
HATCCHHIIHH..
Sejak dia menyelidiki hubungan Feiz, Mala dan Devin yang membuatnya kehujanan seharian, Sasha terserang flu parah. Hampir sepanjang hari dia bersin dan demam ringan. Meski dia masih sanggup berangkat sekolah, di tengah jam pelajaran dia memilih izin ke UKS karena demamnya semakin tinggi. Dia tidak bisa konsentrasi pada pelajaran yang sedang berlangsung.
Di tengah jalan, dia berpapasan dengan Devin. Si KETOS bermuka batu itu melintas tanpa sapa dan tegur. Dia malah sibuk dengan beberapa lembar kertas kerja yang dia pegang.
“Selamat siang, Dev..” sapa Sasha dengan suara renyah yang selalu di puji warganet tapi nihil. Pria itu sama sekali tidak bergeming dari kertas-kertas itu.
“Ih.. ngeselin banget.. Apa dia gak ngelihat pesonaku..” ocehnya lalu mengamati pantulan wajahnya di kaca lemari jam antik di dekatnya.
“Eh, sejak kapan lemari jam ini ada disini..” sebelum pikiran Sasha habis, sesuatu membentur, bukan memukul tengkuknya dengan keras. Lalu, Dia kehilangan kesadara.
...
Mata Sasha terbuka. Namun, kegelapan yang dia dapatkan.
“Aku ada dimana?” tengkuknya terasa sakit.
Dug.
Siku yang ingin menyentuh tengkuknya terantuk sesuatu seperti dinding.
“Apa ini?” keluh Sasha. Dirabanya tempat dia duduk. Ternyata, dia berada di ruangan gelap dengan lebar yang tidak lebih dari 1 meter persegi.
“Hei, apa-apaan ini.. keluarkan aku..!!” teriaknya dengan menggedor pintu sekeras-kerasnya.
“Buka pintunya!! Ini gak lucu..!! Cepat buka pintunya..!!”
Sampai beberapa saat dia menggedor dinding gelap itu, akhirnya menyerah karena lelah dan demam tingginya.
“Maaf, gadis muda, aku pinjam tubuhmu sebentar..” kata seseorang dengan wujud tubuh Sasha di depan lemari jam antik itu.
Tubuh itu melenggang meninggalkan lemari jam yang memerangkap Sasha di dalamnya.
...
Bel tanda istirahat berbunyi.
Semua kelas terlihat menghentikan kegiatan belajar mengajar.
Mala mengikuti teman-temannya untuk ke kantin sekolah.
“Sasha bikin tutorial make up natural look yang cocok untuk pelajar, nih.. lihat..” pamer Putri menunjukkan gawainya.
“Sasha?” tanya Mala.
“Ah, Mala tidak tahu tentang Sasha ya.. Sasha Imelda itu beauty vlogger nya sekolah kita...” jelas Resti.
“Seperti Zee, ya..”
“Kalau Zee hanya mengunggah kegiatan sehari-hari. Kalau Sasha lebih ke tema kecantikan seperti review kosmetik atau tutorial make up..” jelas Resti.
“Ah, dia anaknya..” tunjuk Putri.
Mala mengarahkan pandangannya ke telunjuk yang di arahkan Putri. “Hari ini dia kelihatan pucat, ya..”
Sasha, gadis yang dimaksud terlihat berjalan dengan langkah agak terseret.
“Kamu benar. Dia sedang sakit..” kata Mala menyetujui.
...
__ADS_1
Setelah sekian lama menjadi penghuni hantu lemari jam antik, aku merasa kurang leluasa dengan tubuh manusia ini.
Tetapi tekatku telah bulat. Aku akan membalas perbuatan manusia yang telah menghancurkan lemari jam yang menjadi rumahku.. aku bersumpah.
Wajah itu...
Benda mengerikan yang mencincang lemari jamku itu...
akan selalu aku ingat..
Dan hari ini, tiba juga hari untuk pembalasan.
Tetapi, ada begitu banyak manusia di sini dan tidak ada yang aku kenal. Bagaimana caraku membalas dendam?
Bodohnya aku.
Bahkan saat aku melihat tubuh dengan energi kehidupan yang menipis, tanpa pikir panjang, aku menampakkan diri dan menjebak dia agar aku bisa meminjam tubuhnya. Tetapi sekarang, aku malah terjebak di tempat penuh manusia ini.
“Hei, video kamu keren..”
“Kamu cantik banget..”
“Minta WAnya dong..”
Berturut-turut para manusia itu memberondongku dengan pertanyaan yang tidak aku mengerti.
“Hentikan tindakan kalian..” cegah seseorang bertubuh tegap dan berkulit agak gelap. Terlihat maskulin. Suara baritonnya juga menambah nilai plus pada dirinya.
