Alter Ego

Alter Ego
Kejutan


__ADS_3

Wajah Arrabell menjadi pucat menyadari dia mual-mual, ingatannya langsung terbang pada dugaan kalau mungkin dia sedang hamil..


Dimitri di belakangnya mencoba menenangkan Arra dengan gerakan lembut, mengusap punggung Arrabell...


''Sayang....apa yang terjadi...''


Arrabell menyentuh perutnya, dia sudah tak bisa makan apapun karna rasa mual ini semakin kuat saja...ia menatap wajah Dimitri dan membeku, apakah dia benar-benar sedang hamil...tidak mungkin...


''Ayo kita ke rumah sakit saja Arra..''


''Tidak......aku baik-baik saja..''


Arra memutuskan untuk tidak percaya, mungkin dia hanya masuk angin, menyadari kalau seharian ini dia bermain di wahana permainan, dia telat makan dan mual...bukankah itu hal yang biasa...


''Ayo...bagaimana kalau kita pulang saja..''ajak Arra mendadak hilang mood...


Vina menghampirinya bersama dengan dua sahabatnya,...


''Arra...lebih baik kau pulang saja istirahat..''


''Yah...bukankah kita akan bertemu di kampus nanti..''ucap Sinta juga khawatir.


''Yah...terimakasih..kalian baik sekali padaku, baiklah mungkin besok pagi Dimitri akan mengantarku ke kampus..''


''Yah..kami akan menunggu kabar darimu..''ucap Vina lalu memberi pelukan pada Arra juga dua temannya..


Mereka pun pamit pergi meninggalkan Arra bersama Dimitri..


pria itu lantas menuntun Arra meninggalkan tempat itu dengan segera karna wajah Arra semakin pucat..


Di atas mobil ketika mereka hendak pulang....mual Arra semakin parah hingga mau tak mau Dimitri tetap membawa Arra ke rumah sakit meski gadis itu tidak setuju...


Mereka sampai di ruangan dokter dan hasil tes sesaat kemudian mampu membumkam seorang Arrabell juga Dimitri..


''Selamat nyonya...anda di nyatakan Hamil..usia kandungannya 8 minggu, jadi aku harap nyonya dan tuan memperhatikan tumbuh kembang bayi dengan makan makanan yang bergisi, hindari stress dan jangan terlalu beraktifitas fisik yang membuat resiko..''


Untuk beberapa saat sang dokter mulai mengatakan beberapa hal sebagai panduan bagi ibu hamil, tanpa menyadari kalau Arra begitu syok...hal yang paling dia benci adalah Kenan, dan kenyataannya adalah dia sedang hamil anak Kenan...Arra bukan tidak terima dengan anaknya, namun dia takut Kenan akan menguat lalu ia akan terbangun dan itu artinya Dimitri akan tertidur..tidak...dia tak ingin kehilangan Dimitri..


''Bagaimana bisa aku hamii.'' kata-kata yang cukup aneh itu sontak membuat Dokter juga Dimitri terkejut..


Dimitri merangkul Arra dan mencoba menenangkan..


''Sayang..apa yang kau katakan ini...apa yang sebenarnya kau pikirkan..''


'Yah...mengapa aku harus hamiil...''


Ucapan Arra membuat dokter tampak bingung dan Dimitri harus menjelaskan situasi mereka..


'Maaf..dokter, sebenarnya kami menunda ingin punya anak jadi istriku sedikit syok..''


''Aku mengerti tapi jangan lupa....anakmu bisa merasakan penolakanmu sebagai ibu..jadi...tolong jangan membuat janin anda sedih..''


''Maaf dokter...''Dimitri tersenyum pasrah..


*************


Sepanjang perjalanan pulang, Arra meminta mereka berhenti di sebuah taman kota di malam hari, dia tidak bicara sesuatu setelah keluar dari dalam mobil, Arra tampak gusar.. sampai dia menghentikan langkahnya...


''Sayang.......''


Arra menatap Dimitri dengan tajam....


''Setiap melihat wajahmu aku malah mengingat Kenan...aku tak bisa menahan perasaan benciku Dimitri...aku harus bagaimana..''suara Arrabelle terdengar sedih..


''Arra..pikirkanlah..tubuh kami satu itu artinya kau sedang mengandung anakku dan Kenan..''

__ADS_1


''Tidak..tapi di pikiranku hanya ada Kenan...aku takut dengan kehamilanku dia muncul dan mengendalikanmu Dimitri.....aku tidak bisa menerimanya..''


''Arra.....aku harus bagaimana....Kenan sudah menyatu denganku aku sama sekali tidak bisa menyingkirkan dirinya...aku juga tak bisa mengendalikan diriku sendiri dan tak bisa menahan jika dia ingin kembali..''


''Karna itu membuatku gila Dimitri....aku ingin hidup normal....aku tak ingin terus hidup di dalam ketakutanku.....''


Dimitri mengangguk, ia kemudian memegang bahu Arra dan menatapnya tajam...


''Apa yang kau inginkan sayangku, katakan apapun yang akan membuatmu nyaman...aku akan berjanji melakukanya untukmu..''


''Jangan berjanji tapi bersumpahlah kau akan menyetujui keinginanku..''


''Aku bersumpah....''


Arra menarik nafas....dia menatap wajah Dimitri lekat-lekat...sesungguhnya ini keputusan yang tepat...


''Kau tau aku hidup menderita selama ini dengan alter egomu..''


''Yah.....aku minta maaf membawamu dalam kekacauan ini Arra..''


''Aku merasa aku akan menjadi gila jika kita tetap hidup bersama dan aku yang selalu ada di dalam ketakutan..''


Dimitri memincingkan matanya dia terlihat serius.


