
Kukuruyukkkkk... Kukuruyukkk...
Jam lima pagi Alena terbangun dengan rasa sakit dikepalanya. Semalam dia benar-benar tidak bisa tidur hingga terus terjaga sampai jam empat pagi. Alena hanya tertidur satu jam karena dikagetkan dengan suara alarm.
"Siapa yang membuat alarm sepagi ini?" gumamnya sambil mematikan suara alarm.
Alena lupa bahwa dia sedang tidur di kamar Daffin. Daffin punya kebiasaan bangun jam lima pagi.
Alena meraba kesamping tempat tidurnya dan terasa sangat dingin. Itu berarti Daffin tidak ikut tertidur dan sekarangpun dia sudah tidak ada di meja kerjanya.
Alena pun merasa khawatir dan langsung keluar dari dalam kamar. Alena menuju ke dapur karena disana ada bu Agis yang sedang menyiapkan sarapan dibantu oleh pembantunya.
"Kamu bangunnya pagi sekali, Alena?" tanya bu Agis ketika melihat menantunya datang menghampirinya.
"Mmm.. Mas Daffin kemana, Mah?" tanya Alena tanpa menjawab pertanyaan bu Agis.
"Tadi sekitar jam setengah lima dia sudah keluar rumah sepertinya ada sesuatu yang penting." jawab bu Agis sambil mengambil sayuran dari dalam kulkas.
Alena terdiam sejenak, dia semakin merasa khawatir dengan apa yang sedang dilakukan Daffin. Walau Daffin sangat rajin, dia tidak pernah pergi kekantor sepagi itu. Menurut Alena pasti ada sesuatu yang lain.
"Aku harus menyusulnya kekantor," gumam Alena sambil berbalik menuju kamarnya.
"Loh, kamu mau kemana, Alena? Sini sarapan!" teriak bu Agis. Alena terus saja berlari dan masuk ke dalam kamar. Dia lalu mandi untuk bersiap-siap menyusul Daffin pergi ke kantor.
Setelah bersiap, Alena langsung bergegas menuju gedung perusahaan Daffin. Namun, setibanya di kantor Alena bahkan tidak menemukan keberadaan Daffin.
"Mas Daffin kemana, sih? Dimana-mana tidak ada, bahkan Alvin pun tidak ada." gerutu Alena sambil berjalan kesana kemari didepan ruangan Daffin.
Rasa khawatir Alena semakin menjadi-jadi. Mengingat semua masalah yang sedang menimpa keluarga suaminya, Alena merasa takut jika terjadi sesuatu dengan suaminya itu. Walau Alena pernah berkata bahwa dia tidak akan pernah mencintai Daffin lagi, tapi tetap saja dia tidak bisa membohongi perasaan didalam hatinya.
"Mery, apa kamu melihat pak Daffin?" tanya Alena saat berpapasan dengan Sekretaris Daffin.
"Mmm..." Merry terdiam sejenak seperti sedang berpikir. "Pak Daffin sedang rapat penting jadi tidak bisa diganggu, Bu." jawab Merry setelah beberapa saat hanya berdehem.
"Di ruangan mana?" tanya Alena. Dia ingin memastikan untuk melihat Daffin, jika tidak maka rasa khawatir yang berkecimpung di hatinya tidak akan hilang.
"Maaf, Bu! Seperti yang sudah saya katakan kalau pak Daffin sedang tidak bisa diganggu. Ibu sebaiknya menunggu didalam kantornya pak Daffin saja!" ujar Merry.
__ADS_1
Alena pun dengan terpaksa mengikuti saran Merry untuk menunggu Daffin di ruang kantornya.
"Huuff, lega rasanya! Pak Daffin cepatlah pulang, untuk sementara aku bisa membohongi istrimu, tapi tidak tahu nanti." gumam Merry sambil mengirim pesan lewat ponselnya.
Disisi lain Daffin terlihat serius sedang menyusun rencana bersama Haikal, Alvin dan orang-orangnya disebuah basecam rahasia. Saat ponselnya bergetar dia menghentikan obrolannya dan langsung membuka pesan dari Merry.
Saat mengetahui bahwa Alena pergi ke kantornya, dia langsung berdiri dan segera menghubungi Merry.
"Halo, Pak!" jawab Merry dari balik telepon.
"Merry, bagaimanapun caranya jangan biarkan istriku keluar dari kantor sebelum aku datang." perintah Daffin kepada sekretarisnya.
"Baik, Pak. Saya mengerti!" balas Merry.
Daffin langsung mematikan teleponnya. Dia termenung terus memikirkan Alena karena merasa khawatir takut terjadi apa-apa kepada Alena.
"Bagaimana Alena bisa kabur dari rumah?" gumam Daffin resah.
Daffin memang sudah memerintahkan orang-orang untuk menjaganya agar tidak keluar dari rumah. Namun, faktanya sekarang Alena malah datang ke kantor sendirian tanpa pengawal dari orang-orangnya.
