
"Saka, kakek ingin bicara!" Dua sejoli yang sedang bermesraan itu seketika kehilangan momen itu lalu menatap sumber suara.
Jika Saka menatap nya dengan tatapan datar, berbeda dengan Rasya yang tampak mengerutkan dahi. Dalam hati dia bertanya-tanya siapa pria paruh baya itu.
"Bambang, kenapa kau kesini?"
Ck, Tuan Bambang berdecak kesal dengan sikap cucunya yang sejak dulu tak pernah bersikap sopan apalagi santun terhadap nya. Memanggil langsung namanya itu sudah biasa, dia sudah hafal dengan tingkah cucu nya yang memang selalu menguji kesabaran nya.
"Hei, cucu durjana! Aku ingin bicara empat mata dengan mu." Mendengar perintah itu, sontak Saka berdecak. Dia sangat tahu tabiat sang kakek, tentu ada ancaman dibalik semua perintah nya bila tak dituruti.
Akhirnya, mau tak mau Saka harus merelakan kegiatan enak-enak nya dengan Rasya. Padahal dia sedang bermanja-manja dengan sang istri setelah satu bulan penuh tak bisa manja-manja merengek-rengek minta di beri yang enak-enak.
"Sayang, aku keluar sebentar untuk bicara dengan kakek lampir. Kamu disini sendiri jangan kangen ya,"
Cup.
__ADS_1
Astaga ... Lama-lama Rasya bisa anfal mendapat serangan jantung terus-menerus. Belum selesai keterkejutan nya dengan perkataan Saka yang super pede mengatakan 'jangan kangen' dan sekarang bertambah keterkejutan nya kala bibir Saka menyelonong masuk ke bibir Rasya begitu saja, hingga akhirnya bukan hanya kecupan, melainkan sedikit melumatt nya dengan begitu santai dihadapan kakek bertongkat.
"Dasar cucu durhaka! Bisa-bisanya kau memanggilku kakek lampir!" Sahut nya marah. Tak memperdulikan kelakuan cucu nya yang memang selalu tak beradab.
"Sayang, di film-film kolosal ada wanita tua bangka yang kemana-mana bawa tongkat bukannya itu bernama nenek lampir ya?"
Semakin melongo lah Tuan Bambang. Tak beda dengan Rasya yang hanya bisa diam dengan semua surprise-surprise dari Saka.
"Nah, benarkan! Kalau wanita nama nya nenek lampir, otomatis akik-akik dijuluki kakek lampir." Bahkan Rasya belum menjawab 'iya', tapi mulut Saka sudah kembali mangap.
Setelah dua pria beda generasi itu pergi, ruangan kembali senyap. Meninggalkan Rasya sendiri yang diliputi kebingungan.
Kakek-kakek bertongkat tadi menyebut Saka sebagai cucu, itu artinya dia adalah kakek Saka. Tapi, kenapa mereka tidak kelihatan mirip? Batin nya. Seketika Rasya menepuk dahi sendiri. Ya, iyalah mereka tidak mirip. Saka masih muda, kakek itu sudah kelihatan banget kakek-kakek nya. Ya elah, Rasya ikutan lebay kek autor nya yang entah kenapa lagi pengen banget lebay bin gaje.🙄
.
__ADS_1
.
.
Saka duduk tegap menatap kakek nya yang sedang menatap nya dengan pandangan intens. Terlihat sangat serius di wajah keriput itu. Sepertinya memang ada sesuatu yang sangat penting untuk disampaikan.
Saat ini mereka sedang berada di kantin rumah sakit yang sengaja di sewa Tuan Bambang melalui tangan kanan nya karena kebetulan di kantin ini tak ada ruangan privat, sedangkan pembicaraan yang akan mereka diskusikan bukan lah pembicaraan sederhana yang bisa didengar semua orang.
"Ada apa? Sepertinya kau terlihat begitu tegang." Saka membuka pembicaraan setelah beberapa saat keduanya diam dengan pandangan saling beradu.
Tuan Bambang menarik nafas panjang lalu mengeluarkan nya. "Saka, kakek tahu kau sungguh-sungguh mencintai wanita itu. Tapi, pernikahan ini tidak baik jika diteruskan. Kau harus menceraikan nya, wanita itu tidak baik untuk nama besar keluarga kita."
Deg.
"Apa maksud mu?" Saka menatap tajam kakeknya tanpa rasa takut. Melihat pancaran kemarahan Saka, Tuan Bambang hanya menghela nafas. Dia memang sudah memprediksi kalau cucu nya akan sulit dibujuk. "Bukankah kau mengatakan akan merestui siapapun wanita yang ku nikahi?!"
__ADS_1