Alter Ego

Alter Ego
awan mendung


__ADS_3

Aku hanya ingin bersamamu..


Hanya ingin bersamamu..


Bersamamu...


Mata Juliet berpendar dan berkilat. Boneka itu, menggerakkan tangan kanannya. Mencoba mendorong pintu peti berrajah yang tengah mengurungnya. Getar ringan yang tertutupi laju mobil milik Feiz.


...


Putri tersadar saat di tengah perjalanan.


“Aku kenapa?” tanya Putri linglung.


“Kamu pingsan di sekolah” terang Mala.


Putri termenung sesaat lalu roman wajahnya berubah pucat.


“ A.. Aku lihat kuntilanak.. hua..” tangis Putri terlihat parno.


“ Sudah.. Jangan nangis. Sekarang kamu kami antar ke rumah” hibur Feiz.


Putri keheranan menyadari kalau sopir mobil itu adalah Feiz.


“Kenapa kalian bisa barengan?”


Mala dan Feiz saling lempar pandangan.


“ Hemm.. hemmm” Putri mengangguk seolah paham situasinya.


Sampai di rumahnya pun, Putri tetap cengar cengir membuat keduanya canggung.


...


Awan hitam menaungi langit. Cahaya matahari tertutup. Sesekali kilatan petir menyambar-nyambar. Cuaca benar-benar tidak bagus pagi itu.


Guntur menggelegar memekak telinga. Sebuah pohon cemara di sekolah ambruk disusul suara jerit pilu makhluk-makhluk tak kasat mata.


Bagi manusia biasa, suara makhluk halus itu tidak sampai ke telinga mereka. Tetapi, bagi mereka yang memiliki kepekaan, suara itu cukup mengganggu. Bahkan sampai rumah Mala yang berjarak 2 km dari sekolah.


“Apa yang telah terjadi?”


Di dalam hati Malam, kecemasan memikirkan hal buruk telah terjadi.


...


“Selamat pagi..” sapa Feiz pada Mala saat bertemu di jalan.


“Pagi.. Hari ini kamu tidak pakai mobilmu?”


“Ah, mobilku pagi ini entah kenapa rusak.”


“UAAPPAA?!!? MOBIL SEHARGA SEMILYARMU RUSAK??!!” teriak Mala. “Maaf” Mala buru-buru menutup mulutnya. Kelihatannya Malam mengambil kesadarannya sembarangan.


Feiz tertawa melihat sikap Mala.


“Kelihatannya, aku harus terbiasa dengan sikapmu?”


“Yah, makanya aku sampai masuk Rumah sakit jiwa.”


“Pasti sulit banget,ya”


“Gak akan jadi sulit kalau beberapa orang ga menyeretku ke dalam masalah yang mistis” ledek Mala sarkas.


“Yak.. sikap sinismu ini memang paling the best. Tapi sifatmu yang tadi juga menggemaskan..”


“Cih..”

__ADS_1


“Tadi pagi, kamu mendengarnya?” tanya Feiz.


Nadanya melemah.


Mala mengangguk. Dia mengingat kembali suara gemuruh petir dan erangan makhluk tak kasat mata.


“Sepertinya kita akan mendapat masalah besar..” keluh Feiz.


“Dan itu salahmu!” tandas Mala sinis.


Feiz pundung mendengarnya.


Mereka melewati pohon yang tumbang itu.


Mata Feiz terpana melihat boneka yang dia cari, Romeo, tergeletak di bawah pohon yang tumbang itu.


Feiz segera mengambilnya.


“Sial, isinya kosong!!” heram Feiz.


“Isi?”


“Abu jenazah. Pasti ada yang mengambil. Aku harus mencarinya. Nitip ijin ya, Mal..”


“ HEI!!.. dasar bertindak seenaknya...” omel Mala.


...


Pohon besar yang tumbang memang menjadi perhatian seisi. Beberapa pekerja konstruksi terlihat bekerja membereskan pohon itu.


Para hantu penghuni di pohon itu berlarian tidak karuan.


“Ini akan sangat berbahaya..” ucap Malam.


“Apanya?”


“Mereka kehilangan rumah..”


Sampai jam istirahat, Feiz tidak muncul bahkan tidak memberi pesan. Bukan berarti Mala peduli, sih.


Mala melihat ke atas, ke langit yang saat ini guntur masih menyambar-nyambar. Gulungan awan hitam tetap menyelubungi. Suara para hantu makin menyayat hati


Entah kenapa perasaan tidak enak menyelubungi.


....


Pagi ini Feiz mendapati mobil merah favoritnya dalam kondisi rusak. Terutama di bagian bagasi.


“Juliet..” gumamnya menebak. Boneka yang di maksud, semalam tidak dia pindahkan dari dalam bagasi.