"Daffin, bagaimana rencana selanjutnya?" tanya Haikal. Dia merasa geram karena melihat Daffin yang terus melamun.
"Seperti yang tadi aku katakan, kita tetap akan melaksanakan perayaan ulang tahun perusahaan untuk memancing musuh." jelas Daffin sedikit tidak fokus.
"Baiklah, kalau begitu biar aku yang mengurus para tamu undangan yang akan hadir besok." ujar Haikal menawarkan diri.
"Tidak akan ada tamu undangan." jawab Daffin datar.
"Lalu?" tanya Alvin dan Haikal serempak.
Daffin lalu tersenyum sinis sebelum menjelaskan rencananya lagi. "Karena kita tidak tahu ada berapa banyak pasukan musuh. Maka sebagai tamu undangannya, kita akan menggunakan semua orang-orang terlatih kita." jelasnya sangat meyakinkan.
"Tugasmu, Haikal! kumpulkan semua anak buahmu sebanyak mungkin, tapi ingat harus yang terpercaya saja!" perintah Daffin kepada Haikal.
"Kau memilih orang yang tepat, aku juga memiliki teman perempuan yang masuk kedalam kumpulan bodyguard wanita. Mereka bisa menjadi tamu undangan partner para laki-laki." balas Haikal penuh kemenangan.
"Jadi intinya besok kita harus mengatur pesta sealami mungkin agar pasukan musuh tidak mencurigai kita?" timpal Alvin dan langsung diangguki oleh Daffin.
__ADS_1
"Jangan lupa tempatkan sniper di atap gedung sebelah perusahaan kita. Tempatkan juga beberapa sniper di lantai dasar." ujar Daffin. Haikal dan Alvin pun langsung menganggukinya.
Setelah selesai menyusun rencana, mereka semua langsung memeriksa orang-orang ahli beladiri dan ahli senjata. Daffin khawatir jika saja ada mata-mata musuh dalam orang-orangnya.
Ketika Daffin sedang sibuk dengan anak buahnya, salah satu anak buah yang mengurus Erick datang menghampirinya.
"Bos Daffin, apa yang harus kita lakukan lagi? Orang yang bernama Erick itu sudah hampir matipun tidak ingin membuka mulutnya." ujar salah satu anak buahnya dengan perasaan takut.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Daffin langsung berjalan menuju sebuah ruangan dimana Erick di sekap. Ketika melihat Erick yang seluruh tubuhnya sudah penuh dengan luka pukulan, dia merasa kasihan karena Erick sudah setia kepada orang yang salah.
Daffin pun langsung berjongkok dihadapan Erick lalu mengelap darah dari keningnya.
"Apa yang dia berikan kepadamu sehingga kau rela mati dari pada mengatakan semuanya?" tanya Daffin sambil mengelap darah di keningnya menggunakan tissu.
"Dia menyelamatkan keluargaku saat kami hampir mati," jawab Erick santai. Dia masih bisa tersenyum walau rasa sakit ia rasakan disekujur tubuhnya.
"Owh, jadi balas budi." gumam Daffin lalu terdiam sejenak sambil merogoh sakunya. "Apa mereka ini keluargamu?" sambungnya lagi sambil menunjukan sebuah foto yang didalamnya ada foto adik dan neneknya Erick.
Mata Erick langsung membulat sempurna ketika melihat foto adik dan neneknya di ponsel Daffin. Yang tadinya menatap Daffin dengan senyuman kini berubah menjadi tatapan penuh amarah.
"Daffin, aku tahu kau bukanlah pecundang yang akan mengancam seseorang dengan kelemahannya!" bentak Erick sambil meronta-ronta ingin menghajar Daffin.
"Mau bagaimana lagi? Adik dan Nenekmu sudah aman ditanganku. Karena aku sudah menyelamatkan kedua orang berhargamu sekarang aku minta balas budi." jelas Daffin sambil memasukan ponselnya ke dalam saku.
"Aku tahu kau orang yang akan melakukan apapun demi adik dan nenekmu. Percayalah mereka akan lebih aman jika bersama orang baik, tapi berbeda dengan orang jahat. Nenekmu sudah menceritakan semuanya kepadaku bahwa kau selalu diancam agar melakukan tindakan kejahatan. Sudah berapa nyawa yang kau cabut demi melindungi adik dan nenekmu yang terus diancam itu?" sambungnya lagi lalu berdiri dan berbalik meninggalkan Erick.
Erick langsung tertunduk tak berdaya. Dalam posisinya saat ini tentu saja dia sangat bingung. "Apa aku harus mempercayai Daffin?" gumamnya dalam hati.
"Tunggu!!" teriak Erick membuat langkah kaki Daffin langsung berhenti. "Beri aku kesempatan!" sambungnya lagi sambil menatap punggung Daffin.
Daffin pun langsung tersenyum puas. Dia tahu kalau Erick adalah orang yang cerdik. Bisa memilih dengan cepat keputusan yang mana yang paling baik dan sama-sama menguntungkan.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG