
"Rasya, kenapa kau melamun? Apa yang kau tonton?" Saka memindai arah pandang nya, dua menghela nafas kasar kala menyadari istri nya sedang melihat siaran berita tentang Teguh.
"Aku benci dia, Saka." Rasya mengucap lirih masih dengan suara lemahnya. Matanya berkaca-kaca, menyesali ketidakberuntungan nya karena terlahir dari seorang ayah yang begitu bejat. "sungguh, aku sangat membencinya. Kenapa aku harus terlahir menjadi keturunan nya? Kenapa aku memiliki ayah yang begitu keji? K-kenapa aku terlahir dari manusia sehina dia, Saka? Kenapa? Apa salahku?" Rasya mulai meraung meresapi pahitnya kenyataan yang harus dia telan.
Kenapa darahnya mengalir di tubuh ku? Batin Rasya pilu. Tentu darah yang mengalir ditubuh nya tak mungkin bisa diputus. Seperti status anak dan orang tua yang selamanya tak akan ada kata mantan.
Saka duduk di sebelah sang istri lalu membawa tubuh itu ke pelukannya. "Rasya, kau tahu telur ayam?" Tanya nya membuat Rasya melepas pelukan itu dan menatap Saka dengan dahi mengkerut membentuk beberapa lipatan pertanda bingung dengan arah pembicaraannya.
"Bagaimana menurut mu rasa telur ayam? Enak bukan?" Saka masih menatap intens, begitu pula dengan Rasya yang masih menunggu perkataan Saka selanjutnya.
"Telur ayam selalu diburu semua orang karena kandungan nutrisi di dalamnya. Orang-orang yang mengkonsumsi tidak pernah memikirkan dari mana telur ayam berasal, tapi yang mereka ingat hanyalah kandungan nutrisi serta rasanya yang lezat." Saka menghentikan sejenak perkataanya, sedang membenarkan anak rambut yang tampak berantakan serta menutupi dahi.
__ADS_1
"Begitu pula dengan mu, meskipun kau terlahir dari orang tua yang tidak baik Meskipun semua tindakan nya begitu keji dan kotor, tapi kau tetap bisa seperti telur ayam yang selalu dicari semua orang. Dan kau sudah membuktikan nya, Rasya. Kau jauh lebih hebat dari manusia umumnya. Tanpa ku sadari sebelumnya, sedikit demi sedikit kau mampu membuat ku berubah kearah yang lebih baik. Dan sekarang, aku sangat membutuhkan mu, kau mampu membuat ku candu. Kau adalah satu-satunya manusia yang mampu membuat hidup ku terasa sempurna."
Rasya menghambur memeluk Saka. Dia sangat bahagia karena disaat-saat seperti ini, Saka mampu memberi nya kekuatan.
"Saka, a-aku mencintai mu." Katanya dengan suara lirih.
Mendengar ucapan itu sontak membuat sudut bibir Saka terangkat. Ini adalah pertama kalinya Rasya mengucapkan kata cinta saat tidak sedang bercinta.
Disaat sedang asyik-asyiknya mereka mengobrol, ponsel Saka tiba-tiba berbunyi hingga membuyarkan keromantisan mereka.
"Saka, ada telpon." Rasya mengingatkan kala Saka tak berhenti melepas pelukan mereka.
__ADS_1
"Ssstt, biarkan saja." Sahutnya. Bibirnya justru sudah bergerilya ke tengkuk Rasya.
"S-saka," Rasya mulai merasa tak nyaman saat tubuh Saka semakin menghimpit nya, terlebih bibir Saka yang mendarat di tengkuk berhasil membuat tubuh Rasya meremang.
"S-saka, ponselmu." Panggil Rasya lagi. "Saka, sudah." Sahutnya ketika merasakan tubuh nya hampir tak tahan menahannya.
"Sebentar, aku hanya ingin mengobati rasa rindu ku setelah sebulan kau betah tidur tanpa ku." Sahut Saka setelah menghentikan aksi nakal nya sejenak. Lalu kembali melakukan nya lagi.
Dan kini yang di serang Saka adalah bibir Rasya, wanita itu nampak terkejut kala bibir Saka mencaplok begitu saja tanpa memberi aba-aba. Dua bibir itu saling beradu dengan begitu syahdu, tangan Saka sudah menjalar kemana-mana hingga membuat Rasya kegelian nikmat.
Mereka tak menghiraukan ponsel Saka yang terus-terusan berbunyi sejak tadi. Bahkan orang di seberang sana sedang marah-marah mengumpat kelakuan Saka yang tak mengangkat telepon nya.
__ADS_1