“Aku bilang akan menemukan Romeo, kan? Berhenti merusak barang..” omelnya sambil mengeluarkan boneka itu dan membawa masuk ke dalam rumah.


Selanjutnya, dia berangkat dengan jalan kaki.


Saat sampai di sekolah bersama Mala, gadis aneh dengan kemampuan menarik, kami menemukan Romeo di sebuah pohon yang tumbang namun abu mayatnya telah hilang.


Aku merasa akan ada hal buruk terjadi. Makanya aku berkeliling mencarinya. Namun yang ku temukan malah sesuatu yang tak terduga. Sebuah altar pengundang iblis lengkap dengan dupa dan kemenyan telah tergelar di belakang tembok sekolah.


Dilihat dari kondisinya, altar itu telah ditinggalkan semalaman.


Sebenarnya apa yang tengah terjadi?


Untuk apa altar ini? Apa ini ada hubungannya dengan hilangnya abu jenazah Romeo?


Ponselku bergetar. Tanda sebuah chat masuk. Dari Mala.


Sudah ku buatin ijin. Kamu dimana?

__ADS_1


Manisnya, dia ternyata mengkhawatirkanku..


Tanganku hendak bergerak membalas pesan saat sebuah hembusan angin yang kuat mementalkan ponselku.


Aku mendongak ke arah datangnya angin. Ditembok sekolah, dan ku dapati sosok yang sangat aku kenal.


“Atsushi...!!”


“Hisashiburi.. oni-chan..” sapanya sambil tersenyum cerah.


Senyum cerahnya seolah ingin merengut warna mendung pagi ini dan aku tidak suka itu.


“Jangan bilang, kamu yang membuat semua kekacauan ini?” tanyaku tanpa menutupi kekesalan.


Senyum Atsushi menghilang. Kini wajah cerah itu terganti dengan mendung seperti langit saat ini.


“Kalau iya kenapa?” tantang Atsushi. “Nii-san, aku sedang bereksperimen dengan hantu di sekolah ini. Jangan mengganggu..”


“Apa maksudmu? Apa ini juga juga ada hubungannya dengan abu jenazah Romeo?”


“Romeo? Ah, jadi boneka jelek itu diberi nama Romeo. Kakkoi na..”


“ Jangan bercanda!! Dimana abu jenazahnya? Aku harus memurnikan mereka..!”


“Memurnikan? Nii-san, kamu tahu kan syarat untuk memurnikan boneka-boneka itu. Kita sudah lebih dari tiga tahun mencari tetapi masih tidak bisa menemukan juga. Dengan cara apa kamu akan memurnikan mereka? Bukankah lebih baik kita gunakan saja boneka itu untuk kedamaian umat manusia”


“Aku bisa!!” pekikku dengan yakin. “Aku sudah menemukan pelengkap syarat itu. Makanya, kembalikan abunya..”


“Nii-chan, jangan-jangan...”


Aku mengangguk mantap.


“Aku tidak bisa!” tolak Atsushi. Terlihat wajahnya penuh penyesalan dan kebimbangan.


“Kenapa?”


“Aku melakukan upacara menghimpun semua roh di seluruh penjuru gedung sekolah ini. Dan aku sangat membutuhkan abu jenazah itu untuk membuat mereka terikat olehku.”


“Apa!! Jadi ini yang di maksud hantu itu tentang penguasa?”


“Jika aku tidak meneruskan upacara ini, mereka akan menghantui dan mengganggu semua manusia yang menghuni tempat ini.”


Atsushi terisak menyesal. Sementara aku sendiri menjadi panik dalam diam.


“Seandainya mereka diajak negosiasi..” keluh Atsushi.


Negosiasi? Dengan hantu? Mana mungkin. Bahkan mereka saja tidak mengerti bahasa kita. Kecuali mereka bisa di hipnotis dan membuat mereka mematuhi kehendak kita.


Tunggu..


Hipnotis..


Mempengaruhi..


Mendadak ingatanku membawaku mengingat saat Mala berbicara dan menenangkan hantu yang menyerang Putri.


“Mungkin Mala bisa menolong..” ucapku lalu melompat naik ke tembok sekolah dan memasuki area sekolah.


“Mala? Siapa dia?” gumam Atsushi di tengah isak tangisnya.


...


Kegelapan semakin pekat dengan awan hitam yang menggulung dan berarak. Setiap insan manusia membicarakan cuaca buruk hari ini dengan wajah heran.


Hanya makhluk tanpa jasad saja yang memandang penuh kesedihan oleh situasi ini sambil berteriak-teriak penuh ketakutan.


...

__ADS_1


Mala meminum jus kotak saat Feiz datang menghampirinya dengan tergesa.


“Mala aku minta bantuanmu.” Pinta Feiz.


__ADS_2