
Bel tanda istirahat berdering. Tidak seperti biasa, anak-anak terlihat tidak bersemangat untuk keluar dan bermain.
Awan gelap yang bergulung seolah mengancam mereka akan menghujani hujan dan guntur untuk mengganggu istirahat mereka.
Mala keluar dari kelas sendirian karena teman-teman menolak. Di saat itulah, dia mengeluarkan ponsel memeriksa apakah Feiz membalas chatnya.
Mala membeli minuman kotak rasa coklat sambil duduk di bangku taman. Mengamati pohon besar yang tumbang dan para hantu yang terlihat ketakutan.
Ada yang lebih aneh lagi. Dari segala penjuru langit, terlihat gumpalan asap putih terlihat bergerak menuju ke gedung sekolah.
“Banyak sekali roh gentayangan itu?” ucap Malam.
“Roh? Apa maksudmu?” tanya Mala tidak mengerti.
“Itu benda yang kamu anggap gumpalan asap. Mereka adalah roh dari berbagai tempat yang hijrah.”
“Ada sistem hijrah ya dalam dunia perhantuan?”
“Gak ada. Kami adalah entitas yang mendiami suatu tempat karena keterikatan kami pada benda atau tempat tertentu.”
“Lalu, kenapa hijrah?”
“Karena ada yang memanggil”
“Memanggil? Untuk apa?”
“Yang itu aku kurang tahu. Yang aku tahu, mereka datang untuk berhijrah kemari”
“Ehh.. maksudmu mereka pindah kemari?”
“Ini akan sangat merepotkan..”
Terdengar derap langkah menuju ke arah Mala yang ternyata adalah Feiz.
“Mala, aku minta bantuanmu!” pinta Feiz begitu berada di dekatnya.
“Ada ap.. soal roh-roh itu. Apa kau sudah menemukan titik terangnya?” serobot Malam yang dengan segera mengambil alih tubuh Mala.
Feiz mengangguk.
“Seseorang dengan sengaja memanggil mereka dan berniat membuat mereka tunduk di bawah perintahnya.”
“Jadi ini yang di sebut sang penguasa, ya. Memuakkan.. Terus, apa yang bisa aku bantu?” tanya Malam. “Tetapi, aku tidak bisa melawan mereka. Bagaimanapun mereka adalah jenisku” tambahnya mengingatkan.
“Kamu hanya perlu...”
GGGLLLOOOONNNGG..
Sebuah gema aneh menggetarkan tanah yang mereka pijak. Tercipta karena beberapa roh sebesar gajah yang menghantam lapangan sekolah.
Malam oleng dan hampir jatuh. Beruntung berhasil di tangkap dengan sigap oleh Feiz.
__ADS_1
“Pokoknya, ikut aku dulu..” Feiz langsung membopongnya.
Ulah makhluk astral itu ternyata terasa juga oleh manusia. Terbukti, semua penghuni sekolah serempak berlarian keluar. Jam istirahat yang semula sepi karena mendung, sekarang ramai dengan wajah-wajah panik para siswa dan guru.
GGGLLLLOOONNNGGG
Sekali lagi gema itu terdengar dan bumi bergetar kembali. Arwah-arwah terus berdatangan.
Mereka menjerit ketakutan yang entah kenapa jeritan mereka menciptakan angin ribut yang kuat. Menakuti para manusia.
....
Namaku Yakumo Atsushi. Meski usiaku baru 14 tahun, aku adalah psicyc pro. Orang yang berprofesi sebagai pengusir hantu. Sejenis cenayang.
Ngomong-ngomong, aku berkewarganegaraan jepang, meski sebenarnya aku tidak tahu aku termasuk ras mana.
Kenapa?
Karena aku lahir dan besar di panti asuhan di gunung Gokkan. Dengan rambut pirangku ini, siapapun tidak akan setuju kalau aku mengaku warga negara Jepang. Sedih, ya?
Tetapi kesedihanku tidak berakhir disitu. Mataku ini adalah mata terkutuk yang bisa melihat makhluk dari dimensi lain sejak aku kecil.
Banyak hal terjadi, hal-hal mengerikan yang membuatku sangat membenci makhluk itu. Dari menggangguku, mengancam akan membunuhku dan lain-lain yang berdampak pada buruknya penilaian orang-orang di lingkunganku yang menganggap aku aneh, gila dan pembohong.
Tetapi, karena suatu kebetulan, aku mengetahui organisasi psicyc internasional yang menangani segala hal berbau mistis lalu aku di terima di sana.
Disanalah aku bertemu dengan Feiz Hasan. Rambut keperakannya yan penuh misteri itu menarik perhatian semua anggota termasuk aku.
