Alter Ego

Alter Ego
ARWAH IBU SERUNI


__ADS_3

“Makanya... aku tidak mau ikut campur, kan!!!” tekan Mala ketus.


Dia bersiap menutup pintu gerbang rumahnya namun di cegah pria berambut keperakan dengan muka melas.


“Ayolah, Mala.. ini Cuma kasus kecil. Tidak akan membahayakan nyawa siapa-siapa..” mohon Feiz.


“Karena kasus kecil, ya urus sendiri.. Jangan seret aku..” Mala bersikeras.


“Masalahnya, aku perlu tambahan orang untuk berkeliling.. Nanti aku traktir, deh..”


“Gak..”


Feiz menghela nafas dan melepaskan tangannya dari pagar rumah pendek itu.


“Malam, hari ini aku naik mini cooper, loh. Mau berkeliling?” ajak Feiz sambil memainkan kontak mobil berharga milyaran itu di tangannya.


Telinga Mala mendengar. Memancing Malam keluar dan menguasai tubuh Mala.


“Ayo!!” dengan genit dia menggandeng lengan Feiz. Membuat Feiz cengengesan.


...


“Jadi ini alasannya dia mengajak kita” gerutu Mala.


Malam tidak mempedulikan omelan saudaranya. Dia asyik mengobrol dengan roh yang di bawa Feiz.


Seruni, seorang roh yang berumur sekitar empat puluhan tahun, datang meminta bantuan Feiz karena dia ingin menemui suaminya Rohmat.


Dia sudah mendatangi rumah mereka namun sosok Rohmat tidak ketemu. Bahkan putri mereka yang berumur 15 tahun, juga menghilang.


“Saya harus menemui mereka. Ada yang harus saya tunjukkan kepada mereka..” pinta hantu itu.


Malam terlihat berpikir. “Memang apa yang ingin kamu tunjukkan kepada mereka?” tanyanya.


“Harta karun”


“EEHHHH...!!!” Malam terkaget-kaget.


“Hem.. menarik..” komentar Devin sambil menyentuh dagunya.


“eh.. kenapa tuan muda keluarga Gevariel ada di sini?”


“Baiklah.. Karena ini perburuan harta karun. Lets go...” seru Feiz bersemangat.


“Hoi, pertanyaanku belum di jawab!!” omel Malam. “Jadi, dimana harta karunnya?”


“Sayangku.. jangan ambil bagianku dong!!”


“Kamu, kan udah kaya. Ngalah aja napa!!”


Feiz dan Malam mulai bertengkar sebelum Akhirnya Mala menguasai badannya kembali.


“Aku tidak akan menunjukkan tempatnya sebelum bertemu suamiku.. begitu kata Bu Seruni” potong Mala begitu mendapat tubuhnya kembali dan menyampaikan ucapan Bu Seruni.


“Tapi, gimana caranya kita tahu siapa Pak Rohmat kalau kita saja tidak pernah bertemu dengannya? Bahkan meski di sketsa pun, pasti masih sulit, kan..” tanya Feiz. Semua diam berpikir.


“Coba kita cari foto atau benda apapun di rumahnya” saran Devin.


Semua setuju. Lalu, mini cooper milik Feiz pun di lajukan menuju kediaman Bu Seruni.


....


Mereka tiba di rumah milik Bu Seruni sewaktu hidup. Di rumah sederhana itu terlihat kosong. Sesuai petunjuk Bu Seruni, mereka menemukan kunci rumah dengan mudah. Pencarian foto pun dimulai.


“Dapat!” seru Devin. Kami langsung mengerubunginya. Foto ditangannya jadi rebutan.


“Yang ini, Seruni?” tanya Mala menunjukkan foto seorang pria yang hanya satu serpihan saja. Dia mengangguk meyakinkan.


“Tapi, kenapa di sobek-sobek begini?”


Wajah Seruni terlihat sedih. “Sudahlah, Mala. Sekarang kita sudah menemukan petunjuknya. Ayo kita cari Pak Rohmat” ajak Feiz.


Mala menepiskan pikiran ganjilnya dan mengikuti Feiz dan Devin yang telah berjalan duluan.


...


“Hei, kita mau kemana?” tanya Mala.

__ADS_1


“Tentu saja Cafe Green lief” jawab Feiz mantap.


“Kenapa?”


“Aku menemukan banyak benda yang menjadi sovenir cafe itu di pakaian Pak Rohmat. Dia pasti sering kesana..” terang Feiz sambil menunjukkan pematik dan tissu berlabel ‘Green Lief Cafe’.


“Kamu menggeledah bajunya juga. Apa itu tidak terlalu berlebihan?”


“Aku belum seberapa kalau di banding Devin yang sampai mengecek dapur, kamar mandi dan tempat sampah..”


“Bersyukurlah karena itu kita menemukan foto Pak Rohmat..” Devin terlihat tidak mau kalah. Mala melihat sekali lagi serpihan foto itu. Dia mencium aroma tidak sedap di situ. Dimana dia menemukannya tadi?


