
Pukul 21.00 wib.
Suasana di gang H. Mulya sudah sepi. Padahal gang lain di kompleks perumahan itu masih ramai orang bercengkerama.
Gang Al barokah misalnya, selalu ramai oleh warga. Ditampak sering muncul pasar malam dadakan setiap selasa malam.
Memang banyak rumor aneh tentang gang tersebut. Kebanyakan cerita mistis. Di tambah keberadaan rumah bergaya joglo yang usianya hampir seratus tahun dan sepetak area pemakaman yang berisi
Meski dengan banyaknya rumor buruk di gang tersebut, mau tidak mau aku harus melewatinya malam ini. Karena adikku, Cindy sedang demam dan jalan paling dekat ke apotek adalah gang H. Mulya.
Malam ini, ada tim sepak bola favoritku bertanding, makanya aku harus cepat kembali ke rumah.
Tetapi, suasana yang sepi dan penerangan yang hidup mati serta udara dingin membuat nyaliku ciut.
“Demi Leonel Messi..” tekatku memberanikan diri.
Demi mengabaikan udara dingin yang aneh dan suara burung di kejauhan, aku memasang hetzet dan menyalakan lagu di smartphoneku.
Lagu Dance monkey yang asyikpun mengalun membuyarkan ketakutanku di jalan sunyi itu.
Di tengah-tengah suara keren Toni Watson bernyanyi, ada suara aneh seperti suara serak seorang nenek sedang terkekeh.
Aku pikir aku hanya salah dengar. Makanya aku abaikan.
Tetapi kejadian itu terulang kembali saat aku memutar lagu a Thousand years dari Cristina Perry. Lagu mello itu punya banyak sela di liriknya. Dan aku yakin di antara sela lirik lagu, aku mendengar suara serak perempuan yang samar-samar terdengar seperti berkata ‘Kemarilah..’.
Bulu kudukku langsung berdiri. Mungkinkah rumor-rumor mistis itu akan terjadi padaku juga?
Aku mempercepat langkahku sambil menunduk.
Duk...
Aku merasa bahunya baru saja menabrak seseorang.
“Ah, maaf...” pintaku sambil menengok ke belakang untuk melihat siapa yang baru saja aku tabrak.
Namun tidak ada orang di sana.
Saat melihat ke depan pun, aku tidak menemukan siapa-siapa juga.
Lalu, apa yang aku tabrak tadi?
Ketakutan menyerangku. Seumur hidup aku tidak pernah setakut ini.
Aku berlari sekuat tenaga. Namun, aku merasa ujung gang seolah bergerak menjauh.
Sekuat apapun aku berlari, ujung gang pun seolah semakin tak terkejar.
“Kemarilah..” terdengar kembali suara nenek serak itu.
Aku berhenti berlari dan hanya menunduk. Nafasku tercekat.
Lampu jalanan terus hidup mati di atas kepalaku seolah mengejek keadaanku yang masih membeku di tempat.
“Kemarilah...”
__ADS_1
Lagi-lagi suara itu. Getar di badanku makin menguat. Rasanya mau pingsan saja.
Kali ini aku tidak bisa mempertahankan kesadaranku saat kurasakan sebuah tangan mengelus punggungku. Tangan yang dingin.
...
“Begitulah ceritanya” ucap Amin mengakhiri ceritanya.
Pendengar yang berisi teman satu kelasnya itu bertepuk tangan dengan cerita Amin.
“Wah, gak nyangka si Amin pinter banget buat cerita horornya..” puji Andi disusul sanjungan dari teman-teman yang lain.
Amin hanya cengengesan mendapat banyak sanjungan dari teman-temannya. Sesekali tangannya mengelus belakang lehernya.
Padahal, awal mula dimulai dari beberapa siswi termasuk Mala yang sedang asyik bertukar cerita horor. Lalu, Feiz ikut bergabung dan entah sejak kapan, tahu-tahu satu kelas berkumpul dan berbagi cerita.
“Ngomong-ngomong, cerita itu dari siapa? Aku ga yakin itu ceritamu asli..” tanya seorang teman.
“Te.. tentu saja bukan..” sanggah Amin dan menjelaskan kalau itu pengalaman orang lain.
Tanpa dia sadari, ada dua orang yang langsung memahami jika Amin berbohong.
“Wah, dia terkena kutukan makhluk astral..” komentar Mala sambil tetap melihat ke arah Amin. Lebih tepatnya, sosok asap hitam di sampingnya.
