Alter Ego

Alter Ego
Bagai Gunung Es


__ADS_3

Arra sungguh marah, sekali dengan ucapan Kenan...tapi ketika dia hendak mengejar Kenan..Arra mendengar suara mobil meninggalkan halaman rumah...


Arra merasa kesal dan ketika ia hendak keluar kakinya terantuk sesuatu, ia menurunkan pandangannya dan terdiam ketika dia melihat sebuah kantung belanjaan, Arra memungutnya ingin tau apa isinya..


Dan ketika dia memerissa, ada banyak jenis kue, dan berbagai olahan buah segar yang di bawa Kenan dari kota...semua itu terlihat enak namun karna yang membawanya adalah Kenan, maka Arra tak akan mampu menelan sesuatu dari pria yang dia benci...jadi wanita itu lalu membungkusnya menjadi satu dan membuangnya ke tempat sampah.


Arra segera melangkah keluar kamar dengan maksud ingin mengejar Kenan namun ia sungguh telah terlambat karna mobil pria itu sudah pergi jauh dan Arra yakin mereka pergi ke bandara di ujung pulau...


Sialan Kenan...beraninya dia pergi..beraninya dia meninggalkan Arra,apalagi mereka belum selesai bicara. wanita itu tak mampu menahan rasa kesalnya yang bertubi-tubi melanda jiwanya..


Arra melangkah keluar rumah dan memutar pandangan ke segala arah.., bahkan dia tak punya teman untuk di ajak bicara...karna ia telah mengusir Gina pergi..


Arrabell lalu mengarahkan langkahnya menuju taman kecil yang tak jauh dari rumah, lalu ia melangkah masuk ke da;am rumah taman itu dan duduk di antara bunga-bunga segar dan diam disana...sampai amarahnya sedikit mereda..


Arrabell menyandarkan tubuhnya...menatap sekeliling taman yang di lindungi sebuah rumah berdinding kaca..Arra memejamkan matanya ketika begitu hancur...karna apa yang dia pikirkan tak akan pernah tercapai.. Ia hanya ingin bebas..mengapa kini seakan harapan itu jauh darinya..


Mengapa.....


Airmata Arra menetes di wajahnya, lama dia berada di dalam rumah kaca itu dan menangis sendirian...sambil memeluk perutnya..tak ada lagi harapan untuknya, semua seakan gelap baginya...


**********


Sejak pertengkaran mereka, Arra membuat peraturan bahwa ia akan tidur sendirian di dalam kamar, sementara Kenan menempati kamar lain yang tak jauh dari kamarnya, karna Kenan sudah terlanjur mengatakan dia akan membebaskan Arra membuat peraturan maka ia tak bisa mengatakan apapun untuk mencegah Arra, lagi pula terjadi perang dingin di antara mereka jadi Kenan tak mampu berbuat apapun selain pasrah, sebenarnya dia bisa memaksa tapi mengingat kehamilan Arra semakin besar jadi Kenan benar-benar takut terjadi sesuatu kepada anaknya, jadi untuk saat ini Kenan akan lebih mengalah lagi pula dia memasang cctv di kamar Arra jadi dia bisa memantau keadaan istrinya..


Satu yang membuat Kenan bahagia adalah karna Arrabelle sudah tau segalanya jadi Kenan tak perlu berpura-pura menjadi seorang Dimitri...sekarang tinggal berharap kalau suatu saat nanti Arra bisa menerima dirinya.


*******


Kenan baru saja menuruni tangga, dan dia menemukan pelan yang akan mengantarkan makanan menuju kamar...Arrabell melakukan aktifitas makannya di dalam kamar...


Yah...usia kandungannya sudah 6 bulan jadi Arra merasa mudah lelah jika harus naik turun tangga..


''Apa kau sudah memastikan semua yang di inginkan nyonya telah kau bawa..''


''Yah tuan Kenan...semua yang nyonya inginkan ada disini..''


''Bagus....pastikan dia makan dengan baik..''


''Baiklah, sekarang antarkan makanan itu.''


''Baik tuan..''jawab sang pelayan patuh...


*********


Arra mengangkat wajahnya dan menyadari pelayan datang mengantar makanan...lalu meletakannya di atas meja,..


''Silahkan makan nyonya selagi hangat..''


Arra menoleh ke arah balkon ada banyak lampu-lampu disana..juga ada suara yang terdengar ribut.


''Apa yang terjadi di luar sana....mengapa ada suara banyak orang..''

__ADS_1


''Oh...itu.. Tuan Kenan mengadakan pertemuan sebelum acara pernikahan tuan Gasper dan nona Gina...''


''Mereka akan menikah..''


''Yah...''


''Baiklah....kau boleh pergi..''


''Baik nyonya...''


