
Mala bisa bernafas lega, sebab hari berikutnya, hantu yang menempel di tubuh Amin telah pergi.
“Kemarin aku ke Kelurahan desa setempat.” Kata Feiz.
“Lalu?”
“Putra Nenek itu, telah meninggal saat masih di perantauan. Mungkin dia meninggal jauh sebelum kematian Nenek” terang Feiz.
Mendengar penjelasan Feiz, Mala terdiam menatap langit.
“Apa Nenek sudah bertemu putranya, ya?”
“Pasti mereka telah bertemu..” ujar Feiz meyakinkan Mala.
Keduanya terdiam menatap senja yang berwarna kemerahan.
“Seberapa sakit seseorang jika kehilangan keluarganya?”
“Apa maksudmu? Tentu saja menyakitkan..” jawab Feiz.
“Iya, ya. Hehehe..” timpal Mala. Ada nada kegetiran keluar yang disadari Feiz.
...
Sepi dan hanya terdengar suara alat makan yang berbenturan. Begitulah, situasi makan malam di rumah keluarga Mala.
Ayah yang dingin tanpa banyak ekspresi, Ibu biasanya sangat ekspresif dan cerewet namun jika di dekatku, Ibu selalu tertunduk dan menahan bicaranya seolah melihat hantu, lalu kak Bian, saat kecil dulu dia sangat protektif kepadaku, tetapi sejak kembali dari RSJ dia selalu menghindariku.
“Beberapa malam ini, kamu sering keluar kemana?” tanya Ayah saat makan malam.
“Hanya ada janji dengan teman” jawab Mala sambil menyendok makanannya.
“Bukan karena saudarimu melihat hal aneh lagi, kan?” pancing Ayah.
“Ini tidak ada hubungannya dengan Malam, Ayah..” bohong Mala mencoba bersikap sewajarnya.
“Aku harap kamu tidak terlibat dengan hal-hal aneh lagi” tukas Ayah dengan nada sadar.
Sepi kembali.
Semua seperti itu bahkan sampai mereka selesai.
Dingin.
Itu yang dirasakan Mala sejak dia kembali.
Hari-hari di RSJ mungkin terasa berat dan kesepian. Tetapi, tidak dianggap oleh keluarga sendiri terasa jauh lebih kesepian.
...
“Mala, sayang.. minggu ini ada waktu?” tanya Feiz dengan wajah ada maunya pagi itu.
“Aku tidak mau”
“Aku belum ngomong..” protes Feiz merasa di dahului.
__ADS_1
“Semua yang berhubungan denganmu selalu membawa masalah..”
Feiz pundung seperti orang patah hati.
“Eh, apa ini voucher diskon menginap di villa?” tanya Amin sembari mengambil gulungan kertas yang sedari tadi di genggam Feiz.
“Kamu mau mengajak kencan Mala di tempat terpencil begini? Dasar bejat..” timbrung Angga.
“Bu.. bukan gitu.. kalian jangan salah paham. Gini-gini aku tuh anak alim” Feiz membela diri.
“Bro..” kata Amin dengan tatapan mata aneh. “ Tidak ada gadis SMA baik-baik yang mau dengan mudah diajak jalan, apalagi menginap berdua saja..” nasihatnya.
“Serahkan kepada kami..” tawar Angga.
Keduanya menoleh dengan tatapan sniper yang mendapatkan targetnya, ke arah Mala.
Leher Mala bergidik merasakan perasaan tidak enak.
...
Feiz Hasan. Dengan koneksinya yang luas sebagai Psicyc Pro, memiliki wajah tampan dengan rambut putih keperakan, senyum nakal namun menggoda dan entah dari mana dia selalu memiliki mobil sport mewah.
Membuatku, Malaikat Senja kerepotan karena sering dia seret ke masalah mistis.
Dia bersekongkol dengan Kepala Sekolahku yang ternyata dekat dengan Ustadz Hasan. Ustadz Hasan sendiri menurut pengakuan Feiz, adalah Ayahnya. Tetapi, Aku sama sekali tidak percaya. Figur wajah mereka sangat jauh berbeda. Apa lagi akhlaknya.
Hari itu pun, dia menggangguku dengan ajakan-ajakan yang menurutku terdengar seperti seruan menuju masalah.
Tetapi, sekali lagi aku terseret juga. Dengan membawa beberapa teman di kelas dan berbondong-bondong membujukku, aku kalah dan dengan bangga dia pamerkan senyum nakal mempesona miliknya.
