
“Tapi kamu selalu punya aroma yang mengundang masalah untuk datang, ya..”
Feiz terperangah. Malam ada di depannya mengambil alih tubuh Mala.
“Kamu bicara apa pada Mala?” tanya Feiz dengan tatapan menuduh.
“Kamu memang selalu membawa masalah, kan? Contohnya itu..” Malam mengedikkan kepala ke arah Angga yang menghampiri dengan tergopoh-gopoh.
“Hoi.. dengar...!!” serunya menghampiri. Malam dan Feiz mendekat ke arahnya.
“Di sana adalah TKP pembunuhan. Seseorang telah terbunuh..”
Semua kecuali Malam terlihat terkejut.
“Polisi itu bilang, seorang pria ditemukan tak bernyawa di bawah patung arca itu. Katanya, dadanya tertusuk benda tajam...”
“Wah, seram..” Putri terlihat ketakutan. “Kita pulang, yuk..” ajaknya yang langsung menyambar tangan Resti.
“Kemana kata-kata sok beranimu mau melindungi Mala tadi..” ledek Resti yang kesal di seret -seret.
“Sebaiknya kita pulang saja. Nanti kita bisa di seret dalam masalah..” ajak Feiz. Berbisik, Feiz berkata. “Kita perlu bicara malam ini” kepada Malam.
...
*Seorang pria di temukan tidak bernyawa di bawah arca setinggi tiga meter di gerbang desa.
Mayat itu di temukan pukul 06.30 wib tepatnya oleh beberapa pelajar yang mau berangkat sekolah.
Menurut polisi, kematiannya terjadi 7-8 sebelum di temukan.
Di dada sebelah kanannya terdapat luka tusuk sedalam 8 cm. Selain itu tidak ada tanda-tanda perlawanan.
Korban bernama Sudarto (39) pekerjaan sebagai penjual kambing.
Menurut kesaksian keluarganya, korban pergi keluar saat ba’da isya untuk bertemu teman-temannya di warung kopi Bu Inem. Tempat biasa korban main*.
...
“Cuma itu informasi yang aku dapat..” kata Feiz mengakhiri informasinya.
Hari menjelang tengah malam saat keduanya bertemu di gazebo taman.
Semua anak-anak lainnya sedang asyik bercengkerama dengan Bli Adry di dalam vila
“Ternyata, kamu bisa juga jadi detektif..” puji Malam. “pertanyaannya, kenapa harus di depan arca dengan si tinggi itu..” pikir Malam. Yang di sebut si tinggi adalah sosok hantu bermata merah setinggi pohon kelapa yang dilihat Mala.
“Jadi, kamu juga melihatnya..”
“Tentu saja, Ini yang membuat Senja negatif thingking ke kamu”
“Ini juga karena kamu mengatakan yang tidak-tidak ke dia..” balas Feiz. “Ah, padahal aku Cuma mau balas budi..”
“Lalu, apa ini ada hubungannya dengan hantu itu?”
“Aku rasa dia tidak terlibat”
__ADS_1
“Kenapa? Semalam dia yang berteriak dan memicu lolongan anjing”
“Aku kenal hantu itu tiga tahun yang lalu. Dia adalah penjaga di desa ini. Bahkan arca itu ada untuk memperingati keberadaannya..”
“Terus teriakan itu? Apa dia punya kebiasaan berteriak?”
“Entahlah... “
Keduanya berfikir keras. Pembahasan berakhir buntu.
“Besok aku akan ke sana. Aku harap si Tinggi itu tipe yang enak di ajak ngobrol..”
Saat akan melangkah kembali ke vila, terdengar lagi suara raungan keras di susul lolongan anjing yang sahut menyahut.
“Lagi..!!” omel Malam kesal.
“Aku akan arca”
“Aku ikut..”
Keduanya pun berlari di tengah gelap malam menuju ke arca di gerbang desa.
Dan seperti yang mereka khawatirkan, seseorang telah terbunuh di sana.
Hantu setinggi pohon kelapa itu, terlihat menundukkan. Kepalanya mendekat ke arah mayat yang berada persis di bawah arca.
“HOII.. APA YANG KAMU LAKUKAN!!”
Feiz berteriak sembari mengeluarkan tasbih saktinya.
“Aku akan bertanya kepadanya seperti rencana awal. Kamu segera telepon polisi...”
Malam mendekat dan berbicara beberapa saat. Sambil menelepon polisi, Feiz melihat obrolan berjalan tenang. Tidak alot seperti yang di bayangkan Feiz.
Tidak berapa lama Malam kembali.
“Hantu itu tidak ada hubungannya. Dia hanya marah karena tempat tinggalnya telah diusik. Dia bilang ada manusia yang menyeret mayat itu ke sini dalam kondisi tidak bernyawa.”
“Manusia? Manusia seperti apa?”
