
Akibat terjaga hingga larut malam, pagi ini Rasya bangun kesiangan. Bukan hanya Rasya, namun Saka pun baru bangun setelah Rasya terbangun.
Semalam, setelah Rasya pulang dengan membawa dua porsi makanan, mereka akhirnya makan malam bersama dengan sangat lahap. Rupanya bukan hanya Rasya yang lapar, Saka yang katanya belum makan malam pun memakan makanan yang dibawa istri nya hingga tandas. Jelas saja Rasya sangat bahagia karena bisa melihat suaminya bisa makan se-lahap itu. Namun kebahagiaan itu hanya dirasakan sebentar, karena setelah itu, tanpa diduga Saka mengalami mual-mual hingga memuntahkan seluruh isi perut nya sampai kehilangan tenaga. Membuat Rasya berinisiatif mengerok badan Saka karena kemungkinan besar Saka masuk angin mengingat beberapa hari lalu memang selalu menunggu nya di gang kompleks saat Rasya pulang malam.
Akhirnya Rasya tak bisa tidur hingga pukul 2 pagi baru bisa terlelap, dia takut Saka akan kembali mengalami mual seperti tadi. Wanita itu pun menduga-duga Saka keracunan makanan, tetapi itu pun tak terlalu yakin mengingat dia juga makan makanan dari restoran yang sama dan tidak mungkin pula seorang penjual berniat meracuni pembeli kecuali ada seseorang yang memang sengaja meracuni makanannya.
"Rasya, ojek nya sudah men-"
Aaaaa...!
Glukk. Saka menelan saliva nya susah payah bersamaan dengan jeritan Rasya yang tak terlalu terdengar di telinga nya karena terlalu fokus menatap keindahan ciptaan tuhan di depan matanya.
Namun sekejap kemudian Saka kembali mengontrol dirinya dan mengalihkan tatapan ke arah lain.
Shitt..! Jelas saja pria itu mengumpat saat menyadari benda yang sudah lama mengalami domansi itu mendadak turn on dan siap mengembang serta berkembang biak saat melihat tubuh Rasya yang tak memakai apapun di depan matanya.
Rasya buru-buru menutup tubuh bagian depan nya menggunakan pakaian yang sedang di pegang, namun Saka masih bisa melihat sedikit organ penting istri nya dari celah-celah itu saat matanya dengan berani menatap ke arah kulit yang tidak tertutupi pakaian.
"Balik badan!" Teriak Rasya, refleks Saka membalik badannya dengan mata sudah tertutup. Andai Rasya tak berteriak, mungkin Saka masih terus menatap tubuh istri nya yang belum tersentuh sekalipun.
Rasya buru-buru membuka kancing kemeja yang sedang dipegang dan langsung menggunakan dengan kilat.
__ADS_1
"Kenapa tidak ketuk pintu?" Tanya nya setelah berhasil menutupi seluruh tubuh nya menggunakan pakaian. Dia mendengus kesal karena Saka tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu.
Sontak saja Saka kembali membalikkan badan dan menatap istrinya yang sudah berpakaian lengkap meskipun terlihat sedikit berantakan.
"Biasanya aku juga tidak pernah mengetuk pintu saat ke kamar. Lagian kenapa kamu berpakaian di kamar?" Tanya nya, Saka tak mau disalahkan karena memang biasanya Rasya selalu ganti baju di kamar mandi.
"Aku buru-buru ke kamar mandi dan lupa membawa baju." Sahut nya. Memang sudah sangat telat untuk pergi ke kantor, tetapi sebisa mungkin Rasya tak akan absen meksi datang kesiangan yang jelas-jelas pasti akan mendapatkan konsekuensi nya.
"Maaf, gara-gara semalam kamu jadi tak bisa tidur." Saka menyesal karena telah membuat istri nya begadang.
Sebenarnya Saka sudah menolak saat Rasya ingin mengerok pinggang nya karena memang merasa tidak masuk angin dan dia juga jelas tahu penyebab dirinya muntah-muntah namun tak mungkin memberi tahu nya karena itu pasti akan membuat Rasya kecewa.
