
Waktu terus bergulir terasa kian cepat, tak urung sedikit demi sedikit kehidupan Rasya dan Saka kian membaik. Hari ini adalah hari kepindahan Saka dan Rasya dari rumah sederhana nya menuju apartemen milik perusahaan.
Entah keberuntungan atau apa, Rasya ditawari menggunakan apartemen khusus para pegawai di sana. Meski begitu, awalnya Rasya tak menerima begitu saja karena baginya bukan kemewahan yang diinginkan, melainkan kenyamanan dan ketentraman hidup bersama Saka.
Wanita itu tak muluk-muluk, memiliki suami setia saja merupakan anugerah terindah dari Tuhan, dan itulah yang dia harapkan. Bukan kemewahan namun hidup tentram. Oleh karena itu, Rasya bertanya kepada Saka terlebih dahulu, dan setelah Saka menyetujui, Rasya baru berani menerima tawaran Andreas.
"Rasya, baju mu yang sudah tidak terpakai mau ikut dibawa atau ditinggal..?" Kali ini Saka sedang sibuk mengemasi barang-barang miliknya juga milik istri nya, sedangkan Rasya, wanita itu sedang sibuk menggunakan make up.
Entah mengapa sudah beberapa hari ini wanita itu senang sekali berdandan. Sebenernya bukan tanpa alasan, tempo lalu saat mereka makan malam di kafe, kebetulan tempat itu sedang ramai dikunjungi banyak remaja putra dan putri, tiba-tiba saja para gadis itu menggoda Saka dengan siulan-siulan menggoda nya. Sedangkan Saka, pria itu hanya tersenyum menggelengkan kepala melihat tingkah para gadis itu membuat hati Rasya semakin memanas.
Tentu Dia kesal karena Saka tak menghentikan aksi para remaja itu, hingga akhirnya ngambek sampai dua hari. Tetapi dasarnya pria memang tidak pekaan, Saka bahkan tak tahu kalau dirinya ngambek, dan itu semakin Rasya semakin kesal. Ingin sekali menutupi wajah tampannya itu menggunakan aspal agar tak terlihat siapapun.
Di lihat dari segi manapun Saka memang tampan, terlebih cara berpakaian nya selalu modis membuat nya semakin terlihat sangat cocok jika disandingkan dengan para remaja itu.
Sedangkan Rasya sendiri selalu berpakaian sederhana, yang penting nyaman di badan, itu saja sudah cukup. Tapi setelah melihat banyak nya wanita yang menginginkan Saka, membuat nya melek serta waspada dan ingin tampil cantik. Dan mulai saat itu, Rasya mulai gemar membeli pakaian serta aksesoris, tetapi sepertinya Saka tak menyadari jika istri nya sedang ingin tampil cantik di hadapan nya.
"Bawa saja semuanya. Itu semua adalah baju-baju hasil jerih payah ku dan penuh kenangan." Sahut nya tanpa menoleh le arah sang suami.
Saka menghentikan gerakan nya, dia menatap istrinya yang sedang sibuk memakai lipstik di bibir nya.
Melihat istri nya sedang sibuk bersolek, Saka segera berjalan mendekati nya.
"Rasya, aku lihat akhir-akhir ini kau senang sekali berdandan," Huh, akhirnya si manusia super tidak peka itu menyadari juga.
__ADS_1
"Kenapa? Aku tidak boleh?" Tanya nya dengan sedikit ketus seraya meletakkan lipstik itu ke atas meja dengan kasar. Tidak tahu kenapa ditanya seperti itu membuat Rasya merasa kesal. Dia pikir hanya Saka yang boleh berpenampilan modis? Rasya juga bisa kali!
Hah, padahal Saka bertanya baik-baik.
"Tidak, bukannya tidak boleh. Hanya saja aku merasa tidak biasanya kau gemar berdandan. Apa sekarang sudah berubah?" Saka menatap intens wajah istri nya yang semakin lama dipandang semakin cantik.
"Apanya yang berubah?" Tanya menatap galak. Membuat Saka sedikit terkejut melihat sikap istri nya.
"Kenapa kau seperti itu? Aku hanya bertanya. Apa ada yang salah dengan pertanyaan ku?"
"Tidak, kau tidak salah. Kau memang selalu benar!" Ketus nya.
"Hei, kau ini kenapa?" Saka memegangi kedua bahu istrinya dengan mata nya menatap lekat penuh pertanyaan.
Melihat istri nya menangis bukannya sedih tetapi justru tersenyum. Hal itu membuat Rasya semakin marah, tangan nya memberontak berusaha melepaskan tangan suaminya yang masih bertengger di bahu nya.
"Lepas!" Rasya menyentak kasar tangan suaminya dan langsung berdiri dari kursi nya, hingga mengakibatkan Saka hampir saja terjungkal.
"Astaga, Rasya. Kau ini kenapa? Aku tahu kau cemburu, tapi jangan seperti ini, ya..," Saka ikut berdiri mencegah istri nya yang akan pergi entah ingin melakukan apa.
"Lepas! Aku tidak mood bicara dengan mu!" Lagi-lagi tangan Saka di sentak kasar saat hampir meraih pinggang nya. Alhasil, Saka tak bisa berbuat apa-apa, dia melepaskan begitu saja istri nya yang akan keluar kamar.
Tatapan Saka terus menatap istrinya yang sudah berjalan ke arah pintu, namun baru beberapa detik menatap sang istri, bola matanya membeliak sempurna melihat keadaan sang istri.
__ADS_1
"Sayang, apa kau tidak merasakan sesuatu?" Tanya nya hati-hati karena tak ingin memancing banteng yang sedang marah.
Rasya mengentikan langkah kaki nya dan menatap sang suami. "Merasakan apa? Apa kau ingin menertawai ku karena aku tidak suka kau di ganggu para remaja?"
"Astaga, kenapa arahnya kesana lagi?" Saka membatin seraya mengelus dadanya.
"Bukan itu, tapi di belakang mu ada bercak merah. Apa kau sedang datang bulan?" Saka bertanya to the poin karena gak ingat istri nya terus-terusan marah. Dia memang melihat ada bercak merah di gaun nya yang berwarna krem.
Tubuh Rasya menegang dengan wajahnya yang langsung berubah merah, pantas saja sejak tadi dia terus-terusan ingin marah-marah, rupanya kedatangan tamu spesial.
Tanpa mengucapkan apapun, Rasya segera berlari ke kamar mandi.
Brakk.
Pintu kamar mandi di tutup dengan kuat hingga membuat Saka yang berada di kamar ikut terlonjak.
"Astaga, ternyata begini rasanya wanita pms." Batin Saka, tangan nya terus-terusan mengelus dada karena merasa organ dalam nya hampir saja copot.
Hah, aman. Dia sudah ke kamar mandi. Akhirnya Saka bernafas lega.
"Saka..! Ambilkan aku pembalut dan celana..!"
Bola mata Saka kembali melebar dengan tangan kanannya menepuk dahi. Rupanya belum usai penderitaan nya menghadapi wanita pms. Bahkan membuat nya seperti sedang senam jantung saat dirinya dibentak-bentak oleh nya.
__ADS_1