Alter Ego

Alter Ego
Ruang yang penih boneka


__ADS_3

“Ayo..”


Feiz membuka pintu dengan agak memaksa. Dia bahkan menggunakan bahunya untuk mendorong pintu tersebut. Bahkan Devin mencoba membantu.


BRAK..


WHUSSS..


Udara lembab yang terkurung di dalamnya keluar. Menciptakan rasa dingin untuk beberapa saat.


Feiz, Devin dan Mala masuk dengan keadaan waspada.


Untuk berjaga-jaga, Mala sengaja bertukar dengan Malam.


Devin menyalakan lampu. Dalam sekejap ruang gelap itu terang benderang.


Ruangan itu pengap dan kotor. Meski di dalamnya sangat luas dan rapi.


“Ini Cuma kamar biasa..” komentar Feiz setelah melihat kamar yang terdiri ranjang tidur ukuran King, lengkap dengan bed cover set yang telah kumal berdebu termakan usia. “Banyak boneka, ya..” kali ini Malam yang berkomentar.


Di dalam lemari, penuh boneka porselin dengan berbagai bentuk. Namun kotor dan tidak terawat. Beberapa malah terlihat seperti hantu karena lapisan porselinnya yang terkelupas. “Jadi ingat Romeo dan Juliet..”


“Awalnya ini adalah kamar mendiang Bibiku Annelysse Gevariel. Beliau sangat menyukai boneka porselin dan kamar ini menjadi gudangnya.


Sampai beberapa bulan, kamar ini masih di gunakan putra Bibi, Leonard Gevariel. Namun, Leon mengaku sering mendengar suara tawa singkat dan terdengar garukan dinding. Seperti yang aku alami. Lalu, beberapa pelayan juga mengalami hal yang sama. Sampai banyak pelayan yang menolak untuk membersihkan tempat itu.” Terang Devin.


“Aneh, ya.. aku tidak melihat satu pun makhluk astral di sini..” kata Malam. Matanya menyapu seluruh ruangan.


“Bahkan aku tidak melihat keanehan pada boneka-boneka itu..” Mala menyentuh salah satu boneka porselen yang di taruh di atas bufet.


“Apa kamu yakin dengan kemampuan indigomu?” tanya Devin dengan tatapan meremehkan.


“Aku bukan kamu yang Cuma punya kemampuan indigo yang lemah. Karena mataku itu..”


“Aku mulai!!” potong Feiz membuat Malam tidak menyelesaikan kata-katanya.


Feiz mulai membaca doa-doa. Ayat suci al quran mulai mengalun sampai beberapa kali ayat kursi dan doa-doa lain dibaca Feiz, tidak ada respon sama sekali.


“Lihat.. tidak ada apa-apa di sini..” kata Malam. “Apa bukan kamu yang terlalu parno sampai berhalusinasi?” sindir Malam. Kelihatannya dia masih kesal di remehkan Devin.


“Sebelum-sebelumnya, para cenayang yang aku minta kemari, juga mengalami hal yang sama. Tidak ada respons. Tetapi, suara garukan dan tawa singkat itu tetap terdengar..”


“Sudah kubilang, tidak ada makhluk astral..”


Ggrrkkk...


HAHAHAHA..


Tiba-tiba sebuah suara muncul mengagetkan mereka. Suara sesuatu menggaruk dinding dan sebuah tawa yang tak lebih dari 5 detik.


Semua kaget sekaligus waspada. Feiz membaca ayat qursi kembali namun mata dan sikapnya lebih waspada dari sebelumnya.


“Apa ada hantu jenis tertentu yang kebal doa, Malam?” tanya Feiz setelah menghabiskan sekian waktu untuk membaca ayat suci Alquran.


“Sepanjang yang aku tahu, tidak ada. Kecuali kondisi khusus seperti Aku dan Mala..”

__ADS_1


“Mungkinkah, ada hantu yang menyatu dengan makhluk hidup dan jadi lebih kuat serta kebal ayat suci?”


“Kalau maksudmu kesurupan, itu masih bisa diruqiah, kan..” bantah Malam.


Ggrrkk.... HAHAHA..


WAAA...


Lagi-lagi suara itu muncul. Terima atau tidak, ketiganya ketakutan.


Meski sebagai Psicyc pro, Feiz tetap berusaha tenang dan meningkatkan kewaspadaannya.


“Pokoknya kita keluar dulu..” ajak Devin. Mereka pun setuju dan keluar dari kamar tersebut.


HHAHAHAHA


“WHAAAA....!!!”


HAHAHAHA...


Suara tawa menggema kembali. Mereka kompak lari menjauh lari terbirit-birit.


