Alter Ego

Alter Ego
Berburu boneka Jalmo


__ADS_3

“ Ah, sudah jam segini” keluh Putri sambil menatap layar smartphonenya. Hari ini, latihan Cheers nya berlangsung lebih lama dari biasanya karena dalam waktu dekat ini, para Cheerleader akan mendukung tim basket SMA mereka yang akan ikut lomba.


Semburat jingga semakin nampak lewat jendela kaca sekolah yang lebar.


Hari semakin mendekati petang. Tergesa, Putri mengambil tasnya agak serampangan. Lalu berlari keluar kelas.


Tanpa disadari, sebuah buku miliknya terjatuh di lantai kelas.


...


Ddddrrrrr... dddrrrr


Getar smart phone milik Mala, menginterupsi makan malam keluarga Mala. Mala merasakan tatapan terganggu dari keluarganya dan dia berinisiatif membuka HPnya.


Aku berharap kamu bisa datang ke sekolah nanti pukul 19.00 Wib. Jangan sampai tidak datang karena aku tidak segan membocorkan masalalumu. FEIZ


Ancaman itu lagi. Mala hanya menghela nafas kesal. Ingin rasanya dia menjitak kepala putih Feiz. Meski akhirnya, jari-jarinya hanya menulis pesan menyetujui dengan asal.


Dia kembali ke meja makan tanpa berkata sepatahpun.


...


Pukul 19.00 Wib. Seperti perjanjiannya, Mala datang ke sekolah.


Ternyata Feiz sudah berada di pintu gerbang sekolah. Dia menenteng tas besar yang terlihat berat di pundaknya.


“ Wah, terima kasih sudah mau repot-repot datang” sindir Feiz tanpa melupakan cengiran sarkas yang sialnya menawan.


“ Apa maumu sekarang?” tanya Mala gusar. Angin dingin menerpa lembut memaksa Mala merapatkan resleting di jaket merahnya.


“ Tentu saja kita mencari boneka Jalmo”


Feiz membuka pintu gerbang dengan kunci yang entah dari mana dia dapat. Menit berikutnya gerbang itu terbuka selebar tubuh satu orang. Lalu merekapun masuk ke dalam.


“ Boneka Jalmo ada di dalam sekolah?”


“ Entahlah.”


“ Hoi.. Jangan bercanda” bentak Mala semakin gusar karena sedari tadi terdengar suara anjing melolong panjang di kejauhan.


Seolah memahami apa yang di pikirkan Mala, Feiz menyindir.


“ Padahal indigo, kenapa lolongan anjing saja takut”


“ Aku tidak takut kepada suara anjing. Tetapi aku takut kepada keselamatanku. Apa itu aneh, Uban?”


“ Uban? Jahat, ih. Padahal aku ganteng begini”


Mala berdecih jijik.

__ADS_1


“ Kamu tahu, sekolah ini di curigai menjadi tempat bersemayamnya Boneka Jalmo.” Terang Feiz sambil menyalahkan senter. Dia berjalan terus diikuti Mala.


“ Kepala sekolah terus mengaku kalau sekolahnya tidak punya riwayat poltergeist. Tetapi, kejadian kesurupan kemarin kemungkinan dari benda keramat yang terbawa kemari...”


“ Salah” bantah Mala. “ Para hantu itu berasal dari Rumah Sakit Jiwa lama yang bersemayam di sana. Dan Zee dirasuki penguasa di sana.”


“ Eh, kamu tahu banyak, ya. Tidak salah aku memilihmu menjadi partner” Puji Feiz tulus namun terdengar memuakkan di mata Mala.


“ Karena sudah clear penyebabnya bukan Boneka Jalma, berarti aku boleh pulang, dong”


“ Tunggu!!”


“ Apa?”


Feiz berhenti berjalan. Dia merenung. Terlihat berpikir keras.


“ Apa alasan Hantu itu merasuki Zee?”


“ Apa maksudmu?”


“ Aneh, kan. Kenapa Hantu penguasa RSJ harus repot-repot ke sekolah dan membuat kegaduhan?”


“ Ya mana aku tahu?”


“ Lalu, kamu tahu apa alasannya?”


“ Aku bilang gak tahu kan” tegas Mala makin kesal. Feiz mengelus dagunya.


“ Apanya?”


“ Dengar. Hantu itu tipe yang suka menetap di satu tempat. Meskipun ada yang nomaden. Lalu, ketika ada makhluk lain datang, secara naluri mereka melakukan perlawanan dengan maksud mengusir mereka atau jika mereka ganas, mereka akan membawa si pengganggu ke alamnya. Kenapa si penguasa repot-repot membawa Zee ke sekolah? Seharusnya cukup dengan membawa Zee ke alamnya saja kan?”


