Alter Ego

Alter Ego
Jl. Sasongko no.05


__ADS_3

Mala sedang mengepak buku pelajarannya saat jeritan pilu terdengar dari rumah seorang tetangga.


Seorang ibu terlihat menyambut sebuah peti jenazah dengan tangis yang memilukan.


Ibu itu bernama Marni. Dan jenazah yang ada di dalam peti mati itu adalah putranya Arnold yang meninggal karena kecelakaan semalam.


Mala ke ruang makan yang hanya ada Ayah. Karena Ibu sejak pagi sudah di rumah Marni untuk menghibur. Sementara Kak Bian juga di sana, karena Almarhum Arnold adalah teman sepermainan.


Ayah hari ini memakai pakaian serba hitam menandakan, beliau juga akan menghadiri upacara pemakaman.


“Mal, aku minta kamu jangan lewat jalan Ir. Sasongko no.05 sebelum 40 hari kematian Arnold” pesan Ayah membelah kesunyian meja makan. “Kenapa?” tanya Mala.


“Ikuti saja..” Ayah menyudahi perbincangan. Membawa piring ke wastafel kitchen set.


Dia melangkah meninggalkan Mala dengan permintaan untuk mengunci pintu.


Mala menyelesaikan makannya lalu keluar rumah.


Tiiinnn...


Klakson berbunyi. Mala hanya memutar bola mata jengah, begitu tahu siapa yang tengah membunyikan klakson.


Pria dengan tubuh kecil namun sempurna, rambut keperakan yang berkilauan dan senyum nakal-mempesona yang mungkin akan menjeratnya jika tidak ingat jika pria di depannya itu sering menyeretnya ke dalam masalah.


Dia bersandar di mobil sport mewah berwarna hijau dengan pintu yang terbuka ke atas. Mala bisa melihat emblem L***borghini di mobil tersebut.


“Mobil baru lagi.. Dia punya usaha ternak tuyul atau apa..”


“Butuh tumpangan..?” ajak Feiz dengan percaya diri.


“Gak..”


“Kamu yakin? Jalan biasa sedang di tutup karena perbaikan. Kalau kamu harus jalan memutar, perlu waktu satu jam, lo..”


“Sial, kenapa situasiku selalu memaksaku ke dekat pria sial ini..” keluh Mala yang akhirnya masuk ke mobil dengan ogah-ogahan.


“Kamu tahu jalan Ir. Sasongko no.05?”


“Kenapa?” Mala sedikit sewot.


“Ada informasi kalau di sana banyak terjadi kecelakaan. Makanya...”


“GA!! Apa pun rencana gilamu, aku ga mau ikut-ikutan. Ayah juga memintaku tidak lewat sana sebelum 40 hari kematian Arnold. Jadi, jangan seret aku ke dalam masalah...” tolak Mala tegas.


“Aku Cuma mau bilang, kita akan lewat Ir. Sasongko no.05..”


“What?!! Kenapa jalan itu? Di sana tetanggaku baru saja kecelakaan di sana.. Ayah juga melarangku buat..”


“Tidak ada jalan lain selain Ir. Sasongko no.05..” Feiz langsung melesatkan mobil sportnya.


Jalan Ir. Sasongko no.05 adalah sebuah jalan terowongan sepanjang 50 meter.


Menurut rumor yang beredar, di jalan itu sering terjadi kecelakaan yang tidak wajar.


Seperti Alm. Arnold yang mengendarai motor pada pukul 20.00 wib pulang dari kampus dan mengalami kecelakaan tunggal. Menabrak pembatas jalan.


Arnold tidak pernah mengendarai motor dengan kecepatan tinggi. Apa lagi motornya adalah tipe motor lama yang hanya bisa berjalan sampai kecepatan 60 km/jam.


Mereka melewati lorong itu. Di salah satu pembatas jalan, terlihat bekas kecelakaan Arnold. Mala memejamkan mata untuk berdoa untuk Arnold.


Dalam keheningan, Mala merasakan sentakan singkat yang mengagetkannya.


“Ada apa?” tanya Feiz.


“Tidak..”


Mereka pun melewati jalan tersebut tanpa masalah.


Meski mereka tidak menyadari. Makhluk kotor dengan rambut panjang berantakan dan tangan berkuku panjang tengah mengawasi kepergian mereka.


...


