Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 61 Kembali bekerja (SS2)


__ADS_3

Keesokan paginya, Alena sudah terbangun lebih dulu dari Daffin. Ia tidak tahu jam berapa Daffin mulai tidur disampingnya, karena saat Alena terbangun jam 1 malam Daffin masih belum kembali dari ruang kerja. Ia sempat berpikir bahwa Daffin marah besar hingga membuatnya lebih memilih tidur di ruang kerja ketimbang bersamanya.


"Mas Daffin ku, muuaacchh!" Alena mengecup kilat pipi kanan Daffin. Kemudian ia langsung bersiap mandi dan turun ke lantai bawah.


Di dapur sudah ada bu Agis dan seorang pelayan sedang menyiapkan menu sarapan. Alena pun langsung menghampiri bu Agis yang sedang memasak nasi goreng.


"Pagi, Mah!" Sapa Alena dengan senyum yang merekah.


"Selamat pagi juga, sayang." Jawab bu Agis.


"Masak nasi goreng kesukaannya mas Daffin ya, Mah?" Tanya Alena sambil mengintip kedalam kuali. Bu Agis pun menjawabnya dengan anggukan. "Biar Alena bantu, Mah." Sambungnya lagi.


"Kamu buat susu cokelat saja, sayang. Biar ini mamah yang selesaikan." Perintah bu Agis dan Alena pun langsung melaksanakannya.


Tak lama Daffin pun turun dengan wajah lesu. Terlihat jelas di matanya bahwa ia kurang tidur semalam.


"Pagi!" Sapa Daffin tak bertenaga.


"Pagi juga, Sayang." Jawab bu Agis dan Alena hanya terdiam.


"Lesu banget kamu, Fin?" Tanya bu Agis heran.


"Habis tempur tu Mah semalam," jawab Dafka yang tiba-tiba muncul di meja makan dengan ekspresi wajah yang tak biasanya. Dafka terkenal dengan wajah datarnya, sedangkan saat ini ia terlihat happy.


"Tempur pala lu," sangkal Daffin sambil menjitak kepala Dafka.


Alena yang sedang menuang air panas kedalam gelas susu pun tak sengaja tersiram air panas. Jantungnya tiba-tiba saja berdebar kencang saat mengingat adegan semalam.


"Aww, panas!" Rintihnya pelan.


Daffin pun segera menghampiri Alena ketika tahu bahwa Alena tidak sengaja tersiram air panas. "Kenapa tidak hati-hati, sih?" Omel Daffin sambil meraih tangan kiri Alena dan meniupnya.


"Aduhh, sakit, Mas." Alena meringis kesakitan karena tangannya terasa terbakar.


"Kamu duduk dulu disini, ya. Aku ambil kotak P3K dulu." Daffin pun langsung berlari mengambil kotak P3K.


"Kok bisa kesiram air panas sih, sayang?" Tanya bu Agis yang juga ikutan khawatir.


Disaat semua orang khawatir, Dafka malah terlihat terkekeh menertawakan Alena. Alena pun merasa kesal melihat Dafka yang malahan menertawakannya.


"Ada yang lucu?" Tanya Alena dengan nada yang sedikit tinggi.


"Haha, Kelihatan sekali bahwa terjadi sesuatu semalam hingga membuatmu gemetaran dan tersiram air panas. Wajah kepiting rebus itu tidak bisa menipu." Jawab Dafka sembarangan.


"Bukan urusanmu, Dafka awas kamu ya dasar ngeselin!" Teriak Alena sambil melempar buah apel kearah Dafka, ia pun dengan sigap langsung menangkap lalu memakannya.


Daffin yang membawa kotak P3K berjalan sambil melirik Dafka dengan tatapan mengiris. Tatapannya seolah-olah mengancam jangan mengganggu istrinya.


"Mana tangan kamu biar aku oleskan salep,"


Alena pun langsung menjulurkan tangan kirinya yang sudah memerah.


"Kamu itu tidak cocok berada di dapur. Baru beberapa menit di dapur saja sudah terluka. Kalau berjam-jam mungkin kamu bisa membakar tubuhmu sendiri." Omel Daffin sambil mengoleskan salep di punggung telapak tangan kiri Alena.