“KYAA..” Teriak yang terjatuh tepat di depan kamar. Membuatnya tertinggal jauh dari dua pemuda itu.


Suara tawa dibarengi garukan dinding yang menyayat hati terus terdengar. Di lantai dia terjatuh. Kakinya tidak bisa bergerak.


...


“Hantu macam apa itu?” pikir Feiz dengan nafas memburu.


Kepala Feiz memutar cepat mencari gadis berambut ikal itu. “Mala, jangan-jangan dia di tangkap hantu tadi..” pikirnya mulai khawatir.


Dia bergerak berniat kembali tetapi di tahan Devin.


“Di sana berbahaya. Jangan gegabah..”


“Tetapi, Mala masih di sana..!”


“Dengar!! Jika hantu itu tidak mempan dengan doa-doa, keberadaanmu tidak akan membantunya..”


“Lalu, apa yang harus ku lakukan!!” bentak Feiz marah. Marah kepada dirinya sendiri. “Aku sudah berjanji tidak akan menyeretnya ke dalam bahaya..”


“Ayolah.. Setiap indigo pasti terseret dalam situasi seperti ini..” Devin mencoba menenangkan. “Baiklah.. kita kembali. Aku akan ikut denganmu..”


Mereka kembali ke ruangan itu.


“Malam.. bertahanlah..”


...


Sesampai di sana ternyata pintu ruangan telah di tutup.


“Sial.. kita terlambat..”


“Ayo dobrak..”

__ADS_1


Keduanya bersiap mendobrak. Tiba-tiba terdengar suara menginterupsi mereka.


“JANGAN DI DOBRAK”


Suara itu mirip suara Mala. Tetapi Feiz dan Devin yakin kalau itu bukan Mala. Mereka pun sepakat mendobrak.


Sebelum bahu mereka sampai ke daun pintu, pintu itu tiba-tiba terbuka sendiri.


BRUKK..


Keduanya jatuh terjerembab ke tumpukan boneka porselin yang entah siapa yang memindahkan.


“Sudah ku bilang jangan di dobrak, kan..” omel Mala.


“Malam, kamu baik-baik saja? Tidak terluka?” tanya Feiz yang langsung memeriksa tubuh Mala.


“Jangan sentuh! Dasar mesum! Ngerti gak muhrim ga sih. Dan lagi, aku Mala, bukan Malam..”


“Begitu.. syukurlah..” kata Feiz dengan nada lega.


“Mala.. Malam? Kalian ini bicara apa?” tanya Devin kebingungan.


“Itu tidak penting. Yang lebih penting, ada yang ingin aku tunjukkan ke kalian..” jawab Mala lalu menunjukkan sesuatu kepada keduanya.


Sebuah boneka porselin berbentuk bayi wanita yang tersenyum lebar, berdiri dengan papan jungkat jungkit seperti duduk di kursi malas.


“Apa ini?” Feiz kebingungan.


Mala meletakkan boneka itu lalu menggoyangkannya. Dan..


HAHAHA..


Suara tawa yang tadi di dengar mereka muncul. Feiz dan Devin sempat terkejut, sebelum akhirnya mwreka sadar suara itu dari boneka yang sedang bergoyang itu.


“Boneka ini bisa mengeluarkan suara tawa. Mekanismenya cukup dengan mengayunkannya seperti ini.” Terang Mala. “Dia di taruh di tempat yang sering di lalui tikus. Mungkin, si tikus tidak sengaja menggerakkannya dan lihat, ada bekas dinding yang terkelupas karena sisi jungkat-jungkit boneka menggaruk dinding. Ini menjelaskan suara garukan yang kamu dengar..” terang Mala sambil menunjukkan ke tempat awal boneka itu di temukan.


“Misteri telah terpecahkan.” Ucap Mala bangga.


“Jadi, selama ini bukan perbuatan hantu?” mukanya melongo.


Devin dan Feiz hanya saling pandang karena tidak percaya pada situasi konyol yang sedang terjadi.


...


Sasha sudah sekian jam berada di seberang jalan menunggu Mala dan Feiz keluar.


Sudah beberapa kali dia mencoba menyelinap ke dalam bangunan megah bergaya Eropa itu namun, penjagaan di rumah tersebut sangat ketat.


“Kenapa belum keluar juga.. Ini sudah tiga jam” gerutu Sasha sesekali menepuk badannya yang tergigit nyamuk. Tiba-tiba, terdengar suara guntur di langit yang membuat Sasha melompat kaget.


Sementara itu, Devin mengundang makan malam Mala dan Feiz karena sudah membantunya.


Kelihatannya Sasha akan menunggu lebih lama lagi.


....

__ADS_1


__ADS_2