Mereka sampai di Green Leaf Cafe. Tempat itu terlihat lebih berkelas di banding St*rb*ck. Bahkan ada peraturan khusus untuk masuk.


Dan benar saja, mereka di hadang security di sana karena berbaju tidak sesuai tema. “Maaf, tamu harap menggunakan dress code ala Eropa abad pertengahan” kata Security.


“Tidak kusangka orang yang punya rumah sederhana sering berkunjung ke tempat semewah ini..” komentar Devin.


“Yah, kalau Cuma baju Eropa abad pertengahan, aku bisa mendapatkannya..” ujar Feiz sambil memainkan smartphonenya.


...


Ting..


Seperti sulap saja, beberapa orang mengantar baju dengan desain jaman VOC. Mala tidak bisa berkata-kata dengan kekuatan finansial Feiz. Devin juga, sih.


Kini tubuh Mala telah terbalut dalam kostum layaknya Cinderella. Bahkan dia mendapat sepatu hak tinggi transparan yang membuatnya terlihat terbang.


“Manisnya Malamku..” puji Feiz. “..Bukan.. maksudku, Malaku..” Si pembawa masalah itu sekarang mengenakan setelan tuxedo berwarna putih yang berenda-renda. Aneh sebenarnya. Tetapi, wajah Feiz yang OK berhasil mengubah persepsi Mala.


“Dari mana kamu mendapat baju seperti ini? Sangat tidak nyaman..” omel Devin mencoba membenarkan bajunya.


Setelan tuxedo berwarna hitam itu membuat tubuh gagah Devin semakin mempesona. Tetapi, sepertinya Devin sendiri tidak merasa demikian.


“Ayolah.. tahan sifat modern praktismu. Kita sedang dalam misi..”


“Ini misimu” tekan Devin. Feiz bungkam dengan muka bodohnya.


Dengan kostum yang sangat bernilai estetika berlebihan itu, mereka berhasil masuk ke dalam cafe.


Mereka duduk di salah satu meja paling baling belakang.


“Selamat siang. Terima kasih atas kedatangannya. Bisa kita mulai pesanannya..” sapa pelayan pria itu dengan profesional.


Ketiganya di sodori daftar menu. Mala meneguk ludah dengan harga yang tak lazim yang tertera di daftar menu. Lima kali lipat lebih mahal dari minuman st*rb*ck traktiran Feiz beberapa waktu lalu.


“Anu...” Mala melirik dengan wajah memelas kearah dua pria yang berdompet tebal di depannya.


“SUAMIKU..” pekik Bu Seruni.


“SUAMI!!” teriak Mala menggebrak meja dan menarik perhatian pengunjung di cafe itu. Pelayan pria itu juga terlihat terbengong dengan reaksi Mala. Sementara kedua temannya mengerti apa yang terjadi pada Mala.


“Benar. Dia adalah suamiku. Mas Rohmat..” seru Bu Seruni meyakinkan.


“Ja.. jadi pesan apa?” tanya Feiz mencoba bersikap biasa.


“Aku mau yang gratis.. opss” Mala keceplosan.


“Biar aku saja yang pesan..” tawar Devin. Lalu, dengan aura pangeran berkuda hitamnya, dia berhasil memukau para pelanggan dan mengalihkan perhatian dengan pesonanya walau hanya memesan makanan.


“Anggunnya..”


“Elegan sekali..”


“Apa dia dari kalangan bangsawan sebenarnya?”


“Aku belum pernah melihat seseorang memesan makanan dengan sebegitu bergayanya”


Kasak-kusuk para pelanggan dan pelayan terdengar. Devin berhasil mengalihkan situasi. Mungkin ini yang membuatnya berhasil menjabat sebagai ketua OSIS.


“apa ini saja pesanannya, Tuan?”


“Ada lagi. Kira-kira jam berapa shift kerjamu selesai?” tanya Devin ke pelayan yang langsung bereaksi dengan kebingungan “Eh?”


“Sebenarnya ada yang ingin kami bicarakan” kata Feiz.


“Se.. sekitar pukul 20.00 WIB”

__ADS_1


“Baiklah..”


Pak Rohmat terlihat berjalan dengan wajah kebingungan.


“Jadi itu suami Bu Seruni?” tanya Feiz pada Mala. Mala mengangguk. “Begitu kata Bu Seruni” tatapan ketiganyanya berubah intens menatap aktivitas orang yang di yakini Bapak Rohmat suami Bu Seruni.


“Harta karun” pikir mereka bertiga dengan serakah.


...


Shift Pak Rohmat telah berakhir. Seragam kerja yang dia kenakan telah berganti baju sederhana. Namun, dia masih mematung di depan lokernya. Dia menyadari tiga orang remaja yang siang tadi menjadi customernya sedang menunggu di depan cafe.


Pak Rohmat tampak berpikir beberapa saat. Lalu, berjalan ke jalan yang berlainan dengan tempat tiga remaja menunggu. Tanpa dia sadari, tindakannya di awasi arwah Bu Seruni.


