Ambil Bekasku, Mbak!

Ambil Bekasku, Mbak!
Perkara Lift


__ADS_3

"Ada apa ini?!" Suara menggelegar itu mampu mengagetkan Rania yang hampir ingin mendorong tubuh nya agar terjatuh ke lantai lagi. Wanita itu menatap ke arah sumber suara, matanya membelalak menyadari orang yang saat ini sudah berada di hadapannya adalah CEO di sini.


Begitu pula dengan Rasya, wanita itu tetap bangkit meskipun sekujur tubuh nya terasa sakit. Kakinya sudah terkilir akibat jatuh dan kini ditambah lagi cengkraman Rania dan dorongan nya hingga ke tembok membuat bahunya juga merasa sakit.


"Kau tidak apa-apa?" Laki-laki yang belum dikenal Rasya itu dengan khawatir menolong nya untuk berdiri. Tangan nya membantu menopang tubuh Rasya untuk bangkit namun langsung di cegah wanita itu. Dia teringat akan perkataan Saka yang menyuruh nya agar tak berdekatan dengan laki-laki sembarangan.


Sedangkan pria yang menjadi asisten CEO itu hanya melihat dari belakang mereka.


"Saya tidak apa-apa, pak. Terimakasih." Rasya sedikit tertegun melihat pria yang baru saja menolongnya. Dari segi perawakannya dan bentuk wajahnya sangat mirip dengan Saka. Hanya saja, wajahnya sangat jauh berbeda. Jika wajah Saka putih bersih tak ada jambang atau rambut apapun yang tumbuh di wajah. Berbeda dengan laki-laki itu yang hampir seluruh wajahnya tertutup oleh rambut, membuat bentuk-bentuk wajahnya tak terlalu terlihat. Bukan hanya itu, warna bola matanya juga berbeda. Saka memiliki bola mata biru khas orang luar, sedangkan pria ini memiliki bola mata warna coklat. Meksi begitu, dilihat dari sekilas, pria itu benar-benar sangat mirip dengan Saka.


"Apa yang kau lakukan padanya?!"


Bentakan pria itu berhasil membuat Rania ketakutan. Bahkan pria yang berada di samping sang CEO itu pun ikut menatap nya.


"P-pak Andreas. Tadi dia berusaha membuat saya terjatuh tapi malah dia sendiri yang jatuh." Sahut Rania ketakutan. Dia takut jika CEO perusahaan tahu pasti kejadian tadi maka akan sangat mengancam karirnya. Dalam hati dia berdoa agar pak Andreas mempercayai kebohongan nya.


"Tidak usah menjelaskan. Disini banyak cctv yang bisa dijadikan saksi." Sahut Pak Andreas seraya membantu Rasya berjalan yang berhasil membuat Rania ketakutan setengah mati. Tidak, dia harus menghentikan keinginan sang CEO untuk mengecek cctv.


"T-tidak perlu, pak. Kejadian ini tidak perlu dibahas lagi. Saya kira ini hanya kecelakaan kecil. Kami saling tidak sengaja." Jelas Rania namun tak digubris sedikit pun oleh pak Andreas. Pria itu justru sibuk menuntun Rasya yang tertatih saat berjalan.


"Kami benar-benar tidak apa-apa?" Tanya pak Andreas menatap penuh khawatir. Laki-laki itu meneliti tubuh Rasya dari atas hingga bawah lalu berhenti di pergelangan kaki yang terlihat memerah.


Pria itu berjongkok dihadapan Rasya membuat wanita mundur beberapa langkah.

__ADS_1


"Shitt!"


"Maaf, Saya tidak bermaksud apapun. Saya hanya terlalu khawatir jika ada karyawan saya yang terluka." Laki-laki itu segera berdiri setelah menyadari kesalahannya.


