Alter Ego

Alter Ego
21.02 WIB


__ADS_3

Amin terbangun dengan peluh membasahi dahinya. Nafasnya tersengal-sengal. Kilatan ingatan tentang mimpi masih membekas di kepalanya.


Tidak berapa lama suara alarm terdengar. Tanda dia harus bersiap berangkat sekolah.


Mencoba melupakan apa yang terjadi, dia pun beranjak dari tempat tidur dan mempersiapkan diri.


Di sekolah, Amin tampak tidak berkonsentrasi pada pelajaran. Kepalanya terasa pening dan badannya pegal-pegal. Seperti baru selesai maraton saja.


Terlebih, mimpi itu masih terngiang di benaknya. Bahkan tadi dia sampai refleks menjerit saat tanpa sengaja bahunya tertabrak orang lain.


“Mungkin cuma trauma saja..” pikir Amin menenangkan diri.


...


Mala mengamati kondisi aneh Amin. Dia juga melihat sosok asap hitam yang masih menempel kepada Amin.


“Amin telah di kutuk. Tetapi, oleh siapa?”


Kemarin, dia sengaja membuat permainan berbagi cerita seram dan memancing Amin bercerita. Apa yang dia ceritakan itu bohong? Dan kutukan itu diperoleh dari tempat lain?


“Kamu semakin terlihat seperti Psicyc Pro. Aku bisa merekomendasikanmu bergabung loh” tawar Feiz.


“Aku tidak mau terlibat dalam hal gila seperti yang sudah-sudah.” Tolak Mala kekeh.


“Dengan kamu bisa melihat makhluk astral saja, kamu sudah ‘terlibat dalam hal gila’, ya kan?” balas Feiz dengan menekan kata hal gila. Seolah menekankan tentang pengalamannya tinggal di rumah sakit.


“Apa itu gertakan? Kamu mencoba mengancamku?” Mala melotot ke arah Feiz yang hanya di balas cengiran bodoh.


“Kalian ini, beneran pacaran, ya?” terka Putri yang melihat kedekatan Mala dan Feiz.


“Iya..” jawab Feiz mantap yang langsung di sanggah dengan tegas oleh Mala.


“Ah, aku di tolak..” keluh Feiz pura-pura pundung. “Putri yang cantik, maukah kamu menyembuhkan hatiku yang hancur ini..” pinta Feiz pada Putri.


“Maaf, aku gak mau jadi pelarian cinta..” tolak Putri santai tetapi berdamage.


“Hei, kalian sedang ghibah apaan, sih?” tanya Putri setelah mengambil tempat duduk di dekat Mala.


Feiz dan Mala saling pandang. Ini adalah kesempatan bertanya kepada penduduk lokal. Seolah saling memahami mereka pun kompak mengangguk dalam diam.


“Kenapa kalian ini? Berbicara dari hati ke hati?” ledek Putri dengan senyum geli.


“Putri, kamu ingat ga tentang hantu yang di ceritakan Amin?” Tanya Feiz.


“Ah, yang tentang gang H. Mulya itu, ya?”


Mala dan Feiz mengangguk kompak.


“Apa di sana benar ada hantunya?”


“Ternyata kalian penasaran dengan cerita hantu” Putri terlihat kecewa.


“Yah, banyak rumor aneh sih tentang gang itu. Apalagi saat jam 21.02 wib.” Putri memulai cerita. “Dulu ada seorang Nenek yang tinggal di rumah joglo, dia tinggal seorang diri. Anak-anaknya merantau jauh dan lama tidak kembali.


Entah karena rindu pada anak-anaknya atau apa, Nenek itu suka memanggil anak-anak yang lewat dan di ajak masuk ke rumahnya. Dia tidak berbuat jahat kok, kadang jika kewarasannya kembali, dia sering membagikan buah mangga kepada anak-anak yang mampir.


Hingga pada suatu malam, ada seorang remaja pemabuk yang lewat di depan rumah itu.


Si Nenek mengajaknya masuk seperti biasa. Tetapi, remaja itu malah memukul si Nenek dengan botol alkoholnya sampai meninggal. Sejak saat itu, di sana jadi tempat berhantu”

__ADS_1


“Tapi, kenapa pukul 21.02 wib?” tanya Mala.


“Entahlah, mungkin karena si Nenek meninggal pada pukul 21.02 wib” pikir Putri.


Keduanya mengangguk.


...


Bahkan tanpa janji sama sekali, keduanya lagi-lagi bertemu di depan rumah joglo kosong tersebut.


Jam menunjukkan pukul 21.00 wib. Tinggal dua menit lagi untuk waktu yang di katakan.


Tepat ketika pukul 21.02 wib, area di sekeliling menunjukkan aura aneh. Lampu yang berkedip-kedip, kian mempercepat kedipannya.


“Keluar, ya” kata Feiz sambil mempersiapkan diri dengan tasbihnya.


Mala pun meminta Malam menggantikannya.


Perlahan asap hitam keluar dan menggumpal menjadi satu. Lalu semakin lama membentuk wujud seorang Nenek. Terdengar juga suara “Kemarilah..” berulang-ulang dari hantu di depannya.


“Kami datang ingin menemuimu..” ucap Malam.


