Ambil Bekasku, Mbak!

Ambil Bekasku, Mbak!
Sebuah Permintaan


__ADS_3

"Tidak bisa dibiarkan. Aku tidak bisa diam saja. Bagaimana pun caranya, Saka harus berpisah dari wanita itu." Gumam Tuan Bambang seraya mondar-mandir di ruang kerja dengan tongkat legend nya yang setia mengiringi kemana langkah itu pergi selama berpuluh-puluh tahun.


Ting.


Sejurus ide muncul dibenak nya, seketika dia terkesiap mencari ponsel. Setelah mengingat dimana letak ponselnya yang ternyata berada di atas meja, dia segera mencari nomor kontak salah satu bawahan nya.


"Halo, Selamat pagi, Tuan Wijaya." Sapa orang diseberang sana dengan ramah. Tentu saja sangat ramah di telpon langsung oleh tetua keluarga Wijaya. Dia merasa sangat terhormat mendapatkan panggilan dari keluarga terkaya nomor satu.


"Tuan Lukas, bisakah saya minta tolong Anda?"


Dan pembicaraan itu terus berlanjut selama beberapa saat hingga menghasilkan keputusan bahwa di hari ini pemimpin perusahaan Wijaya Corp dan pemimpin perusahaan Sanjaya akan bertemu di hari ini juga membahas proyek yang baru saja mereka sepakati.


.


.


.


Di kantor Wijaya Corp.


"Shitt, kenapa tua bangka itu terus membuat ulah?" Saka menyugar rambut nya frustasi. Mau tak mau dia harus bangkit dari kursi kebesarannya untuk menghadiri rapat. Padahal niat hati ingin pulang lebih awal untuk menemani Rasya yang dijadwalkan harus pulang di hari ini juga dari rumah sakit.


Dia ingin memberi kejutan atas kepulangan nya dari rumah sakit, nyatanya semua itu sia-sia akibat rencana sang kakek.


.


.

__ADS_1


.


Kediaman Wijaya.


Tuan Wijaya baru saja memerintahkan beberapa pengawal untuk mengikuti Saka dan harus memastikan bahwa Saka tetap harus berada di ruang rapat sebelum dirinya selesai menyelesaikan urusan. Sedangkan Tuan Wijaya segera menaiki mobil dengan tujuan ke rumah sakit.


Memang inilah tujuan nya, dia ingin membuat Saka sibuk agar bisa bicara dengan Rasya tanpa diketahui Saka. Bagaimana pun, ambisinya untuk memisahkan dua orang itu harus tercapai.


"Lebih cepat sedikit!" Perintah nya pada sang supir. Dia sudah tak sabar ingin segera bertemu dengan menantu yang malang itu. Akibat dosa ayahnya dia harus tereliminasi menjadi menantu keluarga Wijaya.


Tak sampai membutuhkan waktu 20 menit, mobil itu sudah memasuki pelataran Rumah Sakit.


Tuan Wijaya dengan sengaja menggunakan mobil biasa yang belum pernah dia naiki sebelum nya agar tak terlalu mencolok dan menimbulkan kecurigaan pada Saka.


Langsung saja dia menuju ke ruangan Rasya yang di kawal oleh beberapa bodyguard.


Klek.


Tap ... tap ... tap ..,


Mendengar suara langkah kaki, sontak Rasya mengalihkan pandangan nya dengan bibir tersenyum. Dia menebak orang yang sedang berjalan kearah nya adalah Saka. Karena memang tak ada orang lain yang menemuinya selama di rumah sakit kecuali Saka.


"Kenapa cepat sekali pul_" Perkataan Rasya terhenti kala orang yang berada di dekat nya saat ini bukan lah Saka. Tubuhnya membeku dan pandangan nya terkunci menyadari pria tua bertongkat itu menatap nya tajam.


"S-siapa?" Tanya Rasya pura-pura tak tahu. Yang sebenarnya dia sudah tahu bahwa pria itu itu adalah kakek Saka setelah mendapat penjelasan Saka tempo lalu. Tetapi karena terlalu bingung ingin berkata apa, maka itu lah satu-satunya kata yang meluncur dari tenggorokan.


"Selamat pagi, nak. Apa Saka belum menjelaskan siapa aku?" Tanya nya sedikit melembutkan tatapan nya. Sebenarnya Tuan Wijaya sedikit iba melihat tatapan lemah Rasya. Terlihat sekali bahwa wanita itu telah mengalami berbagai kesedihan dalam hidup nya, namun bagaimana lagi? Dia juga tak ingin mempertaruhkan nama baik keluarga demi mengasihani seorang gadis.

__ADS_1


"T-tidak, Y-ya." Rasya menepuk bibir nya sendiri kala terlalu bingung ingin menjawab apa dan akhirnya menjawab ya dan tidak secara bergantian.


Sebenarnya Tuan Wijaya ingin sekali terkekeh melihat tingkah Rasya, tapi harus dia tahan karena masih ada yang lebih penting dibanding tertawa.


"Nak, aku ingin bicara dengan mu"


Deg.


Suara dingin serta tatapan serius kakek lampir itu seketika menimbulkan aura mencekam bagi Rasya.


"Ingin bicara apa?" Cicit nya. Dia menatap sedikit takut tatapan itu, hingga akhirnya Rasya lebih memilih menurunkan pandangan. Sepertinya memang firasat buruk Rasya menjadi kenyataan.


Tuan Wijaya menarik nafas dalam. " Begini, saya adalah kakek Saka Wijaya, Bambang Setya Wijaya. Mengingat Saka adalah satu-satunya penerus di keluarga kami, saya sangat mengharapkan pendamping terbaik untuk nya." Kata nya basa-basi, namun sepertinya Rasya mulai tahu arah pembicaraan Tuan Wijaya.


"Saya tidak bermaksud mengatakan kamu tidak layak untuk nya, tapi _" Kembali lagi, sekali lagi Tuan Wijaya memberi jeda perkataan nya hingga membuat rasa penasaran Rasya semakin membumbung tinggi. Pikiran nya mulai menerka-nerka apa yang akan dikatakan pria itu selanjutnya. Rasya tak nyaman serta pikiran tak enak bercampur menjadi satu, membuat hati nya dilanda tak karuan.


"Saya hanya ingin Saka memiliki pasangan dari keluarga baik-baik. Maka demi kebaikannya, tolong tinggalkan Saka!"


Duarr!


Tubuh Rasya menegang, paru-parunya seakan tak mempu menyerap oksigen, seluruh persendian nya terasa kelu.


Sesuatu yang sejak tadi terbayang-bayang di otaknya akhirnya terjadi. Kepala Rasya mendongak lemah memberanikan diri menatap Tuan Wijaya dengan air mata yang sudah merembes keluar karena tak kuat menahan.


"T-tapi saya mencintai Saka," Sahutnya lirih dengan suara pilu. Sungguh, demi apapun Rasya tak akan rela meninggalkan Saka. Meskipun kakek Saka tetap bersikukuh menyuruh nya pergi, namun bila bukan sendiri yang menyuruh nya, Rasya tak akan mau.


...🌺🌺🌺...

__ADS_1


Mohon maaf kalau feel nya kurang dapet. Karena kesibukan di rl membuat kurang fokus menulis dan jarang update.πŸ™ Tapi tetap aku usahain untuk update manteman. Semoga kalian tetap setia menunggu cerita ku walau lama update n kadang gaje.πŸ˜†πŸ™ˆ


See you next chapter.πŸ‘‹πŸ˜


__ADS_2