“Dia hanya bilang, manusia itu memakai penutup kepala bermotif batik saat membawa mayat dan meninggalkan benda ini..” tunjuk Malam pada sebuah benda di tangannya.
“Penutup kepala batik? Jangan-jangan blangkon...”
“..atau Udeng..” tambah Malam.
“Maksudmu, kamu mau menuduh Bli Adry?” ketus Feiz. Namun, kata-kata Malam benar. Membuatnya menunduk. “Lalu, benda ini..”
“Dia sangat ceroboh, ya..” kekeh Malam.
...
Polisi datang 30 menit kemudian.
Selain melakukan pemeriksaan dan olah TKP, Malam dan Feiz juga diinterogasi oleh polisi. Malam berbohong kalau dia kehilangan antingnya untuk mengelabui polisi.
__ADS_1
Saat pemeriksaan berakhir, hari sudah menjelang subuh. Bli Adry dengan rambut yang masih acak-acakan menjemput Malam dan Feiz. Kelihatannya dia baru bangun tidur dan kemari tanpa bercermin dulu.
...
Saat fajar menyingsing, beberapa pria dari desa menghampiri vila dengan wajah marah. “Pasti kamu, Dry yang telah membunuh 2 warga di sini..” tuduh mereka kepada Bli Adry. Meski Bli Adry membantah keras tuduhan itu, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa ketika mereka menggelandang dia ke balai desa.
Malam dan teman-temannya hanya bisa menyertainya.
...
Di balai desa, terlihat para warga telah berkumpul. Tatapan tajam mereka terarah kepada Bli Adry.
“Pasti dia yang membunuh 2 warga di desa ini untuk di jadikan tumbal dewanya..!!” tuduh seorang pria di sambut sorak setuju dari warga yang berkumpul.
“Dia satu-satunya yang beragama hindu yang suka menyembah patung. Pasti teman kita dia jadikan sesembahan!!” lanjutnya semakin memanaskan situasi. Warga yang terprovokasi sampai ada yang melempar kerikil kecil ke arah Bli Adry sampai polisi setempat harus memberi peringatan.
“Itu tidak benar. Bli Adry tidak menyembah patung. Dia hanya berdoa di depan Sanggah..” bantah Bli Adry.
Sorak makian terus menyerang Bli Adry membuatnya semakin pucat tak berkutik.
Polisi pun turun tangan. Feiz mencoba mendekati Polisi untuk bernegosiasi.
Polisi mengangguk-angguk lalu, di depan para warga yang berkumpul, Polisi melakukan interogasi.
“Antara pukul 21.00 – 01.00 wib selama dua hari belakangan, apa yang anda lakukan?”
“dua malam sebelumnya saya menyiapkan makanan untuk sarapan tamu saya. Kalau kemari...”
“Dia bersama kami sampai tengah malam. Ini buktinya..” dengan memberanikan diri Amin menunjukkan foto Bli Adry yang tertidur di kursi lalu beberapa video mereka yang di rekam semalaman.
“Lalu, untuk alibi 2 malam sebelumnya?”
Feiz maju “Saya menemaninya di dapur. Lalu, mengobati luka Bli Adry.” Jelasnya membungkam si provokator.
Provokator terlihat kelabakan. Namun, masih terlihat merasa kuat.
Dengan percaya diri, dia mendekati Bli Adry. Membuatnya berada di tengah-tengah kumpulan warga.
“Orang ini satu-satunya orang hindu. Dia berbeda agama dengan kita. Kita tidak tahu jangan-jangan dia pakai ilmu gaib untuk membunuh orang..”
“Maaf, pak..” sela Malam. “Saya baru tahu kalau ilmu gaib bisa membunuh orang dengan luka besar. Ah, ngomong-ngomong apa ini punya bapak?” tunjuk Mala pada cincin akik yang tergeletak tak jauh dari tempat provokator. “Ah, ini punya saya. Saya pikir hilang...”
“Cincin yang bagus...” puji Mala.
“Tentu saja. Ini batu langka dan sangat cocok dengan blangkonku. Cuma aku pemilik satu-satunya..” jawabnya bangga.
“Jadi benar, ini milik anda?” kali ini Polisi yang bertanya. “Cincin ini di temukan di dekat mayat semalam. Dan menurut tim forensik kami, di situ tidak ada sidik jari korban. Namun, kami menemukan sidik jari lain. Bisa ikut kami ke kantor polisi..”
Pria provokator yang semula masih berada di atas langit langsung pucat saat di giring polisi.
...
“Untung anda memberitahu saya Tuan Feiz..” kata Bli Adry. “Dia adalah pak Kusno. Orang yang sangat ingin mengambil alih vila kami. Tidak kusangka dia akan menggunakan cara kotor untuk menjebakku. Sekali lagi terimakasih, Tuan Feiz dan tentu saja anda Nona Mala..”
...
__ADS_1