“Woi..!” Amin berseru kegirangan sambil mengayun-ayun smartphone miliknya. Feiz dan teman lain yang sedang asyik mengobrol sontak menoleh ke arah Amin. “Akhirnya.. Akhirnya dia nerima ajakan kencanku..”


“Siapa?”


“Nur, gebetan Amin dari kelas sebelah..”


“Wuiihh.. calon pasangan baru..”


“Jadi, kalian mau first date di mana?”


Dengan bangga, Amin memperlihatkan chatnya dengan Nur yang janjian nonton di gedung bioskop di sebuah Mall.


“Mall itu bukannya dekat dengan Jln. Ir. Sasongko no.05 ya?”


Amin mengangguk dengan senyum.


“Jalan itu katanya sering ada kecelakaan loh”


“baru-baru ini juga ada yang meninggal di sana. Padahal Cuma menabrak pembatas jalan. Kecepatan motornya juga rendah.”


Feiz yang ada di sana terlihat dengan seksama mendengarkan obrolan teman-temannya.


Matanya melirik Mala yang juga mencuri dengar.


aku minta kamu jangan lewat jalan Ir. Sasongko no.05 sebelum 40 hari kematian Arnold.


Mala mengingat kembali apa yang di katakan Ayahnya saat di meja makan.


“Memang kenapa kalau lewat sana sebelum 40 hari? Kamu sedang berpikir begitu, kan?” tanya Malam.


“Di dunia ini, ada tipe hantu yang mengincar korban nyawa manusia. Saat dia berhasil mendapatkan korban, kekuatannya semakin bertambah lalu dengan kekuatan itu, dia mencari korban selanjutnya. Mungkin 40 hari yang dia maksud batas masa kenyangnya ha.. ha.. haa..”


“Lalu, apa yang terjadi jika kita melewatinya? Sebelum 40 hari kematian Arnold..?”


“Entahlah.. Mungkin kamu akan dimakan ha..ha..ha”


Becandaan Malam tak ayal membuat bulu kuduk Malam berdiri.


Kini matanya teralih ke arah Amin. Semoga dia tidak lewat Jl. Ir. Sasongko no.05...

__ADS_1


...


Malam pun tiba.


Mala sedang mengerjakan PR sambil mengobrol ringan dengan Malam yang terpantul di cermin hias.


Jendela kamarnya masih terbuka. Membuat angin malam masuk.


Mala beranjak untuk menutup jendela. Namun, matanya langsung menangkap pemandangan aneh.


Sosok pria muda, sedang meronta karena rambutnya di jambak makhluk tinggi berambut panjang dengan kuku yang juga panjang hitam.


“Mama... tolong.. mama..” teriak pemuda itu sambil menangis tak henti.


Badan Mala langsung mundur dikendalikan Malam.


“Jangan ikut campur dengan apa pun yang barusan kamu lihat.”


Terdengar suara aneh. Serak dan berat yang tiba-tiba di dengar Mala.


Mala terhenyak mundur saking kaget.


Karena takut, dia buru-buru menutup pintu jendela.


“JANGAN DI TUTUP!!” teriak suara lain di susul jendela yang terbuka dengan dipaksa.


“FEIZ.. heppmmm...” mulut Mala di bekap oleh pria berambut putih keperakan di depannya. “Jangan keras-keras..” bisiknya. Mala mengangguk menurut. Sesaat kemudian terdengar ketukan di pintu Mala. Ketukan dari Ibu.


“Mala, ada apa?” tanya Ibu di balik pintu.


“Tidak ada, Bu.. Cuma kucing yang masuk ke kamar..” balas Mala setelah melepaskan diri dari bekap tangan Feiz.


“Oh..” terdengar langkah dengan pelan menjauhi kamar Mala. Itu berarti Ibu telah pergi dari depn kamar Mala.


“Apa yang kamu lakukan di sini?” omel Mala.


“Kita harus ke jalan Ir. Sasongko no.05”


“Untuk apa? Sudah aku bilang aku gak mau ke sana..”


Feiz menghembuskan nafas berat.


“Amin... Dia kecelakaan..”


...


Mala hanya bisa pasrah saat Feiz ‘menculiknya’ malam itu.


Dari ceritanya, Amin kelihatannya berkendara di Jl. Ir. Sasongko no.05 dan tertabrak di pagar pembatas yang tidak jauh dari tempat meninggalnya Arnold.


