
Sedangkan di tempat lain, Rasya yang sudah bersiap ingin pergi sejauh mungkin dari kota ini, mendadak diam-diam pergi ke dapur. Dia memang sudah merencanakan sebelum memutuskan untuk pergi menjauhi Saka.
"Mbak," Panggil Rasya pada pelayan yang sedang membersihkan dapur.
"Ya, non. Ada yang bisa saya bantu?"
"Mbak, eum ... apa kamu punya handphone?" Tanya nya sedikit berbisik. Rasya memperhatikan ke arah pintu, takut ada orang yang masuk.
"Punya, non. Memang nya kenapa?" Tanya nya heran.
"Boleh saya pinjam sebentar? Saya ingin memastikan kalender untuk mengecek jadwal menstruasi. Kebetulan saya belum terlalu faham detail ruangan-ruangan di sini. Saya tidak tahu di mana ada letak kalender." Jelasnya berbohong, yang sebenarnya Rasya ingin mengabari Saka.
Untung saja kakek lampir itu tidak benar-benar mengurung nya di kamar, bahkan dia tak mengatakan pada seluruh pelayan nya kalau sebenarnya Rasya adalah seorang yang sedang diculik.
"Oh, bisa, non. Ini silahkan searching saja. Takutnya kalau kalender manual tidak terlihat jelas."
__ADS_1
"Memang itu yang saya maksud, mbak. Lebih lengkap kalau melihat di internet. Saya pinjam sebentar ya..,"
Rasya memanfaatkan keadaan itu untuk mengirim pesan pada Saka. Wanita itu mengatakan seluruh niat jahat kakeknya, yang bahkan mengancam ingin membunuh kakek Rasya bila dirinya tidak pergi.
Rasya juga menyampaikan untuk sementara waktu dia benar-benar akan pergi ke kota kecil yang sudah diberi tahu lokasi nya.
Rasya berharap, semoga saja Saka akan mendatangi nya bila rindu tanpa sepengatahuan kakek Bambang.
"Ini, mbak. Terimakasih." Rasya mengembalikan ponsel itu dengan seulas senyum. Hatinya lega karena telah memberi tahu Saka akan keberadaan nya.
Dia juga sudah mewanti-wanti Saka untuk tak membalas pesan ke nomor itu karena dia akan segera pergi setengah jam lagi.
.
.
__ADS_1
.
Ting.
Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal menarik perhatian Saka.
Deg.
Jantung Saka berpacu hebat kala membaca pesan itu. Namun dia juga merasa lega karena ternyata istri nya baik-baik saja. Ternyata si kakek lampir itu tak sekejam yang dia kira. Saka sudah berpikiran yang tidak-tidak mengenai kakek nya. Dia bahkan menyangka Rasya disekap di tempat kotor dan tertutup lalu disiksa dan tidak diberi makan. Nyatanya Rasya sedang berada di pant house yang berada di gedung apartemen paling atas milik perusahaan Wijaya Corp. yang menangani bidang properti.
"Akhirnya aku menemukanmu, Rasya. Maaf, lagi-lagi aku membuat mu susah. Aku janji, ini terakhir kalinya kau menderita. Setelah aku menyelesaikan semuanya, aku akan selalu menjaga mu. Sekalipun aku harus kehilangan seluruh harta keluarga, aku ikhlas demi bisa hidup bersama mu." Gumamnya sembari memperhatikan pesan itu.
"Putar balik, kita akan menuju stasiun!" Perintah Saka.
Dia tak ingin tergesa-gesa menemui kakek Bambang dalam keadaan marah. Sekarang, dia hanya ingin bertemu Rasya sebelum wanita itu pergi ke kota Wonosobo yang jaraknya mungkin membutuhkan 8 jam dari sini.
__ADS_1
Sebenarnya perjalanan menggunakan kereta bukan lah perjalanan efektif karena setahu Saka daerah Wonosobo tidak terjangkau kereta. Untuk itu, Saka ingin cepat-cepat memberi tahu Rasya, takut wanita nya belum tahu bahwa Wonosobo tidak ada stasiun.
"Lebih cepat sedikit!" Perintah Saka dingin. Dia sudah tidak sabar untuk mengobati rasa rindu nya terhadap sang istri setelah dua hari berpisah. Bukan hanya itu, dia juga takut Rasya lebih dulu berangkat sebelum bertemu dengan nya.