"Aku kan juga pingin bantu-bantu mamah di dapur, Mas." Jawab Alena pelan.

__ADS_1


"Sudah ada pembantu di rumah ini," bantah Daffin cepat. "Lagian Mamah juga tidak usah repot-repot masak di dapur, Mah." Sambungnya lagi sambil menatap ibunya.


"Mamah hanya ingin melakukan aktifitas sehari-hari saja, kok. Karena kalau mamah hanya diam saja akan membuat mamah selalu teringat papah mu." Balas bu Agis dengan wajah sendu.


Tiba-tiba saja semua orang terdiam ketika mendengar kata-kata tersebut. Daffin langsung berhenti mengoleskan salep. Dafka pun langsung berhenti mengunyah apel yang tadi dilempar oleh Alena.


"Mamah jangan khawatir dan jangan sedih, aku akan mencari cara agar papah bisa keluar dari penjara." Ucap Daffin meyakinkan ibunya.


"Tidak, mamah tidak sedih,kok." Jawab bu Agis sambil menghapus air mata yang hampir jatuh dari sudut matanya. "Oya, nasi goreng sudah masak, ayo cepat sarapan nanti keburu dingin." Sambungnya lagi mengalihkan pembicaraan.


Di meja makan kini berakhir dengan keheningan. Saat sarapan tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mereka. Terlebih lagi Alena yang tidak berani membuka percakapan karena melihat Daffin yang terlihat sangat serius. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang membuat suasana sedikit bernada.


"Suasana macam apa ini?" Batin Alena sambil menyuapkan nasi goreng kedalam mulutnya.


Setelah menghabiskan sarapannya, Daffin langsung bersiap pergi ke kantor tanpa mengatakan apa-apa lagi. Alena yang membantu Daffin memakaikan jas pun hanya diam tidak berani bicara.


"Kenapa diam?" Tanya Daffin sambil mencubit pelan pipi Alena.


"Kamu juga dari tadi diam," Alena memasang wajah cemberut membuat Daffin langsung menyeringai.


"Terus kalau aku diam kamu juga diam, gitu?" Tanya Daffin lagi semakin gemas mencubit pipi Alena.


"Aww, sakit tahu, Mas." Alena langsung mengelus-ngelus pipinya yang dicubit oleh Daffin.


"Ya sudah, aku pergi kerja dulu ya, sayang." Ucap Daffin sedikit terkekeh sambil mengacak-ngacak rambut Alena. "Jangan lupa nanti malam," sambungnya lagi berbisik di telinga Alena.


Alena pun langsung tersentak mendengar kata nanti malam. Jantungnya lagi-lagi berdebar kencang membayangkan nasibnya setelah malam tiba.


"Oya, habis tengah hari nanti kamu siap-siap, ya. Nanti aku jemput, kita akan pergi mengunjungi papah." Ucap Daffin sebelum melajukan mobilnya.


Setelah Daffin pergi, Alena mulai panik memikirkan janjinya malam nanti. Walau mereka sudah beberapa bulan menikah, tapi hingga kini Alena masih mempertahankan keperawanannya.


"Bagaimana ini? Semoga saja aku datang bulan nanti malam," harapnya sedikit tenang. "Eh, tapi tidak mungkin. Seminggu yang lalu aku baru saja datang bulan." Sambungnya lagi kembali cemas.


Alena pun terus mondar-mandir didepan teras. Ia benar-benar takut memikirkan untuk persiapan nanti malam.


"Sudahlah, pasrah saja." Ucapnya sambil berbalik masuk kedalam rumah.


"Apanya yang pasrah?" Tanya Dafka yang sudah berdiri diambang pintu.


"Kepo," jawab Alena judes lalu melewati Dafka begitu saja.


Dafka hanya menggelengkan kepalanya kemudian langsung melaju mengendarai motor sportnya.


***


Sesampainya di kantor, Daffin langsung disambut oleh para karyawannya. Disana juga sudah ada Alvin dan Erick yang menyambut kedatangannya.


"Selamat pagi, Pak!" Semua karyawan menyapa dengan sangat ramah.


"Pagi!"


Seperti biasanya Daffin dengan ramah dan khas senyumnya membalas sapaan mereka semua.


"Cieee, baru pulang honeymoon wajahnya secerah mentari." Ledek Alvin sambil merangkul bahu Daffin.