“Bagaimana keadaan Amin?” tanya Mala saat di mobil.


“Kritis. Dan lebih buruk lagi, dia kecelakaan sebelumnya membuat hantu di jalan tersebut menguat. Kalau kita tidak melakukan sesuatu, aku takut Amin akan bernasib sama dengan Arnold..” terang Feiz dengan wajah serius.


Mala menegang. “Lalu, apa yang harus kita lakukan?”


“Aku tidak tahu. Langkah pertama, kita akan ke jalan itu..”


Feiz bersiap dengan tasbih dan mulai menggumamkan doa-doa dari ayat suci al quran.


Sementara Mala beralih dengan Malam.


“Ah.. Kamu menyeret Mala ke masalah lagi..” keluh Malam.


“Maaf, soalnya kamu.. eh, kalian sangat berguna..”


“Masalahnya, yang di sini agak berat kasusnya..” kata Malam sambil menatap nanar ke arah terowongan.


GGRRRRR...


Terdengar geraman keras.


“AKU BILANG, JANGAN IKUT CAMPUR, KAN..” kata sebuah suara serak yang mirip dengan suara yang dia dengar saat di kamar tadi.


Feiz setelah mendengar geraman itu langsung melafal ayat suci alquran dan mempersiapkan tasbihnya.


Perlahan-lahan, muncullah sejumlah roh-roh dari berbagai penjuru terowongan.


Roh itu mulai mendekat kepada mereka dengan wujud tak beraturan, darah dimana-mana. Langkah mereka pun lambat seperti zombie yang berjalan.


Feiz langsung merangkul Malam. “Coba beri aku informasi..” pinta Feiz di tengah doanya.


*Tolong..


Tolong..


Sakit... Takut...


Lepaskan kami..


Mama.. tolong.. mama*..


Terdengar! Di antara suara para roh yang rancu, terdapat suara yang sama seperti suara pria yang di seret hantu berambut dan berkuku pangan tadi.


Suara itu, mungkinkah suara Alm. Arnold?


Malam mempertajam penglihatannya. Kali ini mata Malam melihat sosok yang dia kenal berada di samping hantu berambut dan berkuku panjang yang menyeringai menakutkan. Sosok itu adalah Amin.


“A.. Amin.. Ada.. Amin..” kata Mala tergagap tak percaya.


“Sial.. Jadi hantu itu berniat membawa Amin juga..” kata Feiz geram.


“Tidak mungkin..”


“Aku bisa menghabisi hantu itu, tetapi, kerumunan roh ini sangat menggangguku. Bisa kamu urus?” tanya Feiz di balas anggukan mantap Malam.


Malam mengulurkan tangannya. Berkonsentrasi mempengaruhi pikiran para arwah. Tetapi, satu serangan menyerupai kilat mengenai tangannya. Terasa seperti baru saja di tebas dengan pedang.


“SAKIIT.. APAAN TUH..” teriak Malam sambil memegangi tangan yang terasa sakit.


“Malam, kamu baik saja?” tanya Feiz semakin erat memeluk Malam.

__ADS_1


“Gak baik.. mereka dilindungi dengan entah apa yang terlihat seperti kilat itu..” tunjuk Mala kepada kilat yang secara serampangan menyerang. Bahkan, kepada roh-roh di sekelilingnya.


“Cih, jadi dia juga punya kemampuan menyerang jarak jauh.. Jadi itu yang membuat para roh tertahan disini.. Mereka tidak di kendalikan seperti kasus lain. Tetapi, di kekang dengan semacam kekuatan. Ini seperti pagar listrik untuk para roh..”


Feiz mengambil nafas sejenak. Dia lihat Mala masih kesakitan dan memegang lengannya. Di depan sana, Roh Amin masih di samping hantu itu. Tubuh yang awalnya utuh, kini kakinya terlihat terlepas dari badannya.


Sementara itu, di rumah sakit. Tepatnya di ruang operasi di mana Amin dirawat, kondisinya semakin memburuk.


...


Situasi semakin buruk. Kedua remaja itu terjepit. Amin, roh hidup yang energi kehidupannya di serap oleh hantu jalan Sasongko, kini telah kehilangan kaki dan tangannya. Sementara Malam, sedang terluka oleh kilat kekuatan hantu.


Mama... Tolong, Mama...


