Alter Ego

Alter Ego
AJAKAN FEIZ 2


__ADS_3

Mobil kuning nan mahal itu terus melaju mulus di bawah kemudi Feiz. Melintasi aspal kota yang mulus dan lebar menuju jalanan pedesaan yang lebih sempit.


Kini pemandangan gedung pencakar langit yang berjejer telah berganti dengan pohon-pohon hijau dan rindang yang menyejukkan mata.


“Villa ini ada di tengah perkampungan tradisional yang masih eksotis, loh. Warga di sana ramah tetapi masih menjaga adat istiadat. Jadi jaga sikap kalian saat di sana” pesan Feiz yang diiyakan semua rombongan.


“Menjaga sikap seperti apa yang kamu maksud?” selidik Mala. Sekali lagi perasaan was-was menggelayuti perasaan Mala.


“Ya, seperti tidak membuat onar, melakukan tindakan yang dilarang agama, bertingkah tidak sopan. Pokoknya bersikap selayaknya pendatang..” jelas Feiz tanpa menyadari tatapan menuduh dari Mala.


“Sebenarnya, akan kamu seret ke dalam masalah seperti apa aku ini?”


Belum selesai berpikir begitu, sekilas mata Mala melihat bayang hitam setinggi pohon kelapa di sebuah patung reca.


Bayangan itu memiliki mata merah menyala yang mengerikan.


Meski terhalang kaca mobil, aura dingin ketakutan menjalar ke tubuh Mala. Perasaannya semakin tidak enak


...


Perjalanan mereka berakhir di depan sebuah kediaman bergaya rumah adat bali modern lengkap dengan bale nya.


Di beberapa tempat juga terdapat patung reco khas bali. Aroma bunga plumeria atau bunga jepun bali juga semerbak mewangi membuat siapa pun seakan berfikir sedang berada di bali.


“Wah, keren tempatnya..”


“Asyikk..”


“Keren..”


Puji rombongan itu dengan riang gembira.


“Wah, ternyata lebih baik dari ekspektasiku.” Komentar Feiz setelah memarkir mobilnya.


Mendadak Mala merasakan angin dingin yang tidak biasa. Dia melihat ke sekeliling tetapi tak merasa bahwa ada angin berhembus. Pohon-pohon pun berdiri dengan tenang


“Selamat datang, saya sudah menunggu Anda semua” sambut seorang pria berpakaian putih khas suku Bali. Dinilai dari penampilan, pria ini sangat tampan berkulit kecoklatannya, dengan bunga kamboja plumeria terselip manis di telinga kanannya.


“Saya I Made Adry. Pelayan sekaligus manager di villa ini..” lanjutnya memperkenalkan diri. “ Saya sudah menunggu kedatangan kalian” sambutnya dengan senyum profesional.


“Mari saya antar..” ajaknya.


Mereka berjalan beriringan di belakang I Made Adry.

__ADS_1


Ghibahan seru keluar dari bibir mungil Putri tentang visual I Made Adry yang ok. Membuat Mala dan Resti terkekeh.


Jika tampilan di halaman yang khas dengan gaya Bali, maka di dalam ruangan itu, bergaya eropa klasik modern yang indah.


Huuwaaa


Desis keenam remaja merasa semakin takjub.


“Bli Adry, villa ini semakin bagus saja..” puji Feiz.


“Terima kasih. Semua ini tentu tidak lepas dari kritik dan saran para pengunjung vila.” Balas I Made Adry


“Semakin bagus? Kak I Made Adry, apa Feiz pernah kesini sebelumnya?” selidik Mala penuh curiga.


“Panggil saya Bli Adry saja dan benar, saat Tuan Feiz masih kecil dan vila ini masih di kelola orang tua saya, beliau beberapa kali kemari” terang Bli Adry. “Ah, di sebelah sana kamar wanita dan di sampingnya untuk pria. Kalian bisa beristirahat dan membersihkan diri. Dua jam lagi kita akan makan malam” Terangnya sambil mengantar kepergian tamu-tamunya.


Begitu masuk kamar, Putri dan Resti langsung heboh mengabadikan setiap sudut kamar bak rumah putri itu.


