Alter Ego

Alter Ego
ROMEO AND JULIET


__ADS_3

WWHHAAAAA....


Jeritan Mala menyadarkan Atsushi.


“Feiz-niisan..” panggilnya.


“Maaf, menunggu lama.” Balas Feiz.


Atsushi menatap heran Mala.


“Mungkin ini orang yang dimaksud Feiz-niisan” batinnya.


“Mana, tuh si kurang ajar yang mengumpulkan para hantu” cari Mala sambil celingukan.


“Dia orangnya” tunjuk Feiz ke arah Atsushi.


“UUUAAAAPPPPPAAAA!!!!! BBBOOOCCCAAHHH!!!!!..” wajah Malam merah padam. Dia sama sekali tidak menyangka orang yang membuat kehebohan besar Cuma anak kecil. Tatapannya melotot galak membuat nyali Atsushi ciut.


“Hentikan, Malam. Saat ini ada hal penting yang harus kita lakukan.


Malam melengos tapi menurut.


“Mereka datang..” Feiz memberi peringatan.


Benar saja, sosok yang terlihat seperti gumpalan asap berisi makhluk astral berbagai bentuk mendekati mereka. Lebih tepatnya mendekati Atsushi. Membuat Atsushi gemetar.


Malam mengambil nafas kuat-kuat. Asap itu mendekat. Malam mengulurkan tangannya. Mulai membujuk mereka.


Feiz tidak tinggal diam. Dia duduk di depan altar. Dia keluarkan tasbihnya dan berdoa agar mantranya bisa di patahkan.


1..10..25..100..


Sedikit demi sedikit para makhluk halus itu mulai melepaskan diri. Terbujuk oleh Malam.


Bumi bergetar kembali. Malam terjengkal dan terhempas beberapa meter dari tempatnya berdiri.


Hantu berwujud menyerupai gorila dengan taring besar dan tajam menolak bujukan Malam. Dia menghambur ke arah Atsushi bersiap mencakarnya.


Tindakannya terhalang karena Feiz dengan sigap membuat perlindungan untuk Atsushi.


“Malam, kamu baik-baik saja?” tanya Feiz di sela doanya.


“Ya jelas enggaklah..” Malam bangkit. Kali ini dengan emosi yang memuncak, dia berteriak di depan gorilla itu sampai dia goril itu terpental jauh dan menghilang.


Masalah tidak selesai disana, macam-macam hantu terus berdatangan seolah tidak ada habisnya.


Mala hampir kewalahan sementara Feiz masih berusaha membalik mantra pemanggilan.


“Semua salahku..” batin Atsushi pilu memandang Mala dan Feiz.


Dia mengeluarkan sebuah bungkusan dari kantongnya. Bungkusan dari kulit itu berisi abu jenazah Romeo.


“Ka.. kalau kita menggunakan ini, semua selesai, kan? Mari kita gunakan” bujuk Atsushi.


“Bodoh!! Aku tidak akan menggunakannya bahkan jika nyawaku menjadi taruhannya. Sebab, dalam agamaku, bersekutu dengan setan itu perbuatan syirik!” tolak Feiz.


“Heh.. udah kayak kyai gadungan aja mulutmu, Feiz. Tapi, aku setuju. Aku tidak akan membiarkan para temanku yang manis-manis ini harus menundukkan kepala di depan bocah tengil macam kamu,dek” sahut Malam sambil membujuk genderuwo berbisul di depannya.


“Tetapi, ini tidak akan berhenti.. Ini hanya akan menyakiti kalian. Aku.. aku..” tangis Atsushi kembali pecah.

__ADS_1


“Tidak apa-apa. Jika kamu mengundang roh gentayangan di sini, berarti kamu juga mengundang ‘dia’ juga, kan” kata Feiz sambil tersenyum.


“Dia?” tanya Malam dan Atsushi nyaris berbarengan.


“Ah, dia datang..”


Semua langsung melihat kearah tatapan Feiz.


Sesuatu bergerak. Berbeda dengan makhluk astral yang mengerubungi mereka, benda ini berwujud.


Benda itu terbang menembus kerumunan makhluk astral.


“Juliet..” desis Malam.


Feiz melempar boneka Romeo ke arah Atsushi. Seolah paham, Atsushi memasukkan kembali bungkusan itu ke dalam boneka Romeo.


Boneka Juliet melesat bak meteor. Kecepatannya menyingkap kerumunan makhluk astral. Membuat pola garis lurus jika di lihat dari angkasa dengan mata indigo.


“Kemarilah, pengantinmu sudah menunggu..” kekeh Feiz.


Juliet menghambur ke arah Romeo membuat Atsushi mundur beberapa meter.


“Hei Romeo dan Juliet. Kalau kalian menolongku, aku akan memenuhi permintaan terakhir kalian” bujuk Feiz. Sekilas matanya melihat ke arah Malam. Dua boneka itupun melihat ke arah Malam lalu berbalik ke arah Feiz dan mengangguk.


Malam sempat kebingungan tapi pikirannya teralih oleh beberapa hantu pocong dan kuntilanak yang mendekat.