__ADS_1


"Siapa juga yang honeymoon." Bantah Daffin.


"Yakin?" Tanya Erick singkat tapi berarti ledekan.


Daffin hanya menatap kedua sahabatnya dengan tatapan mengancam seolah-olah berkata jangan campuri urusan pribadinya. Alvin dan Erick pun hanya terkekeh menahan tawanya melihat sang bos yang terlihat malu.


"Oya, bagaimana keadaan semuanya?" Tanya Daffin sambil berjalan menuju ruang kantornya.


"Semuanya aman terkendali. Keadaan Haiden juga saat ini sudah sangat membaik tinggal melakukan pemulihan saja." Jawab Alvin.


"Lalu, bagaimana dengan adikmu?" Tanya Daffin lagi kepada Erick.


"Adik ku baik-baik saja. Sekarang kami sudah tinggal bahagia tanpa dihantui oleh kekerasan lagi. Sebelumnya terimakasih atas bantuan anda." Jawab Erick dengan ekspresi datarnya.


Daffin tiba-tiba saja menghentikan langkahnya kemudian berbalik menatap Erick.


"Sudah seharusnya kita saling membantu. Kalau tidak ada dirimu aku juga tidak tahu apakah sekarang masih hidup atau sudah mati." Ucap Daffin sambil menepuk bahu Erick.


Erick yang memiliki sifat dingin pun hanya tersenyum dan mengiyakan perkataan Daffin. Mereka pun sama-sama berterimakasih atas bantuan masing-masing.


"Selamat pagi pak Daffin! Pak Alvin! Pak Erick!" Sapa Merry yang sudah berdiri didepan ruang kerja Daffin.


Merry pun langsung mengikuti mereka bertiga masuk kedalam ruang kerja Daffin.


"Ini beberapa proposal dari PT. ABADI JAYA, Pak." Merry segera menyodorkan beberapa berkas kepada Daffin.


"Ini hanya proposal kenapa harus aku yang memeriksanya?" Tanya Daffin tanpa membuka berkas dihadapannya.


"Maaf, Pak. Pimpinan PT tersebut sebelunya sudah pernah datang kemari. Dia ingin membicarakannya dengan Bapak secara langsung. Karena Bapak tidak ada, dia pun dengan kecewa memberikan proposal ini dengan catatan harus Bapak langsung yang memeriksanya." Jelas Merry panjang lebar.


"Baiklah, saya akan mengurusnya. Kamu boleh pergi!" Balas Daffin.


Merry pun menundukan kepalanya kemudian berbalik meninggalkan ruangan. Sedangkan Daffin sama sekali tidak menyentuh berkas-berkas yang ada dihadapannya. Ia lebih memilih bergabung bersama kedua sahabatnya.


"Apa ada berita terbaru tentang Hendra?" Tanya Daffin serius.


"Tidak ada, tapi ada sesuatu yang sangat penting. Ini mengenai anak kandungnya ternyata dia memiliki seorang putra." Jawab Alvin sambil memperlihatkan sebuah foto didalam ponselnya.


"Tomy??"


Daffin mengenali sosok pria didalam ponsel. Ia tidak mungkin lupa kalau pria itu adalah seseorang yang pernah berkelahi dengannya gara-gara memperebutkan Alena.


"Anda mengenalnya?" Tanya Erick.


Daffin pun langsung mengangguk. "Apa kau tidak tahu tentang putranya?" Tanya Daffin kepada Erick.


"Tidak," jawabnya singkat. "Aku hanya tahu bahwa dia memiliki putri angkat yang bernama Serli," sambungnya lagi terlihat berpikir keras.


"Masalah putra kandungnya hanya pak Bagas yang mengetahuinya. Sebaiknya kau tanyakan langsung kepada papa mu. Karena ini juga menyangkut saham milik Hendra yang akan diwariskan kepada putranya." Jelas Alvin.


"Baiklah, hari ini aku memang akan mengunjungi papa ku." Daffin pun kembali duduk di meja kerjanya.


Mereka bertiga menyudahi pembicaraan mereka. Alvin dan Erick pun kembali ke ruang kerja masing-masing.


Bersambung...

__ADS_1


(Next episode: Kehadiran Tomy)


__ADS_2