
Setelah kepergian Saka menggendong Tuan Bambang serta diikuti para tamu undangan, kini tinggallah beberapa orang, termasuk Tuan Scarlett dan Putri Delima.
Tuan Scarlett menatap putri nya dengan tatapan sulit diartikan. "Putri ku, maafkan ayah yang sudah salah paham tadi, bahkan berkata-kata kasar pada mu."
Putri Delima mengulas senyum manis nya. "Tidak masalah, ayah. Putri justru bangga karena ternyata ayah memang orang baik, ayah rela menyakiti putri ayah sendiri demi kebenaran meskipun hati ayah juga terluka, dan Putri sangat kagum dengan tindakan ayah."
"Terimakasih, sayang. Ayah juga sangat bangga memiliki putri secerdas kamu." Tuan Scarlett merenggangkan pelukan nya lalu menjawil hidung mancung sang putri, membuat Putri Delima terkekeh.
"Off Course, aku akan selalu membuat mu bangga." Sahut nya, Putri Delima kembali menghambur ke pelukan sang ayah.
Sebenernya, dalam hatinya yang paling dalam Putri Delima begitu kecewa, harapan nya sudah melambung tinggi membina rumah tangga bersama Saka, nyatanya dia telah tertipu akibat keegoisan satu manusia.
__ADS_1
Dia menangis tanpa suara di pelukan sang ayah hingga kemeja yang masih terbalut jas mahal itu basah. Tuan Scarlett dapat merasakan kalau putri nya sedang menangis, membuat nya semakin tak terima dengan semua permainan yang Tuan Bambang buat. Dalam hati dia berjanji akan membuat Bambang menderita, dia akan mencari kelemahan pria tua itu untuk menebus semua dosanya.
"Sebaiknya kita pulang saja." Tuan Scarlett menuntun putri nya keluar dari ballroom. Tubuh nya sudah terlalu lelah dengan semua drama yang telah mereka lakoni.
Putri Delima hanya mengangguk dan berjalan bersama ayahnya dengan tangan Tuan Scarlett masih berada di pundak sang putri.
.
.
.
__ADS_1
"Tidak ada yang perlu dicemaskan, kakek Anda baik-baik saja. Hanya sedikit mengalami drop karena terlalu banyak pikiran serta memicu tekanan darah nya naik. Mungkin jika terus-terusan terjadi bisa memicu tubuh nya mengalami gejala stroke, atau yang lebih parahnya mengalami stroke."
Saka sedikit lega mendengar nya, setidaknya dia tak akan merasa bersalah dengan sakit kakek nya karena ternyata pemicu nya adalah karena terlalu banyak pikiran, yang tentunya kakek tua itu hanya memikirkan nama baik keluarga, bukan dirinya.
"Apa Anda sudah memastikan nya tidak ada penyakit lain?" Saka kembali memastikan.
Dokter itu pun mengulas senyum. "Tenang saja, Tuan muda. Tuan Bambang memiliki kekebalan tubuh yang lebih dibanding dengan orang lain seumuran nya. Saya yakin beliau akan segera pulih, untuk saat ini beliau masih dalam pengaruh obat tidur karena setelah saya periksa ternyata kakek Anda juga kelelahan karena kurang istirahat. Mungkin 2 jam lagi baru akan sadar." Jelas nya lagi. "kalau begitu, saya permisi dulu, Tuan. Jika ada yang ingin Anda tanyakan, langsung saja menghubungi pihak kami. Akan kami layani sebaik yang kami bisa."
Saka hanya mengangguk dengan kepala yang masih dipenuhi pikiran.
Sedangkan dokter itu kembali melanjutkan langkah nya menuju ruangan dokter. Pelayanan yang didapat Tuan Bambang memang begitu spesial dibanding pasien lain, karena mereka sangat tahu siapa Tuan Bambang dan Saka. Bahkan dokter itu pun begitu sopan saat berbicara dengan Saka karena tak ingin mengalami masalah bola sampai Saka mengadu pada pihak rumah sakit.
__ADS_1