“Iya. Kalau tidak segera di bebaskan, dia bisa berbahaya”
Bola mata Mala bergulir dengan wajah sebal sebab yang menimpali gumamannya adalah Feiz.
“Kamu! Ngapain masih di sini? Tugasmu sudah selesai, kan? Pergi sana..” Mala melotot ke arah Feiz.
“Buang jauh-jauh muka sok polosmu”
Mala meninggalkan Feiz yang masih nyengir di tempat.
...
Malam berikutnya, sekitar pukul 20.40 wib, Mala mendatangi gang H. Mulya. Tempat yang di ceritakan Amin.
“Ga ada apa-apa tuh..” komentar Malam.
“Aneh. Pasti di sini tempatnya. Lihat rumah kosong dan kuburan kecil itu?” tunjuk Mala.
“Aku benar-benar tidak merasakan apa pun, kok..”
“Benar yang dia bilang..” tiba-tiba sebuah suara menginterupsi mereka. Seseorang muncul dari balik tembok rumah kosong.
“Sudah ku bilang aku tidak ingin melihatmu, kan” bentak Mala pada orang tersebut yang ternyata adalah Feiz.
“Aku kesini karena cerita Amin. Kamu juga sama, kan?” terka Feiz yang di balas dengan membuang wajah oleh Mala.
“Bukan urusanmu...”
“ Sama sepertimu. Ah, bukan. Seperti kalian... Aku sudah di sini sejak jam 19.30 wib dan tidak terjadi apa-apa.” Terang Feiz.
“Tetapi tanda kutukan itu..”
__ADS_1
“Entahlah..” Feiz mengedikkan bahu tanda tak tahu.
“Ini sudah malam. Wanita baik-baik tidak boleh pulang larut malam, kan? Bagaimana kalau aku mengantarkanmu?” tawar Feiz.
“Tidak mau..” tolak Mala tegas.
“Bagaimana dengan ini?” Feiz memamerkan kontak mobil mewahnya.
“Kamu pikir aku wanita...MMAAUU..!!” Mala bungkam karena tubuhnya telah diambil alih Malam.
Dengan senangnya, Malam menempel kepada Feiz yang membawanya ke mobil miliknya. Tidak memperdulikan saudarinya yang mengoceh panjang karena tingkah seenaknya Malam.
....
Amin terkantuk-kantuk padahal waktu masih menunjukkan pukul sembilan kurang dua menit.
PR yang sedang dia kerjakan juga baru selesai separuh tetapi matanya sudah sangat berat untuk dibuka.
Akhirnya dia kalah oleh kantuk dan tertidur di meja belajar.
...
Mata Amin terbuka sedikit.
“Masih gelap.” Pikirnya saat kedua matanya tidak menemukan cahaya.
PATS..
Sebuah cahaya baru saja bersinar kurang dari dua detik. Seperti kilat.
Amin kaget. Dia mencoba mengucek mata memastikan keadaan.
PATS.. PATS..
Lagi-lagi, cahaya itu muncul tidak hanya sekali tetapi lebih. Apa lampu kamarnya rusak.?
Matanya terbelalak. Cahaya itu bukan dari lampu kamarnya. Sekarang dia berdiri di tengah jalan di gang H. Mulya dan cahaya yang seperti kilat itu, adalah lampu jalan..!
Amin gemetar ketakutan. “Kenapa aku bisa ada di sini?” pikirnya.
Tanpa pikir panjang, dia mengambil langkah seribu. Mencoba keluar dari gang itu.
Tetapi, semakin cepat dia berlari, semakin jauh juga ujung gangnya.
“Kenapa aku bisa di sini? Bukannya aku di kamar sekarang?” pikirnya sambil ketakutan.
Energi Amin terkuras habis. Dia seperti berlari di lapangan sepak bola tiga kali putaran. Namun, ujung gang yang dimaksud tak kunjung dia gapai.
Ketika dia mulai kelelahan, bahunya seperti di senggol seseorang. Dia menoleh. Tapi, tidak ada siapa-siapa.
Belum selesai otaknya mencerna apa yang terjadi, suara nenek yang serak terdengar olehnya.
“Kemarilah..! Kemarilah..”
Panggil suara si Nenek. Jantungnya berdegud kencang. Seluruh tubuhnya gemetar.
__ADS_1
“Semua ini kenapa terulang kembali..”