Alter Ego

Alter Ego
vloger 3


__ADS_3

**Pesta ulang tahun yang kesepuluh Mala seperti sebuah mimpi. Riasan kertas indah yang dipasang untuk memperingati hari lahirnya, lalu. Kue tart besar berwarna merah muda.


Sangat indah, sangat menyilaukan.


Tapi, keindahan itu berakhir saat tangan hitam dan terkelupas membelai pundaknya, wanita berambut panjang dan kotor tersenyum di antara para undangan. Lalu makhluk mengerikan yang merayap di atap rumah. Giginya yang tajam terlihat menyeringai..


Sensasi ketakutan itu tidak seberapa dibanding ketika dia diseret orang-orang dewasa. Dipaksa tinggal di tempat menyerupai kamar pasien rumah sakit.


Mala terus berteriak meminta pulang namun tidak digubris oleh semua orang di sana. Malah seringai-seringai aneh yang dia terima dari pasien di sana.


Sendirian, dianggap tidak waras lalu lebih parah lagi, dia sering melihat makhluk mengerikan dengan berbagai bentuk tak terdefinisi yang berkeliaran di sekitarnya.


....


Nafas Mala memburu. Dia bangun dengan keringat dingin mengucur deras di keningnya. Dia bermimpi buruk.


“ Kamu tidak apa-apa?” tanya Malam. Mala hanya mengangguk.

__ADS_1


Mala mencoba memperbaiki penampilannya.


“ Maaf” ucap Malam.


“ Untuk apa?”


“ Semuanya. Terutama yang selalu menghantui mimpimu”


Benar. Jika ingin menyalahkan segala hal yang menimpa Mala, tentu saja jawabannya adalah Malam.


Kalau saja Malam tidak pernah ada, mungkin dia tidak akan diseret ke rumah sakit jiwa, tidak akan melihat penampakan hantu dan yang lebih penting, Mala juga bisa menikmati makan malam bersama keluarganya. Jika saja..


Dia beranjak dari tempat tidur lalu, melangkah ke dapur mencari minum.


...


Mala tidak kaget saat teman-temannya sibuk membicarakan channel youtube Zee. Apalagi dia berhasil mendapat video penampakan hantu. Dia sudah melatih otot mukanya agar terlihat seperti orang yang penasaran bercampur khawatir jika seandainya menerima berita kalau Zee hilang, sawan atau shock.

__ADS_1


Bukan bermaksud jahat, tetapi semua adalah kecerobohan Zee memasuki tempat angker itu.


Mala yakin betul, Zee tidak akan mengalami hal lebih buruk selain lagi. Karena hantu di rumah sakit jiwa itu hanya roh yang tinggal menetap di gedung itu. Mereka hanya ‘bermain’ dengan entitas baru selain mereka.


Mala paham betul hantu seperti apa mereka. Bagaimanapun dia juga mantan pasien RSJ. Ekspresi mereka yang tidak menunjukkan rasa terganggu. Namun, rasa ingin tahu dan hampa. Malam juga tidak merasakan aura jahat dari perwujudannya. Dengan kata lain ‘penghuni’ di sana adalah hantu yang semasa hidupnya mengalami gangguan jiwa. Keberadaan Zee mungkin dianggap unik bagi mereka.


Tetapi, manivestasi dari ‘menarik perhatian’ hantu tidak pernah berujung indah. Kadang kala mereka akan ‘meminta’ manusia yang hidup itu untuk memenuhi permintaannya. Salah satunya mau menjadi ‘bagian’ dari mereka.


Mala yakin roh orang gila tidak berbahaya meski suka mengganggu.


Jika di perumpamakan, bangunan itu seperti Mall, dan Zee seperti maling yang tertangkap massa. Apapun nasib Zee kedepannya, semua tergantung kepada hukum yang berlaku ‘Mall’ itu. Tapi orang gila tidak tahu cara menghukum orang.


“ eh, Zee lewat, tuh!” seru seseorang menunjuk kepada Zee. Benar, itu Zee dan dia dalam kondisi baik-baik saja.


Siswa-siswa serentak merubung Zee. Mengelu-elukan keberanian Zee yang berhasil masuk ke RSJ Lama.


“ Syukurlah dia baik-baik aja” gumam Mala lalu berlalu.

__ADS_1


Tanpa disadari siapapun, mata Zee mengeluarkan kilat merah.


__ADS_2