiam sambil memperhatikan Alena dari kepala sampai kaki. Dia merasa kasihan melihat Alena yang bukan hanya kepalanya saja yang diperban, tetapi kaki kanannya pun ikut diperban. Dafka bisa menebak bahwa kaki kanan Alena pasti cedera dan bahkan tidak akan bisa jalan.


"Alena bodoh, kalau kamu sampai cacat Daffin pasti bakalan di bawa Mak Lampir lagi," omel Dafka sambil menusuk-nusuk pipi Alena.


"Ughh sakit!!" rintih Alena sambil menggerakan kepalanya kekanan dan kekiri.


Dafka terkejut saat mendengar Alena merintih kesakitan. "Ehh aku hanya menusuk-nusuk pipinya, tapi bisa buat dia sadar sampai kesakitan?" ucapnya sambil menarik tangannya.


"Dimana ini??" tanya Alena dengan suara yang hampir tidak terdengar.


"Ini di Neraka, kau sudah mati!" jawab Dafka dengan wajah datarnya.


"Hah???"


Alena perlahan membuka kedua matanya. Dia sedikit menyipitkan kedua matanya karena sedang menyesuaikan cahaya di dalam ruangan. Alena mencari seseorang yang barusan menjawab pertanyaannya yang terdengar sangat konyol.


"Daf-dafka? Ngapain kamu disini?" tanya Alena sambil meraba-raba kepalanya yang terasa sangat ngilu.


"Ingin mencabut nyawa mu," jawabnya lagi masih dengan kata-kata konyol.


Alena terdiam sambil merasa-rasakan rasa sakit diseluruh tubuhnya. Dia mengingat-ngingat kembali kejadian saat dia dibawa oleh Serli ke lantai tiga. Alena juga mengingat bahwa mereka berebut ponsel hingga akhirnya dia tidak sengaja terjatuh berguling di tangga.


"Ck, sial!!" ketus Alena saat sudah mengingat semuanya.


"Ha, lo baru sadar kalau hidup lo sangat sial?" ledek Dafka dengan ekspresi meremehkan Alena.


"Dafka, kalau lo enggak mau ada disini sana pergi jauh-jauh jangan buat kepala gue tambah sakit!" ketus Alena sambil memegang kepalanya.


"Emang gue mau pergi," balas Dafka sambil beranjak dan berbalik menuju pintu.


Belum sempat Dafka membuka pintu, tiba-tiba dia mengurungkan niatnya untuk meninggalkan Alena. Dia akhirnya berbalik dan kembali duduk di kursi yang tadi ia duduki.


"Kenapa balik lagi??" tanya Alena sedikit heran.

__ADS_1


"Mak lampir sudah kembali lo pasti butuh bantuan gue," ucap Dafka tanpa basa-basi lagi.


"Ha, Mak lampir? Maksud lo Serli?" tanya Alena sambil mengkerutkan keningnya dan langsung diangguki oleh Dafka.


"Gue mau bantu lo buat nyingkirkan dia asal lo juga bantu gue," ucap Dafka dengan khas senyum sinisnya.


Alena terdiam sejenak sambil menatap heran wajah Dafka. Ini pertama kalinya Dafka berbicara lebih dari dua kata panjang lebar kepadanya.


"Lo perlu bantuan apa?" tanya Alena lagi.


"Gue mau Fira," jawabnya singkat.


"Ha, Fira?? Kalau masalah Fira gue enggak bisa bantu karena ini masalah hati," balas Alena menolak keras untuk membantunya.


"Dan lagi, Lo itu enggak cocok sama dia. Lo coba bercermin deh dan bandingkan diri Lo sama Fira. Fira itu wanita soleha sangat anggun dalam balutan hijabnya, sedangkan Lo? Cuman laki-laki preman yang hanya tau geng motor-motoran. Kalian enggak cocok, Bro!" sambungnya lagi dengan ekspresi meledeknya.


"Oke, kalau lo enggak mau bantu juga enggak apa-apa,gue pergi dulu." jawab Dafka santai sambil berjalan menuju pintu keluar.


Namun, saat Dafka membuka pintu dia langsung menghentikan langkahnya dan berbalik untuk melihat Alena.


"O iya gue cuma mau bilang, walau bagaimana pun Daffin itu kakak gue, jadi gue bakalan kasih tau dia bahwa istrinya punya rencana jahat buat bikin dia jatuh cinta terus ninggalin dia saat dia benar-benar udah jatuh cinta sama lo." ucap Dafka dengan senyum liciknya.


"Dafka sialan! Kembali enggak, Lo!!" teriak Alena. Namun, Dafka tidak peduli dan terus berjalan meninggalkan kamar rawat Alena.


"Kok dia bisa tau rencana itu sih," pikir Alena heran.


"Dafka...!!!!" teriak Alena lagi sekuat tenaganya.


Sesampainya di luar Rumah sakit, Dafka dikejutkan oleh seorang wanita yang berpapasan dengannya. Ya, siapa lagi wanita itu kalau bukan Fira wanita yang sangat ia sukai.


