
Setelah jam 9 malam, mereka semua pun pulang ke rumah masing-masing. Fira menyuruh Fahri untuk mengantar Alena karena hanya rumah dia yang tidak satu arah.
Saat tiba di rumah Alena, Fahri langsung membangunkan Alena karena dia tertidur di dalam mobil. Alena pun langsung terbangun dan langsung keluar dari dalam mobil.
"Makasih ya, Fahri. Udah repot-repot mau ngantarin aku," ucap Alena dengan ekspresi ala bangun tidurnya.
"Ini rumah baru kamu ya, Al? Kok gelap banget memangnya gak ada orang di dalam?" tanya Fahri sambil keluar dari dalam mobil.
Alena pun baru sadar ternyata masih belum ada yang menyalakan lampu rumahnya. Alena langsung merasa kesal karena itu menandakan bahwa Daffin belum pulang ke rumah.
"Daffin benar-benar gak peduli sama aku, bahkan sekarang sudah jam 9 malam, tapi dia belum pulang juga." gerutu Alena dalam hati.
"Al, kenapa diam? Kamu sendirian di rumah?" tanya Fahri terlihat khawatir.
Alena masih terdiam, dia masih memikirkan betapa menakutkannya di rumah sendirian apa lagi rumah itu masih sangat asing baginya.
"Itu... Fahri kamu mau tolongin aku gak, kamu jangan pergi dulu ya sampai aku menghidupkan lampunya!" pinta Alena kepada Fahri.
"Oke, aku tunggu disini, nanti aku pergi setelah aku merasa kamu sudah aman," balas Fahri sambil melipatkan kedua tangannya dan menyenderkan tubuhnya ke mobil.
Alena pun langsung berlari kecil menuju ke dalam rumah. Dia langsung menghidupkan senter Hpnya untuk mencari saklar lampu. Alena berjalan menelusuri dinding, tangannya meraba-raba mencari saklar lampu. Namun, dia kesulitan mencari saklar lampu karena dia masih sangat asing dengan rumah itu.
"Ck, dimana sih saklar lampunya, itu apa lagi putih-putih?" gumam Alena sambil menyenteri objek putih di depannya.
Arghhhhh..
Alena langsung berteriak saat tau bahwa di depannya ada orang lain berdiri tanpa suara dan memakai baju putih. Sontak Fahri yang masih menunggu di luar pun langsung berlari ke dalam dumah Alena.
"Alena, ada apa??" tanya Fahri sangat khawatir.
Klakk..
Lampu pun tiba-tiba menyala dan langsung terlihat Daffin sedang berdiri dengan tatapan yang sangat tajam. Alena masih berjongkok sambil menutupi wajahnya karena dia tadi benar-benar ketakutan saat Daffin berdiri tanpa suara.
"Daffin??" lirih Fahri bingung kenapa bisa ada dia di rumah Alena.
"Kamu bawa laki-laki ke rumah?" tanya Daffin sambil menarik tangan Alena.
"Aww, enggak Mas," rintih Alena kesakitan karena Daffin menggenggam erat lengannya.
"Aku tadi cuman nunggu di luar sampai Alena menghidupkan lampunya, kamu juga ngapain disini?" tanya Fahri kepada Daffin.
"Kenapa aku di sini? Jawabannya adalah karena ini adalah rumahku!" bentak Daffin.
__ADS_1
Fahri terlihat sangat bingung, bagaimana bisa bahwa itu adalah rumah Daffin, apa maksudnya mereka tinggal bersama, pikir Fahri.
"Fahri kamu pulang aja," suruh Alena dan Fahri pun langsung menganggukinya.
Fahri berjalan menuju mobilnya dengan tatapan kosong, dia benar-benar masih tidak habis pikir kenapa Alena dan Daffin bisa tinggal 1 rumah.
"Kenapa aku bingung sendiri," pikir Fahri dan langsung melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah Alena.
Di sisi lain, Alena yang masih berhadapan dengan Daffin sangat merasa kesal karena Daffin hanya tau marah-marah saja. Tanpa menjelaskan apa-apa, Alena langsung berjalan menaiki anak tangga.
"Alena, kita belum selesai bicara, kamu pergi kemana dan siapa laki-laki itu, kamu bahkan pergi hingga jam segini baru pulang," omel Daffin sambil berjalan menyusul Alena.
"Lalu bagaimana dengan kamu, Mas?" tanya Alena sebelum membuka pintu kamarnya.
"Kamu pergi seharian dan buat aku sampai mati kelaparan, aku kira kamu kerja tapi nyatanya kamu enak-enakan pergi ke Restaurant, sama siapa kamu Mas? Sama istri kamu itu, iya?? Tega kamu Mas, kamu belum pulang sampai jam 6 sore, jadi jangan salahkan aku kalau aku juga bisa pergi bersenang-senang." sambungnya lagi mengeluarkan semua kekesalannya.
Daffin langsung terdiam tidak bisa menjawab Alena, dia lupa bahwa Alena tidak bisa masak. Dia juga tidak punya pilihan lain selain menemani Vivi yang sedang sakit hingga jam 8 malam. Daffin menyadari semua kesalahannya, dia merasa sangat bersalah karena sudah mengabaikan Alena.
Brakkk..
