
Pandangan semua orang tertuju pada Andreas yang masuk dengan pakaian sedikit berantakan, tidak seperti biasanya. Pria itu terlihat mengatur nafas, meski begitu wajah nya sama sekali tak memperlihatkan bahwa dia terburu-buru datang.
"Apakah sudah selesai?" Andreas menatap kearah asisten pribadi nya setelah duduk tenang di meja kebesarannya.
Wajah yang ditatap itu menganggukkan kepala, masih lengkap dengan ekspresi datar seperti biasa.
"Sudah, pak. Semua sudah setuju. Pukul 10 pagi kita akan mengunjungi proyek."
"Oke, kalau sudah tidak ada pertanyaan lagi, kita akhiri meeting dan segera bersiap ke tempat proyek."
Baru saja duduk beberapa detik, Andreas kembali berdiri setelah mengakhiri meeting. Pria itu berjalan lebih dulu, namun baru beberapa langkah, Andreas atk bergerak lalu berbalik.
"Rasya, ikut saya ke ruangan, sekarang." Perintah nya tanpa bisa dibantah.
Tahu bahwa yang memerintah nya adalah bos nya, tentu Rasya tak menolak. Wanita itu mengangguk dan ikut berdiri setelah mengemasi barang-barangnya kemudian berjalan kearah Andreas yang masih menunggu tanpa menatap ke kanan dan ke kiri.
Baru berjalan beberapa langkah, seseorang dengan sengaja menjegal kakinya.
Aaaa..! Pekik Rasya keras hingga berhasil membuat seluruh orang yang masih berada di ruangan itu ikut terkejut menatap kearah nya.
"Rasya?!" Andreas bergerak cepat ingin menahan tubuh nya.
Brukk.
Detak jantungnya seakan berhenti, matanya terpejam bersiap menikmati sakitnya tubuh saat membentur lantai.
Beberapa detik memejamkan mata, tak terasa sedikit pun rasa sakit yang dia bayangkan sebelumnya. Perlahan-lahan membuka mata seraya seraya mengontrol detak jantung yang masih berpacu hebat.
Deg.
Jantung nya yang masih berdetak cepat itu semakin tak terkontrol kala menyadari orang yang sedang merangkul pinggang nya.
__ADS_1
Dalam sepersekian detik keduanya saling pandang, hingga membuat seorang wanita yang berada disampingnya itu merasa geram.
"Rasya, kau tidak apa-apa?" Suara bariton itu berhasil menyadarkan dua orang itu. Kebetulan yang sangat tak diinginkan, Saat hampir terjatuh tubuh Rasya lebih dulu ditolong Dimas, hingga Andreas hanya mampu menyaksikan dua orang itu dalam posisi berpelukan.
Rasya buru-buru menegakkan badan seraya mendorong tubuh Dimas yang sedang membungkuk menahan tubuhnya. Pria itu seperti enggan melepaskan tubuh nya, bahkan belitan tangan nya semakin erat membuat Rasya merasa tak nyaman.
Untuk menghilangkan kecanggungan nya pura-pura membenahi pakaian yang tak berantakan sama sekali.
"Saya tidak apa-apa, pak." Sahut Rasya sedikit takut melihat aura membunuh Andreas. Entah apa yang membuat pria itu mengeraskan rahangnya, namun melihat dari sorot matanya, pria itu seperti sedang menatap tajam Dimas.
Jika Andreas menatap tajam Dimas seperti ingin memangsanya hidup-hidup, sama hal nya dengan Rania yang merasa sangat geram dan marah melihat suaminya menyelamatkan Rasya. Susah payah dia mencari kesempatan untuk menjegal kaki Rasya, tetapi suaminya justru menolong.
Seakan mengingat sesuatu yang sangat penting, kini pandangan Andreas beralih kepada Rania yang berada disebelah Dimas. "Apa kau sengaja untuk membuat Rasya terjatuh?" Tatapan Andreas yang terlihat begitu mengintimidasi membuat suasana di sana semakin mencekam. Rasya yang memang sedang tak ingin berinteraksi dengan sepasang suami istri itu berusaha keras memutar otak menghentikan pertanyaan Andreas yang pastinya akan semakin memanjang dan melebar. Namun dia juga tak mendapatkan petunjuk apapun.
Bukannya tak tahu penyebab dirinya terjatuh, namun dia benar-benar sedang tak tak ingin berurusan dengan Rania dan Dimas.
"A-pa maksud bapak?" Tanya nya gelagapan. Dia tak mengira kalau Andreas akan tahu jika dirinya lah yang menyebabkan Rasya hampir terjatuh.