"Fira? Assalamualaikum Fira!" Dafka yang terlihat kaku mencoba untuk memberi salam sambil melambaikan tangan kanannya.



"Dafka? Walaikumsalam," jawab Fira dengan ekspresi sangat terkejut.


"Ya Allah aku lupa kalau Daffin adalah kakaknya Dafka, aku tidak berpikir kalau mungkin saja Dafka pasti ada di Rumah Sakit karena kakaknya." pikir Fira sambil menundukan kepalanya.


Fira memang belum tau kalau Alena dirawat karena terjatuh dari tangga. Dia datang ke Rumah Sakit karena ingin menemani Alena yang sedang menunggu Vivi seorang anak yang mereka tabrak.


❤Al-fira Khumaira


(Ig: @lida_nabila23)



"Kamu kesini mau jenguk Alena, kan??" tanya Dafka sambil mendekati Fira.


"Tidak, bukan Alena yang sakit, tapi anak kecil yang kami tabrak." jawab Fira sambil melewati Dafka lalu pergi begitu saja.


"Loh, Fira tunggu! Kamu mau kemana?" tanya Dafka sedikit bingung karena belum ada yang tau kalau Alena ternyata sudah menabrak seorang anak, kecuali Daffin.

__ADS_1


"Wahai Ukhti cepat atau lambat aku pasti bisa miliki kamu," sambungnya lagi dengan senyum percaya diri.


Fira berjalan dengan langkah kaki yang sangat cepat. Dia takut kalau Dafka berlari mengejarnya. Namun, saat Fira berbalik ternyata Dafka tidak mengejarnya membuat dia menjadi sedikit tenang.


"Fiuhh, untung Dafka enggak ngejar gue," ucap Fira sambil mengatur napasnya yang ngos-ngosan.


"Kok tadi dia bilang gue mau jenguk Alena ya?" Fira bingung karena belum ada yang memberitahunya kalau Alena jatuh dari tangga.


Fira tidak memiliki firasat apapun, akhirnya dia tidak mempedulikan kata-kata Dafka yang mengatakan bahwa ia ingin menjenguk Alena.


"Sus, anak yang bernama vivi di pindahkan ke ruang rawat mana ya?" tanya Fira di meja resepsionis.


"Maaf, apa Mbak keluarga pasien??" tanya Suster.


"Bukan, tapi saya orang yang membawa Vivi ke Rumah Sakit, Sus." jawab Fira.


"Tunggu sebentar ya... Pasien bernama Vivi sudah dipindahkan ke ruangan Bunda kamar no 89, Mbak." jawab Suster setelah beberapa menit melihat ke layar komputernya.


"Oke, terimakasih ya, Suster!" balas Fira lalu berjalan menuju lift.


Di sisi lain bu Dewi yang baru saja mendengar penjelasan dari Dokter terus saja menangis karena Alena anak semata wayangnya harus mengalami patah tulang kaki sehingga tidak bisa membuatnya berjalan dengan normal. Dia harus menggunakan roda untuk beranjak dari tempat tidur.


"Hiks, Dokter apa anak saya nanti bisa berjalan normal kembali? tolong Dokter lakukan yang terbaik agar anak saya bisa berjalan lagi." isak bu Dewi memohon pertolongan kepada dr. Wijaya.


"Sayang kamu tenang dulu Dokter belum selesai menjelaskan," ucap pak Bisma mencoba menenangkan istrinya.


"Begini Pak, Bu. patah tulang yang dialami anak ibu disebut stable fracture atau disebut juga dengan patah tulang tidak bergeser dan tulang kering hanya patah menjadi dua. kondisi seperti ini masih dapat disembahkan, tapi itu semua juga tergantung sistem kekebalan tubuhnya. paling cepat anak ibu bisa sembuh dalam waktu satu sampai dua bulan dan paling lambat bisa tiga sampai lima bulanan sampai kakinya benar-benar normal." jelas Dokter.


"Pokoknya lakukan yang terbaik buat putri saya, Dok." pinta pak Bisma sambil menggenggam erat tangan Dokter.


"Bapak dan ibu tenang saja kami sudah melakukan operasi kecil pemasangan pen pada kaki anak kalian. Selama penyembuhan berlangsung kami akan memberi resep obat untuk mengendalikan rasa nyeri dan mencegah terjadinya infeksi. Ketika sudah rawat jalan seminggu sekali kami akan melakukan Fisioterapi untuk mempercepat penyembuhan kaki anak Bapak dan Ibu." jelas Dokter lagi.


"Baik Dokter, terimakasih atas usahanya!" ucap pak Bisma berdiri lalu menjulurkan tangannya untuk memberi salam ucapan terimakasih.


"Sama-sama, Pak. memang sudah tugas kami para Dokter." balas dr. Wijaya.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG


Pliis jangan ada yang marah ya kalian harus sabar dulu. ada saatnya Alena akan bangkit.😊


Buat yang sudah mampir seperti biasanya author ingatkan jangan lupa tinggalin jejak kalian like, comment dan beri vote.

__ADS_1


Follow Ig Author donk @lulun_eerlyan07


__ADS_2