Ambil Bekasku, Mbak!

Ambil Bekasku, Mbak!
Mual


__ADS_3

Huek huek,


Saat ini Rasya sedang berada di kamar mandi sendiri untuk memuntahkan seluruh isi perutnya.


Pagi-pagi sekali Saka sudah kembali ke kediaman Wijaya karena tak ingin kakeknya curiga. Pria itu tergesa-gesa ke sana tanpa berpamitan pada Rasya yang memang sedang tertidur pulas.


Dan baru saja Rasya terbangun dari tidurnya karena merasa perutnya sangat mual. Disaat-saat seperti ini, seharusnya Saka ada menemani tapi justru entah sedang pergi kemana. Dan hal itu cukup membuat hati Rasya tak senang. Dia sangat kesal karena sangat ingin dimanja serta di elus perutnya agar tak mual lagi. Sayangnya pria itu benar-benar belum juga memunculkan batang hidungnya meski Rasya sudah mondar mandir bolak-balik ke kamar mandi sampai sembilan kali hanya mengeluarkan cairan bening karena memang perutnya sudah kosong sejak semalam.


Huek ... huek ... huek ..,


Entah sudah beberapa kali memuntahkan isi perutnya yang jelas-jelas tak isi. "Hiks ... Saka, kamu dimana? Apa kamu benar-benar ingin mencari wanita lain?" Gumamnya lirih sembari mengelap air matanya.


Tubuh nya sangat lemas dan benar-benar membutuhkan sandaran, sayangnya yang menjadi sandaran entah sedang kemana.

__ADS_1


"Apa kau benar-benar tak mencintaiku lagi?" Tanya nya lagi dengan nada suara lemah. Dia berusaha keluar kamar dengan susah payah. Tangan nya terus meraba tembok sebagai penopang tubuh.


.


.


.


Di tempat lain, Saka sedang memperhatikan akting Tuan Bambang yang begitu natural. Pria itu sedang menangisi patung Rasya dengan ekspresi seperti orang yang benar-benar kehilangan, artinya, akting yang dilakoni benar-benar sempurna.


Dia berusaha pura-pura sedih atas kehilangan Rasya. Tubuh Saka bahkan sengaja ambruk di depan patung yang diselimuti kain jarik lalu mengeluarkan air mata buayanya.


"Rasya, kenapa bisa seperti ini? Apa yang terjadi dengan mu?" Saka benar-benar berhasil menangis bombay, membuat Tuan bambu segera menghampiri lalu menepuk bahu Saka mencoba menguatkan.

__ADS_1


Sungguh pemandangan yang sangat indah, dua orang yang sama-sama sedang menjalankan misi dari konspirasi yang dibuat masing-masing itu saling berpelukan.


"Sudah, Saka. Ikhlaskan Rasya. Mungkin memang sudah suratan Tuhan. Selama ini hidup Rasya selalu menderita, dan sudah saat nya dia bahagia meski di alam yang berbeda." Sahutnya menguatkan.


Cih! Ingin sekali Saka berdecih didepan muka kakek nya yang tua bangka. Sayangnya, apapun yang ingin dilakukan saat ini masih harus dia tahan. Saka tak ingin terpancing emosi dengan kedramatisan kakeknya.


Saka segera bangkit dari sana, lalu berjalan keluar ruangan.


"Mau kemana, Saka? Kau harus tetap disini sampai Rasya dimakamkan." Cegah Tuan Bambang, yang jelas-jelas pencegahan nya itu hanya lah pura-pura.


"Aku ingin mencari orang yang menyebabkan istri ku tiada, kakek. Aku tidak akan membiarkan orang-orang itu bernyawa dengan gembira sedangkan istri ku sudah tak bisa kembali ke jasadnya!" Sahut Saka dengan amarah memuncak. Pria itu sengaja menampilkan ekspresi marah agar semua orang tahu bahwa Saka benar-benar percaya. dengan rekayasa yang dibuat kakek nya sendiri.


"Baiklah, kalau memang kau ingin membalas dendam pada orang-orang itu. Aku tidak akan mencegahnya karena memang sudah seharusnya kau membalaskan dendam Rasya. Untuk pemakaman istri mu, kakek sendiri yang akan mengatur nya."

__ADS_1


Saka sudah tak menjawab apa-apa lagi. Entah mengapa hati nya cenat cenut tak karuan. Seperti ada sesuatu yang sedang terjadi. Dan betapa terkejutnya mengingat dia belum memberi tahu kepergian nya pada sang istri. Sudah bisa dibayangkan, istri nya mungkin sedang merapal seluruh sumpah serapah pada nya.


__ADS_2