Pelayan itu lalu meninggalkan tempat itu sementara Arra mulai makan dan mencoba untuk tidak terpengaruh dengan suara-suara di luar sampai dia mendengar pintu kembali di ketuk perlahan dan sesaat kemudian pintu terbuka lebar.. Arra membeku melihat sosok Gina berdiri dengan wajah sendu..


''Nyonya Arra..''


Arra menghela nafas..sesungguhnya dia juga rindu sekali pada Gina karna bagaimana pun dia dan Gina telah melewati banyak hal...


''Boleh aku masuk..''


Arra mengangguk tanpa kata, dia mempersilahkan Gina duduk.


''Aku sedang makan jadi..''


Suara Arra terputus ketika dia melihat Gina tersungkur dalam posisi berlutut di hadapannya..


''Gina...''jerit Arra terkejut..


''Apa kau marah padaku, aku minta maaf...tapi tolong jangan abaikan aku nyonya Arra...aku mohon.'' isak Gina menundukan kepalanya..


Arra tak mampu menahan airmatanya saat itu...ia marah tapi pada akhirnya dia tau kalau baik dirinya atau Gina tak bisa melakukan apapun selain pasrah..


''Mengapa kau membuatku lemah Gina..''isak Arra menyambut tangan Gina yang terulur kepadanya..


Gina bangun berdiri dan keduanya saling memeluk dengan erat,.


''Maafkan aku....''bisik Gina merasa lega ketika Arra akhirnya mau memaafkannya..


''Aku juga tidak benar Gina...aku juga minta maaf...aku kecewa pada Kenan tapi melampiaskan kepadamu..''


Kelegaan itu terasa nyata ketika keduany melepas pelukan dan keduanya duduk bersama...


''Aku sedang makan, apakah kau sudah makan Gina..''


''Sudah...tapi melihat makanan nyonya tampak lezat..'' bisik Gina dengan mata berbinar..


Arra tertawa...


''Kau sedang hamil muda...ayo kita makan bersama...''


''Tapi biar aku..''


'Hey...aku melakukannya karna keponakanku di dalam sana..''ucap Arra tersenyum lembut..

__ADS_1


''Aku sangat bahagia...rasanya seperti mimpi melihat nyonya memaafkan aku..''


''Aku sadar mungkin ini adalah takdir kita...''ucap Arra menghela nafas.


''Apakah itu artinya nyonya akan memaafkan tuan Kenan dan membatalkan perceraian..''


''Aku tak akan memaafkannya enak saja, tapi ia malah menghukumku dengan tak mau menceraikan aku....sialan...''gerutu Arra.


Gina tersenyum, hanya tinggal tunggu waktu agar hati nyonya Arra terbuka...untuk tuan Kenan, dan Gina selalu mendoakan itu..demi anak mereka..


''Syukurlah itu artinya kita akan terus bersama di pulau ini nyonya..''


Arra mengangkat wajahnya dia menyipitkan matanya.


''Kau sudah mau menikah..yah,....''bisik Arra menatap Gina..


''Yah....aku juga ingin minta maaf soal Gavin...aku sungguh tak bisa...''


''Sudahlah....sebentar lagi kau akan menikah dengan Gasper..dan Gavin sudah menjadi masa lalumu Gina..jadi lupakan saja dia..aku yakin dia pasti akan bahagia dengan seseorang disana..''


''Aku sungguh berharap begitu..''


''Well.....aku sudah selesai makan..''


''Bagaimana kalau nyonya ikut aku turun, sambil melihat dekorasi yang di buat apakaj menurut nyonya bagus..''


Arra menggeleng enggan..


''Aku tidak mau bertemu Kenan..aku akan langsung kesal melihatnya..''


''Bukankah tuan tak akan mendekati nyonya...jadi tenang saja...nyonya akan bersamaku lagi pula, di kehamilan ini nyonya harus banyak jalan agar tubuh lebih ringan..''


''Benarkah....''tanya Arra langsung memeluk perutnya.


''Yah...aku membacanya di internet..''


Arra tersenyum....


''Aku bahkan tidak pernah membaca apapun...ya sudah aku akan mengambil jaket sebentar..''


''Baiklah....aku akan menunggu..''


***********


Sementara...


Kenan terus menatap ke dalam rumah, merasa berdebar membayangkan Arra akan keluar dari sana..yah..tadi Gina bilang akan membujuk Arra keluar dan semoga dia berhasil...


''Tuan Kenan....itu nyonya Arra sudah keluar..'' bisik Gasper pelan.


Dan Kenan menoleh beku, menyadari Arra keluar dengan langkah hati-hati sambil memeluk perutnya dengan gerakan melindungi..dia tampak cantik dengan rambut yang tergerai indah..Kenan tak mampu mengalihkan pandangan...

__ADS_1


Dan disaat yang sama, Arra menoleh padanya....senyumnya seketika menguap...lalu memalingkan wajahnya dengan cepat..hingga Kenan hanya menghela nafas..


Arra memang keras hati...tapi dia menolak menyerah.


__ADS_2