Alter Ego

Alter Ego
DEVIN


__ADS_3

Tatapan itu terlalu intens. Sampai aku pikir dia hantu yang tertarik kepada manusia indigo. Tetapi, dia manusia. Aku baru pertama kali mendapat tatapan seintens itu dari manusia. Sebenarnya ada apa? Apa aku membuat kesalahan?


“Eh, itu Kak Diven..”


Bisik-bisik dari para gadis pelajar yang sedang beristirahat di kantin.


Diven?


Apa itu nama orang yang terus melihat ke arahku?


Tap..tap..tap..


Dia melangkah. Langkahnya gagah, tubuhnya tegap dan tinggi. Kulitnya yang agak kecokelatan menambah kesan manly bak kuda pacu yang gagah.


Yang membuatku tidak nyaman, dia menciptakan wajah-wajah iri dengki dari para gadis di sana saat pria itu mendekatiku.


“Kamu yang bernama Mala?” tanyanya dengan suara bariton yang indah. Sesaat Mala terpukau pada pesona pria ini. Berbeda dengan Feiz yang selalu tersenyum dan beraura cerah, pria di depannya seolah diliputi langit gelap.


“Iya.. ada apa, ya?” jawab Mala.


“Sepulang sekolah, bisa bertemu di st*rb*cks? Ada yang ingin aku bicarakan..” ajaknya dengan ekspresi tenang tetapi membuatku berkeringat dingin dengan tatapan tajam dan dengki para gadis. Bahkan aku tidak bisa mengeluarkan jawabanku saking takutnya menyinggung perasaan para gadis.


“Kuharapkan kedatanganmu..” itu yang Diven katakan sebelum meninggalkanku.


“Ada apa, ya?” batinku.


...


Kedai kopi dengan popularitas yang sangat bagus untuk mereka yang sangat menjaga gengsi itu terlihat lenggang dari customer.


Mala masuk dengan ragu-ragu. Baginya, tempat itu terlalu mewah untuk kantong pelajarnya yang tidak seberapa.


Dia tidak langsung ke counter untuk memesan. Melainkan pura-pura melihat daftar menu di atas counter.


Mala mencoba menahan ekspresi menelan ludahnya karena harga minuman paling murah antara 25 ribu ke atas. Sementara dikantongnya hanya ada 15 ribu rupiah.


“Gimana, nih.. Apa aku tukar KTP aja.. Tapi aku masih pelajar, belum punya KTP..” gumam Mala panik.


Tiba-tiba dia merasakan bahunya di tepuk dengan lembut. “Mala.. Ternyata kamu di sini..” sapa Feiz sok akrab. “Pasti kita ini jodoh, ya.. Mbak, pesan Coffe latte. Malaku, mau minum apa?”


“A.. aku..” Mala kebingungan dan ekspresi itu di baca oleh Feiz yang dengan pelan dia berbisik di telinga Mala. “Aku traktir..”


“Raspberry Cream Frappuccino Red Velvet Cookies” pinta Mala dengan satu tarikan nafas saja Meski ejaannya mungkin banyak yang salah.


“Malaku suka yang manis, ya.. semanis orangnya” gombal Feiz.


“Kalian sudah datang rupanya” suara lain menyapa mereka. “Maaf, urusan OSIS kali ini memakan waktu.” Terangnya lagi lalu memesan Americano ke kasir counter.


“Kalian?.. maksudmu, kamu juga mengundang Feiz?” tanya Mala agak bingung.


“Iya..” jawabnya singkat.


“Anu... Di.. siapa tadi?”

__ADS_1


“Saya Diven Gevariel. Ketua OSIS di sekolah..”


“Mala.. bagaimana kamu bisa tidak tahu kalau dia KETOS kita. Kan, setiap upacara dia selalu jadi pemimpin upacara?”


Wajah Mala langsung memerah karena malu. Sejujurnya, setiap upacara bendera, dia tidak terlalu memperhatikan jalannya upacara dan sibuk ngobrol dengan yang lain.


“Maaf..” pinta Mala dengan sungguh-sungguh.


“Itu tidak penting. Yang lebih penting, ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian berdua” kata Diven dengan tatapan serius. “Apa benar kalian indigo?”


Mala terperangah. Dia menoleh ke arah Feiz yang juga terkejut. Namun, terlihat cepat menyesuaikan diri.


“Pertanyaan macam apa itu. Sedang ngelawak?” balas Feiz dengan cengiran yang nampak meragukan.


“Beberapa waktu lalu, saat terjadi badai dan mendung pekat, pagi hari terdengar rauangan yang hanya bisa di dengan mereka yang memiliki kemampuan. Lalu, ada banyak serangan hantu dari berbagai wujud menyerang sekolah.. lalu,” tatapan Devin semakin menajam melihat Mala dan Feiz. “Kalian berdua melompat dari satu atap ke atap lain lalu menghilang. Tidak berapa lama, situasi kembali membaik. Apa kalian yang menyelesaikan masalah itu?..”


“Kamu.. juga indigo..?” tanya Feiz yang ternyata tidak di sangkal oleh Diven.


“Saya hanya bisa melihat saja. Tetapi, kelihatannya kalian punya ability untuk perlindungan..”


“Aku memang punya sedikit ability untuk melawan hantu. Karena aku adalah Psicyc pro. Tetapi, Mala tidak punya. Dia hanya sial karena menjadi indigo..” jelas Feiz.


“Psicyc pro.. apakah mungkin..?” Devin terlihat tidak percaya.


“Iya. Persis seperti yang kamu pikirkan” balas Feiz seolah paham apa yang dipikirkan Devin.