''Apa maksudmu..''


''Aku ingin berpisah...aku ingin tinggal sendiri, aku ingin menenangkan diriku dan jauh darimu juga Kenan membuatku merasa lebih baik Dimitri..''


''Arrabell....''


''Yah....kau tau selama ini yang aku rasakan Dimitri...aku benci...aku sangat benci pada pribadi Kenan....aku takut dia kembali aku tidak mau...jadi selagi dia belum kembali Dimitri...aku mohon padamu...lepaskan aku...aku ingin tinggal sendirian....tanpa bayanganmu..''


''Arrabell...kita baru saja menikah aku tak akan menceraikanmu..''


''Aku tak bisa hidup denganmu lagi Dimitri..''


''Karna itu...jika kau ingin anak ini selamat dan aku baik-baik saja maka tak ada alasan untuk melarang aku pergi...''


Dimitri menghela nafasnya, sungguh ucapan Arra sanggup menjungkir balikan dunianya...di kehamilannya Arra meminta perpisahan..


Dimitri memandang ke sekeliling taman dan menghela nafas berat..dia menatap Arra dengan pandangan dalam..yah..dia tau benar bagaimana rasanya menjadi Arra..di masa mudanya dia menghadapi kehamilan yang tidak mudah...apalagi harus menghadapi dua pribadi sekaligus membuatnya gila..


Dimitri tampak iba..dia tak ingin menjadi egois dengan tetap mempertahankan Arra meski Arra menunjukan dia tidak bahagia sedikitpun..


Dimitri hanya menghela nafas....bagaimana pun ini demi kebaikan bayi mereka...dia akan mengalah...pria itu memegang kedua bahu Arrabell dengan erat dan tersenyum..


''Bagaimana kalau untuk sementara waktu kau tinggal di apartemen...aku akan mengirim pelayan perempuan untuk menemanimu disana...Gavin akan mengunjungimu untuk membawakan apapun yang kau inginkan...asal jangan meminta perceraian....aku tak akan muncul di hadapanmu sampai kau yang menginginkan aku kesana...''


Hening.......


Arrabell berpikir sebentar....lalu mengangguk patuh...ia tersenyum kembali...


''Dimitri...sikapmu yang seperti ini membuatku jatuh cinta...terimakasih kau mengerti aku Dimitri..''bisik Arrabell dengan mata yang basah.


Dimitri mengangguk walau dia juga sedih, pria itu meraih tubuh Arra dan mendekapnya dengan erat...


''Jangan pergi kemanapun tanpa pelayanmu Arra...aku akan mengawasimu lewat cctv..''


''Baiklah....asal kau tidak muncul saja di hadapanku...aku lega...Dimitri..''bisik Arrabell tersenyum.


''Kehamilanmu aneh sekali...apakah anak itu juga membenciku...''bisik Dimitri tertawa..


''Tidak...dia tidak membencimu tapi dia membenci Kenan sama seperti aku..''


Sementara memeluk, Dimitri mulai merasakan kehadiran Kenan yang menguat...astaga,....mengapa disaat seperti ini...?

__ADS_1


Dimitri memejamkan matanya....


Seakan dia sedang berbicara dengan alter egonya sendiri..


''Jangan pernah melepaskannya Dimitri...atau aku tak akan mengampunimu,........''Kenan berteriak keras...


Dimitri berusaha menepis kekuatan Kenan yang mulai ingin menguasainya..


''Dia perlu kebebasannya Kenan...kau bahkan tidak tau caranya mencintai...''


''Dia milikku dan aku berhak bersamanya...kau tidak pantas Dimitri...''


''Aku tak akan membiarkanmu menyakitinya lagi...''


''Oh...yah....liat saja nanti..''desis Kenan menguat..


''Arrgghhtt........''


Dimitri mengerang lalu dengan cepat melepaskan pelukannya dan memanggil Gavin...


Arrabell membeku melihat tubuh Dimitri jatuh di rerumputan di depannya...


''Dimitri.......''


Arra ingin mendekat namun Dimitri menggeleng...


''Arrabell....Kenan akan kembali, dia tau kau mengandung anaknya....pergilah bersama Gavin.....''


''Apa....''


Arrabell menjerit ketakutan, bersamaan dengan itu, Gavin mendatanginya dan menundukan kepalanya di hadapan Dimitri yang sedang tersungkur..


''Tuan Dimitri...''


''Lindungi nyonya Arra....Gavin...kau pasti tau dimana tempat yang aku maksud...''


''Yah.....aku mengerti tuan..''


Gavin mendekati Arrabell yang masih terkejut..


''Nyonya...sudah tidak ada waktu...ayo pergi..''


''Tapi Dimitri.....''


''Tuan akan baik-baik saja...jika tuan Kenan berhasil bangun maka anda tak akan pernah bisa lolos selamanya..''


Arra menggeleng takut...


''Yah....baiklah..Dimitri aku mencintaimu..''ucap Arrabell ingin menyentuh Dimitri namun dengan cepat Gavin menarik tangannya...


Membawa Arrabell pergi dari sana.....


Sementara....


Dimitri dan Kenan saling berjuang demi menguasai tubuh itu...


''Aku akan membawa Arrabell kembali...anakku....aku menginginkannya...'' teriak Kenan murka..


''Apa kau tidak salah bicara...Arrabell mengandung anakku....aku tak akan melepaskannya kepadamu...apa kau dengar itu..''teriak Dimitri keras,....


Tubuhnya tersungkur di rerumputan dan tidak sadarkan diri....


Hingga akhirnya.....


Mata pria itu terbuka dengan sempurna....

__ADS_1


''Arrabell................''


__ADS_2