Dari penyelidikan, diketahui sebenarnya adalah abu jenazah dari penduduk pulau jawa keturunan tionghoa bernama Chun Yat Tse dan Hou Qing Yi.
Keduanya memilih mengakhiri hidup mereka bersama dengan membakar diri karena cinta mereka tidak direstui kedua orang tua mereka.
Dalam kebudayaan cina, ada ritual menikahkan 2 jenazah yang masih lajang. Untuk kedamaian arwah keduanya, mereka pun dinikahkan.
Namun, dukun yang mereka mintai tolong malah mengambil sebagian abu jenazah mereka untuk dibuat jimat.
Dan terciptalah boneka itu. Yang kedepannya selalu digunakan si dukun.
Feiz-niisan diberi tanggung jawab membawa kedua boneka itu kembali ke asal usul mereka.
Sebagai warga indonesia, dia dianggap bisa memurnikan kedua boneka itu.
Namun, secara tidak sengaja aku mendapat dokumen cara memanfaatkan boneka itu.
Dengan abu jenazah itu, aku bisa mengendalikan makhluk astral sesukaku.
Didorong oleh rasa benciku kepada semua makhluk astral, aku pun mencuri boneka Romeo.
Aku berhasil. Tetapi, Romeo yang terpisah dari pasangannya Juliet, mulai berulah. Itu benar-benar merepotkan.
Terlebih saat dia berhasil kabur ke gedung sekolah ini, dan memicu ketakutan kepada hantu lain di sana.
__ADS_1
Bahkan hantu wanita berlidah panjang yang mengejarku malah salah sangka menangkap gadis pelajar di sekolah ini dan menganggap dia komplotanku.
Aku ingin menyelamatkannya tetapi ternyata Feiz-niisan telah lebih dulu bertindak bersama seorang perempuan berambut ikal yang entah siapa.
Aku mendengar bahwa di sekolah ini sempat terjadi kesurupan massal. Berarti tempat ini akan sangat cocok untuk aku jadikan area kekuasaanku. Tempat dimana hantu-hantu mengganas. Jika aku berkuasa di sana, hantu-hantu itu tidak akan berbuat seenaknya.
Tetapi, saat tinggal selangkah lagi rencanaku, Feiz-niisan menahanku.
Tindakanku salah. Tetapi jika aku berhenti, hantu yang sudah aku kumpulkan akan mengganas di gedung ini. Terlebih lagi, aku sebagai pemanggil pun akan di kejar-kejar sampai mati.
Tidak.
Aku tidak mau.
Aku..
Tolong aku.
“Mungkin Mala bisa menolong” ucap Feiz-niisan. Dia pun melompat meninggalkan aku.
“Mala? Siapa Mala?”
...
“HEH!!! SENGAJA MENGUNDANG!! MANUSIA PULA!!” teriak Malam kuat-kuat saking tidak percayanya dengan cerita yang disampaikan Feiz.
“Suaramu jangan kencang-kencang. Kita bisa jatuh..” omel Feiz yang masih membopong Malam sambil melompati atap satu rumah ke atap yang lain.
“Makanya, aku butuh bantuanmu” lanjut Feiz.
“Memang apa yang bisa aku lakukan? Kamu tahu sendiri kemampuanku Cuma sebatas mengajak ngobrol roh”
“Tidak, kemampuanmu bukan hanya berbicara. Aku yakin kamu juga bisa mempengaruhi mereka. Seperti hipnotis.
Dari awal hantu bukanlah makhluk yang mudah di bujuk. Tetapi kamu melakukannya dengan mudah...”
“Yah..” Malam agak tersipu juga dengan pujian Feiz. “Tapi aku gak janji, ya. Bagaimanapun, Mala selalu menghalangiku berbuat seenakku. Apalagi membuatnya dalam masalah..”
“Dia tidak akan menolak. Karena ini juga akan menjadi masalah manusia juga nantinya. Terlebih, aku juga tidak akan membiarkan hal buruk terjadi padamu, karena kamu sangat penting bagiku..” terang Feiz dengan mantap.
Malam terkesiap. Rasa ini bukan rasanya. Tetapi, perasaan milik Mala. Malam tersenyum kecil. Pria rambut perak ini kelihatannya telah membuat saudaranya menaruh hati padanya.
“Aku ikuti caramu..” gumam Malam.
“Eh, apa? Tidak dengar”
“Bukan apa-apa”
“Ngomong-ngomong, kita akan terjun..”
“Apa? Eh... WHAAAAAAA!!!!!
__ADS_1