“Tindakan kalian yang bergerombol sangat mengganggu ketertiban..” lanjutnya. Melihat siapa yang berbicara, semua manusia yang berkumpul serempak membubarkan diri.
“Kemampuan macam apa itu? Hanya dengan berbicara saja bisa mengusir mereka” komentarku tanpa sadar.
“Itu adalah kemampuan alami Ketua OSIS..” jawab
Oops, aku keceplosan mengomentari..
“Aku melihatmu berjalan ke ruang UKS. Kamu sakit?”
“I.. iya.. “ jawabku. Mungkin ini alasan gadis ini punya energi kehidupan yang tipis. Karena dia sakit.
“Sekarang apa sudah mendingan?”
“I..Iya..” lagi-lagi aku Cuma bisa menjawab begitu.
“Tetapi wajahmu masih sangat pucat. Apa benar baik-baik saja?”
“Em, sejujurnya aku masih sakit. Tetapi..” Aku bingung mau mencari alasan.
“Tetapi kamu lapar?” tebak Devin.
“I.. Iya. Aku lapar..” sahutku menyetujui.
Manusia itu menyerahkan sesuatu kepadaku. “Ambil roti ini dan kembali ke UKS” perintahnya.
Aku menurut. Aku terima benda empuk berbungkus sesuatu yang bening yang di sebut roti itu di tanganku lalu melangkah.
...
Di tengah rasa pusing dan lemas karena sakit itu, Aku mendengar suara langkah tenang dan suara percakapan antara laki-laki dan perempuan.
Laki-laki itu bersuara bariton yang sangat familiar. Suara Devin. Sementara yang perempuan itu menyerupai suara milikku.
__ADS_1
Kugedor dinding sekuat tenaga. Mencoba memberi sinyal.
“Sasha, kamu tidak apa-apa?” tanya suara yang mirip Devin.
Sasha? Apa maksudnya? Aku ada di sini!!
“Maaf, ini pasti karena aku sakit..” balas suara yang mirip suara Sasha.
Dap..
Sesuatu terdengar seperti suara tangan yang menampar atau membentur dinding.
“Kyaa!!!” suara mirip aku menjerit. “Apa-apan tanganmu. Jangan menyudutkanku di tembok!!” protes si suara miripku.
Pikiranku memproses maksud dari suara-suara itu.
Suara tamparan di tembok..
Tangan yang menyudutkan didinding..
Jangan-jangan, KABEDON!!!
Seseorang dengan suara (mungkin juga aku karena tadi dia memanggil Sasha) mirip, di kabedon Devin! Tidak bisa di maafkan!!
Kabedon Devin itu punyaku!!!!!
...
“Begini cukup?” tanya Devin yang berhasil menyudutkan Sasha.
“LEBIH DARI CUKUP..” jawab seseorang yang sebelum Sasha sadar siapa, kilatan cahaya mengenainya Sasha dan hantu yang merasukinya keluar lalu kembali ke lemari jam.
Tubuh Sasha pingsan dan terjatuh.
“Dasar.. masih ada saja hal aneh di sekolah ini..” gerutu Feiz sambil membantu Devin membopong Sasha.
“Itu kesalahan kalian Psycic pro, kan.. mengundang mereka dan sekarang hantu-hantu bandel seperti ini jadi bersarang di sekolah.. jangan mengeluh..” balas Mala kesal mengingatkan kembali tragedi romeo dan juliet yang mengundang semua hantu di kota ini.
“Maaf, maaf..”
Feiz menepuk lemari jam antik yang sebenarnya transparan dan hanya bisa di lihatlmereka bertiga.
Mala mengulurkan tangan berkonsentrasi menghipnotis. Tidak berapa lama, lemari jam antik itu menghilang. Tindakan itu membuat kagum Devin.
“Bukankah kamu bilang tidak punya ability?”
“Aku Cuma bisa mempengaruhi mereka. Ini tidak bisa di bilang ability..” kilah Mala.
“Lalu, apa yang harus kita lakukan dengan wanita ini?” tanya Feiz. Semua diam. Lalu,...
....
Sasha mengerjapkan matanya pelan-pelan. Begitu sadar sepenuhnya, cahaya lampu UKS menyambutnya.
“Kamu sudah sadar?” tanya perawat UKS.
“Si.. siapa yang membawaku kesini?” tanya Sasha.
“Devin. Kamu tahu, dia membopongmu loh.. Seperti putri saja. Apa kalian pacaran?” berondong dokter UKS.
Sasha terdiam. Wajahnya bersemu karena membayangkan adegan ala bridal style oleh Devin.
__ADS_1
“Ma.. mana mungkin..” kilah Sasha dengan malu-malu.