Mala agak bingung dengan pembicaraan ini dan tentang Feiz yang tidak memberi tahu kondisinya secara detail. Terlebih, Mala sama sekali tidak tahu apa itu Psicyc pro. Tetapi, dia senang juga karena tidak harus dilibatkan.


“Jika kamu adalah Psicyc pro, ini akan mudah...” kata Devin. “Aku ingin menyewamu..” tukasnya.


....


Permasalahan Devin sebenarnya sederhana. Sebuah ruangan di rumahnya sudah di hantui oleh makhluk yang tidak mau pindah bahkan beberapa cenayang telah dipanggil untuk mengusirnya. Tetapi, semua itu gagal.


Sebenarnya, tidak masalah selama ruangan itu tidak dibuka. Tetapi, akhir-akhir ini, Devin yang memiliki kemampuan indigo sering mendengar jeritan, tangis dan garukan dinding yang mengganggunya.


“Kalian bisa menyelesaikan masalah serbuan hantu di sekolah, berarti kalian bisa menyelesaikan masalah di rumahku, kan?” tawarnya.


“Yah, kalau mengusir hantu itu memang pekerjaanku” terima Feiz .


Obrolan berakhir sampai di sana. Lalu, kami keluar dari kafe bergengsi itu.


Mala berjalan beriringan dengan Feiz setelah berhasil merayunya untuk mengantar pulang.


“Kenapa kamu tidak menceritakan kondisiku?” tanya Mala.


“Kamu mau terlibat?”


“Ga!”


“Ya kan..” ledek Feiz.


“Tetapi aneh, ya. Ada ruangan berhantu di dalam rumah. Lalu, bagaimana caranya hantu itu bisa bersarang di rumahnya?” pikir Mala.

__ADS_1


“Mungkin ada roh yang bergentayangan karena terikat dengan ruangan itu. Contohnya sebuah kamar bekas bunuh diri, maka hanya kamar itu yang di gentayangi, kan?”


“Ah, seperti itu..” sahut Mala paham.


“Kamu mau ikut melihat prosesi pengusiranku? Keren, loh” ajak Feiz dengan senyum bangga.


“Boleh...”


Mereka pun pulang bersama.


Di tempat lain, tepatnya di bangku taman yang tidak jauh dari st*rb*cks, ada tiga gadis belia yang sedang menahan geram melihat kedekatan Mala dan Feiz.


“Kesel.. Kok cewek model begitu bisa dekat sama Feiz dan Devin...” geram gadis dengan make up tebal dan baju kesempitan yang menarik mata tiap pria yang lewat.


Namanya Sasha Imelda. Dia dianggap primadona sekolah berkat Video tutorial makeup nya yang telah dilihat lebih dari 300 ribu viewer.


Dengan pesonanya itu, dia ingin menaikkan pamornya dengan mengencani pria paling menarik satu sekolah.


Dari survei dadakan yang dia buat sendiri, pria paling menarik di sekolah adalah Devin sang Ketua OSIS yang terkenal lebih kaku dari batu yang membuatnya menyerah mendekati Devin. Lalu, Feiz Hasan yang merupakan murid pindahan dengan rambut putih keperakannya dan semakin mempesona karena dia selalu ke sekolah dengan mobil mewah.


Sasha berpikir kalau Feiz adalah tipe yang menyukai gadis cantik selayaknya playboy pada umumnya. Tetapi, nyatanya sejak awal, banyak gosip yang mengatakan kalau Feiz hanya mengincar Mala. Gadis pindahan yang terlihat biasa. Bahkan tipe introvert.


Sasha mungkin masih tenang ketika Feiz mendekati Mala. Tetapi, kedengkiannya sampai ke ubun-ubun ketika Devin, si kaku bak batu itu, langsung mengajak ke kafe bersama. Lebih parah lagi ketika dua pria paling diinginkan para gadis di sekolah duduk bersama satu gadis itu.


“Pelet macam apa sih yang dipakai anak baru itu?” omelnya. Tekatnya bulat. Dia akan melakukan penyelidikan.


...


Sesaat aku mengira telah dilempar ke negara Eropa atau kembali ke masa kejayaan Alexander the great begitu ku buka pintu mobil mahal milik Feiz.


Ornamen dengan patung dewa-dewi yunani, gambar bayi malaikat menghiasi setiap detail bangunan bak white house itu. Bahkan ada air mancur di tengah taman.


Gerbang besar yang menghalangi kami untuk masuk ke dalam, terbuka secara otomatis.


Begitu masuk parkiran, kami telah di sambut seorang pria paruh baya dengan tuksedo berekor yang mengantar kami masuk ke dalam rumah Devin.


Perlu setidaknya 10 menit melewati beberapa ruangan raksasa dan lorong panjang untuk sampai ketujuan kami. Ruang makan.


Devin telah menunggu di meja makan panjang dengan 30 kursi yang saling berhadapan.


Pria bertuxedo itu mempersilahkan kami duduk di kursi dekat Devin.


“Aku harap kamu siap Feiz. Karena sudah banyak cenayang yang mengusir hantu itu tetapi gagal..”


“Kalau kamu terus mengingatkanku seperti ini, hantunya pasti sangat kuat, ya?” balas Feiz tertantang.


Kali ini Devin sendiri yang mengantar kami ke ruangan yang di maksud.


Jujur aku deg degan. Setelah melewati banyak peristiwa mistis yang berbahaya, kasus kali ini akan seberbahaya apa?


“Ini ruangannya” tunjuk Devin pada pintu berbahan kayu kokoh pilihan berwarna cokelat tua dengan handle locks yang telah karatan.


“Ayo..”

__ADS_1


__ADS_2