Sedangkan Rasya sedikit melebarkan mata mendengar nya. Dia tidak salah dengar kan? Orang itu baru aja mengatakan khawatir jika ada karyawan yang terluka, itu artinya orang di hadapannya ini adalah CEO di sini? Orang yang akan menjadi boss nya? Astaga, Rasya hampir saja menjerit, bisa-bisanya baru menyadari ternyata orang yang menolongnya adalah CEO perusahaan. Itu artinya ketakutan nya pada CEO disini sedikit berkurang, karena dengar-dengar jika CEO baru disini sangat galak bahkan semua sekertaris nya tak akan betah bekerja sampai satu bulan. Itu pula sebab mengapa Rasya meminta pihak HRD agar gajinya di hitung perhari yang ternyata langsung di bolehkan dengan mudah. Dan semoga rumor itu hanya sekedar rumor. Buktinya pria itu berbaik hati menolongnya, pasti apa yang dikatakan orang-orang hanya ingin menakut-nakuti saja.


"Sekali lagi terimakasih, pak. Saya permisi."


"Kau mau kemana? Bukan kah kau sekertaris baru ku?" Pria itu kembali mencegah Rasya saat akan memasuki lift dengan mencekal pergelangan tangan nya.


Rania yang masih menyaksikan kejadian itu langsung mengepalkan kedua tangannya. Dia geram sekali melihat Rasya karena bisa-bisanya dia menggoda CEO perusahaan sampai membuat pria itu bersimpatik padanya.


"Iya, pak. Saya sekertaris baru." Rasya berusaha melepaskan tangan pak Andreas secara halus. Dia tak ingin bagian tubuh nya disentuh laki-laki selain Saka karena tak ingin membuat suaminya kecewa.


Rasya menatap lift yang akan dimasuki dua orang itu, dan refleks menggelengkan kepala. Dia tidak mungkin berani memasuki lift itu yang jelas-jelas tertulis lift khusus eksekutif.


"Tidak, pak. Saya naik lift umum saja."


"Kenapa? Kau ingin menunda-nunda pekerjaan? Ini sudah siang, dan kita juga sudah terlambat. Kalau kau mau menunggu lift umum, akan semakin membuang-buang waktu." Sahut pak Andreas dengan wajahnya yang sudah berubah datar dan terlihat menyeramkan.


Jika dipikir-pikir, benar juga apa yang dikatakannya, jika menggunakan lift umum pasti akan semakin membuat nya terlambat. Dia segera masuk mengikuti dua orang itu karena tak ingin membuat pak Andreas marah.


Saat sudah berada di dalam lift, Rasya merasa sangat canggung berada di tengah-tengah dua orang berwajah datar itu. Dia tak berani menatap wajah mereka, pandangan nya justru menatap ke bawah melihat bayang-bayang dua orang itu.

__ADS_1


"Siapa namamu?"


Pak Andreas memulai pembicaraan, namun sepertinya tak mampu menghilangkan kecanggungan Rasya. Wanita itu masih saja menunduk, tanpa mau melirik sedikitpun kearah mereka.


"Arasya, pak." Sahutnya tanpa mau menatap kearah pak Andreas.


"Rasya, karena kau sudah menjadi sekertaris saya, mulai hari ini kau boleh memakai lift khusus."


"Hah?" Rasya justru terbengong dan langsung menatap pak Andreas. Dia sedikit tak percaya dengan apa yang dikatakan nya itu, karena biasanya seorang sekertaris juga tak bisa memasuki lift khusus.


"Jangan membantah." Sahut pak Andreas datar. "Keanu, buatkan dia name tag khusus supaya bisa masuk lewat lift ini." Wajahnya menatap kearah asisten pribadinya.


"Baik, pak." Sahut Keanu tak kalah datarnya.


Hah, sepertinya berada di antara manusia es ini membuat badan Rasya kedinginan. Dia benar-benar tak berani menatap dua orang yang terlihat menyeramkan dengan wajah serius nya itu. Dia jadi membayangkan bagaimana jika saat sudah bekerja dengan mereka. Pasti hari-hari nya hanya akan ada keseriusan dan wajah datar.


...🌺🌺🌺...


Halo, teman-teman...


Terimakasih banyak sudah mengikuti cerita ku. Jangan lupa terus dukung novel yang ini dengan cara like Komen dan hadiah sebanyak-banyaknya.


Juga jangan lupa share ke teman-teman yang lain agar ikut membantu memberi dukungan, ya...

__ADS_1


Terimakasih


__ADS_2