...


“Pak Rohmat..!!” tahan Mala. “Kenapa anda pergi?”


Pak Rohmat terlihat tak berdaya di kepung Mala, Feiz dan Devin yang telah berhasil menyusul Pak Rohmat dari bantuan Bu Seruni. “Mau apa kalian?!” bentak Rohmat. Postur tubuhnya mengisyaratkan sudah bersiap untuk hal-hal yang tidak diinginkan.


“Tenanglah Pak Rohmat, kami tidak bermaksud jahat pada anda..” bujuk Feiz.


“Aku tidak kenal kalian..!”


“Tapi Bapak kenal Bu Seruni, kan?”


Pak Rohmat terkesiap kaget bercampur bingung.


“Siapa kalian? Kenapa kalian mengenal istriku?!”


Ketiganya saling mengangguk memberi kode. Lalu, Mala pun mulai berbicara. “Keperluan kami adalah ingin menyampaikan amanat dari almarhum..”


“Jadi kalian bukan bocah berandalan yang mengganggu putriku?” ketiganya memasang wajah kebingungan. Seolah memahami arti dari wajah itu, Pak Rohmat mulai tenang.


Namun, ketenangannya berubah menjadi wajah pilu. Setelah beberapa saat, dia bercerita.


“Putriku mengalami shock karena ibunya meninggal. Aku yang Cuma kuli bangunan mendapatkan pekerjaan layak di cafe ini dan mengajak putri menyewa rumah di dekat sini. Tetapi, putriku mendapat perlakuan buruk di sekolah karena dianggap tidak dibuang ibunya sendiri. Bahkan beberapa kali teman-temannya datang hanya untuk berbuat buruk..”


“Jahat! Padahal Ibunya baru saja meninggal..” Mala sedih.


“Ya, karena Istriku mati bunuh diri.. hah.. mungkin dia lelah dengan kehidupan yang berat bersamaku dan memilih jalan itu..” keluh Pak Rohmat menghela nafas berat.


Semua terkejut dan langsung mengarahkan pandangan ke arah Bu Seruni.


“Salah! Aku mati karena kecelakaan bukan bunuh diri!! Ayo bawa dia ke tempat harta karun itu.. aku akan memberitahunya kebenaran..” pinta Bu Seruni.


Mala mengangguk.


....


Tempat yang di maksud adalah lokasi di pinggir jalan yang terdapat bekas kecelakaan dan garis polisi. Tempat dimana Bu Seruni menghembuskan nafas terakhirnya.


“Harta karun macam apa yang bisa di temukan di tempat ini?” sindir Malam yang hanya di dengar Mala.


Bu Seruni membimbing di tempat yang tidak jauh dari posisi police line. Mala terus memandu Pak Rohmat dan kedua temannya hingga sampai di dalam semak-semak.


Keempat orang itu akhirnya menemukan tongkat berlumuran darah di pangkalnya, lalu dompet wanita berisi surat – surat.


Mala mengangguk setelah mendengar detail ceritanya dari Bu Seruni.


“Istrimu di begal seseorang” Ucap Mala memulai cerita. “Seorang pria mencoba merampas dompetnya. Karena Bu Seruni memberontak, dia di pukul dengan tongkat kayu itu. Mungkin karena takut akan perbuatannya, si pembegal meembuat skenario agar terlihat kalau Bu Seruni mati kecelakaan..” terang Mala. Di sudut matanya, linangan air mata seolah siap jatuh.


Pak Rohmat menangis sejadi-jadinya mengenang sang Istri yang ternyata tidak meninggalkannya. Tangis yang dulu tertahan oleh rasa bersalah karena tidak bisa membahagiakan istrinya kini tumpah begitu saja.


Sebelum menghilang, Bu Seruni memeluk Pak Rohmat yang menangisinya. “Pak, aku sayang Bapak, sayang Putri kita.. Jaga Putri kita, ya.. Selamat tinggal..”


....


Almarhum Bu Seruni yang dianggap meninggal karena bunuh diri, kini telah berhasil di luruskan. Putri Pak Rohmat pun berhenti di bully. Berkat sidik jari di tongkat itu, pelaku berhasil di tangkap pihak berwajib.


“Lalu, yang katanya harta karun itu apa?” tanya Malam manyun. Sengaja dia mengambil alih tubuh Mala hanya demi mengomel.


“Kenyataan bahwa Bu Seruni tidak mati bunuh diri adalah harta karun bagi keluarga Pak Rohmat, kan..” tukas Feiz.


“Bukan itu saja..” potong Devin. “Di dalam surat-surat itu terdapat kartu asuransi dengan premi tinggi. Jika di klime , aku pikir mereka bisa mendapat beberapa ratus juta. Apa lagi Bu Seruni terbukti meninggal karena kecelakaan..” terang Devin tenang.


“JA.. JADI BENERAN ADA HARTA KARUNNYA!!”

__ADS_1


.


.


__ADS_2