Alena langsung membanting pintu kamarnya, dia tidak mau mendengar penjelasan apa pun dari Daffin. Dia sadar bahwa hubungannya dengan Daffin sejak dulu memang tidak pernah cocok, dan sekarang dia malah terjebak lebih dalam dengan pernikahan ini.
Tokk... Tokk.. Tokk
"Alena, aku minta maaf, aku tadi benar-benar sibuk dan lupa untuk menghubungi kamu," Daffin memohon kepada Alena agar dia memaafkannya dan membuka pintu lalu bicara secara baik-baik, tetapi Alena masih juga tidak mau bicara apa lagi membukakan pintu kamarnya.
"Dasar pisang gak punya hati, Daffin sialan tau nya marah-marah terus," celoteh Alena sambil melempar bantal kearah pintu.
Alena pun langsung merebahkan tubuhnya keatas kasur, dia memejamkan kedua matanya dalam keadaan menangis. Dia berharap besok pagi suasana hatinya akan membaik, dan semoga tidak melihat Daffin, harap Alena.
***
Keesokan paginya, seperti biasa Alena terbangun setelah matahari pagi menyapanya dengan hangat. Kali ini Alena tidak langsung beranjak dari tempat tidurnya, perasaannya masih kesal dan sama sekali tidak mau keluar dari dalam kamar.
Alena mengambil ponselnya di atas nakas, ketika melihat layar ponsel ternyata ada notifikasi dari chat grup sahabat. Dia pun langsung membuka dan membaca chat dari para sahabatnya.
**Chat Grup**
Fahri: guys, tadi gue hampir berantem sama Daffin!
Fira: why??
__ADS_1
Sania: jangan bilang lo ketemu Daffin pas ngantar Alena pulang, kan gue udah bilang antar Alena sampai depan pagar aja😡
Fahri: jadi ini alasan lo, San? @Alena mana gue butuh penjelasan, kenapa kalian bisa satu rumah!?
Fira: hah, 1 rumah???
Adel: what?? Alena sama Daffin tinggal 1 rumah???
Sania: udah kalian diem jangan berisik, Alena mungkin udah tidur besok lagi aja bahasnya!
Fahri: besok jam 9 pokoknya kita kumpul di Caffe BTS, yang gak datang, out!!!
Sania: Ni cowok cerewet banget🙄
Adel/Fira: oke.
Alena langsung menghela napasnya dengan kasar, dia melupakan hal ketika Daffin memarahi Fahri tadi malam. Tentu saja Fahri tidak akan diam saja ketika tau bahwa Alena dan Daffin tinggal satu rumah. Alena memang belum siap untuk menceritakan bahwa dia sudah menikah dengan Daffin, hanya Sania saja yang tau bahkan hadir menyaksikan pernikahan mereka.
"Aku memang harus kasih tau mereka sebelum mereka mengamuk," ucap Alena sambil beranjak menuju kamar mandi.
Setelah selesai mandi, Alena langsung memakai baju casualnya karena hari ini dia belum ada kegiatan apapun. Dia langsung keluar dari kamar karena menurutnya Daffin pasti sudah pergi bekerja. Namun, ketika Alena membuka pintu ternyata Daffin sudah berdiri di depan pintu kamarnya membuat Alena terkejut setengah mati.
"Arghh, Mas kamu mau buat aku mati jantungan!" pekik Alena sambil mengelus dadanya.
"Aku tadinya mau dobrak pintu kamar kamu kalau belum keluar juga," ucap Daffin sambil mengancingkan lengan bajunya.
Alena tidak peduli dan langsung berjalan melewatinya, dengan sedikit berlari Alena langsung menuruni anak tangga.
"Al, kamu masih marah ya sama aku?" tanya Daffin sambil menyusul Alena dengan langkah cepatnya.
Alena msih tidak menjawab pertanyaan Daffin, dia masih memasang wajah cemberutnya sambil terus menghindari pandangan Daffin.
"Alena, oke aku minta maaf karena sudah marahin kamu tadi malam, aku cuman khawatir aja karena kamu pulang malam sama pria asing," jelas Daffin sambil memegang kedua bahu Alena.
"Dia sahabat ku namanya Fahri, bukan pria asing." ketus Alena sambil menepis tangan Daffin dari bahunya.
"Oke, aku percaya, jadi sekarang kamu maafin aku, ya?" rayunya sambil kembali meletakkan tangannya di bahu Alena.
Alena masih diam karena dia masih benar-benar kesal. Sebenarnya dia marah bukan karena Daffin memarahinya, tapi karena Daffin sudah mengabaikannya bahkan sampai pulang malam tidak memikirkan perasaan Alena yang tidak berani di rumah sendirian.
"Tergantung kebaikan hati kamu," balas Alena sambil duduk di meja makan.
__ADS_1
Daffin langsung tersenyum menatap Alena, dia lalu memakai celemek dan langsung menyiapkan sarapan untuk Alena. Alena hanya menyembunyikan senyumnya ketika melihat punggung Daffin yang sedang sibuk memasak. Daffin memang laki-laki sempurna, dia bisa melakukan segalanya. Namun, di balik sikap manisnya itu tidak tau seberapa banyak rahasia yang tidak Alena ketahui.
BERSAMBUNG