Alter Ego

Alter Ego
Bunga di lampion


__ADS_3

Bli Adry sedang sibuk memotong-motong daging di dapur. Tidak sengaja jarinya teriris. Serta merta darah mengalir deras. Segera lukanya dia aliri air.


Di tengah keheningan malam dan gemericik suara air keran, dari telinganya tertangkap suara langkah kaki menghampirinya.


Ketakutan menyerangnya. Jantungnya berdegup kencang. Rasa takut yang sama seperti dulu.


“Bli Adry, apa yang kamu lakukan?”


Sebuah suara menyadarkan Bli Adry. Suara Feiz.


“Tuan Feiz..” serunya dengan nada lega. “Anda belum tidur?”


“Iya. Belum mengantuk. Kamu sedang apa?” tanya Feiz sambil mendekati Bli Adry. “Ah, tanganmu terluka..” Feiz langsung mencari kotak p3k di dapur itu.


Bli Adry tidak berkomentar sementara Feiz mengobati tangannya.


Suasana hening membuat Bli Adry canggung. Lalu, dengan ragu-ragu dia bertanya. “Gadis berambut ikal itu, saya lihat tidak menyukai anda, Tuan Feiz”


Feiz terkekeh kecil.


“Aku sudah menyeretnya ke dalam masalah yang pelik..”


“Mungkinkah, ada hubungannya dengan makhluk astral..”


“Ah.. kelihatan, ya?”


“Karena anda selalu seperti itu. Bahkan lima tahun yang lalu..” kenang Bli Adry. “Apakah gadis tadi juga memiliki kemampuan seperti anda?” Feiz hanya mengangguk sambil berkonsentrasi dengan tangan Bli Adry.


“Syukurlah. Sekarang ada seseorang yang memahami Anda..” kata Bli Adry dengan tulus.


...


Putri telah lebih dahulu tertidur. Tinggal Resti dan Mala yang masih membuka mata.


“Hei, Kamu dan Feiz sebenarnya ada hubungan apa? Kalian benar-benar akrab padahal sama-sama anak baru?” tanya Resti sambil memasang masker di wajahnya.


“Kita tidak ada hubungan apa-apa, kok. Dia Cuma cowok iseng saja”


“Dekat, atau bahkan pacaran juga, tidak apa-apa, kok. Aku rasa kalian berdua cocok. Terutama cara kamu memandangnya. Meskipun terlihat selalu sebal, kamu bersikap jujur kepada Feiz.”


“Ju.. Jujur bagaimana??” Tanya Mala kebingungan.


“Kadang aku melihat tatapan penuh curiga dan sikap menjaga bicaramu. Seolah banyak yang kamu rahasiakan. Bahkan tentang Agnes...” ucapan Resti terhenti.


“Maaf..” ucap Mala. Dia merasa sangat bersalah telah membuat Agnes di penjara.


“Tidak. Justru akulah yang harus berterima kasih..” potong Resti yang membuat Mala kebingungan. “Kenapa?”


“Sebenarnya, aku punya perasaan bahwa Agnes lah yang membunuh Anastasya..” katanya membuat Mala kaget.


“Buk.. Bukannya aku tahu apa yang terjadi. Tetapi, perasaanku yang mengatakan bahwa Agnes lah pelakunya. Tetapi, aku bahkan tidak punya cukup keberanian untuk membuktikan bahwa Agnes bersalah dan aku merasa, sebagai teman aku tidak bisa. Sejak itu, bayangan Anastasya dengan tubuh hancur selalu menghantui. Mungkin dengan ini, arwah Anastasya akan tenang..” air mata Resti terjatuh. Mala memeluk Resti, mencoba menenangkannya.


Mendengar pengakuan Resti, dada sesak yang selama ini dia rasakan karena menjerumuskan seseorang kini terasa lepas.

__ADS_1


Ggrrrrooaaaaaa...


Terdengar suara raungan keras menyerupai suara macan mengaum di tengah lolongan anjing yang bersahut-sahutan di kejauhan. Membuat Feiz menghentikan kegiatannya mengobati tangan Bli Adry.


Mala yang dikamar tengah menghibur Resti pun terkaget dengan raungan itu. Tetapi, kelihatannya raungan keras itu tidak di dengar Resti yang masih menangis.


Meski raungan itu terdengar kembali, Resti tidak meresponnya.


Malam yang tenang berubah menjadi mistis. Memaksa Feiz dan Mala mempersiapkan diri dengan kekuatan mereka.


...


Pagi-pagi, setelah sholat subuh, Mala mencoba keluar menghirup udara pagi.


Cuaca begitu dingin di vila itu tidak menyurutkan semangatnya menikmati keasrian vila.


Meski mood nya buruk saat bertemu Feiz, pemandangan indah bunga plumeria dan mawar serta makanan enak buatan Bli Adry benar-benar membuat Mala ketagihan.


