Ambil Bekasku, Mbak!

Ambil Bekasku, Mbak!
Hamil?


__ADS_3

"Sayang ... aku pulaaang ..!" Baru saja keluar dari mobil, Saka langsung berteriak keras memanggil istrinya.


Rumah minimalis yang ditempati Rasya untuk sementara waktu itu nampak begitu sepi, membuat Saka semakin tak sabaran memanggil istrinya agar menyambut kedatangan nya.


"Sayaaaang ... Kamu sedang apa?" Tanya Saka lagi Deng dengan suara masih kencang seperti sebelumnya.


Lagi lagi tak ada sahutan dari dalam, tak ingin membuang banyak waktu Saka segera berlari memasuki rumah. Dia ingin segera menceritakan tentang kekonyolan kakek nya yang membuat rekayasa tentang kematian nya.


"Rasya? Dimana kamu?" Ekor mata Saka terus memindai dari satu tempat ke tempat yang lain untuk mencari sang istri, namun tak ada tanda-tanda ada istri nya di seluruh ruangan yang dia periksa.


Klek.


"Rasya," Saka membuka pintu kamar, dia yakin istri nya pasti masih rebahan mengingat tak ada di semua tempat. Arah mata nya langsung tertuju pada ranjang yang berantakan, tak ada Rasya di sana.


Pikiran Saka mulai was-was, dia takut istri nya pergi mencari nya mengingat dia pergi tanpa pamit. Akhir-akhir ini wanita itu semakin aneh dan cengeng, sudah pasti dia akan marah-marah setelah ini.


"Rasya ...," Lagi-lagi tak ada jawaban, langkah Saka semakin mendekat ke tempat tidur yang sangat awut-awutan. "dimana dia?" Gumamnya pada diri sendiri.

__ADS_1


Pandangan Saka beralih ke arah pintu kamar mandi, pintu itu terbuka sedikit namun tak ada gemercik air atau pun tanda-tanda kehidupan di sana. Untuk mengobati rasa penasaran, Saka tetap memastikan nya, setelah sampai di depan pintu, kepala nya sedikit mendongak ke sana. Dan betapa terkejutnya saat melihat istrinya tergeletak di lantai tak dalam keadaan tak sadarkan diri.


"Rasya!" Pekiknya penuh keterkejutan. Kaki nya langsung berlari untuk meraih tubuh tak berdaya itu. "Rasya, kamu kenapa?" Tanya nya khawatir. Bahkan tangan yang digunakan untuk menepuk-nepuk pipi Rasya itu bergetar hebat setelah membawa Rasya ke dalam pelukan.


Dan tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Saka segera membopong nya ke kamar. Tangan nya begitu cekatan mencari nomor dokter pribadi nya, dia memanggil dokter pribadi Saka dan menyuruh ke alamat yang telah dikirim.


Saat ini Rasya memang harus bersembunyi untuk sementara waktu karena tak ingin orang-orang kepercayaan kakek nya memergoki. Karena meskipun beberapa orang inti kepercayaan tuan Bambang berpihak padanya, tapi tidak semua nya. Saka masih harus tetap hati-hati sampai puncak dari rencana Bambang di mulai, baru Saja akan mengakhiri.


"Sayang, apa yang terjadi dengan mu? Jangan menakuti ku." Saka menggosok-gosok tangan Rasya yang terasa dingin. Pantas saja tadi saat di kediaman keluarga Bambang dia merasa tak enak dan ingin cepat-cepat pulang, ternyata memang Rasya sedang tak baik-baik saja.


Saka merutuki diri nya sendiri karena pergi tak berpamitan, pasti Rasya tadi sangat tersiksa hingga pingsan di kamar mandi. Entah apa yang dirasakan istri nya sebelum pingsan, seharusnya dia ada disaat-saat Rasya membutuhkan nya.


"Selamat pagi, Tuan Andreas." Sapa nya dengan nafas naik turun. Akibat ancaman Saka membuat dokter itu tergesa-gesa datang.


"Tidak usah banyak bicara, cepat kau periksa istri ku!"


Dokter itu hanya mengangguk lalu memeriksa denyut nadi serta serta jantung nya. Setelah beberapa saat melakukan rangkaian pemeriksaan, barulah dokter itu menatap Saka yang terlihat sedang dilanda kecemasan.

__ADS_1


"Apa yang terjadi dengan nya?" Tanya Saka tak sabaran.


Dokter itu menghela nafas panjang sebelum menjawab nya. "Tidak ada yang serius, Tuan."


"Apa kau bilang?! Apa pingsan istri ku ini adalah sebuah lelucon?!" Saka menarik kerah jas dokter itu dengan amarah menggebu-gebu.


"Dengarkan saya dulu, Tuan." Dokter itu tampak gelagapan merutuki diri sendiri karena salah bicara. Seharusnya langsung pada intinya saja, agar tak memancing jiwa tempramen orang kaya yang selalu seenaknya pada orang miskin.


"Apa aku harus mendengarkan omong kosong mu kalau istri ku baik-baik saja, heh?!"


"Istri Anda hamil!" Sahut Dokter itu cepat, membuat Saka mematung seketika. Urat-urat nya terasa menegang hingga tak mampu bergerak ataupun berkata untuk beberapa saat.


"Itu masih kemungkinan, ada baiknya memeriksa istri Anas ke dokter obygm agar lebih jelas istri Anda benar hamil atau tidak." Saka kembali tersadar, dia tak mendengarkan perkataan dokter itu. Saka lebih memilih menatap istrinya dengan tatapan hari lalu mengelus pipi sang istri. Setelah nya dia menghadiahi banyak ciuman di seluruh wajah sang istri.


"Sayang, kau hamil. Sebentar lagi kita akan punya anak."


"Itu masih kemungkinan, Tuan." Perkataan itu sontak membuat mood Saka kembali memburuk. Dia menatap horor dokter di sebelah nya.

__ADS_1


"Aku tidak meminta kau memperjelas nya! Sekarang cepat kau pergi dari sini karena aku tak dibutuhkan lagi, dan panggil teman mu yang menjadi dokter kandungan!"


Sontak perintah itu langsung diiyakan dengan semangat dokter Rangga. Berdekatan dengan orang kaya justru dia merasa sedang berada di dekat neraka, jadi diusir untuk pergi dari neraka tentu saja itu hal yang membahagiakan.


__ADS_2