
Tiga hari sudah berlalu, Alena tidak habis-habisnya terus merasa gelisah menanti kabar dari Daffin. Setiap kali menghubungi Daffin atau yang lainnya, mereka semua tidak ada yang menjawab telepon dari Alena. Bahkan sudah dua hari ini ponsel Daffin tidak dapat dihubungi.
Alena terus melamun menatap keluar jendela. Dia bahkan tidak mau makan dan hanya fokus menatap layar ponsel menanti kabar Daffin.
"Al, makan, yuk! Kamu dari kemarin belum makan lo." ucap Adel sambil membawa satu porsi nasi.
"Aku gak laper, Del." balas Alena lesu.
"Mungkin suami kamu lagi benar-benar sibuk mangkanya gak bisa dihubungi dan gak sempet ngasih kabar." timpal Fira mengelus punggung Alena.
"Besok pokoknya aku mau pulang, kalian tinggalah disini jika masih ingin berlibur." ucap Alena beranjak mengambil koper.
Alena memasukan semua barang bawaannya kedalam koper. Percuma rasanya dia berada disana jika tanpa kabar dari Daffin. Jangankan ingin merasakan liburan, ia bahkan tidak selera makan karena terus merasa cemas.
"Pasti terjadi sesuatu dengannya, jangan-jangan insiden penyerangan itu membuatnya terluka atau..." batin Alena sambil meneteskan air matanya.
Fira dan Adel pun langsung cemas saat melihat sahabatnya menangis. Mereka memang tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dan kenapa mereka dikirim ke Pulau itu.
"Al, kamu nangis?" tanya Fira sambil menghampiri Alena.
Alena malah terduduk lemas dan semakin menangis. Fira dan Adel pun semakin bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
"Al, kalau kamu benar-benar ingin pulang, besok kita pulang sama-sama, ya. Sekarang kamu jangan nangis gini dong, kita khawatir banget tahu!" ucap Adel sambil memeluk Alena.
"Iya,Al." timpal Fira sembari memeluk Alena juga.
"Hiks, kalian gak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Kalau kalian ada diposisi ku pasti kalian juga ingin cepat-cepat pulang." isak Alena kepada kedua sahabatnya.
Mereka berdua pun mencoba untuk mengerti dengan apa yang sedang Alena rasakan. Mereka ingin bertanya apa sebenarnya masalah yang sedang dialami Daffin, tetapi mereka tidak berani takut membuat Alena bertambah sedih.
Keesokan paginya, pagi-pagi buta Alena sudah terbangun dan bersiap untuk pulang. Padahal jam terbang mereka masih sekitar tiga jam lagi.
Karena Alena yang sudah sibuk sana-sini, kedua sahabatnya pun ikut terbangun dan segera bersiap. Fira terlebih dahulu menyiapkan sarapan untuk mengisi perut mereka sebelum naik pesawat.
"Guys, sarapan sudah siap, nih. Ayo sarapan dulu!" teriak Fira di meja makan.
"Waw, masakan mu harum banget." ucap Adel sambil menghampiri Fira dan mencolek makanannya.
"Aish, kebiasaan deh, jangan main colek dong!" tepis Fira menjauhkan makanan dari Adel.
"Huh, dasar pelit." ketus Adel lalu duduk dimeja makan.
Adel dan Fira sudah duduk di meja makan, tapi mereka tidak langsung makan karena masih menunggu Alena agar makan bersama.
"Al, ayo kita sarapan!" ajak Adel yang sudah tidak sabar ingin melahap makanan dihadapannya.
"Kalian sarapan duluan, aku tidak lapar nanti makan dipesawat saja." jawab Alena lesu.
Alena masih seperti biasanya terus menatap layar ponsel menanti kabar dari Daffin. Namun, hingga detik ini tidak ada kabar dari Daffin membuatnya tidak sabar ingin segera pulang.
"Al, sebaiknya kamu sarapan dulu! Lihat tubuh kamu sampai lemas gini nanti kalau kamu pingsan bukannya membuat Daffin khawatir ya?" ucap Fira sambil menghampirinya.