Langkahnya terhenti di gazebo yang semalam di pakai teman-temannya makan malam.


Dibukanya snack dan teh kaleng yang dia bawa tadi.


“Wajahmu terlihat senang, Senja” tegur Malam.


“Malam, tumben beberapa hari ini kamu tidak muncul?”


“Kamu terlihat sangat senang sampai aku tidak tega menyela..”


“Baiknya.. yah, bisa di bilang aku menikmatinya. Sejak keluar dari rumah sakit jiwa, kehidupan kita hanya berkutat di rumah dan sekolah, kan?”


Mala termenung. Dia memang kaget. Tetapi, dia seperti sudah menyadarinya. Feiz pasti ingin menyeretnya ke dalam masalah.


“Wah, kamu sudah menyadarinya, ya.. Tenang saja, aku akan selalu melindungimu..”


“Aku tidak mau, kita dalam bahaya. Bila mungkin, kita menjauh saja dari masalah ini..”


“Ah.. Lagi-lagi Senja gak asyik, nih..”


Obrolan mereka terinterupsi karena kehadiran Bli Adry berjalan ke sebuah tempat berbentuk tiang berbentuk rumah kecil dengan ukir-ukiran yang rumit.


Bli Adry terlihat meletakkan nampan yang dia bawa dengan segelas kopi dan beberapa makanan ringan buatan rumah.


Dia terlihat menangkupkan tangan dan menyembah-nyembah di depan benda itu.


Mala menyaksikan tindakan yang menurutnya tidak biasa di gazebonya tanpa berniat menginterupsi.


Bli Adry selesai dengan kegiatannya dan melihat Mala.


"Sedang sembahya?" sapa Mala.


"Iya. Ini adalah altar yang di beri nama Sanggah. tempat saya sembahyang. Saya adalah satu-satunya orang hindu di kampung ini." cerita Bli Adry.


"Ah, sudah jam segini. Saya harus menyiapkan sarapan.." pamitnya lalu berjalan ke arah dapur.

__ADS_1


...


“Jalan-jalan...” seru Angga dengan semangat menggebu.


“Hoi, jalannya jangan cepat-cepat” protes Putri.


Keenam remaja itu akan berjalan-jalan dan melihat-lihat pedesaan.


Saat sedang seru-serunya berjalan mengelilingi desa, mereka di kejutkan dengan keberadaan polisi beserta beberapa warga yang mengerubungi sebuah arca patung.


Mala menyadari bahwa patung arca itu adalah arca dengan sosok hitam setinggi pohon kelapa.


“Eh, apa, sih.. apa sih?” Amin terlihat bersemangat.


“Yuk lihat” ajak Angga.


“Ayo.. ayo..” semua terlihat sependapat.


“Jangan ke sana..” larang Mala agak membentak. Membuat semua mata tertuju kepada Mala. Itu membuatnya gugup.


“Ada banyak polisi, bukankah itu artinya ada bahaya. Sebaik kita menjauh..” terang Mala mencoba meyakinkan kawan-kawannya.


“Apa, sih Mal.. Masak Cuma karena polisi terus kamu takut..” ledek Amin.


“Gak apa-apa.. Ayo...!!” dorong Putri.


Mereka pun sampai di sana dan mendapati garis polisi telah terbentang di sekitar patung. Terdapat pola garis putih di depan Arca. Jika di perhatikan pola itu seperti pola manusia yang tertidur.


Angga terlihat antusias dengan situasi itu. Dengan inisiatif sendiri, dia mulai berkeliling mencari tahu.


Mala diam-diam menyeret Feiz ke tempat yang jauh dari teman-teman lain.


“Ada apa?” tanya Feiz merasa kesal karena di seret-seret.


“Sebenarnya, apa alasan kamu mengajakku?”


“Tidak ada..”


“Jangan bohong.. Semalam aku mendengar suara aneh yang Resti tidak dengar. Aku yakin kamu tahu alasan dibalik suara itu.”


“Kalau itu aku juga tidak tahu..”


“Bohong..”


“Aku serius..”


Mala semakin kebingungan. “Ma.. Malam bilang ada bahaya yang mendekat..” ungkap Mala.


Feiz tertegun.


“Mala..” katanya dengan nada lembut. “Aku mengajakmu kemari Cuma untuk membuat kamu tenang dan sebagai reward karena sudah membantuku. Itu saja. Aku tidak berniat menyeretmu ke dalam masalah...”


“Tapi kamu selalu punya aroma yang mengundang masalah untuk datang, ya..” tekan Mala namun dengan nada dan gaya bicara yang berbeda. Yang membuat Feiz sadar. Di depannya bukanlah Mala tetapi Malam.

__ADS_1


...


__ADS_2