Kedua boneka itu melayang menghadap ke arah kerumuman hantu yang mendekat. Lalu, wujud mereka perlahan berubah. Menjadi sosok manusia berbaju pengantin. Cahaya terang berpendar keluar dari tubuh mereka. Cahaya itu juga mendatangkan angin kuat yang menghancurkan altar tanpa sisa dan perlahan-lahan membubarkan kerumunan hantu membuat Malam yang kelelahan terduduk mengambil istirahat.


Bahkan cahaya dan angin itu juga menyingkap awan gelap di sekolah. Celah-celah cahaya mulai bermunculan dilangit.


Ketiga manusia itu menarik nafas lega. Para hantu telah lenyap. Semua berakhir.


“Kami tunggu janjimu”


Feiz hanya mengangguk pelan.


....


Sejak hari itu, semua kembali seperti sedia kala.


Atsushi memutuskan Untuk kembali ke jepang. Makanya, Mala dan Feiz mengantarnya sampai bandara.


“Lain kali jangan melakukan hal bodoh. Itu pesan saudariku” kata Mala kepada Atsushi.


Atsushi tampak menunduk menyesal.


“Gomennasai..” gumamnya lirih.


“Kali ini, apa rencanamu?” tanya Feiz.


“Mungkin aku akan kembali ke gunung Gokkun.”jawab Atsushi. “Nii-san, maaf sudah merepotkanmu”


“Aku mengerti. Lain kali jangan kamu lakukan lagi.”


Terdengar suara dari speaker memberi tahu bahwa pesawat yang akan di tumpangi Atsushi akan segera berangkat.


“Sayang sekali, aku tidak bisa melihat upacaranya. Nee-san pasti cantik sekali nanti..” ucap Atsushi setelah berpamitan dengan Mala.


Mala menelengkan tidak mengerti maksud pembicaraannya.

__ADS_1


“Upacara apa?” tanya Mala setengah bergumam.


“Upacara untuk memurnikan Romeo dan Juliet. Kamu mau lihat?”


“Mau!!”


“Upacaranya seminggu lagi. Pastikan kamu siap.”


Mala mengangguk antusias. Merekapun melangkah pulang.


...


Yah, sekarang mungkin bisa dibilang aku terlambat menyadarinya.


Tentang kenapa dia begitu ngotot menyeretku ke dalam masalah ini.


Tentang kata-kata manis Feiz bahwa dia adalah orang yang berharga.


Tentang tatapan aneh boneka Romeo padaku sebelum membantu kami.


“PERNIKAHAN?!!” pekik Mala mendengar penjelasan dari Feiz tentang cara memurnikan kedua boneka.


“Kenapa gak ngomong sebelumnya, Uban?!” geram Mala bersiap mencekik pria menyebalkan di depannya. Tetapi tertahan karena mbak-mbak make up sedang sibuk mengulas sejumlah make up aneh dan tebal.


“Ini gaya kabuki dari beijing” terang Feiz sambil melenggang penuh gaya dengan baju khas cina dominasi warna merah dan make up tebal nyaris seperti topeng. Sama seperti Mala.


“Bodo amat dengan kabu.. atau apalah itu.. kenapa kamu gak ngomong sebelumnya?”


“Kalau aku ngomong, emang kamu mau?”


“Tentu saja gak!!”


“Makanya, kan”


Kepala Mala seperti uap panas yang mendidih. Warna mukanya sampai ikut memerah membuat mbak-mbak yang merias merasa perlu menambah make up.


“Semangatlah... Bagaimanapun, ini permintaan Romeo dan Juliet.” Terang Feiz. Mala hanya bisa menggembungkan wajah kesal tapi di tabok mbak-mbak perias. Mala kalah.


Penikahan pun di gelar. Hanya Mala, Feiz dan yang mengejutkan ada Ustad Hasan dan Kepala Sekolah sebagai tamu.


“Kenapa pak Kepsek ada disini?!” tanya Mala kaget.


“Sebenarnya aku satu almamater dengan Ustadz Hasan di bangku kuliah dulu..” terang pak Kepsek yang disambut anggukan setuju Ustadz Hasan.


“Jangan-jangan, Bapak juga yang memberi informasi Feiz soal masalaluku” tuduh Mala. Karena di sekolah itu, Cuma pak Kepsek yang mengetahui latar belakangnya.


Pak Kepsek terlihat gelagapan menyembunyikan dosanya. Membuat Mala hampir meledak marah.


“Sudah sudah, Mala.” Feiz mencoba menenangkan. “Aku yang meminta beliau karena Cuma kamu di sekolah yang punya kemampuan indigo yang kuat. Makanya aku tertarik kepadamu.” Feiz menyerahkan foto yang dimaksud kepada Mala. “Sekarang aku tidak membutuhkannya. Terima kasih untuk bantuanmu.”


Feiz tersenyum. Senyum yang menawan dibalik makeup mengerikan itu.


“Nah, ayo kita mulai. Ima matteiru yo (sudah nunggu nih!)” kata sebuah suara dari dari tablet milik Ustadz Hasan.


Ternyata suara itu dari Atsushi lewat Video call.


“Atsushi..”


Mereka berduapun memulai upacaranya.

__ADS_1


...


__ADS_2