Lebih baik dia menderita dua kali lipat saat merasakan perut nya mual masih ditambah kerokan ajaib Rasya yang berhasil membuat seluruh kulit yang terkena gesekan koin itu sangat perih, asalkan Rasya tak merasa sedih apalagi khawatir.
Begitu pula dengan Saka, dua orang itu tentu ingat dengan perjanjian yang telah mereka sepakati. Beberapa tempo lalu setelah Rasya mengatakan keinginan nya agar Saka dapat menahan diri selama di satu bulan untuk mengetahui apakah Rasya hamil atau tidak nya, Rasya kembali mengajukan permintaan setelah mendengar nasehat dari seorang ustadz di masjid kompleks mereka.
Saat itu, Rasya tak sengaja mendengar ceramah seorang ustadz tentang masalah pernikahan dan perceraian. Di saat itu pula Rasya sedikit mendengar kata Iddah, dan dari penjelasan ustadz tersebut, Rasya bisa sedikit menangkap maksud nya. Namun untuk memastikan apa yang dia dengar, Rasya kembali bertanya secara pribadi mengingat ini ada kaitannya dengan kehidupan nya.
Dan ternyata setelah perceraian itu masa iddah bagi seorang perempuan baik karena cerai hidup maupun cerai mati.
Sedangkan untuk seorang pria, masa iddah nya hanya saat seorang cerai mata. Dan setelah mengetahui hal itu, tentu saja Rasya meminta Saka agar bersabar menunggu hingga masa iddah selesai, lalu kembali melangsungkan pernikahan. Untung nya, Saka bukan lah tipe pria pemaksa. Dia menghormati permintaan Rasya meskipun dirinya tidak mengetahui sama sekali dengan maksud istrinya.
__ADS_1
Saka memang sama sekali tidak mengerti tentang agama karena sedari kecil dia hanya mendapat pendidikan umum. Orang tuanya pun tak ada yang memberi contoh, hingga besar nya menjadi seorang urakan dan hidup serba bebas yang tak mengetahui batasan.
Berbeda dengan Rasya, meskipun dia juga tak mendapatkan pendidikan agama maupun contoh dari orang tuanya, namun dia berusaha mencari sendiri hingga bisa melaksanakan sholat dengan syarat rukun nya uang sah.
"Saka, aku berangkat dulu. Hari ini kau jangan pergi bekerja, istirahat di rumah saja. Obat nya jangan lupa diminum nanti setelah sarapan. Maaf ma tidak membuat kan sarapan hari ini, tapi aku sudah delivery dan sebentar lagi akan sampai." Jelas Rasya panjang lebar seraya mengambil tas nya dengan terburu-buru, dan keluar dari kamar.
"Kau benar-benar ingin berangkat seperti itu?" Tanya Saka menaikan satu alisnya seraya menatap istrinya yang masih terlihat berantakan.
"Memang nya kenapa?" Rasya mengerutkan dahi, lalu mengamati penampilan nya. "astaga! Aku lupa belum berdandan." Pekik nya seraya berlari ke arah meja rias.
Saka ikut menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sang istri. Meski begitu, dia ikut maju dan membantu menyisir rambut sang istri.
"Tidak perlu terburu-buru, bedak nya akan berantakan kalau kau panik."
Tubuh Rasya menegang ketika hembusan nafas Saka mengenai tengkuk nya dan berhasil membuat bulu kuduknya meremang.
Rasya memejamkan mata saat bibir Saka berhasil berlabuh di tengkuk nya.
"Saka, hentikan."
Saka tersadar dari keinginan gila nya. Untung saja Rasya berhasil membuat nya tersadar, entah kenapa saat Saka berada di dekat istri nya, dia sulit mengendalikan diri.
__ADS_1
"Damn! Kenapa kau bangun di waktu yang tidak tepat?"