Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 31 Alena Vs Serli


__ADS_3

Keesokan harinya, Alena terbangun dan dia menyadari bahwa Daffin sudah tidak ada di tempat tidur. Dia melihat kearah kamar mandi, tidak ada tanda-tanda bahwa Daffin sedang berada di kamar mandi.


"Ini masih sangat pagi, tapi mas Daffin sudah pergi. Apa tidak sabar ingin menemui Serli." omelnya sambil meraih tongkat dan dia berjalan secara perlahan.


Baru saja Alena hendak menyentuh gagang pintu, dari luar ada orang yang membukanya. Ternyata dia adalah Daffin yang datang membawa sarapan untuk Alena.


"Loh, kamu mau kemana jangan banyak bergerak dulu, aku bawakan kamu sarapan, nih." ujarnya sambil menuntun Alena untuk duduk di kursi.


Alena menatap nasi goreng yang Daffin bawa. Perut Alena yang sedang lapar langsung meronta-ronta ingin segera menyantap makanan itu.


"Ini aku masak sendiri tidak tahu enak apa tidak," ucap Daffin sambil menyuapi Alena.


Alena membuka mulutnya tanpa mengatakan apapun. Daffin menanti Alena untuk mengatakan enak atau tidak nasi goreng yang ia masak.


"Bagaimana, enak tidak?" tanya Daffin dengan penuh harap.


Alena mengangguk sambil meneguk air putih."Enak, Mas. Kamu bilang akan ada pembantu yang datang?" tanya Alena.


"Mereka akan datang jam 9 nanti, jadi aku masak dulu buat sarapan." jawab Daffin sambil beranjak dari kursi.


"O ya, kamu gak keberatan kan kalau aku tinggal ke kantor?" tanya Daffin sambil mengambil dasi dan memakainya.


"Kamu mau ke kantor apa ketemu Serli," pikir Alena kesal. "Gak apa-apa kok, Mas. Nanti kan ada pembantu yang nemenin aku juga." jawab Alena sambil tersenyum.


"Bantu aku turun kebawah, Mas!" sambung Alena lagi. Daffin pun mengangguk dan langsung menggendong Alena pergi ke lantai bawah.


Alena melihat ke sekelilingnya, dia merasa rumah jadi semakin luas karena tidak ada lagi banyak benda-benda yang di pajang di dalam rumah.


"Kamu kemanakan barang-barang disana, Mas?" tanya Alena penasaran.


"Aku menyimpannya di gudang supaya kamu tidak terganggu saat ingin berjalan," jawab Daffin sambil membawakan Alena beberapa obat.


"Sok perhatian kamu, Mas. Aku tidak akan terkecoh lagi." pikir Alena. Alena pun langsung meminum obat yang diberikan oleh Daffin.


"Dah sayang, aku ke kantor dulu ya. Sebentar lagi 2 asisten rumah tangga akan tiba." ujar Daffin sambil mengecup kening Alena.


Alena sedikit tersentuh karena ini pertama kalinya Daffin memanggilnya sayang.


"Apaan sih Alena. Jangan baper lah, inget rencana kamu." batinnya sambil mencubit pipinya sendiri.


Setelah Daffin berangkat kerja, kini tinggalah Alena sendiri. Terasa sangat hening padahal sejak tadipun memang sudah sepi. Alena pun menonton Tv untuk menghilangkan rasa bosannya.


Ting tong...


Ting tong...


"Katanya datangnya jam 9, kok ini cepat banget jam 7 sudah datang," gumam Alena perlahan berjalan membuka pintu.

__ADS_1


Alena berpikir bahwa yang datang adalah 2 asisten rumah tangga yang di pinta oleh Daffin. Dia pun langsung bergegas menuju pintu.


Ting tong...


Ting tong...


"Iya-iya sabar! Pembantunya kayaknya resek banget." omel Alena merasa kesal ketika berkali-kali orang itu memencet bel.


Dengan susah payah Alena menuju pintu, tapi setelah dibuka ternyata sangat mengecewakan. Bukannya yang datang asisten rumah tangga, tapi malah mak lampir yang berwajah seram.


"Serli??"


Alena sedikit terkejut ketika melihat Serli dengan angkuh berdiri didepan pintu. Serli menatap dirinya dari atas hingga kebawah.


"Hay, pincang! Dimana suamiku?" tanyanya sambil meledek Alena.


"Kalau Serli datang kemari dan menanyakan Mas Daffin, itu tandanya mas Daffin benar-benar kerja." pikir Alena.


"Hey! Ditanya malah ngelamun!" bentak Serli mulai merasa kesal.


"Dia tidak ada di rumah," jawab Alena judes.


"Dasar pembohong, minggir!" ketus Serli sambil mendorong Alena agar tidak menghalangi pintu.