"Iya nanti aku makan," jawab Alena dengan nada yang sangat lesu.
Ting... Tong...
Tiba-tiba saja suara bel berbunyi, Alena dan Fira pun saling pandang seolah-olah bertanya siapa yang datang.
__ADS_1
"Kamu pesan makanan?" tanya Alena.
"Nggak, kok. Kalau aku pesan makanan ngapain aku masak." jawab Fira sambil mengangkat bahunya.
"Adel?" tanya Alena lagi sambil melihat kearah Adel yang sedang sibuk mengisi perutnya.
Karena mulut Adel sedang sibuk mengunyah, dia pun hanya menggelengkan kepalanya tanda tidak memesan apapun.
Dengan perasaan malas Alena pun beranjak dari tempat duduknya untuk membuka pintu. Namun, dengan cepat Fira langsung mencegahnya.
"Biar aku saja yang buka pintu," ucap Fira. Alena pun mengangguk lalu kembali duduk.
Fira langsung menuju pintu dan segera membukanya. "Siapa, ya?" tanyanya sambil membuka pintu.
Betapa terkejutnya Fira setelah melihat siapa orang dibalik pintu. Ya, dia adalah orang yang selalu Alena pikirkan siang dan malam.
"Da-daff.." Fira gugup saat melihat kedatangan Daffin yang datang tanpa memberi kabar.
"Ssuuttt.. Mana Alena?" bisik Daffin sambil melirik kedalam ruangan.
"Ada didalam," jawab Fira pelan.
Daffin pun perlahan masuk kedalam sambil membawa sebuket bunga mawar ditangan kanannya. Sambil memamerkan senyum yang merekah, Daffin menghampiri Alena yang sedang duduk membelakangi pintu.
Daffin langsung menutup kedua mata Alena dengan satu tangannya.
"Fira, apaan sih jangan becanda lah!" ketus Alena sambil mencoba untuk melepas tangan yang menutupi matanya.
"Surprise!!" ucap Daffin sambil membuka mata Alena dan memberikan bunga mawar.
Sontak Alena langsung terdiam sejenak menatap pria dihadapannya. Air matanya langsung mengguyur membasahi kedua pipinya. Dengan cepat Alena menepis bunga mawar yang masih dipegang Daffin dan langsung memeluk tubuh Daffin dengan sangat erat.
Daffin dengan lembut langsung membalas pelukan hangat Alena.
"Maaf, sayang!" jawab Daffin sambil mengecup pucuk kepala Alena.
Fira dan Adel pun ikut terharu melihat pasangan dihadapannya yang saling bertemu. Mereka berdua pun meninggalkan Alena dan suaminya untuk memberikan mereka waktu untuk berdua.
Alena yang terus menangis dipelukan Daffin perlahan tubuhnya merosot kebawah. Daffin terkejut dan segera memangku tubuh Alena.
"Alena, kamu kenapa sayang?" teriak Daffin sambil menepuk pelan pipi Alena.
Saat mendengar suara panik Daffin, Fira dan Adel yang masih diambang pintu pun langsung berlari menghampiri Alena.
"Alena kenapa?" tanya Fira sambil memeriksa keningnya.
"Suhu tubuhnya kenapa tiba-tiba panas." sambungnya lagi panik.
Daffin pun langsung membaringkan Alena keatas kasur. Sedangkan Fira dan Adel bergegas memanggilkan Dokter.
"Sayang, bangun! Kamu jangan bikin aku khawatir!" bisik Daffin ditelinga Alena.
Wajah Alena menjadi sangat pucat. Sejak awal tubuhnya memang sudah lemas karena kurang asupan makanan.
Tidak menunggu lama, Dokter dan perawatpun datang membawa peralatan medisnya. Dokter pun segera memeriksa kondisi Alena.
"Bagaimana kondisi istri saya,Dok?" tanya Daffin panik.
__ADS_1
"Apa sebelumnya istri anda sedang berpuasa?" Dokter malah bertanya balik.
Daffin pun tidak mengerti dan langsung menatap kedua sahabat Alena. Fira dan Adel pun langsung menunduk takut saat ditatap oleh Daffin.
