Ambil Bekasku, Mbak!

Ambil Bekasku, Mbak!
Rasya Menghilang!


__ADS_3

Warning! Mungkin sedikit adegan membuat kalian traveling. Yang takut bisa di skip ya...


🌺🌺🌺


"Aarrghh..!" Entah sudah ke berapa kalinya Rania mencapai puncak kenikmatan tetapi tak ada tanda-tanda tiga pria itu ingin mengakhiri.


"Berbalik!"


Bruk.


Tenaganya sudah habis, seluruh tubuhnya sangat lemas hingga saat satu pria membalikkan tubuhnya dia hanya menurut tanpa ada perlawanan. Mereka kembali melakukan nya dari arah depan dan belakang. Satu orang lagi memainkan tubuhnya yang lain hingga membuat nya benar-benar tak berdaya.


Cairan kenikmatan itu terus keluar tanpa henti, membuat Rania benar-benar kehabisan seluruh tenaganya. Bahkan untuk berucap satu kata saja sudah tak mampu.


Mata nya terpejam karena tak lagi kuat meski untuk sekedar membuka mata, dia benar-benar seperti seorang mayat. Hanya mulutnya lah yang tak berhenti mendesis merasakan kenikmatan yang bercampur sakit karena terus-terusan diterjang tanpa ampun.


Plak ... plak... plak..,

__ADS_1


"Ayolah, sayang. Kami masih belum puas. Cepat buka matamu dan bergoyang lah di atas kami,"


Meski bagian-bagian tubuh nya terus-terusan ditampar, dia hanya bisa merasakan sakit namun tak bisa melawan.


Hingga pagi menjelang, mereka tetap menikmati kegilaan ini, seakan-akan tak ada nama kepuasan.


.


.


.


"Rasya, dimana kamu?" Tubuh Saka merosot ke jalanan. Dia tak kuasa lagi menahan bendungan air mata yang sejak tadi dia tahan.


Sudah ratusan kilometer dia menyusuri jalanan namun tak ada tanda-tanda Rasya di sana.


Dia kesulitan melacak karena ponselnya tidak dibawa, bahkan seluruh bajunya tak dia bawa.

__ADS_1


Setelah selesai meeting, Saka langsung menuju rumah sakit menemui sang istri. Dia pulang membawa satu buket bunga dan coklat niatnya sebagai tanda permintaan maaf karena tidak bisa pulang tepat waktu.


Faktanya saat sampai di sana ternyata ruangan sudah kosong. Meskipun melihat seluruh barang-barang masih ada di sana, tapi Saka mengira istri nya pulang sendiri karena terlalu lama menunggu nya. Hingga dia memutuskan untuk pulang ke apartemen yang ternyata masih kosong. Istri nya tidak ada.


Kepanikan mulai melanda, jantung nya bekerja lebih cepat dari biasanya. Dia pergi dengan tergesa-gesa, mengecek rumah yang dulunya dipakai berdua. Dan ternyata juga tidak ada.


Semakin besar ketakutan yang ada pada diri Saka. Dalam kebingungannya dia terus bertanya-tanya kemana sebenarnya Rasya, dia memutuskan untuk menenangkan hati sejenak agar bisa berpikir jernih.


Akhirnya Saka memutuskan untuk kembali ke rumah sakit. Dia bertanya pada bagian rumah sakit, siapa tahu melihat Rasya. Nyatanya memang tak ada satu orang pun yang melihat nya. Hingga dia memutuskan untuk mengecek cctv. Entah ini kesialan atau memang disengaja, cctv di bagian lorong yang menghubungkan ruangan nya mati sejak beberapa hari sebelum nya. Dan itu semakin membuat Saka frustasi.


Dia menerka-nerka apakah istri nya memang diculik? Bila memang iya, orang dibalik penculikan itu masih menjadi misteri.


Apakah Rania dan Dimas? Tapi untuk apa? Seketika dia ingat, identitas nya yang ternyata seorang CEO dari perusahaan Wijaya Corp. Sudah diketahui semua orang.


Yang artinya, beberapa orang mungkin sudah mengetahui istri Saka. Hal itu semakin membuat Saka tak karuan. Berbagai prasangka mulai menyelubungi di seluruh peredaran otak nya.


Beberapa orang telah menjadi target dibalik penculikan Rasya. Puluhan pengawal sudah dia kerahkan untuk mencari keberadaan Rasya, tak ayal sebagian orang juga sedang diutus untuk menangkap para target yang kemungkinan membuat Rasya tak ada disisi nya.

__ADS_1


__ADS_2