"T-tidak, pak. Mana berani saya sengaja melakukan nya." Tentu saja Rania tak berani menatap dua bola mata sang CEO yang menghunus tajam seakan mampu menembus organ tubuhnya yang paling dalam.
"Keanu..!" Teriaknya kala melihat siluet masih berada didekat nya.
"Ya, pak." Meski tahu betapa mengerikannya Andreas marah, tetapi tak membuat wajah datar Keanu berubah. Pria itu tetap menunjukkan wajah melempemnya seraya berjalan mendekati mereka.
"Periksa rekaman cctv, jika yang saya katakan terbukti benar, saya tidak akan segan-segan mendepaknya dari sini." Katanya penuh penekanan.
Rania jelas gelagapan mengingat dirinya lah yang menyebabkan Rasya tersandung.
Wajah panik nya menatap Dimas penuh harap, dia ingin suaminya melakukan sesuatu agar posisinya tidak terancam.
"Maaf, pak. Saya rasa tentang masalah Rasya yang hampir terjatuh tak perlu dibahas lagi, dia tak terluka karena saya berhasil menyelamatkan nya." Dimas merasa bangga karena telah menjadi pahlawan penyelamat mantan istrinya.
__ADS_1
Penjelasan itu tak serta-merta membuat Andreas luluh, yang ada justru semakin mengeraskan rahangnya.
Menyadari apa yang sebenernya terjadi pada tuan nya, Keanu segera bertindak.
"Pak, saya kira lebih baik tanyakan pada Rasya. Apa perlu kita mencari penyebab nya terjatuh atau tidak perlu diperpanjang lagi?"
Seketika Andreas menatap kearah Rasya. Dari tatapannya jelas terlihat jika pria itu menahan kekesalan pada Rasya.
"Apa benar kau tak ingin mencari tahu penyebab kau terjatuh?" Andreas bertanya dengan suara berat nya. Namun bola mata nya terlihat seperti sedang menahan kekesalan. Rasya jelas-jelas tak tahu apa yang membuat Andreas seperti itu semakin bertanya-tanya dalam hati.
Ekhem!
Keanu sengaja berdehem keras agar Andreas tak terus-terusan menatap Rasya seperti itu.
"Pak, bisakah kita tak perlu membahas hal ini lagi? Lagian saya juga tidak jadi jatuh karena diselamatkan _" Rasya melirik Dimas yang sedang menatap nya dengan tatapan tak terbaca namun berhasil membuat nya tak nyaman. Sungguh dia sudah tak memiliki perasaan secuil pun pada laki-laki itu, dan Rasya merasa tak nyaman bila ditatap seperti itu. Terlebih saat mengingat Saka membuat Rasya semakin merasa bersalah karena tanpa sengaja tubuh nya disentuh Dimas.
"Heh! Sepertinya kau senang sekali dipeluk oleh Dimas?" Tanya nya sinis. Pria itu memicingkan mata membuat Rasya semakin tak enak hati.
"Pak, sudah hampir pukul 10, lebih baik kita segera berangkat."Potong Keanu namun tak ada satupun orang yang menyahuti.
Rasya merasa suasana semakin mencekam kala tak ada suara sedikitpun dari orang-orang.
"Iya, pak. Sebaiknya kita segera pergi untuk menghindari kemacetan." Sahut Rasya yang langsung mendapat anggukkan dari Keanu.
"Mari, pak. Saya sudah menyiapkan mobil." Mau tak mau akhirnya Andreas berlalu dari sana dengan suasana hati yang tak karuan.
Hah, akhirnya Rasya bernafas lega melihat Andres sudah berjalan mendahului nya, hingga perlahan-lahan dia ikut mengayunkan langkah kak keluar dari ruangan itu.
Setelah semua orang pergi, kini tersisa sepasang suami-isteri yang sengaja pergi paling akhir dari ruangan itu. Tidak, lebih tepatnya Rania menahan Dimas agar tak ikut berhala bersama mereka.
Rania menyentak keras tangan Dimas yang sejak tadi digenggam erat setelah memastikan tak ada satu orang pun yang melihat mereka. "Kenapa kau menyelamatkan Rasya, hah? Apa kau masih mencintai nya?!" Rania menatap tajam Dimas. Dia tak terima dengan tatapan suami nya saat menatap Rasya. Tatapan yang penuh kekaguman, tentu saja membuat Rania kebakaran jenggot. Sudah susah payah dia mendapatkan Dimas, tentu tak akan membiarkan orang lain merebut nya dengan mudah.
__ADS_1