Terdengar jerit tangis suara roh Arnold.


Saat mendengarnya, Mala merasakan getaran kuat di hatinya. Jantungnya bergetar tidak karuan. Kilatan ingatan tentang masa lalu Mala yang harus di kirim ke Rumah Sakit Jiwa.


“Senja..” desis Malam. Benar. Kilatan ingatan itu adalah perasaan Malam.


“Kamu kenapa?..”


“Senja.. Senja, dia...”


Getaran semakin mengencang. Selaras dengan jerit tangis roh Arnold dan roh lainnya. Seolah getaran milik Mala merespon tangis arwah korban kecelakaan.


“Hoi.. kamu kenapa.. jangan buat khawatir..” teriak Feiz panik. Dia juga semakin panik karena kilat itu mulai menyatroni keduanya.


Tidak boleh di biarkan..


Suara Mala menggema kuat di kepala Malam membuat dia merasakan pusing dan sakit.


Perasaan itu mendorongnya untuk berteriak kuat-kuat.


GWAAAAAA....


Teriak itu mengagetkan Feiz. Pelukannya pun terlepas.


Namun, apa yang di lihat Feiz lebih mengejutkan.


Malam berlari dengan kecepatan luar biasa. Menerjang apapun yang ada di depannya. Bahkan kilat yang tadi sempat melukainya seolah tidak berguna lagi.


Targetnya adalah hantu di samping roh hidup Amin.


Dalam sekali serangan, leher hantu itu berhasil di terkam Malam.


“Jahat.. membunuh orang dan mengurung mereka ke nerakamu.. jahat..” geramnya.


Cekikan Malam membuat si hantu tidak bisa menggerakkan kilatnya.


Dan kesempatan itu di ambil Feiz untuk menyerang. Lantunan ayat suci kembali terdengar dan kilat dari Feiz meluncur ke tubuh hantu dan akhirnya musnah.


Roh yang ada di sana hilang satu persatu.


“Kamu.. adiknya Bian, kan?” tanya sebuah suara. Suara milik Arnold.


“Kak Arnold..”


“Ternyata kamu beneran bisa lihat makhluk astral, ya..” katanya dengan senyuman.


“Terima kasih sudah membebaskan kami. Titip salam untuk Mamaku.. Maaf tidak bisa merawat ibu dan jaga diri...” katanya sebelum wujudnya menghilang seperti asap.


Roh hidup Amin berhasil di pulihkan. Dan dengan kemampuannya sendiri, dia mencari tubuhnya.


...


“Malam, tadi itu apa?” tanya Feiz setelah mereka kembali ke mobil mewahnya.


“Aku Mala..” jawab Mala seolah menegaskan keberadaannya. “Aku tidak tahu. Cuma rasanya aku baru saja melampiaskan kemarahanku..” lanjutnya dengan wajah bingung.


...


Bu Minah. Wanita paruh baya yang masih berduka itu, terlihat duduk di teras. Melamun sambil sesekali menghapus air mata yang masih saja lolos di sudut matanya.


“Kasihan sekali..” tutur Mala sore itu.


“Waktu pasti akan menyembuhkannya. Tenang saja..” balas Feiz


Mala termenung. “Apakah benar, waktu bisa menyembuhkan perasaan kehilangan?”


“Apa..?”


“Aku akan kembali..” kata Mala sambil berlari ke arah rumah Bu Minah.


Dia kembali dengan seulas senyum.


“Apa yang baru saja kamu lakukan?”


“Menyampaikan pesan terakhir Kak Arnold..”


“Apa itu?”


“Maaf tidak bisa merawat Mama dan jaga diri Mama..”


Mala kembali tersenyum manis di bayangi sinar matahari senja.


“Ayo jalan, kita kan harus menengok Amin..” ajak Mala dengan semangat.


“Wah, tumben kamu mau kuantar..” ledek Feiz.


“Ini upah karena lagi-lagi kamu menyeretku..”


“Bukannya kamu menikmatinya?”


“AYOO..”


Mereka menaiki mobil dan meluncur.


Meski terlihat tenang, Feiz pikirannya masih mengingat jelas kejadian semalam, saat Mala menyerang hantu. Ada ketertarikan dalam hati untuk menyelidiki kemampuan apa lagi yang dimiliki gadis berambut ikal di sampingnya.


...

__ADS_1


__ADS_2