Ambil Bekasku, Mbak!

Ambil Bekasku, Mbak!
Keputusan Pengadilan


__ADS_3

Didampingi beberapa pengacara hebat lainnya, Januar begitu percaya diri mengikuti persidangan. Dia sangat yakin bisa meyakinkan hakim, mampu meringankan hukuman Bambang Setya Wijaya.


Namun, harapan nya pupus seketika kala hakim memutuskan hukuman untuk tuan Bambang di sidang final kali ini.


Pria paruh baya itu tak mampu mendengar kabar itu hingga mengalami sesak nafas dan tumbang di saat itu pula. Ya, hakim telah memberikan keputusan akhir dengan masa hukuman seumur hidup bagi Bambang Setya Wijaya.

__ADS_1


Saka dan juga Rasya yang ikut menyaksikan pun tak mampu mengekspresikan perasaan mereka. Di satu sisi, dia merasa lega karena pembunuh orang tuanya telah mendapatkan balasan. Namun di sisi lain, merasa teramat sedih karena orang yang telah membunuh kedua orang tuanya adalah orang yang sama dengan dengan orang yang paling menyayangi dirinya di hidup nya sebelum kedatangan sang istri.


"Aku harap kamu tabah dan bisa menerima semua ini, Saka. Apa yang didapat kakek Bambang sudah di atur oleh yang maha kuasa. Tuhan masih menyayangi nya hingga memberi hukuman di sisa hidup nya sebelum menghadap-Nya. Karena apa? Karena Tuhan tak ingin menghukum kakek di alam selanjutnya atas semua dosa-dosa nya di dunia."


Saka mendongak, menatap manik mata teduh istri nya. Melihat nya membuat tubuh nya terasa begitu sejuk seperti diterpa semerbak angin pegunungan. Dia bersyukur, sangat bersyukur bahkan, bisa mendapatkan istri yang selalu ada dalam suka maupun duka nya.

__ADS_1


Dari keputusan pengadilan tadi, bukan hanya hukuman seumur hidup yang didapat kakek nya, bahkan tidak ada siapapun yang diperbolehkan menjenguk pria tua itu. Dan itu lah kesedihan yang paling mendalam bagi Saka, karena artinya, dia tak kan bisa lagi bertemu kakek nya sampai maut menjemput pria tua itu.


Dia menangis di pelukan sang istri, bahkan saat beberapa petugas medis beserta para polisi serta LPSK mengerubungi Tuan Bambang yang mendadak pingsan setelah keputusan pengadilan pun Saka tak ikut kesana. Tubuh nya begitu lemah hingga tak mampu lagi untuk sekedar berdiri. Bahkan dia selemah itu menghadapi kenyataan, namun dia tetap harus mampu menghadapi nya karena memang ini lah hukuman yang setimpal atas dosa-dosa kakek nya. Saka tak ingin lagi egois, dengan menyandarkan semua nya sebagai takdir Tuhan, Saka ingin menerima semuanya dengan lapang dada. Tetapi semua itu butuh proses, tidak serta merta dia mampu menerjang kesedihan itu begitu saja.


"Ya, Saka. Aku akan selalu ada untukmu hingga nafasku sampai di tenggorokan. Bahkan meski kau tak lagi menginginkan ku, aku akan tetap menjaga mu meski dari kejauhan." Entah mengapa Rasya ingin sekali mengatakan itu. Tidak tahu apa yang dipikirkan saat ini, dia ingin sekali ikut menangis membayangkan Saka tak lagi menginginkan berada disisinya.

__ADS_1


"Hei, bicara apa kamu? Mana mungkin aku tak menginginkan mu ada di sisi ku? Bahkan sampai aku tak bernafas sekali pun, aku tetap menginginkan kau lah orang yang selalu mengunjungi makam ku dan mengirim ku doa." Perasaan yang tadinya sedih karena memikirkan kakek nya. Saka mulai mengalihkan pikiran nya pada sang istri. Dia menatap begitu intens manik mata istri nya dengan mata elang nya yang sudah tak lagi mengeluarkan bulir bening.


Melihat itu membuat Rasya tersenyum, ternyata mengalihkan topik kesedihan sang suami lumayan mudah. Tak sesulit yang dibayangkan, Saka akan langsung marah bila dia mengatakan yang aneh-aneh. Mungkin ini bisa dipraktikkan lain kali bila Saka kembali berduka atas hukuman kakek nya.


__ADS_2