“Kamu yang menempel di tubuh seorang anak laki-laki, kan?” tanya Malam melanjutkan.


“Apa yang kamu inginkan dari anak laki-laki itu? Tolong lepaskan dia” pinta Malam.


Hantu itu tidak bergeming dan malah masuk ke dalam rumah joglonya.


Dengan memberanikan diri, Malam ikut masuk ke dalam rumah joglo.


Interior jawa sangat terasa di rumah joglo itu. Dinding dari papan kayu yang sudah lapuk oleh zaman.


Sampai di dalam rumah, Sang Nenek terduduk lalu menangis.


Tangisannya begitu pilu memecah malam.


“Anakku.. anakku..” tangis si Nenek. “Aku mau anakku..”


“Aku tahu, Nek.. Tetapi, Amin bukan anakmu. Makanya lepaskan dia..”


“Aku akan membuat anakku kembali.. Tidak peduli meski harus membunuh...” tukas Si Nenek dengan nada tinggi.


Belum habis Malam memikirkan maksud kata Nenek, tangan Nenek mencekik leher Malam sampai dia kehabisan nafas.


PSHUUUU...


Cahaya keras menyerang Nenek lalu membuat gelang-gelang cahaya yang mengikat Nenek dan membuat Mala berhasil melepaskan diri.


Cahaya itu dari Feiz. Dia muncul di balik pintu


“Bukan dia yang harus kita lawan. Tetapi mereka” tunjuk Feiz ke arah pemakaman kecil.


“Kelihatannya Nenek itu punya perjanjian berdarah dengan makhluk halus di pemakaman itu.” Terangnya.


“Perjanjian. Tidak mungkin..”


“Yang lebih penting, kita lawan dulu mereka kalau ingin nyawa Amin selamat.” Saran Feiz sambil mengeluarkan tasbihnya dan berlari keluar disusul Mala. Alunan ayat al Qur an yang indah pun terdengar.


Di hadapan mereka, seorang hantu besar berbentuk asap hitam keluar dari kompleks pemakaman. Mata mereka merah menyala dan taring-taring tajam di mulutnya. Mengingatkannya pada hantu yang dia lawan saat di sekolah kemarin.

__ADS_1


Gggrrrrr..


Terdengar geraman dari mulutnya. Hantu Nenek tiba-tiba melayang mendekati hantu hitam itu.


“Saya sudah mendapatkan anaknya, Kanjeng.. tolong beri saya waktu untuk mempersembahkannya kepadamu.” Pinta Si Nenek dengan menyembah-nyembah.


“Apa maksudnya ini?” tanya Mala kebingungan.


HAHAHHAH..


Gelegar tawa monster membelah malam.


“Tua bangka ini memohon-mohon kepadaku untuk membawa kembali anaknya yang merantau jauh dan tidak ada kabar. Bahkan dia menyanggupi untuk mengorbankan anak laki-laki untuk persembahan. Namun sayang, dia malah di bunuh oleh calon korbannya sendiri..” jelas Si Monster.


“Maksudmu, remaja mabuk itu?!”


PSHUUU..


Feiz menyerang si Monster setelah berhasil merapal doa-doa.


“Aku akan memusnahkannya, tidak peduli kamu setuju atau tidak.” Detik kemudian Feiz dan monster itu sudah saling menyerang.


Nenek yang masih terikat oleh cahaya milik Feiz terlihat tertatih, melayang berniat meninggalkan tempat itu.


“Nenek, kamu mau kemana?” teriak Malam.


“Malam, hentikan dia!! Dia ingin membunuh Amin..”


Malam langsung bertindak. Menghentikan Nenek.


Pertarungan Feiz dan Hantu berlangsung alot.


“Nenek, kumohon.. kamu hanya di bohongi hantu itu. Dia tidak bisa mengembalikan anakmu..”


“Anakku.. anakku.. huuu...” tangis Nenek.


“Nek, cobalah ikhlaskan.. Nenek sudah meninggal, ka? Kalau begini terus, Nenek lah yang menderita..”


Pertarungan sengit antara Feiz dan Hantu berhasil di menangkan Feiz. Mata Nenek melihat hantu yang dia sembah tak berdaya hanya bisa bungkam. Seolah satu-satunya harapannya telah hilang.


“Ikhlaskan, Nek.. aku yakin, jika Nenek mau di murnikan, Anak Nenek akan menemui Nenek..” bujuk Mala meyakinkan.


Seolah menurut, Nenek menenangkan diri dan perlahan tubuhnya hilang seperti menguap telah dimurnikan.


Lampu berhenti berkedip dan menyala sempurna. Rumah joglo milik Nenek ambruk tanpa sebab.


Mungkin ini tanda bahwa arwah Nenek telah tenang.


...


Tubuh Nenek terasa melayang tidak menentu. Saat dia berhenti dan menapakkan kaki di taman bunga yang wangi, seseorang pemuda berdiri di sana seolah menunggu.


“Emak..” panggil sosok itu yang langsung mencium tangan Nenek.


“Maaf, Mak.. Maaf karena aku mati lebih dulu dari Emak..”


Nenek yang kini berwajah muda kembali, langsung membalas memeluknya.


“Anakku..” desis Nenek dengan senyum sumringah.

__ADS_1


...


__ADS_2