Keheningan yang di barengi dengan denting kaku suara alat makan harus segera aku pecahkan.
Aku harus meminta ijin kepada kedua orang tuaku. Tetapi, lidahku terasa kelu.
Bukan berarti orang tuaku akan bersikap otoriter dan melarangku ikut teman-teman. Tetapi, rasa kelu di lidahku karena harus membuka suara dan menyiapkan hati dengan tatapan-tatapan mereka yang hanya demi mendengarku berbicara. Tatapan rasa peduli dan kasihan yang memuakkan.
Meski akhirnya aku berhasil mengatakannya, dan berhasil mendapat ijin. Tetapi, lidah kelu ini belum juga membaik.
...
Akhir pekan yang di janjikan pun tiba. Seperti janji Feiz yang akan menjemputku langsung di rumah, (yang entah dari mana dia tahu alamatku). Aku telah bersiap di teras rumah dengan sebuah koper munyil tas punggung.
Ku mainkan syal tebal yang nantinya akan di gunakan di sana. Karena tujuan kami adalah villa di tengah pegunungan yang masih asri.
Kak Bian sedang mencuci motor di pekarangan rumah. Namun, aku menyadari tatapan curiga terus menerus ditujukan kepadaku.
Apa yang dia pikirkan? Orang gila yang sedang melakukan perjalanan? Apa dia khawatir aku akan kumat di tengah liburan dengan teman-teman?
Diiiinnnn...
Bunyi klakson mobil mengalihkan lirikan kak Bian.
Di jalanan depan rumah kami yang hanya muat dua mobil itu, berdiri sebuah mobil warna kuning dan terlihat mewah.
“T***TA ALPHARD!!” pekik Kak Bian karena takjub.
__ADS_1
Feiz turun dari mobil dengan elegannya.
“Mala! Maaf lama, ya? Aku harus jemput Putri dan Resti juga..” katanya sambil melambai singkat ke arahku. Tidak lupa senyum menyebalkannya.
“Selamat siang. Saya Feiz teman Mala..” katanya memperkenalkan diri kepada kak Bian.
“Seperti yang sudah di rencanakan, saya beserta teman-teman, akan menginap di villa. Mohon izinnya.” Lanjutnya dengan gaya penuh hormat kepada Kak Bian.
“Dia sangat tahu cara berbicara dengan baik layaknya penjilat” pikirku.
Aku menaruh barangku ke dalam bagasi mobil kuning itu.
Kulihat Feiz selesai berbasa-basi dengan Kak Bian dan berjalan ke kemudinya.
Aku sudah akan memilih masuk ke bangku kedua, tetapi sudah terisi oleh Putri, Resti dan Angga. Sementara bangku belakang ada Amin dan tumpukan barang bawaan. Kenapa tidak di taruh ke bagasi?
“Maaf, barang-barang kita agak banyak dan aku khawatir nanti rusak kalau di bagasi.” Terang Resti seolah paham apa yang di kupikirkan.
“Di depan aja. Di samping kemudi..” saran Putri.
Aku hanya mengiyakan.
Ngomong-ngomong, Aku dan Resti baru kali ini berbicara langsung sejak aku menjebloskan temannya, Agnes ke penjara.
Namun, hari ini dia mau berbicara denganku membuatku lega.
Aku duduk di samping kemudi.
“Sudah siap semuanya?” tanya Feiz sambil memasang seatbell.
“UWAAA.. KENAPA KAMU YANG MENGEMUDI!” pekik Mala melihat Feiz lah yang duduk di kursi kemudi.
“Ya karena aku yang mengemudi” jawab Feiz enteng.
“TETAPI..”
“Tenang saja. Aku bisa mengendarai mobil ini..”
“Siapapun bisa mengendarai mobil! Keselamatan! SIM apa kamu punya SIM?!”
Mengabaikan ocehanku, Feiz pun melajukan mobilnya dengan mulus.
“He.. kamu dapat dimana mobil mewah ini. Ngerentalnya pasti mahal, kan?” tanyaku setelah ocehan panjangku tentang keamanan berkendara tak terbukti.
“Ini mobilku sendiri”
“Bohong. Terus sport merah kemarin?”
“Mobilku juga..”
“Da.. dari mana uang sebanyak itu? Jangan -jangan kamu melakukan pesugihan, ya?”
“Mala, kamu terlalu banyak berfikir. Rileks sayang..” kata Putri.
“Eh.. heheh”
__ADS_1
“Bagaimana aku bisa rileks jika berada di samping pembawa masalah” batinku nelangsa.