“ Mungkin dia ingin melebarkan daerah kekuasaannya”


“ Itu mungkin terjadi. Tetapi, dengan keberadaan manusia yang konstan di sini apa sekolah jadi tempat yang menarik minat mereka. Bukankah hawa manusia bisa mengusir hantu. Contohnya seperti mantan presiden KH. Gus Dur yang membuat istana negara dibuka untuk umum sebagai cara mengusir hantu-hantu yang bersemayam di istana negara. “ Mala mangut-mangut paham. Dia baru tahu cerita ini.


“.. Jangan-jangan.. ada yang membuat mereka tertarik ‘berkunjung’ kemari?” pikir Feiz.


“ Maksudmu seperti boneka Jalmo?”


“ Bisa jadi.”


“ Pokoknya, aku mau pulang..” Mala bersiap berbalik meninggalkan Feiz, saat suara teriakan menggema seisi gedung sekolah.


Keduanya tersentak. Mala familiar dengan suara itu. Dia langsung berlari ke arah sumber suara.


Feiz mencoba menahan Mala. Tetapi gagal dan malah mengikutinya di belakang.


“ PUTRII..” pekik Mala tertahan.

__ADS_1


Dihadapan mereka, Putri melayang tidak sadarkan diri. Tubuhnya di selimuti kabut hitam pekat. Seolah terikat.


Sementara di belakang Putri berdiri sosok bergaun putih dan berambut gimbal dan panjang menyentuh lantai.


Seluruh wajahnya tertutup rambut tetapi sesuatu yang menjulur panjang di antara rambut. Berwarna merah kehitaman dan mengkilat karena cairan yang menetes.


“ Kuntilanak!” terang Feiz agak memekik. Feiz mengambil sesuatu di sakunya. Sebuah tasbih dengan sembilan warna dan corak yang berbeda.


Sejurus kemudian terdengar alunan ayat kursi yang indah dari mulut Feiz.


Hantu di depan terlihat mengerang kesakitan. Lidahnya tertarik ke dalam mulutnya. Putri pun terhempas dari genggaman kabut hitam dan terjatuh.


Erangan hantu semakin menyayat. Dari tubuhnya keluar asap.


“ Feiz!! Hentikan!!” dengan cepat Mala memotong bacaan ayat kursi Feiz.


“ Biarkan aku yang menyelesaikannya..” lanjutnya menawarkan diri. Feizpun menghentikan bacaannya.


Mala menghampiri hantu yang terlihat melemah itu. Tangannya mengulur ke arah pundak hantu. Dia berkonsentrasi memanggil Malam.


Sesaat kemudian Malam datang sambil tersenyum.


“ Kamu ingat aku, kan?” tanya Malam kepada sosok hantu itu.


Hantu itu melunak bersamaan dengan kepulan asap yang semakin menipis.


“ Kamu roh..khgegegg...yang selalu menempel.. grgrgrg..ke bocah manusia itu?”


Malam mengangguk.


“ Kita teman, kan?” tekan Malam. Hantu itu mengangguk. “ Kenapa kamu mengganggu teman manusiaku? Selama ini kamu tidak pernah mengganggu manusia” tanya Malam melanjutkan.


“ Dia manusia.. grrggr.. yang membawa.. gegrggrrge...penguasa... aku mau .. grgrgr.. bebas.. grgrg”


Malam mengangguk. Dia beralih ke Feiz yang berdiri sambil melongo melihat Malam. Sepanjang hidupnya dia tidak pernah melihat ada manusia bisa menjinakkan hantu apalagi berbicara seperti teman begitu.


“ Nona ini, menganggap Putri adalah pembawa penguasa yang hendak menguasai hantu di sini. Ini Cuma salah paham.. Dan kamu..” kembali dia beralih ke hantu itu. “ Teman manusiaku bukan pembawa penguasa. Jadi tenang saja. Sekarang kamu bisa kembali ke tempatmu”


“ Tapi,.. grrhrgrg.. dia benar .. grgrgrg.. benar datang... dia..grgrg.. mau mengambil alih .. ggrrr.. rumah kami..”


Malam dan Feiz saling bertatapan. Lalu, dengan gaya menenangkan, Malam membujuk hantu itu untuk kembali ke tempatnya. Hantu itupun menghilang dalam pekatnya malam.


“ Penguasa, ya” desis Feiz dengan wajah serius.


Malam menghampiri Putri yang masih tergeletak tak bergeming. Mencoba membangunkannya.


“ Ma.. La..” desis Putri setengah sadar. “ Aku habis lihat mimpi yang aneh..” racaunya. Pandanganya mendadak terhenti melihat Feiz. “ Ah, aku masih mimpi..” detik berikutnya dia pingsan kembali.


Malam dan Feiz hanya menghela nafas.

__ADS_1


...


__ADS_2