Alena hampir saja terjatuh, jika punggungnya tidak mengenai dinding. Serli berkeliling mencari Daffin, dia bahkan naik ke lantai atas sambil memanggil nama Daffin.


"Apa kau di campakkan olehnya?? Kasihan sekali dasar pincang!" hina Serli sambil berjalan menghampiri Alena.


"Seharusnya kata itu pas untuk mengatai dirimu, bukannya kau yang sudah di campakkan olehnya, hah?" balas Alena sambil menaikan bibir atas sebelah kanannya.


"Siapa bilang aku dicampakkan? Tidak kok." ujar Serli. Dia tidak terima jika Alena merendahkan dirinya. Alena yang sengaja memancing kemarahan Serli pun merasa senang karena Serli mulai tersulut api.


"Kalau kau tidak dicampakkan kenapa kau bertanya padaku dimana keberadaan Daffin, bukannya seharusnya dia memberitahumu kemana dia pergi. Atau jangan-jangan bahkan Daffin sudah menghapus dan memblokir no hp mu, haha" balas Alena menertawakan kemalangan Serli.


Serli tentu saja langsung marah karena merasa kalah dari Alena. Dia langsung mendoronh Alena hingga terjatuh ke lantai.


"Kau memang biang masalah jika Daffin tidak mengenalmu, aku pasti sudah bahagia bersamanya!" bentak Serli sambil menjambak rambut Alena.


"Serli, beraninya kamu menyakiti istriku!" teriak Daffin yang baru saja datang langsung berlari menghampiri Alena.


Alena tersenyum puas ketika melihat Daffin datang tepat waktu. Saat Serli datang ia langaung menghubungin Daffin dan memberitahu bahwa Serli datang ke rumah mencarinya. Tentu saja Daffin merasa khawatir dan langsung pulang untuk memastikan keadaan Alena.


"Alena, katakan padaku dimana yang sakit?" tanya Daffin sambil memeriksa Alena.


"Kaki ku sakit banget, Mas. Kepala juga sakit tadi kamu lihat sendiri kan kalau rambutku di jambak olehnya." rengek Alena manja mengadu kepada Daffin.


Alena menunjukan senyum kemenangan kepada Serli. Sedangkan Serli gelagapan menghadapi Daffin yang sudah tersulut emosi. "Hehe, aku akan menjadi penonton setia melihat kalian bertengkar." batin Alena merasa puas.

__ADS_1


"Beraninya kamu menginjakkan kaki di rumahku, dan bahkan kamu berani menyakiti Alena!" bentak Daffin sambil menyeret Serli agar keluar dari rumahnya.


"Mas, kamu lupa ya. Aku ini ib...Mmm mmmm." Daffin dengan cepat langsung menutup mulut Serli rapat-rapat. Dia langsung menariknya agar lebih jauh dari Alena.


"Ingat ini! Aku sudah memberikan apa yang kamu mau, apa semua itu kurang? Jadi aku mohon jangan ganggu Alena apalagi sampai menyakitinya." Daffin benar-benar sangat gemas melihat sikap Serli. Ingin rasanya dia membuang jauh-jauh wanita dihadapannya itu.


"Harya sudah cukup, tapi aku belum memiliki kamu. Aku ingin menikah dengan mu, Mas." rengek Serli sambil memeluk tangan Daffin.


"Itu tidak mungkin, pergi sana!" bentak Daffin sambil mendorong Serli.


"Mas, jika aku tidak bisa miliki kamu. Maka jangan harap Alena juga bisa miliki kamu. Aku akan membuat hidupmu tidak tenang, Mas!" ancam Serli lalu pergi dengan penuh amarah.


Daffin frustasi menghadapi satu wanita itu. Dia kehabisan akal bagaimana caranya menjauhkan orang seperti itu dari keluarganya.


"Apa sebaiknya aku pindah keluar kota saja, ya." pikir Daffin sambil mencengkram kepalanya sendiri.


Alena yang mendengarkan pembicaraan antara Daffin dan Serli merasa sangat kecewa. Kenapa? Karena dia menginginkan pertengkaran yang hebat antara Daffin dan Serli. Namun, ternyata Daffin dengan mudah mengusir Serli pergi.


"Apa dia sudah pergi, Mas?" tanya Alena sambil berjalan menghampiri Daffin.


"Alena stop disana, kamu jangan banyak jalan dulu. Kamu tenang saja dia tidak akan menyakitimu lagi mulai sekarang." ujar Daffin sambil memeluk Alena.


"Makasih ya, Mas. Untung saja kamu cepat datang." balas Alena. Alena merasa kesal karena dia tidak melihat pertunjukan yang memuaskan.


"Sepertinya aku harus lebih berusaha lagi untuk menyulut api," pikir Alena dengan ekspresi datar.


.


.


.


.


.


BERSAMBUNG.


Jangan lupa tinggalin jejak ya!!


Like


comment


Vote


Rate

__ADS_1


__ADS_2