"Ma-maaf, Alena sudah 2 hari tidak makan." jawab Fira gugup.
"Apa?" tanya Daffin dengan nada tinggi.
"Ini salah kami berdua tidak bisa melindungi Alena dengan baik, Alena tidak mau makan karena sangat mengkhawatirkan Ma-mas Daffin." jawab Adel masih menunduk.
Daffin langsung mengusap kasar wajahnya. Satu-satunya orang yang paling bersalah hanyalah Daffin, ini semua adalah salahnya yang tidak memberikan kabar untuk Alena.
"Kalian tidak bersalah, ini salahku." ucap Daffin.
"Anda tenang saja, istri anda hanya mengalami dehidrasi dan menaiknya asam lambung tinggi. setelah menghabiskan satu kantong infus tubuhnya akan pulih kembali. Saat dia sadar beri obat ini sebelum makan dan obat yang ini setelah ia selesai makan." Jelas Dokter sambil memberikan dua resep obat yang berbeda.
"Baik, Dokter. Terimakasih." ucap Daffin sambil menerima obat dari Dokter.
Setelah Dokter pergi, Daffin menyuruh Fira dan Adel untuk membeli makanan. Mereka pun hanya patuh karena takut membuat Daffin marah. Padahal dengan adanya fasilitas Hotel yang mewah tidak perlu turun kebawah untuk membeli makanan. Cukup menggunakan telepon Hotel maka makanan yang dipesan akan segera diantar.
Sambil menunggu Alena siuman, Daffin pergi kedapur untuk membuat susu hangat untuk Alena. Daffin benar-benar tidak menyangka bahwa dengan tidak memberinya kabar akan membuat Alena tidak mau makan hingga membuatnya sakit. Dia pun merasa bersalah dan akan menebusnya saat Alena sadar nanti.
Setelah siap membuat susu hangat, Daffin kembali menghampiri Alena dan benar saja Alena sudah mulai terbangun dari pingsannya.
"Ugh, sakit!" rintih Alena masih dengan mata terpejam.
"Sayang, kamu sudah bangun?" tanya Daffin sambil mengelus perut Alena yang terasa sakit.
Perlahan Alena membuka kedua matanya dan pemandangan pertama yang ia lihat adalah wajah Daffin yang terlihat panik.
"Mas Daffin?" lirih Alena seperti tidak percaya bahwa Daffin ada disampingnya saat ini.
"Iya, sayang. Kamu jangan khawatir lagi, ya. Sekarang ada aku disini." ucap Daffin mengelus rambut Alena dan mengecup keningnya.
Alena langsung tersenyum lebar saat merasakan kehangatan kecupan Daffin yang benar-benar terasa nyata.
"Aku pikir kamu datang hanya dalam mimpiku, Mas." ujar Alena senang.
"Maaf, ya. Bukannya aku tidak mau memberimu kabar, tapi..." Daffin menggantung kata-katanya.
"Tapi kenapa, Mas?" tanya Alena penasaran ingin mendengar alasan dari Daffin.
Daffin tidak langsung menjawab rasa penasaran Alena. Dia tidak ingin berkata jujur bahwa sebenarnya selama tiga hari itu ia terbaring di Rumah Sakit. Bahkan sebenarnya ia belum diizinkan untuk keluar dari Rumah Sakit karena lukanya yang masih belum sembuh dan masih memerlukan perawatan Dokter.
Namun, karena rasa rindunya terhadap Alena, Daffin memilih kabur dari Rumah Sakit dan langsung terbang ke Pulau Batam untuk menemui istrinya.
"Sudahlah, sayang. Tidak perlu dibahas dulu yang oenting sekarang kamu harus sembuh dulu." ujar Daffin membuat Alena kesal.
"Oke, tapi kamu harus janji setelah aku sembuh harus ceritakan semuanya!" ketus Alena kesal.
"Baik, Bu Boss!" jawab Daffin sembari memeluk tubuh Alena.
.
.
.
__ADS_1
.
BERSAMBUNG.