Tidak di pungkiri, semua interior dan eksterior di vila ini seolah di bangun untuk di puja. Bahkan kamar yang mereka tempati pun begitu cantik dengan candelier sebagai lampunya dan kasur keemasan bak kamar putri.


Tetapi, perasaan curiga dan was-was terus menggelayuti hati Mala.


...


Denting jam menunjukkan pukul 18.00 wib, Bli Adry telah mempersiapkan makan malam di sebuah gazebo di tengah taman bunga mawar di belakang vila.


Meja tersebut penuh dengan berbagai macam makanan yang lezat-lezat. Tetapi, hanya ada empat buah kursi. Dua di antaranya sudah diisi Angga dan Amin.


Terjadilah perebutan antara Mala, Putri dan Resti pada kursi yang hanya tinggal dua.


Sebelum perebutan mencapai titik perpecahan, Bli Adry datang dan mempersilakan Mala menempati gazebo lain diantar Bli Adry.


...


“Kenapa aku harus semeja denganmu?” protes Mala dengan tatapan ketus mengarah langsung pada Feiz.


Awalnya Mala merasa sangat beruntung karena mendapat gazebo yang lebih lebar dari anak lain dan panorama yang lebih instagramable.


Dia bersiap berswafoto dan pamer ke medsosnya. Tetapi, bayangan indah banjir like dan iri semua temannya, hancur karena pria rambut keperakan datang tanpa rasa bersalah telah merusak suasana hati Mala.


Feiz, pria berambut putih keperakan itu, terlihat menyala dengan tuxedo berwarna putihnya. Seolah menantang cahaya redup lampion merah di sana yang merupakan satu-satunya penerangan.


Mala melotot ke arah Feiz. “ Apa maksudnya ini?”

__ADS_1


“Maksud apa? Kita sedang makan malam, kan?”


“Kenapa aku harus satu meja cuma dengan kamu?”


“Kamu tahu sendiri, kursinya kurang”


“Tapi..”


“Sudah, duduk dan makan saja. Kamu belum makan, kan? Kakakmu bilang, sejak pagi, kamu hanya makan sedikit”


“Ga selera..” Mala beranjak dari tempat duduk.


KRUUYUUUKKKK..


Perut keroncongan menginterupsi pertengkaran mereka.


“Kelihatannya anda sudah lapar, Nona. Saya Sudah menyiapkan Foie grass yang sengaja di siapkan untu anda berdua” ujar Bli Adry sambil meletakkan piring-piring makanan.


Dengan wajah memerah, Mala duduk kembali ke kursinya.


“Kami juga membuat bebek peking. Lalu, untuk minumannya saya sebenarnya saya berencana menyiapkan campagne atau rose wine agar sesuai dengan menu makanan. Akan tetapi karena kalian beragama muslim, saya menggantinya dengan watermelon cucumbar punch.”


Bli Adry terus menerus mengoceh tentang menu makanan yang tersaji di meja. Seolah ingin membuat Mala melupakan rasa malunya dari insiden memalukan barusan.


Di saat jamuan makan malam berlangsung, jauh di luar vila, tepatnya di depan reco tempat dimana sosok hitam setinggi pohon kelapa bersemayam, tergeletak seorang pria tak bernyawa.


Sosok itu memandang marah ke arah pria tak bernyawa di depannya. Detik berikutnya, lolongan panjang suara serigala saling sahut menyahut.


...


“Bagaimana makan malamnya? Romantis?” Putri langsung memberondong pertanyaan ke arah pintu saat Mala masuk, disusul Resti yang diam saja tetapi terlihat sekali dia penasaran.


“Apanya yang romantis? Ini Cuma makan.” Bantah Mala.


“Apa, sih. Gak seru..” protes Putri


“Ini bukan tontonan..”


Mala ngeloyor begitu saja ke ranjang berseprai keemasan yang terlihat empuk dan nyaman.


Putri yang terlihat tidak puas dengan jawaban Mala ikut menyusulnya tidur.


...

__ADS_1


Bli Adry sedang sibuk memotong-motong daging di dapur. Tidak sengaja jarinya teriris. Serta merta darah mengalir deras.


Dari telinganya tertangkap suara langkah kaki menghampirinya.


__ADS_2