Alena My Beloved Wife

Alena My Beloved Wife
EPS. 11 Rumah Baru


__ADS_3

Keesokan paginya, seperti biasa Alena akan terbangun ketika sinar matahari sudah menerobos masuk menyapanya. Alena langsung terduduk sambil mengumpulkan semua nyawanya dari alam mimpi. Dia menoleh ke samping ternyata Daffin sudah bangun sejak tadi karena kasurnya sudah tidak hangat lagi.


"Mas Daffin bangunnya pagi banget," pikir Alena lalu berjalan menuju kamar mandi.


Daffin yang sedang berada di ruang makan tidak henti-hentinya melirik ke arah tangga karena Alena masih juga belum turun. "Apa Alena kalau bangun memang sedikit siang, Bun?" tanya Daffin sambil meletakkan gelas kopinya.


"Ya, begitulah Alena. Bunda harap kamu dapat merubah sikap manja dan pemalasnya itu!" jawab bu Dewi.


"Heeh, tenang saja setelah kami tinggal berdua aku akan memberikan pendidikan mengurus rumah yang baik," pikir Daffin sambil tersenyum aneh.


Alena yang baru saja selesai mandi langsung merasa merinding di bagian tengkuknya. "Hih, kok merinding ya," gumam Alena.


Setelah selesai membereskan keperluan yang akan dia bawa, Alena langsung turun menuju meja makan. Di sana terlihat Daffin masih santai bersama ayahnya sedang menyeruput kopi. Alena hanya memanyunkan bibirnya saat Daffin menunjukan senyum nakalnya.


"Mesum," gumam Alena sambil melirik Daffin.


"Al, kamu sudah siap membereskan semua keperluan yang mau kamu bawa?" tanya bu Dewi sambil memberikan segelas susu, Daffin memperhatikan Alena dan terlihat hsangat heran karena dia benar-benar bersikap manja.


"Sudah Bun, cuman dikit kok barang yang mau Alena bawa, karena Alena takut gak betah." Jawab Alena sambil melirik Daffin.


Daffin hanya menatap Alena dengan wajah datar, karena dia punya rencana sendiri untuk Alena setelah dia pindah dan tinggal bersama.


Setelah Alena selesai sarapan, tidak menunggu lama lagi Daffin langsung pamit untuk mengajak Alena pindah. Alena yang yang memiliki sifat manja pun langsung menangis saat sedang pamitan dengan bundanya.


Sebelum masuk ke dalam mobil Alena lagi-lagi memeluk bundanya, dia masih belum ikhlas jika harus tinggal bersama seorang pria. "Bun, Alena masih anak bunda, kan??" tanya Alena sambil memeluk bundanya.


"Sayang kamu selamanya akan jadi anak bunda, jangan cengeng dong kamu sekarang sudah menjadi seorang istri tau," jawab Bu Dewi sambil membalas pelukan putrinya.


Daffin yang melihat Alena sangat bersikap manja hanya dapat menggelengkan kepalanya. Dia sangat heran dari dulu Alena belum juga berubah masih seperti Alena yang dia kenal.


"Alena, kamu masih bisa bertemu dengan bunda kapan pun kamu mau, kita ini bukan pindah keluar kota," ucap Daffin tidak sabar menunggu Alena.


"Suami kamu benar, jika ada waktu Ayah dan Bunda akan berkunjung kerumah kalian," sambung pak Bisma.


Dengan berat hati Alena langsung melepas pelukannya. Dia lalu masuk ke dalam mobil dan Daffin pun langsung melajukan mobilnya.


"Dah Bunda, dah Ayah!!" teriak Alena sambil melambaikan tangannya.

__ADS_1


Saat di perjalanan Alena sama sekali tidak mau bicara dengan Daffin, dia terus saja menekuk wajahnya sambil menatap keluar kaca mobil.


"Al, kalau kamu cemberut terus nanti aku cari istri yang baru loh," goda Daffin sambil melirik Alena.


"Cari aja sana, kamu kan memang mau nyari istri kamu yang itu," jawab Alena ketus.


Daffin langsung menghela napasnya, niatnya hanya bercanda tapi malah membuat Alena tambah marah.


"Hehe, maaf ya aku cuman bercanda kok tadi," balas Daffin sambil mengusap ujung kepala Alena.


Alena sama sekali tidak merespon, dia masih tidak mau berbicara dengan Daffin apa lagi menatap wajahnya. Alena masih belum mengerti kenapa harus secepat itu membawanya pindah rumah, karena dia belum siap untuk berurusan dengan Daffin mantan pacar yang sekarang malah menjadi suaminya.


"Arghh apa yang harus aku lakukan ketika kami sudah tinggal bersama," pikir Alena sambil memejamkan kedua matanya dengan erat.


