
"Dokter, tolong istri saya, dok!" Saka berteriak keras, membawa istri nya yang sudah diam dengan mata terpejam.
Beberapa perawat menghampiri membawa brangkar Dengan cekatan mereka membantu Saka membaringkan istri nya ke sana. Setelah nya mereka mendorong ke ruang pemeriksaan.
Saka semakin takut melihat istrinya tak lagi berkata-kata, bahkan mata nya terus terpejam.
Dia tak menyadari sesuatu yang sejak tadi mengganjal ketika membopong tubuh istri nya.
Tak ada yang bisa dilakukan Saka kecuali mondar-mandir di depan pintu ruangan sembari merapal kan seluruh doa yang dia bisa.
Klek.
Mendengar suara pintu dibuka, fokus Saka teralihkan. "Bagaimana keadaan istri saya, dokter?" Tanya nya penuh kekhawatiran.
"Sebelumnya, apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa istri Anda sampai terluka separah ini?" Dokter itu menatap serius Saka. Wajahnya tak bisa berbohong bahwa memang terjadi sesuatu yang serius pada Rasya.
"Apa yang terjadi dengan nya, dokter?! Apakah memang sampai separah itu? Bagaimana keadaan bayi kami? Apa masih bisa diselamatkan?" Saka memberondong pertanyaan tanpa jeda, membuat dokter di depan nya semakin tak mengerti.
"Luka istri Anda memang sangat serius. Jarum yang menancap di paha nya sangat dalam hingga mengeluarkan banyak darah, belum lagi resiko infeksi akibat kuman pada benda itu juga tinggi. Kalau boleh tahu, kenapa istri Anda sampai tertusuk jarum separah ini?"
"A-apa?" Tanya Saka tak mengerti. "maksud dokter, istri saya tertusuk jarum hingga berdarah sebanyak itu?" Dia sangat shock melihat darah di rok dan lantai, jadi dia mengira itu adalah darah yang keluar dari jalan rahim. Tetapi kenapa penjelasan dokter berbeda?
"Ya, Tuan. Kenapa sampai bisa tertusuk jarum separah itu? Bukan hanya satu, saya menemukan ada 3 jarum yang menancap. Dua di pangkal kaki bagian bawah dan satu di perut." Jelas nya membuat Saka semakin bingung.
Dia kira saat Rasya meremas perut nya dan mengatakan sakit, pikiran Saka langsung tertuju pada janin nya yang mungkin terjadi suatu masalah. Nyatanya, wanita nya terkena jarum.
"Jarum apa itu? kenapa sampai separah itu?" Kini giliran Saka yang bertanya karena merasa tak masuk akal, terkena jarum sampai darah nya mengalir.
__ADS_1
"Itu yang saya tanyakan, Tuan. Kenapa istri Anda sampai terkena jarum karung? Apa sebelum nya istri Anda sedang menggunakan benda itu?"
Saka menghela nafas, dia malas menjawab karena merasa tak tahu apa-apa tentang aktivitas istri nya sebelum nya. Yang dia tahu, Rasya meminta es krim milik nya dan jika tidak segera pulang maka akan meminta es krim milik pria lain.
"Apakah luka istri saya hanya karena jarum? kandungan nya baik-baik saja?" Tanya nya lagi untuk memastikan. Dia tak ingin jika ternyata pemeriksaan dokter salah.
"Ya, saya sudah memeriksa dengan teliti. Istri Anda baik-baik saja. Hanya saja mungkin istri Anda sedikit fobia darah, membuat nya shock dan pingsan. Tapi tidak perlu khawatir, setelah ini mungkin istri Anda akan segera sadar." Sahut nya lagi.
Saka hanya mengangguk tanpa ada minat untuk berkata lagi, membuat dokter itu faham kalau dia harus segera berlalu. Setelah mengucapkan pamit, dokter itu kembali ke ruangan.
Sedangkan Saka, setelah termenung sedikit lama, pria itu berjalan ke ruangan Rasya yang sudah di tempatkan di ruang rawat.
Sebenernya ada rasa lega dalam hati karena tak terjadi luka dalam yang serius, baik Rasya maupun bayi nya. Hanya saja, jarum-jarum di rumah nya itu lah yang membuat Saka penasaran.
.
.
Klek.
"Sayang, sebenernya apa yang terjadi?" Gumam Saka sembari menyeka keringat yang terlihat di dahi istri nya. Dan pergerakan tangan itu sukses membuat Rasya membuka mata.
"S-saka," Lirihnya.
"Ya, ini aku. Sebenernya apa yang terjadi pada mu? Kenapa ada jarum di rumah kita?" Saka terlihat sangat penasaran. Rumah yang baru saja ditempati belum terlalu komplit fasilitas nya. Tidak mungkin ada jarum bila tidak ada yang membeli.
"Tadi aku menyuruh Rian membeli jarum besar, aku ingin menjahit tas ku yang dulu. Itu adalah tas pertama kali yang ku beli dengan uang ku sendiri, itu sebabnya aku ingin memperbaiki. Tetapi saat Rian ingin memberikan pada ku, semua jarum itu jatuh dan berserakan di lantai. Segera Rian mengambil nya, tetapi karena terburu-buru Rio malah tertusuk jarum. Aku berusaha mengambil nya. Dan baru saja jarum itu ku cabut, kamu datang langsung memukul nya. Aku berusaha melerai tapi kamu malah mendorong ku, tangan ku yang masih memegang jarum tidak sengaja mengenai perut, sedangkan pantat dan kaki ku terkena jarum saat terjungkal."
__ADS_1
Saka paham sekarang, rupanya suara yang didengar sebelum nya adalah suara Rian yang sedang kesakitan karena tertusuk jarum. Dia sudah salah faham hingga membuat istri nya bahaya, menyesal sebenarnya, tapi hanya sedikit, karena menurut nya dia tak salah apa-apa.
"Jadi sakit perut yang kau maksud itu karena tertusuk jarum, bukan karena terjadi sesuatu dengan bayi kita?"
Rasya menggeleng lemah, membuat Saka juga menghela nafas pasrah. "Tapi perut mu juga sangat melilit setelah melihat ada darah di paha ku."
Ya, Saka tahu sekarang. Rasya memang takut darah, wanita itu memang pernah mengatakan nya tetapi Saka tak terlalu menanggapi.
.
.
.
"Bagaimana? Apa sudah dapat informasi nya?"
"Sudah, Tuan. Pria itu ternyata penyebab dari kecelakaan anak dan menantu nya, orang tua Andreas Saka Wijaya." Sahut pria bertopeng.
"Woho! Berita yang sangat membahagiakan." Tuan Scarlett sangat senang mendapatkan informasi itu. Dia memang sedang mencari kelemahan pria tua itu untuk membuat nya sengsara.
"Apa kau memiliki bukti?" Tuan Scarlett tak mungkin membongkar kebusukan seseorang tanpa adanya bukti.
"Tentu, Tuan. Saya sudah membawa bukti rekaman sabotase mobil yang dipakai putra nya 20an tahun lalu beserta beberapa bukti kejahatan nya."
Pria bertopeng itu memperlihatkan plastik sedang yang berisi beberapa dokumen serta rekaman yang sudah dikumpulkan menjadi satu.
Tuan Scarlett tersenyum menyeringai, "Sebarkan berita ini ke seluruh stasiun televisi. Buat seluruh dunia membenci nya, dan pastikan sisa umurnya akan dihabiskan di penjara." Perintah Tuan Scarlett.
__ADS_1
"Siap, Tuan. Saya akan melakukan nya dengan sangat baik,"