Setelah hampir satu jam perjalanan, Daffin menghentikan mobilnya di depan sebuah hotel. Alena terlihat bingung sambil melihat ke depan dan ke belakang mobil.


"Sudah sampai, Mas?" tanya Alena.


"Belum," jawab Daffin singkat sambil keluar dari dalam mobil.


"Mas, kamu mau kemana?" teriak Alena, Daffin tidak merespon pertanyaan Alena. Dia tetap saja berjalan menjauh dari mobil dan meninggalkan Alena sendirian.


"Ck, pasti mas Daffin pergi cari istrinya yang itu," gerutu Alena sambil menggertakan giginya.


"Istri yang mana yang kamu maksud?" tanya Daffin sambil menempelkan ice cream di keningnya.


"Mas, kamu dari mana sih berani kamu ninggalin aku!" omel Alena benar-benar merasa sangat kesal.


"Maaf ya, aku dari tadi liat kamu marah terus sama aku, jadi aku beli ice cream untuk mendinginkan otak kamu ini," balas Daffin sambil menunjuk-nunjuk kepala Alena.


"Ishh kamu pikir aku anak kecil di rayu pakai ice cream." protes Alena sambil menerima ice cream dan menyembunyikan senyumnya.


Daffin hanya tersenyum tipis saat melihat Alena mau menerima ice creamnya. Dia lalu melajukan lagi mobilnya menuju rumah mereka.


"Masih jauh ya, Mas?" tanya Alena sambil menyuapkan ice cream ke dalam mulutnya.


"Sebentar lagi sampai," jawab Daffin sambil menatap wajah Alena.

__ADS_1


"Kenapa liat aku, mau??" tawar Alena sambil menyodorkan satu sedok ice cream ke mulut Daffin.


"Aaaa,"


Saat Daffin membuka mulutnya Alena dengan cepat langsung menyuapkan ice cream ke dalam mulutnya sendiri. Daffin langsung menutup mulutnya dan memakan angin saja.


"Hahaha, kena tipu, weekkk," ledek Alena sambil menujulrkan lidahnya.


Daffin hanya menghela napasnya menahan kesal, tapi di hati kecilnya dia merasa senang bisa melihat Alena tertawa lagi. Ini pertama kalinya dia melihat Alena tertawa lagi setelah sekian lama mereka berpisah.


"Sudah sampai," ucap Daffin sambil membelokkan mobilnya kesebuah pagar rumah.


"Wahh, pagar rumahnya aja mantep betul," batin Alena kagum.


"Ini beneran rumah kamu, Mas?" tanya Alena tidak percaya.


"Ya iya lah, memangnya rumah siapa lagi," balas Daffin sambil mengeluarkan koper dari bagasi mobil.


"Nih koper kamu bawa sendiri," sambungnya lagi sambil menyodorkan beberapa koper dan barangnya Alena.


"Cih, dasar pisang," ketus Alena berdecak kesal.


"Hah, apa kamu bilang, pisang??" tanya Daffin sambil berbalik menatap Alena.


"Ya, kamu itu pisang, punya jantung tapi gak punya hati. Mana ada sih suami yang tega nyuruh isterinya bawa koper sendiri, bukannya di bawain," omel Alena sambil berjalan melewati Daffin.


"Hahh?"


Daffin hanya tercengang sambil menahan tawanya, dalam dunia ini memang hanya Alena satu-satunya wanita yang membuat Daffin geleng-geleng kepala.


"Mas, dimana kamar ku?" teriak Alena dari dalam rumah.


"Jangan teriak aku di belakang kamu, kamar kamu di sebelah kamarku di lantai 2," jawab Daffin sambil berjalan menuju tangga dan Alena mengikutinya.


Saat di atas tangga, Alena benar-benar kagum melihat betapa cantiknya bentuk rumah Daffin. Rumahnya memang tidak lebih besar dari rumah orangtuanya, tapi isi rumahnya benar-benar sangat mewah dan elegan.


"Hmmm, rumah ini kenapa seperti rumah impian yang pernah aku katakan saat masih pacaran dengan Mas Daffin ya," pikir Alena dalam hati.

__ADS_1


Dulu saat masih pacaran, Daffin memang pernah berkata bahwa hanya Alena satu-satunya wanita yang akan dia nikahi. Sampai Daffin bertanya rumah seperti apa yang ingin dia inginkan saat sudah menikah nanti. Rumah yang saat ini mereka tempati sama persis dengan gambaran yang pernah Alena katakan di masalalu, tapi menurutnya itu hanya kebetulan sama. Karena tidak mungkin Daffin sengaja membuat rumah khusus untuknya, sedangkan sejak dulu Alena bukan lagi wanita yang dia cintai.


BERSAMBUNG.


__ADS_2